
Usai disuapin oleh Daren, Senja tetap bersikap biasa saja. Sudah hampir habis setengah, oh my God. "Sudah, kamu saja yang makan Daren," ucap Senja tersenyum manis.
"Ya udah kalau gitu." Daren memakan makanan itu dengan lahap. Senja ingin memuntahkan isi perutnya, namun masih belum bisa.
"Kamu kenapa Senja?" tanya Daren menatap curiga. Sebab Senja terlihat begitu gelisah.
"Aku kekenyangan saja," jawab Senja berbohong. Tampaknya Daren tidak ambil pusing dengan kebohongan Senja. Jujur saja, masakan Senja malam ini sangat lezat.
Makan malam pun usai. Senja menatap Daren yang sudah masuk ke kamar lebih dulu. Buru-buru Senja memasukkan jarinya ke dalam mulutnya.
"Hoek!" Hanya mual, tapi tidak bisa mengeluarkan isi perutnya. "Gimana ini?" Senja ketakutan. Sebelum racunnya bereaksi, dia ingin mengeluarkannya. Namun gagal terus.
Senja penasaran dengan kondisi Daren. Senja ikut masuk ke dalam kamar. Dia melihat Daren yang tengah fokus di depan laptop. Tiba-tiba...
"Hoeek. Duh, kepalaku pusing banget." Senja memegangi kepalanya. Senja menatap Daren, tapi kenapa Daren terlihat biasa saja? 'Perasaan dia makan lebih banyak dariku.'
"Auh, perutku mules. Ya Tuhan..." Senja ngacir ke kamar mandi.
Daren memicingkan matanya. Menatap kepergian Senja penuh curiga. Daren terlihat masa bodoh dan kembali menatap layar laptopnya.
"Woeek!" Daren membekap mulutnya. Tiba-tiba perutnya mual seperti orang yang masuk angin.
Daren menuju ke wastafel. "Woeeek!" Makanan yang ia telan tadi keluar semuanya.
"Si*lan. Senja meracuniku," ucap Daren. Dia sadar kalau makanan yang Senja berikan padanya mengandung racun. Daren terus memuntahkan isi perutnya. Tiba-tiba dia merasa lemas. Energinya terkuras.
"Ah, perutku mulas!" Daren memegangi perutnya. Dia berlari menuju ke kamar mandi. Tapi kamar mandinya tengah dipakai oleh Senja.
"Senja, buruan! Senja!" Baru juga Daren berteriak. Senja sudah keluar dengan wajah yang dibasahi air. Kini giliran Daren yang masuk ke kamar itu. Belum juga Daren kelar, Senja sudah menggedor-gedor pintunya. Kedua manusia itu terus ngocar- ngacir ke kamar mandi hingga jam 2 pagi.
Daren merebahkan diri di kasur. Lemas tak punya tenaga. Begitu pula dengan Senja. Dia juga membaringkan dirinya di samping Daren. Benar-benar 10 kali dia keluar masuk kamar mandi. Dan sekarang tidak ada yang dikeluarkan lagi. Tersisa hanya rasa lemas dan mulas yang belum hilang.
Di tempat yang berbeda. Ferdi ingin menemui Klan Y untuk menyampaikan permintaan maaf Daren.
Tapi yang ia lihat justru paman Jhon dan beberapa orang berkulit hitam. Ferdi menyusup dan bersembunyi di bilik pintu.
"Apa dia akan datang?" tanya Jhon dengan suara yang serius.
__ADS_1
"Sepertinya dia akan datang. Sebab anak buahnya sudah mengatur jadwal pertemuan kita. Jam 10 malam ini," ucap orang-orang dari klan Y.
"Bagus. Jangan sampai dia lolos."
"Bukankah dia anak angkatmu? Kenapa kau ingin membunuhnya?" tanya ketua klan Y.
Jhon tersenyum menyeramkan. Dia banyak alasan untuk melakukan itu. Dan musuhnya tidak harus tahu tentang apa yang dia inginkan.
"Aku tidak membunuhnya, aku hanya ingin memberikan pelajaran untuknya," ucap Jhon sambil tertawa lebar. Dia hanya berkilah, agar klan Y tidak terlalu mencurigai kebusukannya.
'Gawat, rupanya ini adalah jebakan,' batin Ferdi ketakutan. Dia tadi pergi seorang diri. Ferdi mengira kalau klan Y adalah kelompok baik-baik.
Ingin menghubungi Daren, sepertinya tidak mungkin. Jadi Ferdi hanya merekam percakapan mereka dari bilik pintu masuk itu.
"Baiklah, kalau berhasil jangan lupa bagianmu," ucap ketua dari klan Y.
"Tentu saja. Harta Daren sangat banyak, seperti memberikannya 10% tidak akan merugikanku," ucap Jhon lagi. Dia ingin menghabisi Daren, lalu menguasai harta dan memiliki Senja. Jhon sudah tidak sabar untuk meniduri tubuh molek Senja. Dan setiap hari dia akan melihat wajah cantik Senja. 'Aku sudah tidak sabar untuk itu,' batin Jhon.
Krek!
"Dia anak buah Daren! Berhenti di sana!" teriak Jhon saat mengetahui keberadaan Ferdi yang hendak kabur dari sana.
Door!!
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu!" Jhon mengancam Ferdi. Ferdi menyembunyikan ponselnya di boxernya. Agar kalau terjadi apa-apa, Daren tahu bahwa pamannya adalah penjahat yang sebenarnya.
Setelah Ferdi tak bergerak. Jhon justru menipunya. "Habisi orang ini!" perintahnya dan dalam sekejap, Ferdi tak berdaya. Dia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Kami berhasil membunuhnya Pak Jhon. Lalu harus kita kemanakan jasadnya?" tanya klan Y. Semua demi uang, makanya klan Y mau melakukan apa saja saat disuruh Jhon.
"Buang saja ke laut," ucap Jhon sambil tersenyum devil. Jika Ferdi dibiarkan hidup, bisa mati riwayatnya nanti di tangan Daren. Karena sejauh ini, Jhon masih berpura-pura di depan Daren. Agar Daren tidak menaruh curiga kepadanya.
Di tempat yang berbeda.
"Sudah puas kau meracuniku Senja?" tuding Daren. Dia menolehkan kepalanya ke samping menatap Senja.
Senja masih mengatur nafasnya. Lalu dia juga balik menatap Daren. 'Mampus, kenapa Daren bisa tahu kalau aku meracuninya?'
__ADS_1
"Kenapa? Kau sudah tak sayang sama hidupmu hm?" ucap Daren yang mengingatkan Senja kejadian 13 tahun yang lalu. Di saat Senja masih berusia 6 tahun dan Daren 13 tahun.
"Aku masih sayang sama hidupku Daren. Makannya hanya kamu yang ku racuni," ucap Senja dan Daren melotot sempurna. Daren tidak sadar, dia pikir Senja mengajaknya mati bareng.
"Kau!!" Daren tak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Kau mau ngetawain aku? Silahkan Daren, aku emang bodoh," sahut Senja. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Daren. Pasti Daren tengah mengejeknya, karena Senja juga ikut teracuni dengan perbuatannya sendiri.
Daren ingin tertawa tapi tidak bisa. Dia merasa kasihan pada Senja. "Iya kau sangat bodoh Senja. Kau terus berpikir yang negatif tentang diriku," ucap Daren.
Senja menatap Daren dengan tajam. Ada hal yang berbeda di matanya.
"Senja," panggil Daren. Dia memegang pipi Senja.
Mata Senja berkaca-kaca. Daren terus mengelusnya sambil berusaha merapatkan wajah mereka.
"Ah Daren. Perutku mules." Senja langsung terlonjak dari kasur dan berlari ke kamar mandi.
Daren juga diare, tapi tak separah yang Senja alami. Hingga Daren putuskan untuk keluar. Dia tengah bersiap-siap dan ingin menghubungi Rehan. Namun matanya terkejut saat mendapati sebuah berita.
"Ferdi meninggal Bos. Seseorang telah membunuhnya."
Membaca pesan yang seperti itu, Daren segera bersiap. Melupakan rasa mulas di perutnya, karena berita yang ia dapati lebih parah dari pada racun yang diberikan Senja untuknya.
"Daren, kau mau kemana?" tanya Senja yang baru saja keluar kamar mandi.
"Aku ada urusan. Jaga dirimu, dan buang semua masakanmu. Oiya, di dalam kulkas ada obat diare," ucap Daren dan Senja melongo.
"Kau, kenapa selalu telat memberitahu?" Senja kesal dengan Daren. Pantas Daren hanya beberapa kali saja masuk ke kamar mandi. Tidak seperti dirinya yang sudah belasan kali.
"Di etalase depan ada biskuit, makanlah itu. Aku harus pergi." Dan Daren benar-benar meninggalkan Senja sendirian di pagi buta seperti ini.
"Mau kemana dia di jam 3 pagi seperti ini?"
...****************...
Bersambung...
__ADS_1