
...****************...
Hari pertama bekerja, Senja diberikan banyak pekerjaan. Dia membuang nafasnya, lalu meraup sebanyak-banyaknya. "Fiuuuuh!!" Senja mencoba duduk sejenak di kursi. Sedari tadi dia belum beristirahat sama sekali. Semua pekerja di perusahaan ini seperti menjadikan dirinya babu.
"Eh kamu! Tolong fotocopy ini 10 kali, dan yang ini 20 kali. Terus sekalian bawakan amplop berwarna coklat," perintah cewek yang bernama Shasa tadi.
Rasanya Senja ingin berteriak, baru saja dia bisa bernafas lega. Sekarang pekerjaan datang lagi. Padahal dia hanya pegawai magang yang belum tentu dibayar.
"Tak apa Senja, demi disayangi ibumu kamu harus kuat!" Senja segera bangkit dari tempat duduknya.
"Nenek lampir itu, mentang-mentang suka sama Daren jadi sok berkuasa di sini," gumam Senja sedikit kesal. Pasalnya tidak hanya sekali saja Shasa menyuruhnya, tapi ini sudah kesekian kali yang membuat Senja jadi kelelahan.
Di saat Senja sedang berada di tempat fotocopy-an. Beberapa orang melangkah seperti tergesa-gesa.
"Tuan direksi sudah menunggu. Kita harus cepat. Pengacara yang menangani kasus kemarin gagal, jadi kita harus cari strategi baru."
Senja segera berdiri dan menatap mereka dari belakang. Hatinya seperti berkata munafik buat Daren yang sudah berhasil mengelabuhi para pengacara senior di negeri ini.
Siapa yang akan mengira, kalau direktur mereka adalah seorang kepala suku mafia macan tutul. Mereka tahunya hanya bekerja dan digaji. Tapi tidak dengan Senja, yang saat ini hanya menjadi pegawai magang. Jadi sangat sulit baginya untuk menemui Daren secara langsung.
"Sudah?" Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Senja menoleh dan mendapati Shasa ada di sampingnya.
"Sedikit lagi hampir selesai Miss," kata Senja yang segera mengambil beberapa lembar kertas warna putih kosong dan meletakkan ke tempat fotocopy-an. Selang beberapa menit kemudian, tugasnya pun selesai.
"Miss!" Senja mencari keberadaan Shasa, namun Shasa sudah menghilang dari pandangannya.
"Dasar tak sabaran," gumam Senja dan berjalan cepat menuju ke ruangan Shasa.
"Hei karyawan magang! Ambilkan aku minuman di pantry dong?" Salah seorang karyawan perempuan yang lain menyuruhnya.
"Aku juga, teh hangat!"
Senja terdiam. Dia tetap berjalan melewati kaum hawa yang terus menyuruhnya ini itu. Padahal dia menjadi karyawan magang dalam menangani kasus tertentu. Bukan magang menjadi office girl.
...****************...
__ADS_1
"Oh astaga, kakiku!" gumam Senja sambil mengipasi kakinya yang lecet akibat bolak-balik sana sini menuruti perintah karyawannya si Daren.
Daren yang tak sengaja keluar dari lobby melihat Senja seperti kesakitan. Dia segera memanggil ajudannya.
"Tanyakan pada Anita, dia sudah memberikan tugas apa saja buat karyawan baru itu?" Daren berkata sambil terus menatap Senja. Entah kenapa, raut wajah Senja menggambarkan dirinya yang selalu kosong meskipun dirinya dalam keramaian.
"Baik Bos!" Si ajudan langsung menelepon Anita melalui telepon kantor.
Merasa diperhatikan, Senja segera menoleh. Namun sayang, orang yang dilihatnya hanya membelakanginya. Jadi Senja kembali mengenakan sepatunya meskipun itu membuatnya sakit.
Daren jadi tidak tega. "Fer!" teriaknya pada ajudannya yang lain.
"Ya saya Tuan!"
"Belikan sepatu import wanita size 39," perintah Daren dan membuat si ajudan mengernyitkan keningnya.
"Bukankah ukuran kaki Mrs. Flow 38, kenapa ini 39?" Pertanyaan si Ferry membuat Daren tersadar. Dia lupa bahwa dia ada janji untuk menemui perempuan manja anak dari Tuan Louis.
"Cancel soal yang tadi. Antarkan aku ke tempat Flow!" perintahnya dan tiba-tiba ajudan yang menelepon Anita tadi mendekat.
"Baiklah. Aku harus cepat ke tempat Flow!" kata Daren dan diikuti karyawan yang lainnya.
Daren sempat melirik tempat Senja tadi, namun Daren tidak menemukannya.
'Ck, apa yang hampir aku lakukan padanya? Peduli? Aku bukan Justin yang berpura-pura peduli padanya,' batin Daren sambil terus berjalan keluar gedung.
...****************...
Sepulang bekerja. Senja dikagetkan dengan kehadiran Boy yang sudah menunggunya di parkiran mobil.
"Senja, bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya Boy terlihat sangat perhatian.
"Kakimu kenapa?" tanya Boy saat menyadari jalan Senja berbeda.
"Aku tidak apa-apa Om," kata Senja sedikit menghindar.
__ADS_1
Dari lantai 10 seseorang menatap penuh kebencian dengan kehadiran orang yang bernama Boy di halaman kantornya. Memang sangat jauh dan tidak terlalu jelas. Tapi sosok di dalam ruangan ini seperti menangkap sesuatu yang jelas di luar sana.
"Bos... ... ..." Pria itu menelepon sang Bos besarnya. Setelah berkata oke, si pria tadi langsung menaiki lift dengan cepat.
Sementara itu...
"Kakimu lecet Senja. Ini tidak baik. Ayo ikut Om! Om akan mengobatinya," ajak Boy sambil menggandeng tangan Senja.
"Tapi Om," tolak Senja sambil menarik tangannya dari Boy.
"Gak ada tapi-tapian Senja. Ibumu pasti akan memarahimu kalau melihat kakimu seperti ini!"
Entah kenapa, mendengar kata ibu membuat Senja jadi menurut pada Boy. Senja tidak sadar, bahwa Boy menggunakan senjata itu untuk mengelabuhi mangsanya.
Boy tersenyum penuh nafsu saat melihat tubuh Senja dari belakang. 'Sudah lama aku menantikan momen ini. Dan aku tidak akan membiarkan kamu lepas dariku lagi,' batin Boy dengan senyuman devilnya.
"Ini mau ke mana Om?" tanya Senja saat menyadari kalau Boy membawanya ke tempat parkiran yang begitu luas. Gedung tinggi seperti kantornya Daren. Hanya saja ini bukan kantor, melainkan apartemen pribadi milik orang-orang kaya.
"Om mau mengobati kakimu Senja. Sudah jangan berpikiran yang macam-macam, soal ibumu... serahkan semuanya sama om Samboy!" kata Boy meyakinkan Senja. Ya, nama lengkap Boy adalah Samboy. Karena Samboy terkesan seperti sambal, jadi lebih macho kalau dipanggil dengan panggilan Boy.
Melihat Senja yang hanya diam saja. Boy langsung mengulurkan tangannya ke pundak Senja. Senja terkejut, tapi saat menatap wajah Boy yang seperti tak ada niatan jahat. Jadi Senja mengijinkan saja. Senja justru terpikirkan akan perhatian seorang ayah.
'Mungkin seperti ini perhatian ayah ke anaknya,' batin Senja, matanya berkaca-kaca karena selama ini dia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah padanya.
"Nah ini dia tempat om!" kata Boy sambil membukakan pintu apartemennya. Mempersilahkan Senja masuk, bahkan menyuruhnya untuk duduk.
Boy tersenyum penuh kemenangan. Dia pura-pura ke dapur membuatkan minum, dan tak lupa dia memasukkan sesuatu berupa serbuk warna putih. Hingga tak akan terlihat saat dilarutkan ke dalam air.
"Minumlah Senja. Kamu pasti kehausan. Oiya, om tinggal ambil salepnya dulu," kata Boy yang sangat lihai dalam ilmu pura-pura.
Senja hanya mengangguk saja. Dia juga haus, jadi tak sungkan Senja meminum air yang diberikan Boy kepadanya tadi. Tanpa curiga apapun, Senja menyeruput air tadi hingga seperempatnya.
Boy yang melihat itu langsung puas. 'Ah, aku sudah tidak sabar untuk menidurinya,' batin Boy sambil mengelus juniornya.
Sementara Senja, dia tidak sadar kalau Boy sedang menjebaknya saat ini.
__ADS_1
Bersambung...