
...****************...
"Di mana kalian melihat mereka?" tanya sahabatnya Daren.
"Tak jauh dari sini mister," jawabnya.
"Kalau begitu, lebih baik kita berpencar. Aku bersama temanku, kalian boleh berpencar ke tempat yang lain. Dan Re, tetap awasi yang lain. Jangan lupa kasih tanda, takutnya kalau tersesat," perintah Daren. Dan semua anak buahnya langsung mengangguk siap mencari. Sesulit apapun perintah dari Tuan mafia, pasti akan mereka lakukan. Karena sumpah serapah itu terlanjur mendarah daging. Sumpah busuk akan hilangnya nyawa jika tak menaati perintah dari Bos mereka masing-masing. Karena jika Bos-nya hoki, semua anak buahnya akan bernasib enak.
"Maaf mister, kau pasti sangat tidak nyaman tinggal di hutan belantara seperti ini," kata Daren merasa tak enak. Keduanya masih berjalan santai menuju ke tempat di mana anak buah mereka melihat orang asing di tempat ini.
"No problem Bro. Ini sudah tugasku untuk membantumu. Sudah lama aku menulusuri hutan ini, namun sangat sulit mencari Ferdi. Tapi aku yakin, 100 persen dia masih hidup," kata sahabat Daren dengan sungguh-sungguh.
"Tak apa, semuanya memang butuh perjuangan. Ayo, mungkin kita harus bergerak cepat," ajak Daren. Sekali lagi dia tidak mau membuang waktunya di sini. Daren ingin segera menemukan Ferdi, kemudian mencari Senja. Bukan maksud Daren meninggalkan Senja. Keadaan yang memaksanya seperti ini.
"Baiklah," jawab sahabatnya Daren. Lalu mereka mulai berpencar.
...****************...
Semakin hari, hidup Shela semakin suram. Senja tak ada kabarnya. Dan itu membuat Jhon terus melakukan kekerasan kepadanya.
"Kau emang sudah gelap mata Jhon. Kau tak ingat berapa usiamu? Belum tentu Senja mau denganmu!" teriak Shela. Kali ini dia sudah menyerah. Karena Jhon tak memberikan kesempatan bebas untuknya.
"Beraninya kau berkata seperti itu? Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa Senja adalah bayaran jika aku berhasil menghabisi Daren. Dasar wanita picik!"
CTARRR!
Lagi, Jhon mencambuk Shela hingga memar. Kulit mulus, wajah cantik. Sekarang sudah tak ada lagi untuk Shela. Shela terlihat sangat jelek dan mengenaskan.
Sementara Senja. Dia terlihat tenang-tenang saja. Tak ada yang mengganggunya semenjak tinggal di sini. Hanya rasa kesepian, namun sudah terbiasa. Karena Daren sudah membuatnya kesepian.
"Apa kabar kamu Daren? Sudah lama kita tidak berjumpa. Apa kau tak merindukanku?" gumam Senja. Separuh hatinya terasa kosong. Daren si penjahat dan pencuri hatinya sudah tak perlu ia lihat lagi.
"Daren, apa kau tahu... aku tengah mengandung anakmu," ucap Senja sambil mengelus perutnya yang semakin hari semakin membesar.
...****************...
"Apa ini tempat tinggal orang? Kalau iya, mungkin Ferdi ada di sekitar sini!" kata Daren. Dia melihat sebuah gubuk dari pohon dan beralaskan daun-daun kering. Sungguh mengenaskan. Ferdi hidupnya sangat menyeramkan. Jika Ferdi diselamatkan oleh seseorang, maka Daren akan memberikan penghargaan bagi orang itu.
"Ferdi!! Apa kau ada di sekitar sini!" teriak Daren.
__ADS_1
Sementara itu, Ferdi diajak sang kakek bersembunyi ke bawah tanah. Jadi dia tak mendengar suara apapun.
'Apa mereka adalah suruhan dari musuhku? Setelah puluhan tahun, apa dia masih ingin mencariku?" batin kakek tua itu sedikit ketakutan.
"Apa yang kakek pikirkan?" tanya Ferdi curiga.
"Kakek berpikir yang datang adalah musuhku. Jadi lebih baik kita bersembunyi di sini saja dulu," ucapnya pada Ferdi.
Ferdi hanya diam mengangguk saja. Lagi pula dia sudah buntu, mau pulang juga tak ada ongkos apapun. Jadi kalau anak buah Daren tak mencarinya, dia akan hidup di hutan ini sampai tamat riwayatnya.
Daren mencoba membuka pintu gubuk itu. Bahkan baju juga tak ada. Dia berkeliling di dalamnya. Mungkin sangat lancang, tapi tak ada pilihan lain. Daren terus menggeledah dan tak sengaja dia menemukan ponsel di sana.
"Di tempat terpencil ini ada ponsel," gumamnya sambil membolak-balikkan ponsel itu. "Bukankah ini handphone Ferdi?" tanya Daren dan dia membelalakkan matanya.
"Guys, aku menemukan Ferdi!" teriaknya dengan senang.
"Apa kau yakin?" tanya sahabatnya.
"Aku sangat yakin. Ini adalah ponsel Ferdi. Ini adalah ponsel berlambangkan macan tutul yang pernah ku berikan padanya," ucap Daren.
"Berarti Ferdi tidak jauh dari sini. Ayo kabari yang lain. Supaya mereka merapat kemari."
Dan yang lainnya mulai mengumpulkan yang lainnya. Daren terus mencari dan meneriaki nama Ferdi.
Deg!
"Kakek apa mendengar itu? Seseorang memanggil namaku," ucap Ferdi. Tak salah dengar kan? Pikir Ferdi. Di belantara seperti ini, apa benar ada orang yang mencarinya?
"Aku mendengarnya. Apa mereka musuhmu?" Kakek itu mengintip orang-orang Daren melalui lubang kecil dari tanah yang tertutup oleh dedaunan.
"Boleh aku mengintipnya?" tanya Ferdi lagi.
'Jika Ferdi tertangkap oleh musuhnya. Bagaimana dengan nasibku? Apakah aku akan membiarkan temanku di sini meninggal?' batin si kakek bimbang.
"Lebih baik kau sembunyi saja Ferdi. Kakek takut, nyawa kita akan melayang di tangan mereka," ucap si kakek. Dia melarang Ferdi untuk melihat orang-orang suruhan Daren.
"FERDI!!!" Kali ini Daren yang berteriak kencang. Sementara anak buahnya yang lain terus berusaha membelah semak belukar yang menutupi langkah mereka.
"Tuan Daren. Ya, aku yakin itu suara tuan Daren," gumam Ferdi. Barusan dia mendengar suara Daren dengan jelas.
__ADS_1
"Mau kemana Ferdi?" cegah sang kakek saat Ferdi hendak keluar dari tempat rahasia bawah tanah itu.
"Saya mengenal suara itu kek. Itu suara bosku," katanya.
"Apa kau yakin?" tanya si kakek curiga. Bos mana yang masih perduli dengan karyawannya setelah hampir 2 bulan hilang.
"Ya kek, saya sangat yakin," kata Ferdi lagi.
"Tapi jika kau salah bagaimana? Kita berdua akan mati," kata kakek itu khawatir.
"Aku akan melindungi kakek," ucap Ferdi dengan mantap.
"FERDI, INI AKU DAREN. TOLONG TAMPAKKAN WAJAHMU PADAKU!" Teriak Daren lagi. Dia hampir frustasi. Harapannya ingin berjumpa dengan Ferdi akan gagal lagi.
"Padahal aku mau menolongmu Fer. Tapi kau ada di mana?" gumam Daren. Dia ngos-ngosan, membungkukkan badannya dan tangannya memegang lututnya.
"Itu suara bosku kek," kata Ferdi sumringah.
"Daren," gumam kakek itu.
"Iya namanya Daren kek. Berikan aku jalan keluar untuk bertemu dengannya," kata Ferdi. Dia menerobos tangan kakek itu yang sempat menghalangi jalannya.
"BOS! INI SAYA!" Ferdi melambaikan tangannya. Dia tampil sangat mengenaskan. Tak mengenakan pakaian, hanya boxer usang yang menempel di tubuhnya.
"Ferdi! Apa itu kau!" Daren berlari dan menghampiri Ferdi. Ferdi sangat berubah. Tampilannya sangat berantakan. Jenggot, kumis dan rambutnya memanjang seperti Tarzan.
"Iya ini saya Bos. Terimakasih sudah mencari saya Bos. Gimana keadaan Anda? Kenapa sampai senekat ini?" tanya Ferdi. Dia menangis sambil menggenggam tangan Daren dengan kuat.
"Susah payah aku mencarimu Fer. Dan dengan siapa kau hidup di hutan ini?" tanya Daren sambil menoleh ke sana ke mari. Lalu matanya fokus pada lubang yang seperti menatapnya.
"Sebentar." Daren meninggalkan Ferdi dan berjalan menuju tempat itu.
"Jangan apa-apakan dia Bos. Dia adalah kakek penolongku," kata Ferdi dan Daren tampak berpikir.
'Kakek penolong? Sepertinya aku akan memberikan penghargaan untuk anda,' batin Daren. Dia sudah berjanji tadi.
"Aku sudah menemukanmu Fer. Lebih baik kita bersiap-siap untuk kembali ke tempat kita," ajak Daren.
Si kakek yang ada di dalam sana, sepertinya masih penasaran dengan Daren.
__ADS_1
"Daren, sepertinya aku tak asing dengan nama itu," gumamnya.
Bersambung...