
...****************...
Beberapa hari kemudian.
"Senja, beberapa bulan ke depan aku ada tugas di luar negeri," ucap Daren saat Senja sedang memasak.
Daren tengah duduk dan seperti biasanya, sambil memperhatikan Senja yang tengah sibuk memasak. Takut diracuni oleh Senja lagi.
"Lalu kau mengurungku tanpa akses apapun Daren? Menonton televisi tanpa handphone itu membuatku seperti hidup di penjara, dan kenapa aku tak kamu bebaskan saja?"
Lagi-lagi kata dibebaskan membuat Daren murka. Senja lupa, bahwa Daren benci kata itu.
"Kau, apa kau lupa! Jangan pernah minta kebebasan dariku, kecuali aku yang menyuruhmu!" Daren mendekat dan mencengkeram leher Senja.
Daren memperhentikan muka Senja sampai matanya. Muka polos tanpa polesan apapun. Daren menawannya tanpa memanjakannya. Tapi Daren suka itu. Daren tak suka Senja tampil cantik untuknya.
Daren melepaskan tangannya dari leher Senja. "Makin hari kau terlihat gendut. Cukup makan yang baik, tapi aku tidak suka perempuan gendut. Kenapa kau buat dirimu gendut seperti ini?" Daren menilai tubuh Senja dari atas sampai bawah.
Senja mana tahu tubuhnya gendut atau tidak. Pakaiannya sehari-hari cuma kaos oblong dan boxer. Ditambah lagi akhir-akhir ini dia malas menatap cermin. Cuma kadang-kadang nafsu makannya memang naik. Namanya juga pengangguran, tak ada kerjaan. Apalagi selain makan dan tidur.
"Tapi aku suka, kau terlihat cubby dan yah... ini lebih padat berisi," ucap Daren, tangannya sangat nakal. Meremas bagian sensitif milik Senja.
'Ahh.'
"Sepertinya aku ingin sarapan yang lain," ucap Daren menyeringai.
"Daren, air ini panas. Kau jangan macam-macam!" ancam Senja sambil memperlihatkan panci yang berisi air mendidih. Tadi Senja ingin memasukkan sayuran ke dalamnya. Tapi terhenti gara-gara Daren.
Klik!
Daren mematikan nyala api itu. "Aku tidak ingin main di sini. Tapi di sini!"
__ADS_1
"Daren!" Senja tersentak saat Daren membawa tubuhnya di atas meja.
"Kau jangan gila Daren!" Senja ingin turun, tapi terlambat. Daren sudah membuka kaki Senja dengan lebar.
"Aku ingin sarapan yang lain hari ini. Melahapmu!" ucap Daren. Dan yeah, lagi-lagi Daren dan Senja kembali berolahraga panas.
Sepertinya Daren tak menyadari akan perubahan Senja. Begitu pula Senja. Saking lamanya menjadi seorang tawanan, dia lupa bahwa dia adalah seorang perempuan yang harus tampil cantik. Memang Daren keterlaluan, biasanya di mana-mana seorang pria akan mempercantik wanitanya. Tapi Daren, dia seperti membuat Senja seperti gadis tomboi yang hanya mengenakan pakaian pria.
"Ehm, sangat lezat. Terimakasih Senja," bisik Daren yang usai mengeluarkan benih-benihnya ke dalam rahim Senja. Dia mencium bibir Senja dan meninggalkan Senja yang terkulai lemas di atas meja itu.
Senja sangat heran. Dia sangat menyukai perlakuan Daren terhadapnya. Entah kenapa itu, dari tadi dia memejamkan matanya. Ini seperti sebuah momen terakhir, karena Daren akan meninggalkannya beberapa bulan ke depan.
'Bagaimana jika aku merindukannya? Bahkan di sini aku tidak bisa mengetahui kabarnya,' batin Senja. Dari yang mendes*h berubah jadi tangisan sekarang.
Mana tahan dia hidup sendirian dalam sangkar emas? Di luar terlihat seperti sangkar emas, tapi di dalamnya dia seperti tahanan KPK yang terus mengenakan kaos oblong. Tak bisa berdandan atau sekedar menikmati udara bebas.
"Kau masih betah di sana Senja!" Daren yang usai mandi terkejut dengan posisi Senja yang belum pindah dari tempatnya.
Senja merubah posisinya dan menurunkan kaosnya. Dia turun dari meja dan mengambil celana boxernya. Usai melemparkan celananya ke mesin cuci, Senja segera membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Ia hendak mengelap meja itu, namun ditahan oleh Daren.
"Mandilah, aku mau mengajakmu ke suatu tempat," ucap Daren dan Senja terbelalak.
"Kau mau mengajakku keluar?" tanya Senja sumringah.
"Ke suatu tempat bukan berarti keluar. Cepatlah mandi. Jangan lama-lama!" Daren menyuruh Senja.
Senja tersenyum senang. Seperti layaknya pasangan baru. Senja merasa ini adalah kencan pertama mereka.
"Dia mau ajak aku kemana ya?" gumam Senja. Dia menatap tubuhnya ke cermin. Perutnya memang agak berisi, buah dadanya juga terlihat begitu kencang. Lalu dia menatap wajahnya yang dulu tirus, sekarang berubah jadi cubby. "Ya ampun, naik berapa kilo berat badanku? Pantas Daren mengejekku. Apa aku harus diet, biar Daren tidak menjauhiku? Ah, mikirin apa aku ini? Justru dia menjauh itu lebih baik." Senja bimbang dan dia melanjutkan mandinya. Usai mandi, dia dikejutkan dengan beberapa dres di dalam lemari Daren.
"Apa kau menyukainya?" ucap Daren yang tiba-tiba melingkarkan tangannya di perut Senja.
__ADS_1
Hampir saja Senja jantungan. Bahkan hari ini Daren terlihat tak biasa. Daren begitu manja kepadanya. Senja jadi takut, kalau ini adalah perpisahan mereka berdua.
"Daren! Apa kau akan menjalankan tugas kejam itu?" tanya Senja yang masih mengenakan handuk.
"Kenapa? Apa kau mengkhawatirkanku? Harusnya kau senang, bisa berdoa agar aku cepat mati!"
"DAREN!" Senja membalikkan badannya dan menatap geram pada sikap Daren.
"Kenapa?" Daren terlihat cuek.
"Jika kau mati. Apa kau juga membiarkan aku mati membusuk di dalam rumah ini! Kalau kau mati, mati saja. Jangan mengajakku!" Senja terkejut dengan ucapannya. Dia ingin dicintai oleh Daren, tapi mulutnya benar-benar kurang ajar.
"Apa itu benar Senja?" tanya Daren lagi. Hatinya terasa seperti diremas-remas. Sakit sekali. Padahal Daren ingin menyatakan cintanya hari ini. Makanya dia sudah menyiapkan semuanya. Dress dan beberapa peralatan make up untuk Senja. Tapi respon Senja sangat berbeda.
"Daren..." Senja merasa bersalah.
"Apa kau tidak punya perasaan sedikitpun untukku?" tanya Daren lagi. Ini sudah di luar kendali. Sikap Daren yang hangat kembali dingin. Baru beberapa menit yang lalu mereka melayang bersama. Tapi semua itu berubah hanya gara-gara perkataan yang menyakitkan.
"Daren dengarkan aku!" mohon Senja. Dia ingin minta maaf soal tadi. Namun terlambat, Daren terlanjur patah hati.
"Pakailah pakaianmu Senja. Aku membelikan ini untukmu. Dan ya, ambil barang-barang yang kau suka. Mungkin lebih baik aku mengantarkanmu pada ibumu," ucap Daren menahan rasa sakitnya.
Senja berkaca-kaca. Sepertinya apa yang ia rasakan memang benar adanya. Ini perpisahan mereka berdua. Perpisahan yang menyakitkan.
Dengan tergesa Senja mengambil dress wanita berwarna hitam. Sehitam suasana hatinya malam ini. Usai berpakaian, Daren menyuruh Senja untuk berdandan. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya Senja memoles wajahnya. Sangat cantik bahkan Daren tak bisa berpaling sedikitpun. Namun niat Daren sudah berubah. Niatnya menyatakan cinta berubah jadi niat buruk yang mengantarkan Senja ke rumah ibunya. Bukan maksud apa-apa, tapi Daren yakin... Senja menginginkan itu. Buat apa seperti ini, jika Senja tak bisa menyukainya.
"Kau pasti bahagia, karena sebentar lagi kau akan bertemu dengan ibumu," ucap Daren sambil tersenyum miris.
"Daren," panggil Senja lagi. Namun lagi-lagi Senja tak punya kesempatan untuk bicara.
"Ayo, aku akan mengantarmu!" Daren menggenggam jemari tangan Senja. Jantung keduanya berdetak saling bersahutan. Saling menginginkan, saling cinta, namun terhalang oleh kesalahpahaman.
__ADS_1
Bersambung...