
...****************...
Senja terbangun dari tidurnya. Dia ingin lari-lari pagi, tapi suasana hatinya sedang tidak mendukung. Entah kenapa, meskipun acara yang diminta Daren semalam gagal. Senja masih tidak bisa tersenyum. Ibunya belum pulang sejak semalam.
'Ibu, kelayapan kemana ya?' batin Senja khawatir. Dia mencoba menghubungi J, tapi J tidak mengangkatnya. Senja merasa aneh dengan J. Mungkin lagi sibuk, fikirnya secara positif.
"Ah udahlah. Lebih baik aku meneliti kematian ayahku kembali," katanya dan kembali membuka laptopnya. Senja mencoba mencari tahu kabar di tahun 2004 silam, di mana dia baru dilahirkan.
Saking asiknya mencari berita kematian ayahnya, Senja baru sadar. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi hari. Buru-buru dia beranjak dari kasurnya. Berlari menuju ke kamar mandinya.
Sejenak Senja menatap dirinya di cermin. Ada rasa jijik saat mengingat tubuhnya yang sudah tersentuh oleh Daren. Omong-omong soal Daren, Senja baru teringat akan kartu memori berwarna hitam itu.
"Kartu itu, apa isinya?" gumam Senja. Namun dia memilih mandi lebih dulu.
Tak disangkanya, saat Senja mandi. Disitulah Shela pulang. Shela terlihat amburadul, acak-acakan dan frustasi. Lagi-lagi atasannya mengancamnya dengan embel-embel kekasih gelapnya. Sepertinya Shela salah memilih seseorang. Padahal Shela ingin bebas, tanpa ikatan apapun. Namun atasannya terlalu posesif kepadanya. Shela jijik, tapi disuruh mengembalikan semua utangnya juga tidak bakalan sanggup. Hanya 1 pria yang ia andalkan. Namun sangat sulit untuk dirayu.
"ARGH!!" Shela membanting vas bunga yang ada di dekatnya.
Senja yang baru selesai mandi langsung berlari keluar. Dia berhenti seketika saat siapa yang datang. "Terus pecahkan semua barang-barang kita Bu. Kenapa sekarang ibu sering keluar malam? Ibu tak ingat, besok adalah hari kematian ayah yang ke 21 tahun," ucap Senja sedikit menekan kata tahun di sana. Harusnya besok Senja ulang tahun, namun sampai kapanpun itu semua hanya mimpi. Karena kematian Senja adalah kematian ayahnya. Tidak ada perayaan untuknya. Cukup rasa duka atas kehilangan seorang ayah.
Shela terdiam. Dia menatap Senja dengan pandangan yang penuh menuntut. "Kalau begitu, kapan kau akan melenyapkan orang yang bernama Daren?"
"Aku bisa membunuhnya sekarang. Tapi apa yang ibu dapatkan kalau aku membunuhnya?" Senja segera membalikkan badannya. Mengurusi ibunya justru membuatnya lebih tertekan.
Senja masuk ke kamarnya dan menatap memori berwarna hitam itu berada di atas lacinya. Dia menuju ke laptopnya dan mencoba mencari hal apa yang membuat Daren merasa menang atas hidupnya.
Satu
Dua
Tiga
__ADS_1
Sebuah video berputar. Di sana nampak sebuah kamar. Senja yakin rekaman ini di ambil dari sebuah Cctv. Bahkan Senja tidak asing. Kamar itu adalah kamar Daren. Kamar yang di mana kesuciannya terenggut.
"SI*LAN!! Ternyata dia menyimpan hal menjijikkan di sini," ucap Senja sambil emosi. Hidupnya semakin terusik hany gara-gara Daren.
Kapan dia akan tenang?
...****************...
Dengan wajah emosi, Senja masuk ke kantor D group. Dengan ucapan selamat pagi pada si resepsionis. Dia langsung menuju ke lantai 2. Dia melihat Shasa yang sudah menyiapkan setumpuk berkas untuknya.
"Tolong fotokopikan ini 12 lembar, ini 10 lembar dan ini 7 lembar," perintahnya.
Senja hanya menerima kertas dari nenek lampir itu tanpa bicara sepatah katapun. Setelah meletakkan tas bahunya, Senja segera menuju ke tempat fotocopy-an. Baru juga menginjakkan kakinya di sana. Senja sudah kecewa dengan tulisan Fotocopy rusak. Dengan terpaksa sekali, akhirnya Senja menuju ke lantai 3.
Senja menjalankan alat itu. Aman, berjalan dengan lancar. Sambil meninggalkan tempat itu, Senja masih kepikiran tentang video yang disimpan Daren di memori itu. Senja hanya menduga kalau itu video dirinya dan Daren.
"Eh!!" Karena tidak fokus, beberapa kali Senja menabrak sesuatu. Entah kubikel, meja kerja yang lain bahkan dispenser.
BRAK!!
Dan seseorang dengan sigap memeluk perutnya dengan erat. Menahan Senja agar tidak terjatuh dari lantai itu. Hembusan nafas hangat menerpa kulit lehernya. Senja menoleh.
"Hati-hati dengan langkahmu Senja! Meskipun aku suka dengan merah, bukan berarti aku suka menghias kantorku dengan darah," ucap Daren sambil tersenyum devil.
Badan Senja kembali terangkat dan kedua kakinya kembali menginjakkan kakinya di lantai. Dia menatap iris biru dengan jantung yang gemuruh. Lalu dia menatap lantai 2. Orang-orang menatapnya tak percaya padanya.
"Tuan Daren! Apa kau tidak apa-apa?" Shasa hendak berlari ke arahnya.
Mati aku! Nenek lampir pasti akan memarahiku!
"Aku tidak apa-apa. Lagi pula harusnya dia yang kau tanyakan kabarnya Shasa!" ucap Daren sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Orang mengira itu adalah senyuman tulus dari Daren. Tapi Senja tahu, mata Daren tak bisa berbohong. Penuh dendam dan kebencian.
"Apa kau tidak apa-apa?" Suara bariton dengan suara serak-serak basah yang enak didengar menanyakan kabarnya. Senja tertegun. Daren sungguh pandai berakting, keduanya seperti belum pernah mengenal satu sama lain.
Anak pembunuh ayahku. Perusak hidupku.
...****************...
"Kau cuma pekerja magang bukan? Ku peringatkan padamu, jangan pernah menggoda direktur perusahaan ini!"
Benar dugaan Senja. Shasa pasti akan memarahinya gara-gara hal tadi.
"Sekali lagi aku lihat kau menggoda direktur kita, lihat aja nanti aku akan melakukan apa!" ancam Shasa dan meninggalkan Senja duduk sendirian.
Jantung Senja masih berdegup kencang akibat kecerobohannya tadi. Ditambah kata-kata Daren yang seperti masih menyimpan dendam. Tak cukupkah dia hanya memperalat dirinya sebagai teman ranjangnya saja?
"Argh, lama-lama aku bisa tambah gila bekerja di sini. Aku harus bergerak cepat. Tapi om J? Apa dia masih mau membantuku?"
Di tempat yang berbeda. Daren tersenyum senang. Ekspresi terkejut dari Senja membuatnya merasa berhasil mengintimidasi Senja saat itu Senja. Bahkan Senja tak bisa berkata apa-apa saat diperlakukan Daren seperti tadi.
"Aku suka ekspresinya," ucap Daren sambil ketawa ketiwi sendirian.
"Bos!!"
Ferdi mengejutkannya. "Apa?" jawab Daren yang kembali ke ekspresi semula.
"Mr. Louis ingin Anda membunuh seseorang!" ucap Ferdi.
Daren terdiam. Jiwa akan haus darah merah yang mengalir di tangannya sedang membara. Namun kenapa, rasanya dia enggan melakukan hal itu. Senja... apa gara-gara Senja dia berubah sedemikian rupa?
"Bagaimana Bos, apa Anda bersedia?" tanya Ferdi lagi. Di kantor ini, yang berani membicarakan hal ini hanyalah Rehan dan Ferdi. Selain itu, semua karyawannya hanya tahu kalau tempat ini adalah tempat bersih.
__ADS_1
"Serahkan tugas ini pada Rehan!" perintah Daren. Dia menghindari hal favoritnya. Ada apa?
Bersambung...