SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Perjodohan


__ADS_3

...****************...


Daren keluar dari salah satu kamar apartemen dengan menampilkan senyum devil. Dia kembali mengendus lengannya yang masih berbau darah Hendrawan. Daren memejamkan matanya, mengingat betapa sakitnya korban saat memohon padanya agar tidak dibunuh. Bahkan Hendrawan sempat menawarkan uang padanya. Tapi Daren tidak memberinya ampun. Sekali perintah, dia akan tetap melaksanakan tugas itu. Dan dalam sekejap, Hendrawan meregang nyawa di tangannya.


Daren menuju ke apartemen pribadinya. Dia teringat akan kehadiran Senja di rumahnya. Membuang nafas panjang lalu dia menghubungi Rehan.


"Aku ingin informasi Senja hari ini!" katanya dan sambungan pun usai.


Daren berjalan ke arah balkon. Menatap langit hitam tanpa bintang. Membiarkan angin malam itu menerpa wajahnya. Dia memejamkan matanya. Kekosongan itu kembali hadir. Hidup di tengah-tengah masyarakat, tetap tidak memberikan kebahagiaan untuknya.


Daren mencengkeram lengannya yang tiba-tiba terasa nyeri. Bekas luka kemarin masih ada. Namun dia membiarkannya.


Sebuah telepon berbunyi. Rehan memanggilnya.


"Gimana?" tanya Daren secara langsung. Dia ingin tahu Senja di mana.


"Jejak digital sulit dicari Bos. Tapi info yang saya dapatkan, Shela meminta Senja untuk mengundurkan diri dari kantor."


Deg.


Laporan dari Rehan seperti menghantamnya. "Kurang ajar Shela. Sepertinya dia tidak ingin berumur panjang," geram Daren. Dia mematikan sambungan telepon itu.


"Baiklah. Saatnya kita bertemu Shela," ucap Daren sambil mengepalkan tangannya.


...****************...


Daren menyusup ke kamar Shela. Pelan namun pasti, dia sudah berada di dalam kamar itu. Daren berjalan mengelilingi kamar Shela yang terlihat lebih berantakan dibandingkan kamar Senja.


Melihat Shela yang tengah tertidur. Daren mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Shela. "Kau sembunyikan di mana Senja? Jangan pernah kau menyuruh Senja untuk berhenti bekerja, atau detak jantungmu juga akan berhenti!" bisik Daren.


Dia berjalan menjauh sambil mengeluarkan pisau kecil nan panjang. Shela yang sebenarnya kurang nyaman tidur, segera merubah posisinya. Karena udara seperti mencekiknya. Dia membuka matanya dan melihat bayangan seorang pria. Karena kamar itu gelap, Shela tak bisa melihat dengan jelas. Sosok pria dengan membawa sebuah pisau membuatnya ketakutan. Ini seperti mimpi buruk baginya. Sebuah suara yang menanyakan soal Senja. "Siapa di sana?" teriak Shela. Dia menyingkap selimutnya dan meraih tombol lampu.


Klik!

__ADS_1


Lampu menyala sempurna. Namun Shela tak menemukan pria itu lagi. "Apa itu tadi? Apakah tadi itu orang atau hanya mimpiku?"


Shela segera berlari keluar. Membuka kamar Senja yang nyatanya kosong tak berpenghuni. "Ayolah Senja!" Entah bisikan setan dari mana. Shela mulai khawatir. Dia mencoba menghubungi ponsel Senja, namun tak terhubung sama sekali. Ponsel Senja telah mati.


...****************...


Senja tengah bertemu dengan seorang wanita cantik, terlihat berkelas. Wanita itu nyasar, karena dari kecil hidup di London. Dan sekarang dia tengah mencari ayahnya yang katanya tengah sakit.


"Siapa namamu?" tanya Senja dan wanita yang berusia sekitar 23 tahun itu tersenyum kepadanya.


"I'm Alina," katanya dengan bahasa Inggris.


"Salam kenal Alina. Oiya, ada alamat rumah ayahmu?" tanya Senja dengan menggunakan bahasa Inggris juga. Dia sedikit semangat saat bertemu teman baru.


Alina mengeluarkan sebuah ponselnya. Di sana ada foto alamat yang terlihat usang dan lama. Sepertinya Alina kurang dekat dengan ayahnya. Karena jaman sekarang sudah canggih. Menggunakan google map pasti akan cepat ketemu. Apalagi alamat rumah yang diperlihatkan ke Senja adalah perumahan elite yang mudah dicari.


"Ini sangat mudah Alina. Kau bisa menggunakan google map di ponselmu," ucap Senja seraya memberi tahu.


"Aku agak kuno. Kurang tahu soal google map atau apa itu," kata Alina.


"Next time, aku akan mengajarimu. Ponselku mati. Baterainya habis," ucap Senja dan keduanya terkekeh.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Senja. Keduanya berjalan menuju ke jalan raya. Sambil mencari ojek online namun yang bersedia mengantarkan mereka secara offline.


"Aku tidak lapar Senja. Oh iya, aku mau save nomormu boleh? Soalnya aku baru pertama kali ke Indonesia, jadi aku belum punya teman."


"Tentu!" Dengan senang hati Senja menuliskan nomornya di handphone Alina.


Kedua gadis itu langsung akrab dalam sekejap. Satunya butuh bantuan, dan satunya lagi kesepian tidak punya teman. Dan sekarang keduanya saling mengisi kekosongan mereka.


...****************...


Jhon meminta Daren main ke rumahnya. Demi berjaga-jaga, akhirnya Daren putuskan untuk mengajak Rehan. Biar kalau terjadi apa-apa, ada yang siap membantunya.

__ADS_1


"Tumben paman mengajakku bertemu? Apa ada masalah yang penting, atau paman lagi butuh uang?" tanya Daren to the point.Ya, bulan ini Daren sengaja tidak memberikan uang yang cukup buat Jhon. Sebab Daren tahu, diam-diam Jhon kembali ke asalnya. Masuk ke komplotan mafia lain tanpa sepengetahuan Daren.


"Ah, ini bukan masalah uang. Tapi kamu kemana saja? Sudah lama sekali kamu tidak mengunjungi paman, apa kau tak merindukanku?" Wajah itu terlihat begitu tulus menanyakan soal Daren. Tapi di hatinya?


Daren langsung tersenyum. Meskipun dia tahu kebusukan lain dari pamannya, namun dia pura-pura tidak mengetahuinya.


"Aku sibuk paman. Pekerjaan menumpuk, dan aku ada tugas lain. Dan ya, barang daganganku telah dicuri oleh seseorang," ucap Daren. Dia setengah menekankan kata mencuri pada Jhon.


Jhon duduk gelisah. Tapi dia sangat lihai menutupinya. "Sayang sekali. Sepertinya musuhmu cari gara-gara padamu."


"Dan dia ingin mati," ucap Daren sambil menatap Jhon dengan serius.


Glek! Laki-laki setengah tua itu menelan ludahnya kepayahan. Daren benar-benar musuh yang nyata untuknya. Padahal dia sudah membesarkannya, tapi Daren malah balik menyerangnya.


"Soal yang tadi paman ikut simpati. Oh iya satu hal Daren, apa Mr. Louis telah memberitahumu?" tanya Jhon yang membuat Daren menaikkan satu alisnya.


Louis sekarang sudah tidak berdaya. Tapi selama Loius masih hidup, semua kekayaan yang Daren miliki masih ada namanya Louis di sana.


"Ada apa dengannya?" tanya Daren dan Jhon menyuruh Daren mendekat.


"Mr. Louis ingin kamu menikahi putrinya. Jadi otomatis semua hartanya akan beralih padamu," jawab Jhon sambil tersenyum senang.


'Dan otomatis, Senja akan menjauhimu,' batin Jhon tersenyum senang.


"Kenapa dia tidak memberi tahuku? Apa semua ini rencana paman?"


...****************...


Mendadak Daren jadi tidak minat tentang harta lagi. Menikah dengan anak Mr. Louis yang sama sekali tidak ia suka. Dan jika dia menikah, apakah balas dendamnya terhadap Senja akan berjalan dengan mulus?


"Senja, di mana anak itu? Aku akan membuat perhitungan padanya. Bisa-bisanya dia memberiku masalah sebesar ini." Daren emosi. Ingin membunuh Senja, tapi dia sendiri tidak ingin melepaskan Senja dari hidupnya.


Daren membuang nafasnya gusar. Di lain sisi, Mr. Louis tetaplah orang yang berjasa dalam hidupnya. Mungkin dia akan mempertimbangkan perjodohan ini untuk beberapa waktu.

__ADS_1


Bersambung...


Bagaimana nasib Senja jika Daren mau dijodohkan?


__ADS_2