SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Senja menurunkan roknya sambil menatap Daren yang bercucuran keringat. Padahal Daren terluka. Tapi bisa-bisanya dia memaksanya untuk melakukan hal menjijikkan semacam ini di sembarang tempat.


"Apa kau sudah puas?" tanya Senja. Dia bersandar di tepi meja, kedua sikunya bertumpu di atas meja.


Mendengar pertanyaan Senja, Daren tersenyum licik. "Belum. Aku masih mau lagi," kata Daren yang membuat Senja bergedik ngeri. Sepertinya dia telah salah melontarkan pertanyaan pada seorang psikopat seperti Daren.


"Apa di otakmu hanya berpikir hal yang seperti itu? Kau sedang sakit Daren, tanganmu terluka. Cobalah berpikir yang waras!" teriak Senja. Dia lelah jika harus melayani Daren. Lagi pula Senja cuma budak, melakukannya dengan terpaksa.


"Ck. Aku waras Senja. Apa salahku? Kau kalah, dan kau sendiri yang menyerahkan diri. Jadi gak usah kau mengaturku. Cukup layani aku setiap kau minta," ucap Daren. Dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Senja, sambil mencengkeram rambut Senja beberapa detik.


Keduanya saling bertatapan. Tatapan penuh dendam dan amarah tak bisa menutupi raut wajah mereka. Tangan Senja gatal ingin menampar sosok Daren. Tapi Daren begitu menawan. Siapa yang akan tega menampar wajah itu selain musuhnya? Senja sebenarnya tega. Tapi saat ini waktunya tidak tepat untuk melakukan kekerasan pada Daren yang sedang terluka.


"Kapan kau melepaskanku?" tanya Senja dengan serius.


"Tidak akan pernah. Atau kau mau, ibumu menderita gara-gara ini!" Daren menunjukkan sebuah memori berwarna hitam di tangannya.


Senja memicingkan matanya. "Apa itu? Kau mengancamku?" Senja kira dia bakalan takut melawan Daren? Tidak akan takut. Dia hanya sekedar kalah dalam urusan ranjang. Tidak dengan yang lainnya. Senja akan buktikan, dia yang akan berhasil membalaskan dendam atas kematian ayahnya.


"Tidak, aku hanya ingin ibumu tahu ulah anaknya," ucap Daren enteng. Tak sengaja dia meringis kesakitan saat tangan kirinya bergerak bebas.


"Sudahlah, kau beristirahat saja Tuan mafia," kata Senja dan Daren menatap Senja seperti tidak suka.


Senja pura-pura membantu Daren. Namun dengan lihai dia mengambil alih memori berwarna hitam itu dari tangan Daren.


Daren tersenyum tipis. 'Ternyata dia licik juga. Membantuku hanya gara-gara ingin tahu soal hal ini. Untung ini copy-an. Karena yang asli masih aman denganku,' batin Daren. Dia membiarkan Senja melakukan apa yang dia mau.


'Ternyata dia hanya sadis di luarnya saja. Masa begini saja dia tidak tahu kalau memory-nya sudah berpindah tangan. Mafia macam apa dia sebenarnya?' Kini Senja yang membatin. Dia tidak berpikir hal janggal sedikit-pun. Senja lupa, dia kalah licik dengan orang yang bernamakan Daren.

__ADS_1


"Persiapkan tenagamu Senja. Mungkin malam ini aku ingin lagi," kata Daren saat Senja membawa Daren duduk di sebuah kursi.


Senja menatap wajah Daren dengan marah. "Aku menolaknya," kata Senja tiba-tiba.


"Tidak ada kata menolak buat orang yang sudah kalah," bantah Daren.


"Kau gila! Aku bukan bonekamu. Ingat! Aku mungkin tidak akan pernah mau melayanimu kalau bukan pengaruh obat yang diberikan oleh om Boy waktu itu!" Nafas Senja naik turun. Dia emosi, murka pada orang yang bernama Daren itu.


"Aku tidak peduli. Bagiku kau adalah boneka se*s yg siap melayaniku kapanpun aku mau. Atau, rahasiamu akan terupload di seluruh dunia!" kata Daren sambil tersenyum penuh kemenangan.


'Sebenarnya apa yang terjadi di memori ini? Kenapa dia begitu percaya diri kalau aku bakalan kalah?' Senja bertanya-tanya. Makin ingin tahu, yang ada semakin penasaran.


"Aku beri tahu satu hal padamu. Kita punya kehidupan masing-masing. Karena aku cuma pemenuh kebutuhan biologismu, jadi aku cuma minta waktu. Hargai waktuku, kalau aku tidak punya waktu jangan dipaksa. You understand?" Senja membalikkan badannya. Hendak meninggalkan Daren.


"Kau siapa yang berani menyuruhku?"


"Kalau kau sudah tahu jawabannya, kenapa bertanya? Sekarang pikirkanlah bagaimana caranya agar pintu itu terbuka Tuan Daren?" Senja merasa geram sendiri dengan pria dingin nan cerewet seperti Daren. Daren tidak cerewet, tapi dia pandai bersilat lidah.


"Nanti juga terbuka," ucap Daren santai.


"Apa maksudmu? Ini hampir malam, semua karyawanmu pasti sudah pulang. Apa kabar denganku? Ibuku pasti mencariku!" ucap Senja. Dia balik arah menatap Daren yang dingin.


Daren hanya diam saja. 'Sebentar saja. Hanya sebentar saja kita berduaan. Apa dia tidak ada rasa rindu padaku?'


...****************...


"Semalam kau kemana saja Shela?" tanya brigadir J saat dia siap-siap untuk pulang.

__ADS_1


"Bukan urusanmu. Ku katakan sekali lagi. Sekarang aku tidak butuh bantuanmu. Dan hubungan kita hanya sampai di sini," kata Shela sambil meninggalkan J sendirian. Padahal J punya niat baik. Mempersunting Shela secepatnya, biar Shela tidak terjerumus. Semalam... J berbohong pada Senja. Karena sejatinya dia sudah lama tak menjalin hubungan lagi dengan Shela. Shela adalah wanita murahan yang mudah berpaling hanya gara-gara hal sepele.


"Sorry jagat, aku sudah tak bisa membimbing istrimu lagi," gumam J sambil menatap kepergian Shela yang seperti terburu-buru.


Di tempat yang berbeda. Shela sedang duduk sendirian. Entahlah, malam ini pikirannya kacau. Sejak kepol memperkosanya, Shela seperti tak punya niatan untuk hidup lagi. Pengkhianatan dan kebohongan yang selama ini ia berikan pada Senja seperti percuma. Meskipun dia ibu kandung Senja, Shela terlanjur membencinya. Hidupnya hancur sejak kematian suaminya. Niat hati balas dendam, namun dia sendiri salah pilih jalan.


"Mas Jagat, aku sudah tidak kuat. Semua orang hanya menginginkan tubuhku. Mereka tidak ikhlas membantuku," tangisnya pelan. Namun bisikan halus kembali muncul.


Dia menghapus air matanya. Mengambil peralatan make up dan berdandan sedikit menor. Mungkin seperti itulah hal yang bisa menghibur dirinya tanpa sepengetahuan Senja.


...****************...


"Kau sangat bodoh Senja. Kau tinggal tekan tombol pintunya, dan pintu akan terbuka!" kata Daren. Sudah berjam-jam mereka terkurung di gudang itu. Gudang itu tidak terkunci dari luar. Memang seperti itu, terkunci otomatis. Namun Senja tidak tahu cara membukanya.


'Si*l. Kenapa tidak dari tadi dia memberi tahuku? Waktuku terbuang habis hanya berduaan dengan dia. Mata biru yang menyesatkan,' umpat Senja kesal.


Senja menatap Daren sambil menekan gagang pintu itu. Dan...


Klik!


Berhasil. Pintu terbuka dengan sempurna.


"Bos, apa anda tidak apa-apa?" Ferdi terlihat khawatir saat melihat Daren berduaan dengan karyawan barunya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Daren tanpa ekspresi apapun.


'Aku tidak apa-apa, karena obat penawarku. Dia dan tubuhnya.'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2