SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Boy Meninggal


__ADS_3

"Sudahlah, sebentar lagi kau akan mati. Seharusnya kau itu taubat minta maaf. Bukannya malah teriak tidak jelas seperti itu Boy!" cibir Daren dan dia duduk di sofa milik Boy.


Daren menatap Boy yang tiba-tiba seperti kepanasan. Reaksi obat itu sangat cepat, dari kepanasan layaknya orang ter*ngsang, sampai mengejang dan mengeluarkan busa.


Daren tersenyum senang. Targetnya sudah menghembuskan nafas terakhirnya seperti yang ia inginkan.


"Lepaskan semua pakainya. Buatlah dia telanj*ng di atas ranjang!" ucap Daren sambil melepaskan sarung tangannya.


Terlihat Daren menelepon seseorang. "Bersihkan kamar nomor .... " Sepertinya Daren bekerjasama dengan orang dalam. Sampai bekas kejahatannya pun sulit dicari jejaknya.


Daren menatap penuh kepuasan saat melihat jasad Boy tergeletak di atas kasur empuk milik Boy sendiri.


"Apa kita perlu kebiri manusia seperti dia Bos?" tanya Rehan pada Daren.


Ya, kenapa Daren tidak kepikiran buat mengkebiri Samboy? Tapi, rasanya Daren tidak bisa sesadis dulu lagi. Semuanya gara-gara gadis yang bernama Senja tadi. Yang telah membawanya ke angkasa sampai Daren lupa segalanya.


"Tidak perlu, lebih baik kita cepat pergi dari sini. Dan bersihkan diri kalian sebelum para penyelidik kepolisian datang," perintah Daren dan semuanya segera bersiap untuk pergi.


Sementara itu, Daren kembali ke tempatnya. Dia melihat Senja yang sudah mengenakan pakaian yang ia belikan tadi. Sengaja Daren membelikan baju laki-laki serba hitam buat Senja. Agar Senja tidak dijadikan tersangka atas terbunuhnya Boy.


Senja meringkuk di atas lantai sambil menelungkupkan kepalanya di antara lipatan kedua lengan tangannya.


Daren jadi serba salah. Jadi ia putuskan untuk duduk sambil menikmati sebuah rokok favoritnya. "Fiuuuuhhh." Asap mengepul di udara akibat tiupan kencang dari Daren.


Senja yang tengah melamun langsung menyadari atas kehadiran seseorang dalam ruangan itu. Senja menatap Daren penuh kebencian. Selama ini orang yang ia anggap adalah seorang pahlawan, ternyata justru musuh yang ingin ia habisi.


"Apa kau sudah puas telah membuatku seperti ini?" Senja bersuara dengan gemetar. Menahan segala rasa yang ingin ia lampiaskan, tapi hatinya terlalu rapuh untuk ini.


"Harusnya kau berterimakasih padaku," jawab Daren sambil mematikan putung rokoknya dalam asbak.

__ADS_1


"Berterima kasih, kepadamu! Jangan mimpi Tuan Daren! Aku cuma berterimakasih pada orang yang menolongku, kak Justin, bukan dirimu!" teriak Senja, matanya berkaca-kaca karena emosi.


Daren terdiam. Dia masih setia mendengarkan semua ocehan yang Senja keluarkan.


"Dan karena ayahmu, ayahku jadi tiada. Ayahmu telah merenggut nyawa orang yang masih diharapkan oleh keluarganya!" ucap Senja lagi.


Kali ini Daren langsung berdiri tegap. Dia tidak terima ayahnya disalahkan. Karena ayah Senja juga melakukan hal yang sama.


"Apa kau pikir ayahku tidak diharapkan? Konyol." Daren tersenyum penuh menyindir.


Senja mengepalkan tangannya. Si*l sekali dia tidak terlalu menyimpan banyak tenaga. Mau melawan Daren sekarang, sepertinya tidak mungkin. Tapi kalau pura-pura menyerah, pasti Daren akan besar kepala.


"Tapi ayahmu seorang penjahat!" teriak Senja dengan suara yang bergetar. Daren menatap Senja jadi emosi.


Daren mendekat, melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah Senja. "Berani kau sebutkan tentang ayahku, jangan harap ibumu akan selamat," ancam Daren sambil menatap tajam ke arah Senja.


Senja segera memalingkan wajahnya. Mata Daren seperti menel*njangi dirinya. Makanya Daren jadi seliar itu menatapnya meskipun dalam keadaan emosi.


Senja menatap Daren dengan tajam. "Urusanmu denganku, bukan dengan ibuku. Kalau kau ingin menghabisinya, habisi saja aku," suruh Senja sambil menengadahkan kepalanya.


'Ah ****!' Daren tidak bisa menahan nafsunya hanya gara-gara dipameri leher jenjang milik Senja.


"Lain kali jangan memamerkan lehermu seperti ini di depan pria lain. Kau itu hanya melayaniku, tidak dengan pria lain!" bisik Daren, sambil tangannya berada di leher Senja, seperti tengah mencekik.


Senja melirik Daren dari samping. "Aku tidak sudi. Lebih baik aku mati dari pada harus melayanimu!" ucap Senja yang terus berusaha melawan.


"Apa kau benar-benar yakin ingin mati? Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu seperti orang yang mau menidurimu tadi," kata Daren sambil menjauhkan tangannya. Dia berdiri sambil bersandar di dinding seperti yang Senja lakukan.


Mendengar itu Senja langsung menatap ke arah Daren. "Apa kau membunuh om Boy? Iblis sepertimu, bi*dab!" Senja ingin memukul dada Daren, tapi dengan secepat kilat Daren menangkap tangan Senja.

__ADS_1


"Apa kau akan membiarkan Boy menidurimu? Ck, ternyata kau sama murahannya dengan ibumu. Yang mau jatuh ke dalam pelukan pria hidung belang seperti dia," kata Daren yang kali ini membuat Senja terdiam.


"Apa maksudmu? Ibuku? Jangan mengada-ada kalau kau tidak tahu apa-apa," kata Senja tidak percaya.


"Benarkah? Apa kau mau melihat pemandangan yang terjadi setelah ini?" Daren menarik lengan Senja dengan paksa. Senja memberontak, tapi Daren semakin kencang menggenggam erat tangannya.


"Lihatlah di sana!" Daren menunjukkan layar CCTV di depan Senja. Kamar yang tadinya sempat membuatnya terjebak, kini telah ramai dengan orang-orang yang mengenakan pakaian berseragamkan polisi.


Senja merinding ketakutan. Apalagi kamar itu kini diberi garis polisi, yang tandanya tidak boleh satupun orang luar masuk kecuali anggota polisi.


"Tidak!" Senja menggelengkan kepalanya kuat. Kejadian yang menimpanya barusan seperti mimpi buruk dalam hidupnya.


"Kau tahu, kau adalah orang terakhir yang bersama Boy. Kalau dia mati, otomatis kau yang akan tertuduh," kata Daren dan Senja membenarkan itu.


Senja jadi kalut dan ketakutan. Daren bukan lawan yang sembarangan. Senja harus berhati-hati, atau dia akan terjebak dalam sebuah kasus.


"Aku tidak membunuhnya. Tapi kau..." tunjuk Senja pada Daren.


"Maka dari itu, menurutlah denganku. Tetap menjadi teman ranjangku dan kau akan selamat Senja!" ucap Daren sambil meraih tengkuk Senja. Mengelus leher Senja sampai memegang rambut Senja yang terurai bebas.


"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Senja yang pada akhirnya pasrah dengan keadaan.


Di tempat yang berbeda. Shela sangat terkejut atas kabar yang ia terima. Orang yang menghangatkan tubuhnya telah meninggal.


"Memangnya Boy kenapa? Apa yang terjadi padanya sampai ia meninggal?" tanya Shela pada Brigadir J. Shela menangis tak percaya.


"Diduga pak Boy overdosis obat kuat. Karena kami menemukan dia meninggal dalam keadaan tel*njang," tegas Brigadir J, dan Shela menutup mulutnya tidak percaya.


Shela seperti dikhianati oleh kekasihnya sendiri. Selama ini dia selalu bersedia melayani Boy kapanpun yang Boy minta, tapi kenapa Boy justru minum obat kuat dan meninggal tanpa busana? Lalu siapa perempuan yang telah bersama Boy? Shela jadi curiga akan kasus ini.

__ADS_1


Akankah Senja selamat? Dan mungkinkah Shela akan menuduh Senja?


__ADS_2