SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Hampir Menyerah


__ADS_3

...****************...


"Senja." J mendekat ke arah Senja. "Kenapa? Kok tiba-tiba kamu gak fokus. Padahal ini latihan terbaikmu dari pada yang sebelumnya," kata J dan Senja menurunkan pistolnya.


"Apa om sudah tahu wajah Daren?" tanya Senja sambil menatap Daren yang masih setia menatapnya juga.


J kira Senja ingin tahu wajah Daren itu seperti apa. Jadi dia salah paham. 'Kasihan Senja. Dia ingin balas dendam, tapi sampai sekarang belum tahu wajah Daren itu gimana.'


"Maafin om, Senja. Yang om tahu, almarhum Samboy yang tahu rupa dia seperti apa," kata J dan kali ini Senja menatap J.


'Jadi hanya om Boy. Syukurlah, setidaknya sebelum dia meninggal... dia sudah memberi tahu rahasia besar ini padaku. Kalau tidak, mungkin aku akan menganggap Daren itu adalah Justin,' batin Senja. Dia menoleh ke arah Daren, namun Senja sudah tak menemukan sosoknya lagi.


'Orang itu? Kemana perginya?'


Di tempat yang berbeda. Daren terlihat emosi. Dia memukul setir mobilnya berkali-kali.


"Re, terus awasi Senja. Satu lagi, cari tahu ada hubungan apa antara Senja dan brigadir J itu?" perintah Daren pada Rehan.


Belum juga dijawab oleh Rehan. Daren langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia mengambil sebuah botol kecil yang berisikan alkohol di dalamnya. Inilah dia, kalau stres minumnya alkohol.


"Ada apa dengan diriku? Kenapa tiba-tiba aku jadi marah tidak jelas seperti ini?" tanya Daren pada dirinya sendiri. Setelah menghabiskan minuman pahit tadi. Otak Daren mulai encer. Tujuannya bukan untuk marah-marah, tapi membuat Senja agar cepat menyerah.


Daren membuka ponselnya. Dia kembali menjadi hacker sementara. Menyadap ponsel Senja dan mencari GPS. Setelah menemukannya, Daren langsung tersenyum senang. Ternyata Senja masih stay di lapangan tembak tadi.


"Kamu hampir saja membuatku hilang kendali. Kali ini aku tak akan membiarkanmu bertahan, kau harus kalah Senja. Secepatnya. Karena aku tak mau membuang waktuku hanya untuk dirimu," gumam Daren. Dia masih setia mengawasi GPS nya dan ternyata berujung kekecewaan. Setelah berlatih menembak, Senja langsung pulang. Jadi Daren gigit jari, dia memutuskan untuk kembali ke kantornya sebentar.


Baru sampai di kantor, Daren bertemu dengan Shasa. Shasa sudah menyambutnya sambil memberikan sebuah bunga untuk Daren.


"Selamat siang Tuan Daren. Semoga harimu menyenangkan," ucapnya sambil menyodorkan bunga tadi untuk Daren.


Daren tidak menerima bunga itu. Karena seperti biasa, di belakangnya sudah ada ajudan yang siap menerima dari gadis genit seperti Shasa ini.


"Terimakasih," jawan Daren. Entah kenapa, di mata orang lain... Daren selalu terlihat ramah. Jadi banyak orang yang menyukainya.

__ADS_1


Shasa kembali kecewa. Padahal dia ingin Daren yang menerimanya. Tapi lagi-lagi Ferdi.


"Kasihan kamu Miss. Sudah 200 kali usahamu, tapi Big Bos masih belum mau melirikmu," sindir si penjaga reception.


"Diam kamu!!" Shasa segera berjalan dengan kesal di belakang Daren. Daren sama sekali tidak perduli dengan perempuan lain.


"Bos! Ada orderan melejit dari negara tetangga." Re menelepon Daren.


Daren tersenyum, usahanya memperjualbelikan barang-barang haram masih berjalan sampai sekarang. "Berapa kilogram yang mereka mau?" tanya Daren. Karena sebanyak-banyaknya barang haram, membawanya pun agak kesusahan. Sebab ilegal, tidak ada beacukai dari negara.


"Sekitar 15 kilogram Bos!" katanya.


"Tidak masalah. Kamu persiapkan saja. Suruh transfer duluan. Sesuai ketentuan kita. 1 kilogram 1 milyar, kalau mereka mau langsung deal saja," ucap Daren dan Rehan mengiyakan.


"Tapi soal Senja..." ucapan Rehan terpotong. Dia banyak tugas, jadi dia tidak bisa menghandle semuanya secara bersamaan.


"Jangan pikirkan mereka. Urusin dulu sumber uang kita," kata Daren dan ia mematikan telepon dari Rehan.


Daren melihat posisi Senja melalui GPS. Ternyata belum ada pergerakan. Senja adalah gadis yang betah di rumah.


Daren menatap tak suka. "Jangan letakkan di sana, buang aja di sampah," perintah Daren. Ferdi kelihatan sayang sama bunga itu. Tapi ia cuma bawahan yang hanya bisa menuruti permintaan sang Bos.


"Baik Bos!"


Tit!!


Sebuah laporan GPS membuat Daren segera melihatnya. "Mau kemana anak ini?" tanya Daren curiga. Ia pikir Senja tidak akan kemana-mana.


"Baguslah, aku ada kesempatan lagi untuk membuatnya menyerah!" gumam Daren senang.


"Fer!"


"Iya Bos," jawab Ferdi yang langsung berdiri tegap.

__ADS_1


"Antarkan aku ke sebuah tempat," perintah Daren. Dia hanya mengikuti jejak digital itu tanpa tahu tujuan sebenarnya.


"Mal," gumam Daren saat tahu Senja lagi di mana.


"Ke mal Fer, sekarang!" Daren sudah tidak sabar. Apakah Senja sendirian atau bersama J lagi?


"Kemana Bos?" tanya Ferdi saat Daren berjalan cepat tidak seperti biasanya.


Baru masuk ke mal, tatapan para mak-mak dan gadis-gadis jomblo di sana langsung terfokuskan pada Daren. Daren lupa tak mengenakan masker. Tapi dia tidak peduli pada para wanita caper di sekelilingnya. Karena yang ia inginkan hanya Senja.


"Bos itu Senja," bisik Ferdi dan Daren tersenyum lega.


Tanpa berkata apa-apa. Daren langsung berjalan di belakang Senja. Sambil mengawasi Senja yang memilih bahan-bahan dapur. Mungkin disuruh sama Shela. Tapi Shela tidak ada di rumah. 'Apa dia mau masak makanan? Ya mumpung ibunya tidak ada di rumah kan?' tebak Daren dalam hati.


Senja terus berjalan. Dia curiga pada orang di sekitarnya yang menatap ke arah belakang. Tanpa sengaja, Senja ikutan menoleh.


'Daren? Ngapain lagi dia ada di sini? Bener-bener, kayaknya dia membuntutiku,' batin Senja curiga. Segera dia memilih sesuatu. Senja harus cepat-cepat pergi dan menjauh dari Daren.


'Mau kemana kamu? Di manapun kamu berada, di situlah aku akan ada,' batin Daren yang ikut berjalan cepat. Dia sama sekali tidak mau kehilangan jejak Senja sedikitpun.


'Ini orang. Maunya apa sih? Bener-bener membuat imanku runtuh,' batin Senja. Dia menoleh dan melihat Daren yang tersenyum ke arahnya.


'Si*lan. Dia emang minta dijitak! Baiklah, aku menyerah. Masa bodo dibilang apa!!' batin Senja kesal.


Sementara itu.


"Apa?? Kurang ajar!" Daren menatap ke arah Senja. Berat hati, tapi ada yang lebih penting dari ini.


"Ya udah, aku akan ke sana!" Saat Daren belok ke kiri. Disitulah Senja membalikkan badannya.


Nah loh!!


'Kemana dia? Astaga, ternyata aku cuma kegeeran. Mana mungkin dia membuntutiku? Dia kan orang penting. Duh, otakku terlalu percaya diri,' batu. Senja tersenyum kecut. Hampir saja dia kalah dan menyerahkan diri dalam pelukan Daren. Tapi untunglah, Senja tidak jadi malu hari ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2