SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Puas


__ADS_3

...****************...


"Kau masih sama rupanya?" ucap Daren sambil berdiri di samping Silvana yang tengah berlenggak-lenggok. Badannya bergoyang seirama dengan nada yang tengah dijalankan oleh DJ pria bertato di atas sana.


Merasa diajak bicara, Silvana segera menatap orang yang ada di sampingnya. Wajah keterkejutan dari Silvana menggambarkan betapa lamanya mereka tidak bertemu. Rasa rindu dan wajah berbeda dari Daren membuat Silvana sedikit pangling.


"Bram?" ucap Silvana setengah bertanya. Ya Daren punya segudang nama untuk setiap mangsanya. Agar tak terlacak oleh polisi dan sebagainya.


"Ya, siapa lagi?" Daren tersenyum meremehkan.


"Ya ampun, sudah berapa tahun kita tidak berjumpa?" ucap Silvana sambil memberikan pelukan hangat untuk Daren.


Bau alkohol itu sangat menyengat di hidung Daren. Tapi hal ini sudah lumrah. Daren sudah terbiasa minum alkohol, bahkan rajanya. Karena seberapapun yang ia habiskan, Daren tidak pernah merasa mabuk.


"Yang kau ingat hanya tahun. Kau tidak ingat saat kita saling mendesah bersama Sil?" ucap Daren setengah menyindir Silvana.


"Ah itu, gimana kalau malam ini?" tawar Silvana sambil merangkul leher Daren tanpa sungkan-sungkan.


"Boleh," jawab Daren mengiyakan. Dia tidak mungkin melewatkan kesempatan ini.


"Kau terlihat bahagia," kata Daren yang hanya berdiri tegap. Dia sama sekali tidak menggerakkan badannya seperti pria yang lainnya.


"Ah kamu kepo!" jawab Silvana sambil tertawa renyah. Mungkin bagi pria lain, senyuman Silvana sangatlah menawan. Tapi bagi Daren, itu senyum murahan yang pernah ada.


Jelas Silvana bahagia, sebab dia sudah terlepas dari jerat Tuan Louis. Tapi tidak dengan jerat Daren.


Sudah beberapa jam lamanya. Akhirnya Silvana menyudahi dansanya. Dia merasa capek dan mendekat ke arah Daren yang tengah duduk sambil bermain ponsel.


"Sudah?" tanya Daren terlihat begitu perhatian.


"Kau masih sama, perhatian," ujar Silvana senang.


"Karena kau masih kekasihku," jawab Daren. Rayuan maut, tapi mengungkapkannya dengan wajah datar. Tidak terdengar merayu, namun mampu melelehkan perasaan si mangsa.


"Alah gombal," kata Silvana. Wanita mana yang tidak mengelak saat dirayu oleh buaya?

__ADS_1


"Happy birthday," ucap Daren dan membuat Silvana terkejut.


"Kau masih ingat ulang tahunku?" Silvana tidak percaya ini. Yang sebenarnya terjadi, Mr. Louis lah yang memberi tahu Daren.


"Apa sih yang tidak ku ingat?" kata Daren meremehkan.


"Kau tidak mau memberikan kejutan untukku?" lanjut Daren lagi.


"Baiklah, aku akan menyewa tempat untuk kita. Maukan kau menemaniku malam ini?" ajak Silvana dan Daren terdiam. Dia tidak ingin terlihat murahan. Cukup isyarat mata, Silvana pasti paham.


Daren tidak ingin Silvana meninggal dalam keadaan tidak sadar. Jadi dia tidak membiarkan Silvana menikmati setetes alkohol masuk ke dalam tenggorokannya.


"Ah, kamar pesananku sudah siap!" kata Silvana sambil berdiri dengan tergesa.


"Kau disinilah. Sebelum aku telepon jangan datang! Aku mau memberikan kejutan untukmu," kata Silvana dengan riang.


Daren hanya menatap kepergian Silvana dengan rasa kasiahan. Sebentar lagi, Silvana akan hilang dari bumi ini.


Diam-diam Daren membuntuti Silvana dari kejauhan. Dia hanya tidak ingin ditipu oleh wanita simpanan para hidung belang ini.


Dengan pelan dan hati-hati, asal Silvana tidak tahu keberadaannya. Maka Daren pasti aman.


Cukup diam dan mengawasi dari luar. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering.


"Sabarlah sedikit mister Louis. Percayalah, aku tidak akan mengecewakanmu," jawab Daren lagi. Benar-benar tuan Loius itu tak sabaran jadi manusia. Ingin mengumpat, tapi itu bukanlah Daren. Kekesalannya akan ia lampiaskan sebentar lagi. Ya sebentar lagi. Pikir Daren sambil memegang setir mobilnya kuat-kuat.


Hampir setengah jam lamanya Daren menunggu. Tiba-tiba sebuah nomor baru mengiriminya pesan.


"Bram sayang, aku ada di jalan merpati. Perumahan Blok E nomor X. Dari pacarmu Silvana."


Membaca pesan itu, Daren mengumbar senyum. Dia memastikan senjatanya ia bawa. Lalu dia menatap spion. Dirinya memang tampan rupawan, tapi hatinya... benar-benar seperti iblis tanpa punya hati nurani sedikitpun buat orang lain.


Mobil Daren berhenti tepat di halaman rumah. Baru saja Daren ingin mengetuk pintu rumah itu, tiba-tiba saja seseorang membukanya. Daren menatap Silvana yang tengah berdiri tersenyum ke arahnya. Rambut berwarna pirang itu di sanggul ke atas, terlihat seksi apalagi Silvana hanya mengenakan bathrobe putih yang menonjolkan lekuk tubuhnya.


"Bram!" Wanita itu langsung menghambur ke pelukan Daren begitu erat. "Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu. Sesuai apa yang ku katakan tadi," katanya dengan riang.

__ADS_1


Daren tersenyum kecil. Dia mendekatkan mulutnya tepat di telinga Silvana. "Aku juga punya kejutan untukmu," katanya setengah berbisik.


Silvana tertawa senang. Setelah dia bebas dari laki-laki yang bernama Louis itu, akhirnya dia tetap bisa merasakan bahagia. Segera Silvana menarik tangan Daren, mengajaknya masuk ke dalam sebuah ruangan.


Daren hanya diam saja. Dia cuma melihat ke dalam ruangan itu sudah dihiasi oleh lilin-lilin dan juga kelopak bunga mawar merah. Sepertinya kamar ini didesain khusus untuk malam ini.


Silvana melepaskan tangan Daren. Dia berjalan ke arah tengah ruangan. Sementara Daren masih berdiri di ambang pintu. Menyaksikan Silvana yang tengah membelakanginya.


Tanpa aba-aba, Silvana melolosi bathrobe-nya tanpa memperhatikan Daren lagi. Terlihat di sana, Silvana hanya mengenakan bikini berwarna hitam legam, kontras sekali dengan kulit putihnya seperti air susu dan kopi.


"Bram, kemarilah! Tangkap aku!" perintah Silvana sambil berlari kecil.


Daren tersenyum sangat menawan. Dia melihat Silvana yang berlari di depannya tanpa melihat apa yang Daren lakukan saat ini. Tanpa sepengetahuan Silvana, Daren mengeluarkan mengeluarkan belati kecil dari kaos kakinya.


Langkah kaki Daren begitu cepat, dia berhenti tepat di belakang Silvana. Sebelum Silvana berbalik ke arahnya, dengan secepat kilat Daren menusukkan belati itu tepat ke leher Silvana. Darah memuncrat kemana-mana beriringan dengan pekikan Silvana yang tak bisa didengar oleh siapapun lagi.


Dari sorot matanya, Silvana tidak percaya dengan apa yang dilakukan Daren kepadanya. Rasa panas di lehernya begitu menyiksa. Silvana mencoba minta tolong, namun suaranya hilang.


Daren tersenyum begitu menawan. Dia terus melangkahkan kakinya seiring langkah kaki Silvana yang perlahan mundur hingga terjerembab di atas kasur.


Silvana merasa tertipu atas kebaikan Daren selama ini. Dia ingin menangis tapi percuma. Orang yang ada di depannya adalah iblis. Di saat Silvana ketakutan, bukannya menolong tapi Daren malah asik bermain belati yang penuh darah tadi di depan Silvana.


"Kenapa sayang? Bukankah kau ingin menghabiskan malammu denganku?" Daren tertawa renyah. Tak segan-segan dia menindih tubuh Silvana yang hanya mengenakan bikini itu. Bertumpu dengan kedua lengannya yang berada di samping kepala Silvana, sementara kakinya masih menginjakkan lantai.


Silvana ketakutan, mulutnya megap-megap tanpa bisa mengeluarkan suara apapun.


"Jangan terlalu dipaksakan Silvana. Senjataku tadi, tepat mengenai pita suaramu. Jadi sekuat apapun usahamu, suaramu tidak akan pernah muncul lagi, hahaha."


Daren menekan wajah mulus Silvana dengan belatinya. Perlahan namun pasti, belati itu menggores luka dalam wajah mulus itu hingga mengeluarkan darah segar di seprei.


Silvana menangis. Kepercayaan diri yang tinggi tadi, kini mengkhianati dirinya. Rasa sakit di tenggorokan serta wajahnya membuat Silvana putus asa.


"Selamat tinggal sayang," ucap Daren sambil menikam jantung Silvana tanpa ampun. Sedetik kemudian, Silvana menghembuskan nafas terakhirnya. Melihat itu Daren tertawa puas. Dia menikam Silvana seperti menikam jantung Senja.


Daren melihat tangannya yang berlumuran darah, bukannya menyesal Daren justru mencium bau anyir itu sampai dia puas. Lalu Daren menuju ke toilet, membasuh bekas darah tadi.

__ADS_1


"Tugasku sudah selesai. Kirimkan anak buahmu untuk membersihkan jejaknya," kata Daren sambil menutup sambungan teleponnya.


Bersambung...


__ADS_2