
"Jangan Daren!" larang Senja tiba-tiba.
Daren menaikkan satu alisnya tanda bertanya. "Kenapa? Apa karena dia pernah memuaskanmu, jadi kau melarangku untuk membunuhnya?"
PLAK!
Senja tersadar, dan dia menampar Daren akibat perkataan Daren yang melukai hatinya.
Jhon terdiam. Dia sempat tersenyum dalam hatinya saat Daren dan Senja berkelahi. Tapi kenapa Senja justru melarang Daren untuk membunuhnya? Jelas-jelas Jhon berhak mendapatkan semua itu.
"Kau jangan asal bicara Daren. Aku melarangmu untuk membunuhnya, bukan berarti karena aku dipuaskan oleh siapapun. Apa kau tidak sadar, aku mengandung besar anakmu. Jadi siapa yang memuaskanku heh? Kau tahu sendiri, kau yang sudah merenggut kehormatanku atas dasar balas dendam kematian ayahmu. Tapi nyatanya apa? Ayahmu masih hidup Daren, tapi tidak dengan ayahku." Senja menyeka air matanya yang berjatuhan ke pipinya.
"Kau tahu, pamanmu ini adalah penjahat terkeji. Aku tidak ingin dia berakhir semudah ini Daren. Hanya dengan sekali tembak dia akan mati? Tidak Daren, aku tidak terima. Aku ingin dia menerima ganjaran yang setimpal. Dia sudah melecehkan ibuku, memanipulasi kematian ayahmu sehingga kau memfitnahku. Jadi aku ingin dia mati dengan tersiksa," ucap Senja menatap Daren wajah yang memelas.
Sejenak Daren terdiam. Senja seorang gadis pendiam, ternyata punya ide sesadis ini untuk menghabisi musuhnya.
"Jadi apa yang kau inginkan? Aku tidak mau berurusan dengan polisi," tanya Viktor. Dia sedikit ketakutan. Sebab dia berhak dihukum atas kematian ayahnya Senja. Bahkan Daren juga terhukum jika kasus ini diserahkan pada polisi.
"Tenang paman. Semua akan berurusan dengan polisi. Biar semua berjalan seadil-adilnya," kata Senja. Dia menggenggam jemari Daren. Bermaksud menenangkan jantung Daren yang kini sudah berdetak seperti genderang yang mau perang.
"Kau adalah pengacara hebat Daren. Apa kau takut bertemu dengan polisi?" tanya Senja. Daren mengumbar senyum yang terlihat cemas. Dia mafia, pembunuh bayaran juga. Jika kasusnya terbongkar, pasti dia juga terseret. Tapi demi Senja, dia akan berusaha semaksimal mungkin.
"Aku akan melakukan apapun. Demi kamu dan anak kita," bisik Daren. Ya, kalau dia dipenjara. Bagaimana lagi? Daren harus siap.
"Aku tahu kamu pasti bisa," ucap Senja.
"Lalu kita apakan dia? Menyeretnya ke polisi?" tanya Daren lagi.
"Aku sedang hamil Daren. Kau tak berhak menyakiti siapapun. Aku takut, anak kita yang merasakan semua itu." Senja tersenyum manis, meskipun sejatinya dia tengah kelelahan akibat kehilangan tenaga.
"Baiklah. Aku tidak menggunakan tanganku," kata Daren. Lalu dia memanggil Rehan agar segera mendekat ke arahnya.
"Iya Bos."
"Siksa dan seret dia sampai ke kantor polisi," perintah Daren yang langsung diiyakan oleh Rehan.
Daren kembali menggendong Senja. Dan di belakangnya diikuti oleh ayahnya.
__ADS_1
"Jadi, apa pamanku menyentuhmu?" tanya Daren di tengah perjalanan mereka.
Senja menggeleng. "Dia hanya memanipulasimu. Dia mencekoki ku obat dan suntikan. Lalu membuat keadaanku yang seperti sehabis diper**sa olehnya," teranga Senja.
BRAK!!
Dengan emosi Daren memukul setir mobilnya. "Kurang ajar. Dia memang sangat licik. Tapi kenapa dia tidak kita habisin saja Senja?"
"Menghabisinya dengan sekali tembak itu sangat mudah untuknya Daren. Aku tidak terima dengan itu, dia harus menerima hukuman atas kejahatan yang ia perbuat," ucap Senja. Namun Daren terdiam.
'Lalu bagaimana dengan ku?' batinnya. Daren juga tidak ingin berakhir di penjara. Apalagi setelah dia bertemu dengan Senja, dia sangat ingin membahagiakan Senja.
"Baiklah sayang, apapun akan aku lakukan untukmu," kata Daren.
"Daren," panggil Viktor kemudian saat Senja sudah terlelap tidur.
Daren hanya menoleh sebentar, karena dia masih fokus menyetir.
"Setelah ini kita harus bersiap ke penjara," lanjutnya.
"Jangan khawatirkan itu ayah. Karena setelah ini aku akan membawa Senja ke penghulu," ucapnya dengan yakin.
"Apa kau yakin?" Viktor memastikan.
"Dia adalah wanita yang ku cintai. Dan dia juga tengah mengandung anakku..." Daren terdiam.
'Tapi dia yang akan membuat kita celaka,' batin Viktor. Meskipun sebenarnya dia sudah ikhlas dengan apapun.
Ckiiiit!!!
Kini Daren berhenti di sebuah tulisan Kantor Urusan Agama. Dan Senja yang tengah tertidur langsung terbangun gara-gara rem mendadak yang dilakukan oleh Daren.
"Daren, kenapa kau membawaku kemari?" tanya Senja linglung. Bukannya dikasih makan, tapi Daren justru memberikan kejutan untuknya.
"Ijinkan aku menikahimu Senja. Demi anak kita," mohon Daren. Dia berlutut di depan Senja sambil menggenggam erat tangan Senja.
"Tapi Daren..."
__ADS_1
"Ku mohon Senja. Ijinkan aku menebus semuanya. Ijinkan aku bertanggung jawab atas kejahatan yang ku lakukan padamu," ucap Daren dengan sungguh-sungguh. Senja tak kuasa menahan air matanya.
"Will you marry me?" tanya Daren sekali lagi.
Senja tertawa sambil menangis. Dia tidak menyangka kisah cintanya akan berakhir seperti ini.
Senja mengangguk pelan. Dan seketika itu Daren terlonjak kegirangan.
"Ayah, lihatlah! Dia mau menikah denganku!" ucap Daren sambil memeluk Viktor. Tapi saat di dalam kantor urusan agama. Semua itu tak semudah yang mereka inginkan. Semua butuh surat dan lain-lain. Namun meskipun begitu, akhirnya acara pernikahan itu berjalan dengan lancar.
"Akhirnya kalian telah resmi menjadi suami istri. Selamat ya nak," ucap Viktor. Dia memberikan pelukan hangat untuk Daren dan Senja. Senja mungkin masih belum bisa menerima Viktor. Namun Viktor sudah berjanji untuk menganggap Senja sebagai anak kandungnya sendiri.
"Maafkan ayah yang menyebabkan semua ini terjadi," lanjut Viktor pada Senja.
Jujur Senja bahagia. Satu persatu musuhnya telah berubah baik padanya. Tapi dia hanya ingin, kejahatan tetap mendapatkan balasannya.
Setelah pernikahan itu terjadi. Daren membawa Senja dan ayahnya ke mansionnya. Mansion yang sangat luas. Dan ini adalah kali pertama Senja menginjakkan kakinya di sini.
"Daren, kenapa kau terus memberikanku kejutan tanpa ada sedikit makanan untukku?" tanya Senja memberanikan. Setelah menikah, Senja pikir akan ada acara makan. Tapi faktanya, Daren justru mengajaknya ke rumahnya.
"Oh iya, apa kau lapar?" tanya Daren. Saking bahagianya, dia lupa belum makan secuilpun. Bahkan dia lupa tidak memberikan makan apapun untuk Senja dan ayahnya. Oh, dia benar-benar seperti pria yang tidak peduli dengan istri dan ayahnya.
"Enggak Daren. Aku gak lapar," jawab Senja jutek.
Daren bingung secara tiba-tiba."Iya aku laper Daren. Anakmu butuh makan!" teriak Senja lagi.
"Eh buset!" Daren kaget.
"Aku lapar Daren. Apa kamu ingin aku menguliti tubuhmu," ucap Senja lagi.
"Ya ampun Ayah, ternyata wanita lapar itu menyeramkan ya?"
"DAREN!" teriak Senja dan akhirnya apa yang Senja inginkan sudah Daren siapkan sebelumnya. Bukannya Daren tidak peduli, semua butuh proses. Dan beberapa juru masaknya juga baru selesai memasak.
"Iya sayang. Selamat menikmati makananmu," ucap Daren. Dia memberikan kecupan untuk Senja berikut juga dengan perut Senja yang membesar.
Bersambung..
__ADS_1