
Obat yang diberikan oleh Daren bereaksi. Senja merasa lebih baik 2 kali lipat dari biasanya. Aneh, tapi tubuhnya benar-benar terasa fit.
"Kau beri aku obat apa Daren?" Senja menatap Daren penuh selidik.
Daren diam saja. Dia tadi panik. Jadi dia memberikan cairan haram itu ke tubuh Senja.
"Yang penting kau tidak merasa sakit. Harusnya kau berterimakasih padaku." Daren terlihat marah. Dia menuju ke depan. Merasa bersalah pada Senja. Tapi ini juga akan menguntungkan buatnya. Senja ketagihan dan akan terus mencarinya.
Ting!!
Tombol pintu apartemennya sedang ditekan. Sepertinya itu adalah Rehan. Daren berjalan kesana. Dan Rehan membawakan semua apa yang ia inginkan.
"Di sini saja," ucap Daren. Dia melarang Rehan masuk ke dalam apartemennya.
Rehan merasa tak biasa. Daren yang dulu selalu memberikan keleluasaan padanya, sekarang melarangnya untuk masuk.
"Tugasmu masih banyak Re!" Daren mencoba mengingatkan atas kekepoan Rehan kepadanya. Sebelum Senja hamil, Daren akan menutupi semua rahasia ini.
"Iya Bos. Saya pamit dulu!"
"Kasih tahu kabar selanjutnya soal Ferdi! Dan ya, mereka memfitnah kita soal kejadian semalam. Berhati-hatilah!" kata Daren, terlihat Rehan mengangguk tanda mengerti. Lalu dia menutup pintu apartemennya.
"Kau memesan banyak makanan?" tanya Senja sambil menatap barang-barang yang ada di tangan Daren. Hampir saja Daren terkejut. Ia kira Senja mendengar pesannya dengan Rehan tadi.
"Iya, buat makanmu," jawab Daren kemudian.
"Kau diam disitu!" Daren menuju ke dapur. Membuatkan makanan untuk mereka berdua. Sementara ini Daren tidak percaya dengan masakan yang dibuat oleh Senja. Takut diracuni lagi. Sedangkan saat ini banyak masalah yang harus ia hadapi. Padahal Daren sendiri juga telah membuat kesalahan seumur hidupnya. Tapi...
__ADS_1
Tak berapa lama. Daren mengajak Senja makan. Jika Senja ragu untuk memakannya. Daren justru menyindirnya. "Aku tidak sebodoh dirimu, memberikan racun di dalam makanan!"
Senja jadi menyesal. Tapi kapan dia akan balas dendam jika tidak menggunakan cara seperti kemarin?
"Kapan kau akan melepaskanku Daren?" tanya Senja dipertengahan acara makan mereka.
Daren melepaskan sendoknya. Mendadak dia tidak nafsu makan. Selalu pertanyaan itu yang dilontarkan oleh Senja. Tak adakah pertanyaan lain, yang membuat Daren senang?
"Aku mau berangkat!" Daren meninggalkan meja makan. Dia menuju ke kamar mandi. Padahal niatnya masih ingin berduaan dengan Senja. Tapi keinginan itu sirna gara-gara Senja ingin dilepaskan.
'Apa yang membuatnya tidak betah tinggal denganku?'
Daren sudah bersiap-siap. Memakai kemeja, dasi dan juga jas. Sangat tampan, tak memperlihatkan bahwa dia seorang mafia.
Senja menatap Daren. Daren mengabaikannya. Itu tandanya Daren sudah tak membutuhkannya lagi. Tapi kenapa Daren masih mengurungnya?
Berbeda dengan Daren. Dia diam bukan berarti bosan. Dia hanya ingin Senja mengerti. Bahwa di luar sana masih berbahaya. Namun sayangnya, Daren tak berani mengutarakan semua itu. Di lain sisi, dia masih ingin balas dendam. Tapi di sisi lain... sepertinya aku membutuhkanmu.
Daren berhenti seketika. "Ibumu? Masihkah ibumu membutuhkanmu? Kau itu anak yang dibenci oleh ibumu. Dan ya, bagi ibumu kau itu sudah mati Senja. Jadi apa yang kau harapkan dari ibumu?"
Senja berjalan ke depan, berhenti tepat di depan Daren.
PLAKK!
Satu tamparan melayang tepat di pipi Daren. Daren tanpa ekspresi. Lumayan sakit, tapi dia masih stay cool.
"Jangan kurang ajar kau Daren. Ibuku melahirkanku, dan aku masih hidup. Kau punya mulut harap dijaga. Mentang-mentang aku menjadi tawananmu, lalu kau dengan seenaknya menginjak-injak harga diriku? Manusia macam apa kau itu?" Senja emosi. Nikotin yang masuk ke dalam tubuhnya telah memberikan keberanian yang besar untuk Senja. Daren saja terkejut dibuatnya.
__ADS_1
"Sekarang kau tidak percaya padaku Senja. Tapi suatu saat... kau akan melihatnya sendiri. Bagaimana kelakuan ibumu di luar sana!" Daren meninggalkan Senja dan menekan tombol pintu apartemennya dengan kasar.
Senja berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Andai Daren punya hati, andai Daren adalah pasangan Senja. Dia tidak akan tega meninggalkan Senja seperti tadi. Semua terjadi dilandasi atas dasar benci dan dendam. Meskipun saling membutuhkan, tapi tak ada yang mau mengakui. Karena sampai sekarang, Senja tak memperlihatkan tanda-tanda kalau dia menyukai Daren.
...****************...
"ARGH!!!" Daren emosi. Penuduhan tentang kejadian semalan masih berlanjut. Di antaranya ada yang menduga teror**. Dan di antaranya lagi menduga orang biasa. Jika Daren yang mengungkapkan kasus ini, pasti sangat mudah. Namun sayang, lawannya klan Y dari negara seberang. Jadi itu yang akan memakan banyak waktu atas kasus ini.
Ingin menemui Klan Y sekarang, itu mustahil. Ferdi mati. Tapi Daren yakin, Ferdi belum mati.
"Ya, Ferdi belum mati. Aku harus mencarinya. Klan Y, bagaimana jika aku hanya diam tanpa melawanmu? Apa kau akan menyerang macan tutul lagi?" Daren tersenyum miring. Dia mencoba bersikap pasif, tak menanggapi kejahatan klan Y. Jika mereka masih mengusik klannya, berarti mereka memang sedang cari perkara.
...****************...
Telepon berdering dengan kencang. Daren tengah mencengkeram tubuhnya. Luapan emosinya menginginkan darah. Tapi semenjak Mr. Louis meninggal, Daren belum menghabisi nyawa siapapun. Dia butuh darah, bau anyir yang seperti candu untuknya.
Telepon itu terus berbunyi. Dan dengan tangan yang gemetar, Daren mengangkatnya.
"Bos! Ada seorang wanita, dia mengaku sebagai ibu kandungnya Senja. Dan dia ingin bertemu dengan Anda!"
Ini adalah sasaran empuk untuknya. Melihat Shela terbujur kaku dengan darah uang yang mengalir di depannya. 'Apakah aku harus menemuinya?'
"Bos! Apa kau masih di sana?" Meta bertanya keberadaan Daren. Karena sedari tadi Daren bungkam.
'Tidak! Ini belum saatnya membunuhnya. Biarkan Senja tahu keburukan ibunya tanpa campur tangan dariku,' batin Daren lagi. Sepertinya menemui Shela tidak masalah.
"Persilakan dia masuk!" ucap Daren lalu memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Aku mau lihat, apa yang kau inginkan dariku Shela?"
Bersambung...