
...****************...
"Bagaimana Ferdi bisa mati?" Daren mengepalkan tangannya. Menatap Rehan dengan marah. Ferdi menjadi anak buahnya selama Daren masuk dalam perusahaan. Orang kepercayaannya satu persatu telah tiada. Sepertinya klan Y ingin berperang dengannya.
"Apa dia meninggal setelah ketemu klan Y?" tanya Daren lagi. Dia keracunan sampai lupa dengan keadaan anak buahnya.
"Dugaan besar, sebelum Ferdi ketemu mereka Tuan. Soalnya beberapa waktu yang lalu, GPS menunjukkan jauh dari lokasi!" ucap Rehan.
Daren setengah berfikir. "Coba hubungi lagi ponselnya!" perintah Daren.
"Sekarang sudah tidak aktif Bos!" ucap Rehan menyesal.
"Sebagian berpencar! Cari di titik terakhir GPS itu menyala. Dan aku akan menyelediki klan Y. Re, temani aku!"
"Baik Bos!"
Keduanya mengendarai mobil ke lokasi yang dituju. Rehan memarkirkan mobilnya jauh dari tempat klan Y berada. Daren dan Rehan jalan begitu pelan. Lampu rumah-rumah sebagian sudah mati. Sepertinya daerah sini tergolong masih sepi.
"Nomor 62 Blok Y," ucap Daren dan Rehan mengerti. Keduanya berpencar sambil mengintai satu persatu rumah itu. Daren begitu fokus dan serius. Dia mengeluarkan pistol dari sakunya sambil berjaga-jaga. Memang tidak boleh sembarang membunuh orang. Tapi ini hanya sekedar untuk melindungi diri.
Perlahan-lahan... Saking banyaknya bangunan perumahan di sini, Daren jadi agak kesulitan. Sepertinya ini masih jauh dari Blok Y. Jadi dia memutuskan untuk mencari jalan pintas. Dia melompat dari samping tembok ke blok satunya. Dan yeah, ketemu.
Seseorang menepuk pundaknya. Dan Daren langsung menodongkan senjatanya pada orang itu.
"Ini saya Bos," ucap Rehan ketakutan.
Daren mengangguk, dan keduanya menyelinap ke rumah itu tanpa bersuara.
Rehan mengitari rumah itu dari samping. Sementara Daren, dia mengintip. "Re, lari cepat!" Daren langsung meloncat dari pagar rumah itu. Di susul oleh Rehan.
DUAR!!
__ADS_1
Letusan dan api menyembur kemana-mana. Rumah itu meledak dengan api yang menyala. Daren terkena percikan api. Begitu pula dengan Rehan. Dia hampir saja terbakar andai Daren tidak memberitahunya.
"Kurang ajar. Mereka telah menjebak kita Re. Rumah itu kosong tak berpenghuni. Tidak mungkin orang luar tahu seluk beluk tempat ini tanpa ada yang memberi tahukan." Daren memegangi luka di lengannya. Luka ini tidak terlalu sakit. Tapi Rehan?
"Re, apa kau terluka parah?" Daren melihat luka yang ada di punggung Rehan. Bajunya sampai robek.
"Re, kita harus kabur dari sini. Warga sudah mulai keluar. Kalau di antara mereka ada yang melihat kita, aku yakin mereka akan menuduh kita yang melakukan ini semua."
Di tempat yang berbeda. Ternyata Jhon telah memasang kamera pengawas. Saat dia melihat Daren sudah mendekat ke rumah itu, segera dia mengatur waktu yang menempel di boom itu. Lalu segera dia meledakkannya. Keinginannya untuk membunuh Daren semakin kuat. Karena Shela tak bisa dia andalkan. Informasi yang diberikan oleh Shela tidak ada yang akurat. Shela terlalu bodoh, menemui Daren saja tidak bisa. Begitu pula dengannnya, Daren pun juga susah buat ia temui.
"Harusnya aku tidak membesarkanmu Daren," gumam Jhon. Dia yakin Daren tidak akan lolos. Apalagi anak buahnya sudah bergerak cepat untuk memberitahu warga sekitar. Kalau di rumah mereka ada *******.
Daren dan Rehan kalang kabut. Apalagi tenaga Daren tadi terkuras gara-gara Senja meracuninya.
"Ayo Bos! Mereka akan mengejar kita!" Meskipun terluka. Rehan masih sangat gesit dalam berlari.
Daren bukan atlit balap lari. Dia hanya pintar dalam hal menipu dan menyelinap. Dan sekarang saatnya dia menyelinap sebelum keadaan menjadi runyam.
"Bos tidak apa-apa?" tanya Rehan saat di dalam mobil. Rehan menunggu Daren di dalam mobil. Dan saat situasi aman, Daren menyusul masuk.
"Aku tak apa-apa. Sepertinya kita punya musuh baru Re. Ayo kita susun penyambutan buat mereka," ucap Daren.
"Saya hanya takut nyawa Anda terancam Bos. Bagaimana jika kami saja yang menyambut mereka?" Rehan masih mengkhawatirkan Daren.
"Tidak Re. Aku curiga ada campur tangan orang dalam. Karena sebelumnya aku tidak pernah berhubungan dengan klan Y. Yang aku tahu, mereka adalah mafia perminyakan. Bukan seperti kita." Daren masih tanda tanya. Entah kenapa, dia tidak mencurigai Jhon sedikitpun. Karena yang ia tahu, Jhon hanya menginginkan Senja. Bukan nyawa Daren.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana Bos? Anda terluka, dan kantor tidak ada yang menghandle gara-gara kematian Ferdi," ucap Rehan lagi.
"Urusan itu, di kantor masih ada Meta. Untuk sekarang, antar aku ke apartemen. Aku masih banyak urusan. Dan ya, besok pagi sekitar jam 8, kirimkan bahan makanan, minuman, snack di apartemen," perintah Daren dan Rehan sedikit curiga. Pasalnya Daren tidak pernah menyuruh untuk urusan yang satu ini.
"Apa Anda kedatangan tamu Tuan?" Rehan keceplosan. Sepertinya dia sangat lancang bertanya seperti tadi.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu Re. Karena tugasmu hanya menjalankan apa yang aku suruh."
Daren sengaja menyembunyikan rahasia ini. Malu jika ketahuan menawan seorang wanita dan bahkan ingin dia hamili. Reputasinya pasti akan hancur di depan anak buahnya.
"Maaf atas kelancangan saya Tuan." Rehan menunduk. Bersalah atas ucapan yang seharusnya tidak ia lontarkan.
"Hm. Segera antarkan aku ke apartemen," pinta Daren dan Rehan melajukannya dengan diam.
Satu lagi yang ganjal. Daren biasanya sering tidur di markas. Tapi sekarang memilih tidur di apartemen pribadinya.
...****************...
Daren membuka pintunya. Dia menatap Senja yang tengah tertidur di kasurnya.
"Ck. Dasar tukang molor," ucap Daren. Dia melepaskan pakaiannya dan mengganti dengan kaos yang nyaman untuknya. Lagian ini tanggung buat tidur. Sudah jam 5 subuh. Dan jam 8 Rehan pasti mengantarkan orderannya.
Ini sudah jam 6 pagi. Biasanya Senja sudah bangun. Mungkin semalam dia tidak tidur. Daren memakluminya. Dia segera mandi. Usai itu, dia membuka ponselnya. Berita tentang pengeboman semalam viral di televisi. Seseorang telah menggunakan CCTV dan menyorot dirinya dengan Rehan. Daren kesal bukan main, seseorang telah memfitnahnya. Tapi Daren sama sekali tidak takut. Untung dia menggunakan penutup wajah, setidaknya orang-orang akan sulit mengenalinya.
Kini Daren berjalan menuju ke ranjang. "Hei, bangun! Sampai kapan kau akan tidur?" Daren menggoyangkan tubuh Senja. Namun tak ada reaksi.
"Ck, ni anak!" Daren menyentuh pergelangan tangan Senja. Dan tangannya sangat panas.
"Senja!" Daren panik. Dia membalikkan tubuh Senja. Wajahnya sangat pucat.
"Astaga Senja!" Daren panik bukan main. Dia segera mencarikan obat-obatan yang di lemarinya.
Dia menemukan sebuah obat. Obat terlarang dan sedikit berbahaya.
'Maafkan aku Senja.'
Bersambung...
__ADS_1