SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Senja Seperti Hidup Sendirian


__ADS_3

...****************...


Ke-esokan harinya.


Lagi-lagi kantor ini seperti tidak ada auranya. Manusia yang di dalamnya cuma bekerja dan bekerja. Hanya Senja yang masih disuruh ini dan itu.


"Gara-gara Daren ke luar negeri, hari-hariku terasa sepi tanpanya," ucap Shasa dan Senja tak sengaja mendengarnya.


'Ke luar negeri? Sejak kapan?' Senja penasaran. Masalahnya Daren seperti tak ada niatan pergi ke luar negeri. 'Terakhir kali aku lihat dia di mal. Apa iya dia melakukan transaksi gelap di mal? Sebenarnya dia ini siapa? Mafia tapi punya kantor pengacara, sungguh seperti mustahil menurutku,' batin Senja. Dia mulai ingin menyelidiki tentang Daren. Tapi kalau mencari tahu di kantor ini, rasanya sulit. Di seluruh penjuru telah dipasang layar CCTV yang cukup besar. Jadi mau tidak mau, karyawan lainpun akan tahu gerak-geriknya.


...****************...


"Sebenarnya apa maumu Lex? Sepertinya kau salah cari mati denganku," kata Daren tepat di depan Alex.


Alex bukan seorang mafia. Dia hanya seorang pria kaya raya tapi terkenal naughty. Nakal dalam pemakaian obat-obatan terlarang dan sejenisnya. Yang membuat Daren curiga adalah kelakuan Alex yang berani membunuh orang-orangnya. Padahal masuk ke gudangnya itu tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi Alex bisa masuk semudah itu. Pasti ada kerja sama dengan orang dalam.


"Negeri kita emang bodoh. Tapi aku tidak Daren! Aku tahu, kaulah yang membunuh Silvana! Iya kan?" Alex mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkan ke depan wajah Daren.


Daren terlihat biasa saja. Seperti tidak ada ancaman apapun di sana. "Buat apa aku membunuh Silvana? Aku bahkan tidak punya hubungan khusus dengannya," kata Daren dengan enteng.


"Bohong! Kalian pernah pacaran, pasti kau punya dendam padanya. Sampai kau berani membunuhnya!" tuding Alex lagi.


"Aku tidak ada masalah dengannya. Kau salah paham Alex. Kau terlalu cemburu sampai kau buta dengan cara berpikirmu!" ucap Daren meremehkan. Ya, Daren hanya pembunuh bayaran. Dia membunuh bukan karena kemauannya sendiri.


DOORR!! DOOR!! DOOR!!


Alex melepaskan tembakannya membabi buta. Sedetik lagi kalau Daren tidak menghindar, mungkin peluru itu akan bersarang di otaknya.

__ADS_1


DOOR!!


Daren menghindar. Mati-matian baru kali ini dia melawan orang psikopat seperti Alex.


"Si*l, kalau begini caranya aku bisa mati di sini!" gumam Daren. Dia merangkak mengambil senjatanya. Pistol berisi timah panas yang akan langsung membunuh mangsanya.


Daren membidik keberadaan Alex. Sangat sulit, Alex menggunakan pelindung besi di balik bajunya.


'Pintar juga dia. Pasti sudah berguru pada yang lebih ahli,' batin Daren yang merasa kalau Alex jadi musuh yang sepadan dengannya.


DOOR!!!


Gila, Daren hampir ketembak untuk sekian kalinya. Daren harus bermain curang, kalau tidak... dia bakalan kalah.


Daren membuka panggilan Darurat. 'Si*l!' umpatnya dalam hati. Jaringan ponselnya diputus. Ternyata Alex sudah membaca strategi Daren lebih dulu.


'Ada pengkhianat di sini! Aku harus bertahan. Aku akan habisi Alex!' batin Daren. Mau tidak mau, dia bermain solo.


JLEBB!!


Daren menghunuskan belati kecil tepat di jantung anak buahnya Alex. Darah segar mengalir di mana-mana. Sepertinya Alex kurang pandai dalam hal ini. Dia cuma mengandalkan alat dari tembak yang dibawanya.


Alex menyadari senjata yang dipegang oleh Alex. 'Itu milik paman!' batinnya. Dan apesnya, saat berdiam, sebuah tembakan meluncur ke arahnya. Kali ini Daren tak bisa menghindar. Peluru itu bersarang tepat di lengan Daren.


Argh!!! Meringis kesakitan. Tapi dia kebal.


Kali ini Daren yang menembakkan pelurunya tanpa ampun. Semua anak buah Alex ia bunuh di tempat. Daren tahu akan kelemahan senjata itu. Jadi ia biarkan Alex menembakinya. Karena kalau sampai kehabisan peluru, pistol itu tak akan bisa diisi. Harus menunggu beberapa jam sampai panas meredam.

__ADS_1


"Ayo Lex! Tembaklah aku!" tantang Daren. Alex bukanlah penembak handal seperti dirinya. Semua dilandasi akan dendam yang tak berujung. Jadi Daren yakin, dia bisa mengalahkannya.


Baru juga ditantang, senior dari klan lain datang menyerbu Daren.


'Gawat. Aku tidak punya seribu nyawa buat melawan mereka. Lebih baik aku mundur!' Daren merangkak. Dia mencari jalan keluar. Menemukan sebuah jendela kaca dan menghancurkannya.


Tapi anggota klan lain tidak menyerah. Dia mengejar Daren sambil terus menekan pelatuknya.


Argh!! Daren kembali terluka. Tangannya bercucuran darah, tapi tak ia abaikan. Ia terus berlari. Meloncat dari atas tingkat ke tingkat bawahnya. Kalau dia salah arah, pasti dia akan celaka. Jadi Daren benar-benar waspada agar dirinya tetap selamat.


...****************...


Di tempat yang berbeda. Senja mendapati ibunya berbau alkohol, Shela mabuk. Senja memicingkan matanya tidak suka. Sejak kapan ibunya itu mabuk? Apa ibunya sudah mulai salah bergaul?


"Apa-apaan ini ibu?!" Kali ini Senja berteriak. Pulang dari luar kota bukannya bawa oleh-oleh. Ini datang-datang malah mabuk.


"Ibu!!" Senja melotot saat mendapati tubuh ibunya dipenuhi kissmark.


Senja menangis sambil membawa ibunya masuk ke kamarnya. Bukannya merasa bersalah atau berterima kasih kepada Senja. Shela justru berulang kali mendorong tubuh ibunya.


"Ibu gak butuh bantuanmu!" katanya sambil berjalan terhuyung-huyung. Shela segera merebahkan dirinya di kasur. Dia cekikikan sambil memanggil nama Jhon.


Senja menitikkan air matanya. Ibunya sudah tak bisa dipercaya lagi. Cinta dan kesetiaannya kepada almarhum ayahnya sudah tidak ada lagi. Yang Shela pikirkan hanya kesenangan semata.


"Jhon? Ada hubungan apa ibuku dengan pria yang bernama Jhon itu? Selingkuhan atau hanya sekedar budak ****?" gumam Senja tidak habis pikir dengan ulah ibunya. Bahkan gara-gara menuruti kemauan ibunya, Senja juga terjebak dengan Daren. Apakah Shela perduli dengan keperawanan Senja? Tidak ada sama sekali. Shela terlalu egois, dia hanya terus memuaskan kebutuhannya sendiri tanpa memikirkan hidup Senja yang menderita tanpa kasih sayang orang tuanya.


"Kenapa ibu jadi seperti itu? Kenapa hanya demi membiayaiku, dia jadi menjual diri?" Tangis Senja pecah. Tak ada seorangpun yang perduli padanya. Om J? Senja trauma akan kedekatannya dengan Boy yang pernah hampir merusak hidupnya. Jadi dia hanya percaya pada dirinya sendiri. Semua orang telah menjauhi dirinya hanya karena dia anak dari abdi negara dan dikucilkan oleh ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Akankah Senja bisa bertahan akan kehidupannya? Bagaimana dengan Daren? Apa dia bakalan selamat?


Bersambung...


__ADS_2