SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Pasrah Dengan Kemauan Daren


__ADS_3

...****************...


Daren mengawasi Jhon dengan cara sembunyi-sembunyi. Orang-orang suruhan Jhon tengah berada di sekeliling rumah Senja. Mungkin Jhon sedang menginginkan Senja malam ini.


Daren tersenyum sinis. Dia tidak akan pernah membiarkan Senja jatuh pada pamannya. Dari awal Darenlah yang berjuang. Daren juga yang ingin membalas dendam ayahnya dengan tangannya sendiri. Tapi di lain sisi, Jhon punya ambisi tersendiri.


"Bos, kenapa di sini? Ini berbahaya untuk Anda," ucap Rehan yang lebih dulu ada di sana. Daren yang menyuruhnya.


"Aku ingin menemui paman Jhon," ucap Daren dengan wajah emosi.


"Lebih baik jangan, dia bisa menghabisi Anda, Tuan. Aku rasa, Anda pura-pura tidak tahu saja. Karena sekarang ini paman Jhon telah bekerjasama dengan klan sebelah," ucap Rehan dan Daren paham.


Bagaimana bisa Daren menghadapi Jhon, jika Jhon dilindungi oleh musuhnya?


'Paman benar-benar mengkhianatiku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki Senja. Karena sampai kapanpun dia milikku.'


Tanpa sadar, Daren telah mengakui Senja adalah miliknya. Tapi dia tetap ingin balas dendam. Rumit memang hidupnya.


"Baiklah, awasi mereka. Kalau ada apa-apa, tolong beritahu aku!" Daren menepuk pundak Rehan sebelum meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, Senja tengah mencoba untuk melepaskan diri. Tapi dia tidak akan bisa. Kedua kakinya telah diborgol oleh Daren. Tapi kalau sekedar berdiri dia bisa. Senja berdiri dan berjalan ngesot. Tangannya bebas meraih apa saja. Tapi pintu apartemen terlalu kuat untuk bisa ia buka. Jadi dia memutuskan untuk mencari lebih dalam soal Daren. Senja rasa, di dalam apartemen pribadi ini semua menceritakan soal Daren. Dengan ngesot Senja berkeliling di ruangan itu. Di sana hanya ada foto-foto Daren mengenakan jas hitam.


Senja menoleh ke arah kamar Daren. Ide buruk muncul. Dia masuk ke dalam kamar itu. Kamar serba hitam untuk hati yang gelap seperti Daren. Sangat cocok. Tapi kamarnya tidak seram. Daren hanya seperti pria yang tengah sedih. Dari awal Senja mengira Daren punya nasib yang sama dengan dirinya. Tapi saat melihat kekejaman Daren, Senja rasa penilaian tentang Daren sangat salah.


Di tempat yang berbeda. Daren mampir di sebuah minimarket. Membeli buah segar, minuman dan beberapa makanan ringan. Mungkin ini adalah secuil bentuk perhatian Daren pada Senja.


Daren masih di minimarket, dan Senja juga masih berada di kamar Daren. Senja mencari-cari apa saja yang mungkin adalah sebuah informasi. Dia menggunakan tangannya mencoba membuka laci Daren. Tapi matanya tergelitik pada sebuah foto yang mencuri perhatiannya. Foto masa kecil Daren yang diperkirakan berusia 13 tahun.


Senja mencoba meraih-raih foto itu. Namun foto itu tak terjangkau olehnya akibat kakinya yang keborgol.


Klik!

__ADS_1


Senja mendengar seseorang membuka pintu.


"Matilah aku!" gumam Senja dan segera mengesot keluar dari kamar itu.


"Jangan sampai Daren tahu aku masuk ke kamarnya."


Daren berjalan perlahan-lahan. Lampu yang gelap agak menyulitkan pandangannya. Daren berjalan pelan menuju kursi di mana dia meninggalkan Senja. Takut kalau Senja sudah tertidur di sana. Namun yang ia dapati justru sangat mengecewakan. Senja tidak ada di kursi itu.


Senja ketakutan. Dia masih terjebak di dalam kamar Daren. Dia berharap Dewi Fortuna berpihak padanya. Setidaknya Daren tidak melihatnya kalau Senja berada di dalam kamar Daren.


"SENJA!! Di mana kau!" teriak Daren. Dia meletakkan barang bawaannya tadi dengan kasar di atas meja.


"Senja, aku yakin kau masih ada di sini! Keluar kau!" Daren berjalan waspada. Dia mencoba mendengarkan suara yang ada di rumahnya.


Daren curiga dengan kamarnya. Tapi pintu kamar itu masih tertutup rapat. Daren akan mencekik Senja kalau sampai ketahuan masuk ke dalam kamar itu. Kamar yang penuh privasi seratus persen tentang dirinya.


Daren berbelok ke dapur, dia mencoba mencari Senja di setiap sudutnya. Tapi sayang, Senja juga tidak ada di sana.


"Srek!"


Suara kaki diseret membuat Daren menolehkan kepalanya. "Mau lari kemana kau!" Daren memergoki Senja yang kini sudah berada di samping lemari.


Kepergian Daren ke dapur tadi, dimanfaatkan Senja untuk keluar kamar. Dia berhasil keluar dari masalah baru. Tapi sayangnya Senja belum mendapatkan informasi apapun soal Daren. Kecuali Daren yang rapuh sama sepertinya.


"Lepaskan aku Daren!" teriak Senja saat Daren berjongkok tepat di depannya.


"Tidak akan!" ucap Daren sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Aku akan melaporkanmu ke polisi. Karena telah menyekapku!" ucap Senja dengan kesal.


"Laporkan saja. Kau tak ingat siapa aku. Aku pemilik kantor hukum, seorang direktur utama. Siapa yang akan percaya dengan laporanmu itu?" Daren menatap tajam ke arah Senja. Padahal dia ingin duduk bersantai sambil menikmati makanan ringan dan minuman soda. Tapi harapan itu pupus saat melihat tingkah laku Senja yang terus berusaha menolaknya.

__ADS_1


Senja balik menatap Daren. Iris biru itu terlihat mematikan dan menarik dalam satu waktu. "Baj*ngan!" Senja memukul dada Daren dan dengan cekatan tangan Daren menangkapnya.


"Aku ingin dirimu Senja," ucap Daren tiba-tiba.


"Tidak Daren!" tolak Senja lagi.


"Bukankah kau teman ranjangku? Apa kau ingin aku mengundang wanita lain untuk bercinta di depanmu?" Daren tersenyum, namun dia takut kalau Senja mengiyakan ucapannya. Mana mungkin Daren bisa sembarang bercinta, sedangkan dia tidak hobi bermain wanita. Daren bukan Jhon yang rela melakukan apa saja demi bergonta ganti menikmati tubuh wanita di setiap malamnya.


Daren menatap Senja yang bungkam. "Ku rasa kebungkamanmu adalah rasa bersediamu melayaniku," ucap Daren.


Senja diam bukan berarti dia setuju. Dia hanya bimbang. Ingin lepas pun juga tidak bisa. Dan akhirnya kini dia menyerah. Malam ini dengan kesadaran sepenuhnya dia melayani kemauan Daren.


"Emph!" Daren memainkan lidahnya di dalam mulut Senja. Mengabsen seluruh rongga mulut Senja dan sesekali menarik-narik lidah Senja dengan penuh menggoda.


Sambil menikmati ciumannya, Daren menggendong Senja dengan ala bridal style. Dia membawa Senja ke sofa. Sejenak Senja merasa aneh. Kenapa tidak dibawa ke kamar? Bukan maksud berharap, tapi Senja punya tujuan di sana.


"Emh Daren!" ucap Senja saat Daren melepaskan tautan bibir mereka.


Daren pikir Senja kecewa saat bibir mereka berjauhan. Tapi saat Daren hendak mengecup Senja lagi. Senja menahan dada Daren dengan tangannya.


"Kenapa kau menghentikanku?" tanya Daren sedikit kesal.


"Aku rasa di sini kurang luas," pancing Senja.


"Aku tidak bebas. Dan aku tidak bisa menikmati sentuhanmu," ucap Senja lagi.


Masih 19 tahun, tapi otak Senja mulai tercemar dengan hal-hal yang berbau 21 plus plus. Semua karena diajari oleh Daren. Dia yang telah merenggut kesuciannya di saat Senja masih berumur 18 tahun.


"Ternyata kau menggatal juga seperti ibumu," balas Daren. Sebenarnya dia sempat curiga. Senja waras tidak dalam pengaruh minuman apapun, tapi kenapa tiba-tiba dia jadi tunduk pada Daren dengan semudah itu?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2