
...****************...
"Kenapa ini bisa terjadi?? Kalian ngapain aja?" Daren sangat emosi. Barang dagangannya telah dicuri oleh penyusup. Ini semua karena akhir-akhir ini Daren sibuk mengurusi urusan lain. Sampai bisnis utamanya ia abaikan.
"Sepertinya klan orang berkulit hitam cari mati Tuan!" ucap Rehan memberitahu.
"Kerjamu gimana Re? Kenapa hal ini bisa terjadi?" sindir Daren. Padahal kerja Rehan semua atas perintah dari Daren sendiri.
"Saya minta maaf Bos!! Karena mereka membunuh penjaga gudang kita. Jadi dengan mudahnya mereka masuk dan mengambil barang-barang kita," terang Rehan.
"Ehm, ttap layani customer kita dengan baik. Ambil barang yang di gudang tersembunyi," suruh Daren dan Rehan mengiyakannya.
Uang transferan sebanyak itu sudah masuk. Jadi Daren tak mungkin mengcancelnya. Lagian penyamun itu kurang pintar dari Daren. Tidak mungkin Daren hanya menyisakan satu tempat untuk menampung barang dagangannya. Dia masih punya seribu tempat tersembunyi. Hanya saja, ini gudang utamanya. Isinya hampir satu ton. Dan ternyata malah dicuri oleh musuhnya.
'Mereka cari mati. Aku harus mengambil kembali barang yang bukan hak mereka.' Daren menyuruh para ajudannya untuk menyiapkan senjata.
"Bersiap! Kita langsung terbang ke Nigeria sekarang!" perintah Daren. Namun seorang anak buahnya menolak.
"Tapi Bos, apa mereka secepat itu kembali ke tempat asal mereka?"
Daren terdiam. Dia kembali menjadi seorang pelacak. Ada keganjalan di sini. Dari Indonesia ke Inggris butuh waktu yang lama. Dan info terbaru lagi, orang berkulit hitam masih ada kegiatan lain. 'Jadi siapa lagi pelaku di balik semua ini? Apa paman Jhon? Apa dia kembali mengkhianatiku?' batin Daren curiga.
Sudah berani membunuh anak buahnya, berarti sudah siap dihabisi oleh Daren.
"Kita temui pengkhianat dari kita!" Daren menyuruh anak buahnya bersiap-siap.
__ADS_1
"Baik Bos!!"
10 orang anggota siap melacak rumah Jhon. Suasana di kediamannya terlihat sepi, kotor. Sepertinya Jhon sudah 1-2 hari tidak berada di rumah. Daren semakin yakin kalau Jhon pelakunya.
"Coba cari di casino. Mungkin dia bertransaksi di sana," ucap Daren lagi.
Tapi Daren curiga saat Jhon berada di hotel berbintang, hotel Victoria di luar kota. "Hotel? Apa dia bersama seorang wanita?" gumam Daren. Tapi kalau di hotel, sepertinya dia tidak butuh banyak ajudan.
"Kembali ke markas!" perintah Daren dan semuanya merasa aneh.
"Baik Bos!!"
Setelah sampai di markas. Daren memberikan tugas masing-masing buat anak buahnya.
"Kalian bertiga, silahkan pergi ke Inggris. Cari tahu kegiatan apa saja yang dilakukan oleh musuh kita!"
Menuju hotel Victoria memakan waktu yang cukup lama. Mungkin baru besok pagi Daren sampai di sana. Jadi mulai hari ini, Daren benar-benar melupakan Senja untuk sementara.
...****************...
Ke-esokan harinya.
Kantor D GROUP terasa begitu sunyi. Semua orang-orangnya bekerja seperti biasa. Senja ikut melihat ke arah yang lain, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.
"Oiya Miss, hari ini aku bertugas di lantai berapa ya?" tanya Senja pada resepsionis.
__ADS_1
"Hari ini terserah kau ajalah. Tugasku masih banyak, jadi jangan ganggu aku!" jawabnya dan Senja tersenyum kecut.
Dia berjalan ke lantai 2, melihat Shasa di sana. Namun wajah Shasa tak terlihat ceria seperti biasanya? 'Tumben, ada apa dengan Mak lampir itu?' batin Senja. Namun dia tidak mau ikut campur urusan orang lain. Jadi dia memilih duduk di tempat biasa. Mengerjakan tugas yang belum ia selesaikan.
"Fotocopy in ini!" Shasa tiba-tiba menyodorkan beberapa lembar kertas di depan meja Senja. "Masing-masing 5 lembar," lanjutnya.
Senja menurut saja. Entah dia atau perasaannya, hari ini terasa sangat sepi baginya. Rasanya tidak semangat. Padahal harusnya dia senang karena tidak berjumpa dengan Daren. Tapi kemarin-kemarin Daren seperti selalu ingin berjumpa dengannya. Tapi tidak dengan hari ini, dia seperti menghilang begitu saja.
"Ya udahlah gak apa-apa. Aku memang harus menang, biar tidak melayaninya lagi," gumam Senja. Dia mulai beraktifitas seperti biasanya.
Di tempat yang berbeda. Daren merasa tertipu. GPS pamannya membohonginya. Ternyata pamannya tidak berada di hotel Victoria, melainkan di villa pribadi miliknya. Yang artinya hanya membutuhkan 2-3 jam untuk sampai dari Jakarta. Tapi ini? Daripada Daren putar balik, akhirnya dia memerintahkan Ferdi untuk menyelidiki villa pribadi milik Jhon. Di manapun Jhon sembunyi, Daren pasti tahu. Karena sebagian harta yang dimiliki oleh Jhon adalah miliknya.
"Bos, paman Jhon menginap dengan seorang wanita," ucap Ferdi. "Dia adalah..."
Daren yang mendengarnya menganggap biasa saja. Segera ia memotong omongan Ferdi tadi dengan cepat. "Cari tahu berapa lama dia di sana? Dan sebelumnya apa dia bertemu dengan orang Nigeria?" tanya Daren. Dan Daren mencoba mengawasi cctv kantor melalui ponselnya. Baru juga Daren melihat wajah Senja, tiba-tiba Rehan meneleponnya.
"Gawat Bos!! Pelaku pencurian ganja adalah Alex, mantan pacarnya Silvana!" kata Rehan yang membuat Daren mengetatkan rahangnya.
"Louis! Apa dia tidak bisa tutup mulut?" Daren geram sendiri.
"Bukan mister Louis, tapi orang-orang mister Louis yang telah mengkhianati mister Louis!"
"Sial*n! Oke aku akan menemui Alex. Beri petunjuk padanya, kalau aku akan datang." Daren siap melawan Alex. Dan sepertinya ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Perang dan perebutan barang.
'Selamat bersenang-senang tanpaku Senja. Tapi aku pastikan, setelah kita bertemu lagi... kamu akan kalah dariku!'
__ADS_1
Bersambung...