
"Makanlah yang kenyang. Tapi jangan buat dirimu mengantuk. Sebab kita harus cepat ke markas sahabatku. Kasihan, sudah hampir sebulan dia mencari Ferdi. Tapi pulau ini sangat luas, jadi nanti kita harus berpencar. Dan ya, lindungi diri kalian. Hutan ini masih banyak hewan buasnya," ucap Daren memperingati.
"Baik Bos!" Dan anak buah Daren begitu senang. Setidaknya mereka tidak pernah mati kelaparan. Mungkin jika ada yang mati itu karena ditembak oleh penyusup. Karena Daren tidak akan mulai perkara jika tidak didahului.
Sementara Daren, dia mencoba menghubungi nomor Senja. Entah kenapa, dia sangat ingin mendengar suaranya.
"Ah, nomornya tak aktif? Sebenarnya dia ada di mana? Kenapa aku merasa sangat dekat dengannya?" gumam Daren.
Dia tak pantang menyerah. Sambil menunggu anak buahnya makan, dia terus menghubungi Senja.
Senja usai minum susu hamil. Setelah selesai mencucinya, dia merasa bosan. Akhirnya dia menyalakan ponselnya. Baru saja HP-nya aktif, nomor baru menghubunginya.
"Siapa ya? Ah, biarkan saja. Mungkin paman Jhon atau orang nyasar," gumam Senja yang membiarkan ponselnya terus berdering.
Sementara itu, Daren tersenyum saat nomor Senja aktif. 'Dia aktifin ponselnya buat siapa ya? Apa dia tidak berniat menghubungiku?' batin Daren. Saat di hutan seperti ini, kenapa dia begitu merindukan Senja? Daren ingin mengulang kembali masa-masa mereka berduaan. Sudah lama mereka tak bertemu setelah kejadian salah paham kemarin.
'Aku mencintaimu dan masih dendam padamu,' batin Daren. Benarkah dendam itu masih ada? Bagaimana jika Daren tahu kalau Senja saat ini mengandung anaknya, akankah dendam itu masih membara?
...****************...
Senja berjalan ke sebuah kebun milik tetangga. Di sana dia melihat pohon jeruk yang berbuah sangat banyak.
"Wah, subur sekali. Mama pengen metik 1 boleh tidak ya?" gumam Senja sambil mengelus perutnya. Mungkin ini yang dinamakan ngidam. Dari kemarin Senja menginginkan buah jeruk mentah itu. Tapi belum kesampaian. Dan sekarang baru ada waktu buat menjejakkan kakinya di sana.
"Mau ngapain di situ Nak?" tegur salah seorang warga sekitar.
"Ah, saya cuma lagi jalan-jalan di sini Tante. Buah jeruknya sangat lebat ya," ucap Senja sambil nyengir.
"Mau Tante suruh metik, tapi masih muda. Ini masih mentah dan rasanya pasti sangat kecut. Apa kau menginginkan buah ini?" tanya petani jeruk itu.
Mata Senja berbinar seketika. "Apa saya boleh memetiknya?" tanyanya penuh harap.
"Ambil saja, sepertinya kamu menginginkan buah ini," kata petani tadi yang Senja pikir adalah warga sekitar.
"Terima kasih banyak," jawab Senja. Dia sangat bahagia saat Senja diperbolehkan untuk memetik buah jeruk itu dengan tangannya sendiri.
"Ayo kita olah buah jeruk ini jadi minuman untuk kita nak," ucap Senja pada bayi yang masih dalam perutnya.
__ADS_1
Saat pulang, lagi-lagi Senja mendapati ponselnya berdering. "Woah, 10 kali. Siapa sebenarnya orang ini?" Karena penasaran, akhirnya Senja mengangkat telepon itu.
"Halo!"
Deg!
'Dia mengangkatnya,' batin seseorang. Dia menyunggingkan senyum bahagia tanpa beban.
"Senja, bagaimana kabarmu?"
Tut Tut Tut...
Sambungan telepon terputus. "Ah si*lan. Jaringanku hilang." Daren emosi. Susah payah dia berusaha mencari sinyal untuk menghubungi Senja. Tapi ujung-ujungnya sangat mengecewakan.
"Ah tapi tak apa. Akhirnya aku mendengar suaranya," gumam Daren. Separuh rongga hatinya seperti mendapatkan mood booster.
"Semuanya, ayo semangat. Saatnya kita kembali berjalan menyusuri hutan ini," ucap Daren. Dia terlihat layaknya orang yang tengah dimabuk asmara. Jadi dia terlihat tak seperti biasanya. Biasanya garang, sekarang jadi sedikit lembut.
"Baik Bos." Rehan dan kawan-kawannya kembali menyusu hutan itu.
Di tempat yang berbeda. Ferdi tengah membantu sang kakek mencari kayu. Ferdi heran, kenapa kakek ini diasingkan sendirian di sini. Makan hanya mencari dari hasil hutan, kadang mencari ikan di laut. Tak ada nasi. Hanya daun-daun yang kadangkala membuat mereka keracunan. Untung tidak sampai mati.
"Seseorang menginginkan aku mati," cerita kakek itu.
"Nasibku sama sepertimu. Musuh membuangku di lautan. Mereka pikir aku akan mati saat di buang. Beruntung saat itu ada pohon yang mengapung di air laut. Jadi aku naik di sana, dan aku berhasil selamat. Untung hutan ini tidak terlalu menyeramkan, jadi aku bisa bertahan sampai sekarang," ceritanya berlanjut.
"Siapa yang membuang kakek?"
BRAK!
Terdengar pohon yang roboh. Kakek itu menatap Ferdi. "Ada yang masuk ke hutan ini. Lebih baik kita sembunyi," kata sang kakek itu.
Tanpa curiga, Ferdi juga mengikuti jejak si kakek. Padahal di luar sana, sahabat Daren tengah menebang pohon untuk dijadikan kursi atau apapun sebagainya. Mereka membawa alat yang berguna untuk berjaga-jaga.
"Potong kayunya kecil-kecil. Yang penting bisa dipakai untuk duduk," kata sahabatnya Daren. Kayu itu mereka potong sesuai permintaan. Rumput liar mereka bersihkan guna dijadikan jalan kecil. Itu semua mereka lakukan agar Daren tidak kesulitan saat masuk ke dalam hutan.
Meskipun jarang di huni, setidaknya hutan ini masih terlihat terang. Tidak menyeramkan seperti mitos-mitos yang beredar.
__ADS_1
"Ah hampir selesai. Apa stok makanan kita masih ada?" tanyanya pada bawahannya.
"Tinggal beberapa. Apa Tuan Daren membawa stok makanan untuk kita?" tanya anak buahnya.
"Harusnya membawa. Aku sudah memberitahunya sebelumnya," jawab si senior mafia.
Cukup lama. Akhirnya orang yang ditunggu datang juga. "Ada apa dengannya?" tanya sang senior pada Daren saat melihat anak buah Daren terluka.
"Dia hampir masuk ke jurang. Berhati-hatilah, di tempat ini ada jebakan," kata Daren memperingati temannya.
"Tapi kita harus cepat mencari. Apa kau perlu beristirahat? Aku sudah membuatkan tempat duduk untukmu. Apa ada yang membawa tenda?" tanya si senior.
"Kami membawa semuanya. Dan ya, stok makanan untuk kita sudah siap," kata Daren.
"Aku tak memasak apa-apa. Anak buahku menemukan buah masam di hutan, dan ini bisa buat mengganjal perut," kata teman Daren.
"Ada sedikit nasi, dan lauk seadanya kalau kau lapar," lanjutnya.
Namun Daren tergoda akan buah berwarna Oren kemerahan itu. "Aku ingin mencicipinya," kata Daren namun ditahan oleh Rehan.
"Anda tidak boleh makan sembarangan Bos. Biar aku saja yang mungkin mencicipinya sebelum Anda," kata Rehan melarang.
Saat Rehan baru mengambil buah itu. 2 orang anak buah Daren berlari ke arah mereka.
"Bos, aku melihat ada orang lain selain kita," katanya.
"Apa? Apa mereka baru datang?" tanya Daren. Dia harus waspada, siapa tahu itu musuhnya.
"Kami hanya melihat bayangannya, tidak tahu selebihnya."
"Bodoh, ayo kita cari mereka sekarang! Dan ya aku melupakan ini!" Daren mencopot sebiji buah tadi. Entah kenapa, tiba-tiba mulutnya menginginkan buah yang rasanya asam ini.
"Hati-hati Bos. Aku takut kalau buah ini beracun," kata Rehan mengingatkan Daren.
"Kau terlalu khawatir Re." Daren mengunyahnya. 'Kenapa buah masam ini terasa lezat di mulutku?' batin Daren.
Sementara itu. Senja baru saja menghabiskan segelas jus jeruk buatannya. "Sepertinya kau menyukai rasa jeruk mentah sayang," kata Senja. Dia tak ambil pusing soal telepon asing tadi.
__ADS_1
Bersambung...