
...****************...
"Kau cari Senja sampai dapat! Awas kalau kau gagal, nyawamu bayarannya," ucap Jhon. Dia berjalan menuju ke tempat Shela.
BRAK!! BRAK!!
Jhon menggedor pintu rumah Shela dengan kuat. "Shela Keluar kau! Aku tahu kau ada di dalam! Keluar atau aku bakar rumah ini!"
Namun tak ada jawaban apapun dari dalam sana. "Keterlaluan! Ternyata dia berani sembunyi dariku!" Jhon menarik nafas kuat. "Dobrak pintunya!" teriak Jhon menyuruh anak buahnya.
Beberapa kali mereka mendobrak pintu itu. Namun akhirnya berhasil dengan menggunakan alat.
"Shela! Shela!" Jhon berteriak sambil mencoba mencari ke ruangan-ruangan tersembunyi. Termasuk ke kamar Shela.
"Si*l. Dia tak ada di kamar ini. Aku harus mencari di kamar lain," ucap Jhon sambil berjalan ke tempat lain.
"Kamar ini dikunci, apa dia sembunyi di dalam sana?" gumamnya. Itu adalah kamar Senja.
"Buka handle pintunya!" teriak Jhon lagi. Rupanya dia tidak bisa apa-apa. Hanya memerintah terus tanpa usaha.
Setelah mereka merusak kuncinya. Akhirnya pintu terbuka. Terlihat ruangan serba pink begitu menyenangkan. "Ah, ini kamar kamu sayang," ucap Jhon. Dia membuka tangannya lebar-lebar. Lalu merebahkan dirinya di atas kasur empuk milik Senja.
"Hm aroma ini... pasti kamu sangat manis dan aduhai saat aku hujani my senjata," katanya dengan wajah yang mesum.
"Keluar kalian semua! Aku ingin tinggal beberapa menit," katanya. Jhon berkeliling dan mencoba mencari di bawah ranjang itu. Namun Shela tak ada di sana.
Lalu Jhon terpaku pada foto Senja saat masuk SMK. Berseragam SMK, namun terlihat begitu mempesona bagi Jhon.
"Ah, dia membuatku jadi ho*ny. Uh, Senja. Kenapa kau membuat nafsuku naik berkali lipat," ucap Jhon. Dia sudah tak tahan. Dan melakukan hal keji itu sambil mencium aroma bantal Senja dan juga melihat foto remaja Senja.
__ADS_1
"Ah ah, nikmat sekali. Begini saja sudah nikmat, apalagi melakukannya secara langsung. Ah, pasti aku akan ketagihan denganmu Senja," gumam Jhon. Dia benar-benar tak ingat dengan usianya yang hampir setengah abad.
"Kamu kemana Senja? Pasti aku akan menemukanmu di manapun kamu berada. Mumpung Daren di luar negeri, jadi aku harus cepat menemukanmu sebelum keduluan olehnya," ucap Jhon. Dia menaikkan celananya berikut resletingnya. Dia menatap dirinya di cermin dan mencuri foto Senja. "Barangkali foto ini berguna buatku," ucap Jhon lalu dia menemui anak buahnya.
"Apa kalian sudah menemukan Shela?" tanyanya.
"Belum Bos."
"Sepertinya dia kabur. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini. Dan jangan lupa, obrak abrik semuanya!" perintah Jhon sebelum dia meninggalkan rumah Shela.
Sementara Shela. Saat Shela tahu Jhon akan ke rumahnya, dia segera kabur lewat pintu belakang. Dan sekarang dia tengah berada di rumah tetangganya. Rumah itu aman tanpa jangkauan si Jhon yang menjijikkan.
"Hah, aku selamat. Hari ini aku selamat, tapi besok bagaimana ya? Apa aku nyusul Senja saja? Dia kan dapat uang dari Daren. Anak itu... diam-diam jadi simpenannya si Daren. Apa Daren tahu kalau Senja hamil? Makanya dia membuang Senja begitu saja, kalau iya keterlaluan banget. Semua cowok sama saja, kecuali suamiku yang telah tiada," gumam Shela.
Dia hendak masuk ke dalam rumahnya dan mungkin hari ini dia tidak bekerja.
...****************...
Klik!
"Mati! Kenapa ini? Kenapa GPS-nya mendadak? Senja? Rehan, ah tak berguna! Kenapa semuanya tak bisa ku andalkan? Ferdi yang bisa menggantikanku sidang, tapi dia belum ditemukan. Rehan? Dia tak berpengalaman di bidang hukum. Ini sangat sulit untukku. Bertahanlah Senja, aku pasti akan datang padamu," ucap Daren sambil menatap ponselnya.
"Kenapa paman masih mengejarmu? Padahal aku sudah berusaha untuk membuatmu gemuk dan jelek," gumam Daren kesal.
"Ah! Senja." Daren merasa tersiksa atas nasib Senja hari ini.
Sementara itu, yang sebenarnya terjadi adalah... ponsel Senja kehabisan baterai.
Dia tengah berada di luar kota. Dan melewati hutan berliku. Otomatis sinyal juga hilang.
__ADS_1
'Daren, apa kau akan mencariku jika aku pergi di tempat seperti ini? Aku menghilang Daren. Demi anak kita. Karena aku tahu, kau pasti tak akan pernah mau bertanggung jawab atas kehamilanku,' batin Senja. Dia melihat jalanan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Butuh berapa jam lagi pak?" tanya Senja. Dia sudah tidak sabar untuk tinggal di suatu tempat. Tempat di mana yang jauh dari jangkauan orang yang ia kenal. Hidup di desa, mengontrak rumah yang sudah ia pesan sebelumnya secara online.
"3 jam lagi Neng," jawab si sopir itu.
"Iya pak," jawab Senja lesu.
...****************...
Daren berhasil memenangkan sidangnya hari ini. Tanpa menunggu lama, dia bersiap-siap untuk pulang ke Indonesia. Mungkin akan menemui Senja. Sebab Senja sudah membuatnya hidup tak tenang dari semalam.
"Terimakasih pak Daren. Bayaran Anda sudah saya transfer," kata kliennya.
"Ah, thank you very much mister," ucap Daren. Antara senang dan tidak. Uangnya sangat banyak, tapi dia membutuhkannya demi ketentraman hidupnya dan para karyawannya.
"Sampai jumpa."
Urusan di Amerika usai. Daren dan Rehan akan bersiap meninggalkan Indonesia.
"Bos ada kabar terbaru," ucap Rehan memberitahu. Daren masih diam saja. Saat ini di Indonesia sudah malam. Apa yang Senja lakukan saat ini? Apakah paman Jhon sudah menidurinya? Itu yang Daren pikirkan saat ini. Sampai dia tidak fokus dengan ucapan Rehan barusan.
"Shela mengosongkan rumahnya," lanjut Rehan dan Daren menanggapinya dengan wajah datar. Ekspresinya seperti berkata, bukan urusanku.
"Apa yang Bos pikirkan saat ini? Kenapa Bos tidak terkejut? Apa Bos tak mengkhawatirkan nona Senja?" tanya Rehan. Dia merasa aneh dengan sikap Daren yang tak ada semangat sedikitpun. Padahal saat ini perjalanan pulang ke Indonesia, harusnya Daren bahagia dan semangat untuk bertemu Senja, tapi...
"Tahu apa kau tentang perasaanku Rehan. Kau tidak tahu," jawab Daren. Dia menoleh ke jendela pesawat. Menatap awan biru yang cerah.
'Bagaimana jika paman Jhon sudah menidurimu Senja? Kenapa tiba-tiba aku merasa sakit hati? Apakah kau akan mengkhianati semua perasaanku?' batin Daren. Dia merasakan kecemburuan yang amat sangat. Sebelumnya dia tak pernah sesakit ini terhadap wanita. Tapi Senja? Semua berbeda. Niat yang awalnya ingin membunuh, tapi semuanya berubah menjadi rasa ingin memiliki.
__ADS_1
'Kau adalah milikku Senja. Apapun yang dilakukan paman Jhon padamu, aku akan merebut dirimu kembali untukku. Tunggu aku, kita akan bertemu sebentar lagi,' batinnya.
Bersambung...