SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Ide Marten


__ADS_3

...****************...


"Hari sudah mulai pagi. Ayo bersiap ke tepi laut!" Instruksi dari Daren. Dan semuanya segera bersiap termasuk si Kakek.


Kakek itu kini sudah berpakaian layaknya yang lain. Bahkan rambutnya sudah dipotong rapi oleh Rehan. Daren memicingkan matanya saat menatap kakek itu. "Dia bukanlah seorang kakek seperti yang Ferdi kira. Dia hanya seorang bapak tua yang terdampar di hutan itu," ucapnya pada Rehan.


"Bapak tua itu bertatto Tuan," kata Rehan memberitahu.


"Tatto?" Daren setengah berpikir. Sungguh Daren seperti mengenali bapak tua itu. Tapi dia lupa di mana?


"Maaf Bos, saya ingin bicara dengan Anda."Ferdi memotong pembicaraan mereka. Daren lupa menanyakan tatto apa yang melekat pada si bapak tua itu. Karena Rehan belum jadi memberitahukannya.


"Iya bicaralah!" kata Daren sambil bersidekap. Dia menatap laut yang luas. Rambut pendeknya beterbangan ke sana kemari terkena udara.


Ferdi mendekat sambil memberikan ponselnya yang mati pada Daren. "Di ponsel ini aku merekam sesuatu bos. Sebelum kejadian itu, aku melihat paman Jhon menemui Klan Y," terangnya.


Daren menatap Ferdi. "Sudah ku duga. Paman Jhon pasti terlibat dalam kasus ini. Aku yakin, kau pasti mendengar sesuatu. Makanya dia ingin membunuhmu saat itu juga, dan ya aku sangat senang sekali. Akhirnya kau kembali. Welcome Ferdi." Daren menyodorkan tangannya ke depan Ferdi. Ferdi terharu, lalu mereka berdua berjabatan tangan.


'Bos Daren sangat baik hati. Apakah aku harus memberi tahunya, kalau paman Jhon ingin membunuhnya dan merebut hartanya. Tapi aku takut, kalau dia tidak percaya padaku,' batin Ferdi bimbang.


"Lalu, apa isi rekaman dari ponselmu? Apa ponselmu aman? Kalau rusak, nanti aku akan menggantikannya dengan yang baru," kata Daren. Dia menepuk lengan Ferdi sambil tersenyum.


Ferdi jadi menciut. Mungkin ini belum saatnya memberitahu Daren. Nanti jika dia menemukan waktu yang tepat, pasti Ferdi akan segera memberi tahunya.


...****************...


Makin kesini Shela makin tersiksa. Dia sudah tidak kuat menjadi bulan-bulanan dari Jhon yang menggila. Anak buahnya tidak ada yang bisa diandalkan untuk mencari Senja. Bahkan Marten pun juga sama. Tugas Marten hanya memberikan informasi yang penting saja. Jadi urusan Shela, sepertinya Daren tidak perlu tahu. Karena itu bukan urusan Daren, kecuali Senja.

__ADS_1


"Cepat beritahu aku, berapa nomor putrimu!" teriak Jhon. Sudah berkali-kali dia mencoba menghubungi Senja melalui 2 nomor ponselnya. Namun semua pesan darinya gagal terkirim. Jhon menduga, Senja sudah berganti nomor.


"Aku bilang nomornya tetap sama. Kenapa kau terus memaksaku? Jhon, tolong lepaskan aku! Apa kau tak ingat, setidaknya aku pernah melayanimu. Jadi ku mohon, lepaskan aku. Kali ini saja, setelah itu aku akan menjauh dari hidupmu!" kata Shela memohon. Dari kemarin-kemarin dia selalu memohon pada Jhon, namun lagi-lagi hasilnya sama. Jhon tak menggubris.


"Kau pikir semudah itu lari dariku. Setelah semua apa yang ku lakukan padamu, kau pikir semuanya gratis. No Shela. Kau harus membayarku. Dan putrimu adalah bayarannya. Dan ingat, aku tidak akan melepaskanmu sebelum putrimu datang menyelamatkanmu," ucap Jhon sambil tersenyum devil.


Jhon sangat bodoh. Marten tahu itu. Seharusnya Jhon mencoba menghubungi Senja dengan nomor yang lain. Tapi Marten tidak ingin memberi tahunya. Karena dia sudah berjanji akan setia pada Daren. Marten butuh uang, dan Darenlah yang mampu mencukupi apa yang ia butuhkan. Sementara kerja di bawah Jhon, semua anak buahnya gigit jari. Marten pandai berjanji, dan menghilangkan nyawa seseorang dengan kejam. Makanya semuanya pada tunduk di bawah kakinya. Andai semua anak buah Jhon tahu kalau Daren lebih royal, mungkin semuanya akan berpaling dari Jhon.


"Kenapa kau diam saja di sini? Apa kau memikirkan sesuatu? Kalau kau punya ide bagus, jangan dipendam sendiri. Ingat, bos kita akan marah jika kau ketahuan mengkhianatinya," kata anak buah Jhon yang lain. Akhir-akhir ini dia mencurigai kinerja Marten yang asal-asalan. Dia menduga kalau Marten sudah tak tahan bekerja di bawah tekanan dari Jhon. Tapi semuanya tak semudah itu jika keluar dari Jhon. Atau nyawa taruhannya.


Marten hanya diam saja. Lalu dia kembali ke aktivitasnya sambil berbaur dengan yang lain. Marten menatap anak buah Jhon yang tadi. Sorot matanya menatap awas pada Marten. Namun Marten tetap santai. Marten tidak tahu, kalau sebentar lagi akan ada bahaya mengenai dirinya. Makanya dia masih tersenyum santai tanpa tahu hal apa yang telah terjadi padanya. Meskipun sama-sama bekerja, sama-sama anak buahnya Jhon. Tapi yang namanya manusia tetap ada rasa iri dan dengki.


...****************...


Ke esokan harinya. Daren dan semua anak buahnya sudah sampai ditepian. Mereka semua merasa lega. Hanya satu permintaan dari Daren, dia ingin Ferdi dan kakek tua yang belum diketahui identitasnya itu menyamar. Untuk berjaga-jaga, bisa jadi anak buah dari musuhnya melihat mereka. Dan itu akan gawat jika beritanya sampai pada telinga Jhon. Semua rencananya untuk menumbangkan Jhon akan gagal. Namun bukti yang Ferdi berikan belum kuat, itu semua karena Daren belum membuka rekaman dari ponsel Ferdi.


"Kita beristirahat sehari di sini," kata Daren. Dia sangat pengertian terhadap kinerja anak buahnya. Pasti sangat capek dan lelah.


"Oh ya Re, usai kita beristirahat... tolong antarkan aku ke mini market yang kemarin. Di sini sinyalnya sangat lemah, aku kesulitan membuka GPS," ucap Daren dan seperti biasa. Rehan tak menolak sedikitpun.


Setelah tertidur pulas. Rehan bersiap untuk mengantarkan Daren ke tempat tujuan. Daren pun juga sudah bersiap. Kali ini dia terlihat sangat rapi dan masih sangat tampan seperti biasanya. Dia tak melupakan masker agar wajahnya tak dilihat oleh orang-orang diluaran sana, termasuk ketampanannya. Karena ketampanannya ia simpan hanya untuk Senja.


"Senja lagi, Senja lagi. Otakku isinya hanya Senja dan Senja. Sebenarnya kamu sembunyi di mana? Sampai aku kesulitan mencarimu," gumam Daren sambil tersenyum sendiri.


Sementara itu, Marten kini sudah dihadapkan di depan Jhon. Setelah kecurigaan salah satu anak buahnya Jhon kemarin. Kini Marten harus berurusan dengan Jhon.


"Jawab aku! Apa kau sudah tak menyanyangi nyawamu hah!" teriak Jhon sambil menekan tongkat besinya di bahu Marten yang tengah berlutut di hadapannya.

__ADS_1


"Masih ingin hidup Tuan," jawab Marten. Karena dia sangat menyayangi istri dan calon bayinya.


"Kalau begitu, katakan, kau punya rahasia apa tentang Shela!" teriak Jhon lagi.


"Tidak ada rahasia apapun Tuan," jawab Marten. Tentu dia berbohong.


"Sekali lagi kau tidak jujur, istri dan calon bayimu akan mati di tanganku," ancam Jhon. Dan hal ini adalah kelemahan Marten.


"Aku tidak punya rahasia apapun Tuan. Aku hanya punya ide, coba anda mencoba menghubungi Senja dengan nomor lain," kata Marten. Dia terpaksa bicara begini. Karena tak ada pilihan lain.


"Nomor yang lain?" Jhon tampak berpikir.


"Pinjamkan aku ponselmu!" perintah Jhon pada anak buahnya. Jhon benar-benar tak bermodal.


Dan bodohnya lagi, anak buahnya itu menurut. Setelah menyerahkan ponselnya pada Jhon, Jhon segera menghubungi ponsel Senja. Dan dengan sangat kebetulan, ponsel Senja aktif. Hanya saja untuk data, Senja masih menonaktifkannya.


"Bagus sekali idemu. Kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin?" kata Jhon senang. Lalu dia membebaskan Marten begitu saja.


"Nomornya aktif. Cepat kirimkan dia tentang video Shela dan foto-fotonya!" perintah Jhon. Karena Jhon yakin, Senja pasti akan mengaktifkan datanya.


Sementara itu, Daren tengah tertidur di mobil. Karena dari tadi dia tidak tidur. Dan sangat kebetulan sekali, Senja sedang online. Jadi saat mendapati foto ibunya yang terluka parah, dia langsung syok.


"Oh ya Tuhan, ibu!" teriaknya. Senja tak sanggup melihat ibunya yang tersiksa. Dia mencengkeram tangannya dengan kuat.


"Huh huh, aku harus kuat!" ucap Senja menahan emosi. Dia menarik nafas dalam-dalam demi menjaga keamanan bayinya.


"Jhon, laki-laki tua bangka itu. Apa yang dia inginkan? Aku harus ke sana. Memberinya pelajaran dan membebaskan ibuku," kata Senja sambil menyiapkan dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2