
Seperti biasa. Senja menyewa becak untuk sampai di kecamatan. Karena perjalanan dari gunung, lalu sebagian penduduknya jarang memiliki kendaraan. Jadi dengan bantuan becak Senja menuju ke kecamatan guna menyewa kendaraan beroda empat. Kalau tidak begitu, Senja tidak akan sampai di tempat di mana ibunya di tawan. Dan itupun tidak cepat. Butuh 2 hari agar bisa sampai di sana.
Di tempat yang berbeda, Daren tengah menyeruput secangkir kopinya yang ia beli dari minimarket tadi. Dia duduk sambil membuka ponselnya.
"Beberapa menit yang lalu Senja online. Ah, emang si*al. Saat dia online aku malah off. Jadi kesulitan kan buat tahu di mana dia berada?" gerutu Daren kesal. Dia menyandarkan punggungnya di kursi. Lalu matanya fokus ke jalan di depannya yang terlihat lenggang.
Sementara itu, Senja sudah berada di jalan. Dia terlihat begitu fokus pada jalan yang ada di depannya. Karena tujuannya hanya satu, yaitu menolong ibunya yang tengah kesakitan.
'Aku tidak akan mengampuni pamannya Daren. Tua Bangka itu benar-benar tidak tahu malu. Apa Daren bekerjasama dengan pamannya ya? Ah, semoga saja tidak. Daren kan ada di luar negri?' batin Senja.
Di saat yang bersamaan, Daren menatap wanita itu lagi. Wanita hamil yang menurutnya mirip Senja.
"Senja?" panggil Daren pada jalanan yang jauh di depannya. 'Ah tidak mungkin,' batinnya. Daren mencoba mengucek matanya, memastikan kalau dia tak salah lihat untuk kesekian kalinya.
"Ish, kenapa wanita hamil itu sangat mirip dengan Senja? Sebenarnya dia siapa sih?" gumam Daren yang tak sengaja didengar oleh Rehan.
"Senja?" tanya Rehan memastikan.
"Iya Re. Barusan aku melihat wanita yang mirip dengan Senja. Sepertinya aku salah lihat," curhat Daren pada Rehan. 'Mungkin saking kangennya aku padanya, jadi wanita tadi ku pikir adalah Senja.'
"Oh." Rehan hanya ber-oh ria.
Lupakan Daren dan Senja. Saatnya kembali ke Shela.
"Jika dalam waktu 3 hari anakmu tidak datang, dengan terpaksa aku akan mencekik lehermu sampai kau mati," ucap Jhon. Dia sudah tidak punya kesabaran. Emosinya sudah membabi buta tak bisa dikendarai oleh yang lain. Sementara ini, posisi Marten masih aman. Karena dia sudah memberikan ide yang bagus untuk Jhon. Ya meskipun tidak mendapatkan bayaran apapun. Namun sayang sekali, sepertinya Marten memang cari gara-gara pada Daren meskipun tidak langsung. Dia tidak ingat, bahwa idenya membawa petaka pada nyawanya.
"Aku pasrah. Kau mau membunuhku sekarang juga boleh. Karena aku tidak bisa melakukan apapun untuk anakku," kata Shela. Keadaannya lebih mengenaskan dari sebelumnya. Bajunya tak berganti. Entah diberi makan atau tidak oleh Jhon. Bahkan bajunya berlumuran dengan darah yang sudah mengering dan sebagian masih basah. Wajah cantik yang ia puja, kini juga sudah tiada lagi.
...****************...
__ADS_1
2 hari kemudian. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan. Kini Senja telah sampai di tempat tujuan. Perutnya membuatnya kesulitan untuk bergerak. Dia berhenti di hotel terdekat untuk beristirahat sejenak.
Senja merasa aneh dengan hotelnya. Seperti ada yang membuntutinya dari belakang. Senja merasa was-was dan sedikit takut. Masalahnya ini daerahnya Jhon. Siapa tahu ada anak buahnya Jhon yang melihat dirinya. Tapi Senja seperti tidak perduli. Dia tengah kecapekan dan butuh beristirahat sejenak. Biar bayinya juga beristirahat, karena perjalanan yang jauh. Takut kenapa-kenapa dengan calon bayinya nanti.
Sementara itu, anak buahnya Jhon tengah tersenyum saat dia tahu informasi penting.
"Bos, sebentar lagi Senja akan datang. Dia akan menolong ibunya," ucapnya dan Jhon langsung berbinar.
"Panjang umur kau Shela. Padahal aku sudah memastikan kalau besok kau akan mati di tanganku. Tapi lihatlah anakmu. Dia begitu menyayangimu, sampai dia datang untuk menolongmu," ucap Jhon sambil tertawa terbahak-bahak.
Shela yang mendengarnya langsung menangis. Setelah apa yang ia lakukan pada Senja, ternyata Senja masih perduli padanya. "Dia lagi hamil. Kenapa bisa senekat ini untuk menolongku?" batin Shela khawatir. Karena Shela tak tahu, di mana Senja berdiam saat ini?
"Ya Tuhan, semoga Senja selalu dalam perlindungan-Mu. Aku sudah pasrah dengan keadaanku," gumam Shela. Karena selamatpun, kondisinya sudah tak sebaik dulu lagi. Wajahnya rusak, siapa yang akan mau dengannya lagi?
...****************...
Senja tidak hanya diam saja kalau soal itu, dia sudah mempersiapkan senjata untuk melindungi dirinya dan calon bayinya. Senja seperti ini karena Senja menyayangi calon bayinya. Dia tidak mau anaknya bernasib sama dengannya yang dibenci oleh ibunya sendiri. Ya, meskipun Senja tahu. Kalau dia yang akan merawatnya sendirian. Karena Daren belum tentu mau mengakui anak yang ia kandung adalah darah dagingnya.
"Huh, doain mama bisa selamat dari penjahat itu Nak. Mama seperti ini karena mama ingin menyelamatkan nenekmu. Anggap saja, ini adalah pengabdianku terhadapnya selama ini," gumam Senja. Dia berjalan keluar meninggalkan hotel itu sendirian.
Usai masuk ke dalam taksi yang ia pesan. Senja terlihat tegang. Karena dia akan masuk ke dalam lubang singa yang kapan saja bisa menerkamnya.
Tak berapa lama, akhirnya Senja sampai di sebuah rumah yang terlihat sangat kumuh. Padahal kalau dilihat dari bahan bangunannya, semua terlihat berkelas dan bagus. Hanya saja, rumah ini kurang perawatan. Jadi auranya terlihat gelap dan seram.
"Jadi di tempat ini ibuku ditawan? Jhon, aku akan buat perhitungan denganmu," gumam Senja sambil mengepalkan tangannya.
Usai mobil taksi itu pergi, Senja menatap rumah itu. Lalu dia berjalan perlahan masuk ke halamannya.
"Bodoh, kenapa dia sangat nekat? Sepertinya dia cari mati," gumam seorang pria. Hanya terlihat mulutnya. Tak jelas siapa sebenarnya orang itu.
__ADS_1
Sementara itu...
"Bos, Senja sudah datang. Dia ada di halaman rumah ini," kata salah satu anak buahnya Jhon.
Marten menoleh dengan kaget. "Jhon berhasil membawa Senja kemari. Aku harus segera menghubungi Bos Daren," gumamnya sambil membuka ponselnya.
"Bos. Nona Senja mendatangi tempat paman Jhon. Sepertinya dia ingin menyelamatkan ibunya."
Sebuah pesan dari Marten masuk ke dalam ponselnya Daren. Daren memicingkan matanya menatap pesan itu.
"Dasar tidak berguna. Kenapa dia menghubungiku saat Senja sudah mendatangi rumah paman? Keterlaluan," gumam Daren kesal.
"Kenapa Bos?" tanya Rehan penasaran.
"Daren mendatangi rumah paman. Dan Marten baru memberi tahunya sekarang," jawab Daren.
...****************...
Senja masuk sudah berhasil masuk ke dalam rumah itu. Terlihat Jhon duduk bersandar di kursi dengan tangan dibentangkan di atas sandaran kursi.
"Wah wah, akhirnya kau datang juga sayang." Jhon menyambutnya.
Senja menatapnya tidak suka. Sumpah rasanya dia ingin muntah mendengar panggilan sayang dari mulutnya Jhon.
'Wanita ini, kenapa dia terlihat sangat seksi saat hamil? Ah, aku sudah tidak sabar untuk menidurinya,' batin Jhon dengan licik.
Bersambung...
Akankah Senja bisa selamat dari Jhon? Lalu bagaimana dengan keadaan Shela?
__ADS_1