
Beberapa hari kemudian...
Shela hari ini sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Hanya dijemput oleh Daren dan anak buahnya. Sementara Senja, dia tengah mempersiapkan kamar untuk calon bayinya. Lagian ini sudah memasuki kehamilan yang ke-8. Jadi dia membatasi waktunya untuk keluar dari rumah.
Senja merasa bahagia saat ini. Bukan karena Daren kaya atau apapun. Ini karena Daren benar-benar menyayangi dan memanjakannya layaknya seorang ratu. Tidak hanya Daren saja, ayah mertuanya yang tak lain adalah Viktor. Dia juga sangat memperhatikan kenyamanan Senja saat berada di rumah ini. Sebenarnya Senja kurang nyaman, tapi dia berusaha untuk menerima keadaan dan suasana baru ini di dalam hidupnya. Bahkan Senja akan menerima, jika Shela diajak Daren untuk tinggal di sini.
'Aku yakin ibu akan senang tinggal di sini. Rumah ini adalah rumah impian ibu. Selain bagus, banyak pelayan juga. Tapi aku tidak ingin ibu memanfaatkan Daren untuk kesenangannya. Semoga setelah ibu sampai di rumah ini, ibu bisa berubah,' doa Senja dalam hati. Bagaimanapun juga, Shela tetaplah ibunya. Jadi Senja berharap Shela berubah menjadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Rumah sakit.
"Kau!!" tuding Shela tiba-tiba.
"Ibu Shela," panggil Daren yang membuat jantung Shela berhenti berdetak.
"Ibu Shela jangan khawatir, karena mulai sekarang ibu Shela akan aman dari paman Jhon," ucap Daren lagi.
Trauma saat disiksa oleh Jhon masih teringat jelas di otaknya. Shela benar-benar takut dan menangis secara bersamaan. Tapi Daren adalah pria yang pengertian. Melihat itu, dia segera memanggilkan dokter untuk Shela. Shela harus diterapi setelah ini. Agar traumanya tidak menghantuinya seumur hidupnya.
"Kau mau bawa aku kemana Daren? Di mana Senja?" Shela masih ketakutan dalam situasi ini. Daren adalah penjahat kelas kakap. Dia pernah dipermalukan saat itu. Jadi dia tidak ingin kenangan buruk itu terjadi.
"Nanti ibu Shela akan tahu," jawab Daren dengan senyuman hangat. Daren masih dengan santainya mendorong kursi roda yang tengah diduduki Shela menuju ke parkiran mobil.
Jantung Shela terdiam seketika. Daren si penjahat itu mendadak care dengannya. Apalagi itu... Sejak kapan Daren memanggilku ibu? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Jangan bilang kau akan membunuhku!" tuding Shela sekali lagi.
Namun Daren menanggapinya dengan tawa lepas yang tak biasa. "Hahaha, ada-ada saja. Cobalah berpikir positif tentang diriku ibu Shela. Mana mungkin aku membunuhmu jika aku yang menyelamatkanmu."
Mendengar itu, Shela segera berpikir dengan logis. 'Mungkin tidak ada salahnya aku percaya dengan ucapan Daren kali ini,' batinnya mencoba yakin.
Melewati jalur utama kota, melewati beberapa komplek perumahan. Membuat Shela menduga, kalau Daren akan membawanya ke suatu tempat orang kaya. Shela sangat senang, tapi di sisi lain dia masih ada rasa takut yang tak bisa ia terima apapun itu. Apalagi saat kejadian kemarin, nyawanya hampir saja melayang.
"Kau mau bawa aku kemana Daren? Kalau kau mau melenyapkanku, jangan seperti ini caranya?" teriak Shela pada Daren.
Daren yang tengah duduk di depan dengan Ferdi yang sebagai pengemudinya langsung menoleh.
"Kau akan tahu sendiri Bu Shela," jawab Daren. Dia sedikit merasa kalau Shela sangat cerewet tidak sabaran.
__ADS_1
Mendengar nada yang tak biasa dari Daren. Akhirnya Shela bungkam. Dia tidak bicara sepatah katapun lagi hingga Ferdi menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kaya nan megah.
'Dia bawa aku ke rumah siapa?' batin Shela bertanya-tanya.
"Bantu ibu Shela turun dari mobilnya!" perintah Daren pada Ferdi.
Kemudian Daren menatap ke depan dan di sana ada Senja yang tengah berjalan hendak menyambutnya.
"Sayang!" panggil Daren yang kini menuju ke arah Senja.
Senja tersenyum sambil memegangi perutnya yang kini sudah sangat membuncit.
'Senja! Anak itu masih hidup, syukurlah. Ku pikir Daren sudah menghabisinya. Apa ini pertanda kalau Daren sudah berubah?' batin Shela sambil menatap keduanya yang terlihat romantis.
Kini Shela didorong ke arah Senja dan Daren. Senja tersenyum dan menyambut ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. "Ibu," panggilnya sambil berjongkok memeluk Shela yang tengah duduk di kursi roda.
"Senja, apa kau baik-baik saja?" tanya Shela sedikit khawatir.
Senja menatap Daren. Daren hanya bersikap biasa saja. Terserah Senja mau menjawab apa, yang jelas Daren tidak memperlakukan Senja dengan buruk. Buktinya Senja juga terlihat baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja ibu," jawab Senja kemudian. Mana mungkin dia menjelek-jelekkan Daren yang jelas-jelas Daren adalah pria yang bertanggung jawab kepadanya.
"Pelayan!" panggil Daren pada pelayan yang lain.
"Iya Tuan."
"Bawa ibu Shela ke kamarnya, biarkan dia beristirahat," perintah Daren yang tak pernah dibantah oleh para pelayannya.
Tak sengaja, saat menuju ke kamarnya. Shela bertemu dengan Viktor yang baru saja bisa menyapanya.
Shela menatap Viktor tanpa kata. Begitu pula dengan Viktor. Dia merasa bersalah atas keadaan Shela saat ini. Akankah ia akan bertanggung jawab?
Beberapa bulan kemudian.
Setelah hidup bersama. Akhirnya kondisi Shela menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan dan mengurusi Senja yang kini tengah menantikan kelahiran anaknya.
Untuk hubungan Shela dengan Daren maupun Viktor. Kini hubungan itu terjalin dengan baik. Apalagi pamannya Daren yang tak lain adalah Jhon sudah mendekam di penjara dengan hukuman mati.
__ADS_1
Pekerjaan Daren setelah berhenti menjadi mafia adalah melanjutkan karirnya sebagai pengacara. Dia memiliki kantor pengacara, jadi dia melanjutkan itu. Lagi juga, Daren sudah berjanji pada Senja untuk tidak berbuat hal keji lagi. Karena dendam sudah berakhir.
"Ibu," panggil Senja tiba-tiba.
"Iya kenapa sayang?" tanya Shela sedikit khawatir.
"Perutku ibu. Rasanya sangat mulas sekali. Aduh!" Senja mulai kesakitan. Sepertinya hari ini dia akan melahirkan.
"Daren, telepon Daren Senja!" Shela panik. Mau tidak mau, dia tetap menghubungi menantunya itu.
Saat ini Daren tengah rapat. Melihat ponselnya terus berdering. Akhirnya dia menyerah dan mengangkat telepon itu.
"Permisi sebentar. Sepertinya ada telepon penting untukku," katanya berpamitan.
"Ya halo!"
"Daren! Pulanglah! Senja mau melahirkan!"
Mendengar kata-kata itu, tanpa pikir panjang lagi Daren segera meninggalkan ruang rapatnya. Dia minta Ferdi untuk menggantikannya.
Daren segera berlari menuju ke lift. Dengan tak sabaran, dia hampir memencet tombol lift 3 kali yang membuat ajudan di belakangnya sampai terheran. Segitunya Daren sangat perhatian pada istrinya.
Ya, karena ini adalah momen yang Daren tunggu-tunggu. Dia akan memiliki anak dari orang yang sangat ia cintai.
***
Rumah sakit.
Dengan jantung berdegup ria. Daren dan Shela terus menunggu perjuangan Senja di dalam sana. Tapi Daren gelisah. Dia tidak tega dan akhirnya dia menerobos masuk.
Untunglah para dokter dan bidan hanya diam saja. Dengan dukungan dari Daren. Akhirnya Senja berhasil mendorong anaknya keluar.
"Argh!" teriak Senja dengan kuat.
Dan mereka tidak menyangka, anak pertama mereka adalah seorang laki-laki.
"Syukurlah. Terimakasih sayang, sudah memberikanku seorang anak." Daren memeluk Senja dan memberikan sebuah kecupan sayang untuknya.
__ADS_1
Anak itu adalah anugerah. Dan dendam itu tidak baik. Dendam yang berujung cinta. Akhirnya membuahkan kebahagiaan untuk mereka berdua.
TAMAT