SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Benih-Benih


__ADS_3

...****************...


Daren sampai di apartemennya. Dia mulai curiga dengan Senja. Setiap dia pulang, lampunya selalu dalam keadaan mati. Padahal seingat Daren, dia tidak pernah mematikan lampu rumahnya selain lampu kamar.


"Senja," panggil Daren sambil menyalakan lampunya. Dia menyusuri semua ruangannya dan yang ia dapati, Senja tertidur di samping kasurnya. Kepalanya yang menumpang di sana, namun badannya duduk sambil bersandar di tembok.


"Hadeh, ni anak!" Daren mengangkat tubuh Senja. Sesuatu jatuh dari tangannya. Daren melihat ponsel yang tak berguna itu dibawa oleh Senja.


"Jadi diam-diam kau berusaha untuk kabur dariku Senja. Jangan pernah kabur lagi. Karena di luar sana, hidupmu tidak akan aman," ucap Daren sambil merebahkan tubuh Senja secara pelan. Daren menyelimutinya. Daren segera mandi, mengganti pakaiannya dan menuju ke dapur. Dia melihat makanan yang tersedia di sana masih banyak. Daren rasa Senja tidak makan siang lagi.


Harusnya Daren tidak terlalu perduli, tapi Daren juga merasa bersalah jika Senja bakalan sakit. Fiuuuuh. Daren membuang nafasnya berat. Dia sudah biasa tidak makan. Dan malam ini dia tak bernafsu. Jadi dia putuskan untuk melanjutkan pekerjaannya saja sambil mengawasi tidur Senja. Mungkin seperti itu akan lebih menyenangkan.


...****************...


Secercah cahaya menyeruak masuk ke dalam kamar Daren. Senja merasa terganggu dan mengucek matanya berkali-kali.


"Makin hari kau semakin malas ya?" sindir Daren. Dia sudah berdandan rapi. Sepertinya mau ke kantor.


"Sudah jam berapa ini Tuan putri? Apa kau sudah melupakan tugasmu? Memasak dan jaga dirimu, biar tetap kuat melayaniku." Daren mendekat ke arah Senja. Senja menatap Daren dengan tajam. Setiap perkataan yang keluar dari mulut Daren, terasa sangat menyakitkan hatinya.


"Aku bukan budakmu Daren. Aku ada di sini karena kau mengurungku. Kapan kau akan melepaskanku?" Senja penuh harap.


Daren menatap Senja. Ada rasa nyeri saat mendapati bahwa Senja tidak tahan dengannya. Tapi Daren adalah pria kejam. Apapun yang dia inginkan, harus terwujudkan. Meskipun dengan cara seperti ini.

__ADS_1


'Padahal ibumu sudah membuangmu. Paman Jhon juga mengejarmu. Apa kau masih ingin bebas?' batin Daren terus menatap Senja tanpa berkedip.


Senja merasa aneh. "Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Senja yang langsung membuyarkan lamunan Daren.


"Ada. Mandilah, nanti aku akan memberi tahumu," ucap Daren. Dia menatap ke arah cermin. Senja mengikuti pandangannya ke arah cermin. Merasa curiga dengan tingkah laku Daren yang mendadak hangat kepadanya. 'Ada apa?'


"10 menit, lebih dari itu batal!" ucap Daren dan dia pergi keluar kamar.


Senja menatap jam dinding Daren. Dia buru-buru ambil baju, yang jelas tetap bajunya Daren. Kadang dia tak mengenakan ****** *****. Jika ****** ******** kotor. Karena Daren benar-benar tak memfasilitasinya sedikitpun. Jadi kadang Senja mengenakan boxer milik Daren, meskipun agak kedodoran. Emang dasar Daren, dia cuma mau enaknya saja. Atau memang seperti ini rasanya menjadi tawanan.


Senja sangat buru-buru, bahkan dia tak sempat berdandan atau sekedar menyisir rambutnya. Karena dia ingin tahu hal apa yang akan disampaikan Daren kepadanya.


"Aku sudah selesai," ucap Senja. Semangat dan penuh harap.


"Gagal, kau terlambat satu menit," ucap Daren dengan entengnya.


"Kau bohong Daren. Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan!" paksa Senja. Dia mengepalkan tinjunya mengarahkan ke arah Daren.


"Kau ini, aku cuma ingin bilang. Cepat sarapan! Sedari siang sampai malam kau tak makan. Aku tidak ingin membunuhmu dengan cara seperti itu? Cepat makanlah!" perintah Daren. Dia mengambil sebuah kantong kresek berwarna putih berlogokan merk makanan itu.


Bahkan Daren memesankan nasi kotak itu juga hanya satu. Jika lebih dari itu, Daren takut. Mata-mata dari Jhon akan tahu, kalau dia tengah menyembunyikan Senja dari semua orang.


"Makanlah, aku akan berangkat!" ucap Daren.

__ADS_1


Senja tak mau menjawabnya. Dia kesal dengan Daren. Jadi rasanya malas kalau meskipun sekedar membuang bau mulut di depan Daren.


"Meskipun aku tidak ada, kau harus tetap makan Senja. Biar benih yang aku tanam cepat tumbuh," ucap Daren sambil mengedipkan sebelah matanya.


Genit. Tapi kata-kata itu tak pantas disematkan untuk Daren.


"Gila. Maunya apa sih itu orang?" omel Senja saat Daren sudah keluar dari rumahnya.


Senja menatap sekeliling ruangan itu. Sudah bersih dan rapi. Mungkin saat Senja masih tidur, Daren yang bersih-bersih rumahnya. Tiba-tiba saja Senja jadi meleleh. Diam-diam, di dalam diri Daren ada hal yang Senja sukai. Tapi Senja segera menepis semua itu. Senja masih memikirkan ucapan Daren yang penuh akan syarat dewasa. Benih-benih? Mungkinkah Daren menginginkan Senja untuk hamil?


...****************...


"Bos, malam ini klan kulit hitam ingin bertemu dengan Anda," ucap Ferdi saat Daren telah tiba di kantor.


"Tumben sekali. Apa yang mereka inginkan?" tanya Daren. Dia duduk di kursi kebesarannya sambil mengangkat satu kakinya ke atas kaki yang lain. Daren menyalakan rokoknya dan meniupkan asap di sana.


Beberapa hari ini orang-orang di kantornya mengira Senja telah dipecat. Ada yang mengira kontrak magangnya dengan D grup udah usai. Dan beberapa hari ini, batang hidung Shasa juga tak terlihat. Daren memecatnya, sebab Shasa sudah sangat keterlaluan. Cemburu atas sikap Daren yang terlihat begitu dekat dengan Senja. Daren tidak banyak bicara, kalau dia merasa terganggu... maka riwayat orang itu akan tamat.


"Dia hanya berpesan itu. Saya rasa Bos juga tidak ada masalah dengan mereka, jadi aku tak menaruh curiga apapun terhadap mereka," ucap Ferdi. Terlihat Daren setengah berpikir.


"Sepertinya dia ingin damai denganku. Karena Mr. Louis sudah meninggal, jadi mereka tidak ada musuh lagi. Atau dia ingin merebut harta mister Loius yang kini sudah jatuh di tanganku?" Daren mengepalkan tangannya erat. Inilah resikonya menjadi penjahat. Masalah terus datang bertubi-tubi. Satu masalah usai, datang lagi 1000 masalah yang membuat otak Daren terus bekerja nonstop kecuali hanya tidur. Bahkan tidurpun dia tidak nyenyak. Daren takut, musuhnya datang sewaktu-waktu untuk mencabut nyawanya.


"Aku rasa apa yang anda pikirkan itu bisa menjadi kemungkinan Bos. Jadi apakah perlu dibatalkan?" tanya Ferdi memastikan.

__ADS_1


"Tidak perlu. Atur saja semuanya. Aku mau menyelesaikan perkara hari ini." Daren mematikan putung rokoknya. Dia membuka laptopnya dan wajahnya terlihat begitu serius.


Bersambung...


__ADS_2