
...****************...
Daren duduk di caffe sambil menatap keheningan malam. Setelah membunuh Silvana dan melihat betapa sakitnya korban yang ia bunuh, Daren pikir dia akan bahagia dan lupa akan masalahnya. Tapi tetap saja, kematian kedua orang tuanya terus menghantuinya.
Setiap kali membunuh orang, hati Daren selalu terasa hampa dan kosong. Mungkin semua itu karena dendamnya selama ini belum terlaksanakan.
"Auh!!"
Mendengar suara seseorang kesakitan, Daren segera menoleh.
Dia?
Daren menatap gadis remaja yang tengah mengenakan celana training dan hody yang berwarna senada. Rambut itu diikat ala ponytail, terlihat sederhana namun tetap cantik.
"Kak Justin," panggil gadis itu yang tak lain adalah Senja.
"Jam segini, ngapain? Makanya kalau jalan dilihat-lihat," jawab Daren sambil membantu Senja berdiri.
"Aku cuma lari-lari pagi," jawab Senja sambil melihat jam di tangannya. Jam pukul 4, memang ada masalah? Seperti itulah gambaran wajah Senja pada Daren.
Daren terdiam tak menanggapi perkataan Senja. Dia memainkan gelas coffee yang masih berisi utuh itu.
"Kakak pasti lagi ada masalah," celetuk Senja dan membuat Daren tertegun. Sedetik kemudian Daren tersenyum lebar.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
Senja terkekeh geli. Tanpa disuruh Daren, Senja langsung duduk di sebelah Daren. "Aku juga punya masalah hidup sepertimu. Makanya aku melampiaskannya lari di pagi buta di daerah sini. Menghabiskan waktuku di keheningan dan sunyi tanpa siapapun. Kalau tidak seperti ini, mungkin aku sudah tidak waras," cerita Senja sambil kembali terkekeh. Dia menoleh dan kembali menatap mata Daren.
Daren terdiam. Dia baru sadar kalau gadis yang ada di depannya ini sangat cantik.
Mata dan bibirnya begitu indah.
"Dan ku rasa, kak Justin punya masalah sepertiku. Mana ada laki-laki tampan seperti kak Justin duduk sendirian di sini kalau tidak ada masalah?"
__ADS_1
Daren mengangkat bibirnya sambil tersenyum penuh menggoda. "Kamu baru sadar kalau aku tampan ya?"
"Eh!" Senja kalang kabut. Pipinya langsung merona. Sepertinya dia salah omong tadi.
"Bukan itu maksudku kak Justin," elak Senja sambil berdiri jadi salah tingkah.
"Dari pada kak Justin melamun hal yang tidak jelas seperti itu, lain kali ikut berolahraga saja denganku," ucap Senja sambil berlari meninggalkan Justin.
Senja menggeleng-gelengkan kepalanya karena kaget dengan ucapannya sendiri. Bisa-bisanya dia berkata seperti tadi pada pria yang lebih dewasa darinya.
Daren tersenyum sambil melihat kepergian Senja. Kebetulan yang menarik. Senja anak dari musuhnya yang tengah mencarinya. Namun sepertinya Senja masih belum sadar, kalau orang yang dicari ada di depannya.
...****************...
"SENJA! SENJA!!"
Teriakan dari sang ibu mengganggu tidur gadis remaja yang baru memejamkan matanya kurang lebih sejam itu.
"Apa kau pikir ini caramu agar bisa mendapatkan musuhmu? Seperti ini?" teriakan Shela menggelegar di ruangan itu.
"Kau, bikin malu diriku saja. Semua orang lapor kalau kamu itu seperti gadis kecentilan, mencari pria berumur 23, buat apa?" Kembali Shela menoyor kepala Senja, sampai Senja merasa kesakitan.
"Mandi dan segera berangkat sekolah. Pulang sekolah jangan kelayapan, Om J akan menjemputmu," kata Shela sambil berbalik arah.
Senja terdiam. Sebagai anak, rasanya dia juga ingin dijemput oleh ibu kandungnya. "Kenapa ibu gak pernah menjemputku?" gumam Senja, matanya berkaca-kaca hampir menangis.
Senja melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia berdiri di depan wastafel dan menatap dirinya di cermin. Wajahnya terlihat kusut sekali hari ini. Tapi semuanya demi menghilangkan beban pikiran yang ibunya berikan. Kalau ayahnya tidak meninggal, mungkin mereka bertiga akan hidup harmonis.
Tiba-tiba Senja mengingat pertemuannya dengan Daren tadi pagi. Senja pikir, Daren sudah punya segalanya. Orang tua, kekayaan, bahkan ketampanan yang sempurna. Daren sangat tampan melebihi fantasi liar Senja setiap membayangkan artis kesayangannya.
Menurut Senja, Daren terlihat sedih, frustasi dan tertekan. Melihat Daren, Senja jadi merasa bahwa di dunia ini tidak hanya dia sendiri yang punya riwayat kelam dalam hidupnya. Namun Daren, dia mempunyai paras yang begitu memikat. Sorot matanya, wajahnya dan sikapnya benar-benar menarik.
Senja segera menggelengkan kepalanya. "Kamu harus fokus Senja. Fokus belajar dan membalaskan dendam kematian ayahmu," ucapnya di depan cermin itu.
__ADS_1
Segera Senja melepaskan satu persatu pakaian yang telah ia kenakan.
Daren, 23 tahun
Cuma nama itu yang Senja tahu. Nama yang merusak masa depan keluarganya. Namun sayang, di internet manapun Senja belum bisa menemukan sosoknya itu seperti apa. Bahkan Boy si detektif saja belum bisa menemukan, apalagi Senja yang masih bocah kemarin sore.
...****************...
Di dalam kelas, Senja menjadi tidak fokus. Pasalnya orang suruhan ibunya yang tak lain adalah brigadir J, terus saja membuntutinya. Sampai ingin mengobrol dengan teman sebayanya pun tidak bisa.
"Om, kenapa om selalu mengikuti Senja? Ini bukan tempat umum Om, ini sekolahan. Tak bisakah nanti saja saat ibu memberimu tugas?" ucap Senja kesal.
Pasalnya teman sekelasnya mencibir dirinya. Sudah lama dia tidak bully, dan sekarang Senja harus menerima semua itu. Mereka mengira Brigadir J adalah kekasih ibunya. Senja tidak percaya, lantaran ibunya itu masih setia kepada mendiang ayahnya.
"Om takut iblis itu akan datang dan menculikmu. Siapa yang akan disalahkan kalau bukan Om?" bela brigadir J di depan Senja. Meskipun dia punya tugas nanti sore. Tapi dia tidak mau menyia-nyiakan waktu, sebab anak mafia itu masih bebas dan berkeliaran di sekeliling Senja. J harus waspada, agar Shela dan atasannya tidak memarahinya.
"Terserah om J saja. Senja mau masuk dan fokus belajar," pamit Senja yang kini merasa tidak diawasi Brigadir J lagi.
"Ibunya Senja ternyata sudah punya kekasih baru. Pantas saja, selama ini Senja selalu dibela oleh para polisi. Kalau bukan karena kekasihnya bukan seorang polisi, mana sanggup ibunya membayar mereka?"
Gunjingan demi gunjingan mulai terdengar tidak sedap di telinga Senja. "Ayahku dulu seorang polisi," sahut Senja dengan berani.
"Tapi sudah lama meninggal. Semenjak kamu dilahirkan. Ibumu saja membencimu, jadi tidak usah cari pembelaan!" sahut salah satu temannya.
Senja mengepalkan tangannya dengan erat. "Kalian menghinaku dengan mulut kalian? Namun sayang kita tak sepadan," jawab Senja yang merasa sudah kalah telak. "Tapi bagaimana kalau kita adu jotos saja?" tantang Senja dan temannya menciut.
Anak yang tidak suka dengan sosok Senja tadi segera pergi. Dia tidak tinggal diam. Dia akan menyuruh anak buah papanya untuk mengabulkan tantangan Senja.
"Tunggu seminggu lagi aku akan melawanmu!" ucap gadis jahat tadi.
"Aku tidak takut. Tapi aku minta, kalau aku menang... kalian stop ngomongin keluargaku. Kalau masih terdengar, maka aku akan menuntutmu," ucap Senja sambil kembali fokus di tempat duduknya.
Bersambung...
__ADS_1