
"Kamu mau pindah kemana Senja? Ibu sudah tak punya biaya untuk kebutuhanmu jika kau pindah ke tempat lain. Apalagi kamu hamil, siapa yang akan mengurusimu?" Shela sedikit merasa bersalah. Di saat seperti ini, harusnya dia ada untuk Senja. Tapi yang ada, dia justru memanfaatkan keberadaan Senja untuk kebutuhannya sendiri.
"Ibu bilang paman Jhon mencariku. Jika aku ada di sini, kemungkinan besar dia masih akan tetap mencariku. Lebih baik aku pergi dari sini ibu," ucap Senja. Dia juga merasa bersalah pada ibunya. Karena dia sudah tak bisa melindungi ibunya seperti dulu.
"Senja, maafkan ibu!" Shela memeluk Senja sambil menangis.
"Tapi masalah uang..."
Ucapan Shela terpotong oleh Senja. "Ibu tak perlu khawatir. Lebih baik ibu pikirkan diri ibu sendiri."
"Memang kamu mau kemana sayang? Apa kamu yakin bisa membesarkan anak ini sendirian?" tanya Shela. Dia teringat nasibnya dulu, yang selalu meninggalkan Senja. Apakah suatu saat Senja juga akan bermain dengan pria demi memenuhi kebutuhan anaknya?
"Mungkin Senja harus pergi ke desa terpencil Bu. Dan melahirkan anak ini di sana. Karena Senja yakin, hidup Senja tidak akan aman jika terus ada di sini," jawab Senja. Dia menangis. Sedikit rasa sakit saat mengingat semuanya. Lagi pula Senja yakin, Daren telah membuangnya dan tak akan mungkin memintanya kembali.
"Ibu ikut?" Shela ingin melepaskan kenangan buruknya di sini. Dan mungkin membuka lembaran baru akan lebih baik buat mereka.
"Tidak Bu. Paman Jhon pasti akan mencurigai keberadaanku jika ibu ikut bersamaku. Lebih baik ibu tinggal di sini saja," kata Senja. Dia sudah tak kuat menahan air matanya. Jadi dia langsung berlari dan meninggal ibunya dalam isak tangisnya.
"Maafkan aku Daren, aku memang harus pergi. Jika aku melahirkan di sini, apa kabar kata semua orang? Ibuku sudah buruk di mata mereka, ditambah aku yang hamil diluar nikah. Pasti harga diriku dan orang tuaku sudah tidak akan ada lagi di mata mereka," gumam Senja. Dia menangis. Tak lama kemudian dia tertidur.
...****************...
Pagi menjelang. Senja hanya menyiapkan sedikit barang bawaannya. Dia hanya membawa barang-barang penting saja. Seperti laptop dan beberapa baju. Entah kenapa, urusan alat make up. Senja sudah tidak memerlukannya lagi. Mungkin bawaan kehamilannya, jadi dia terasa malas untuk berdandan walau sedikitpun.
Senja keluar kamar. Dia melihat ibunya yang sudah menyiapkan makanan. "Ibu... Senja harus berangkat pagi ini," kata Senja hendak berpamitan.
"Sepagi ini? Apa kamu gak sarapan? Ibu tengah mempersiapkanmu makanan untukmu. Percayalah Senja, dalam makanan ibu tidak ada racunnya," kata Shela sedikit membujuk.
Namun terlambat, Senja sudah tidak percaya dengan ibunya lagi. Karena Senja harus berhati-hati demi keselamatan bayinya.
"Tidak ibu. Senja sedang tidak nafsu makan. Dan ya, ini sedikit uang untuk ibu. Tolong jangan beritahu siapapun soal keberadaanku ibu," ucap Senja. Dia memeluk ibunya sejenak. Kasih sayang yang Senja harapkan dari Shela tak pernah tulus. Jadi saat ini Senja sudah tak mengharapkannya lagi.
"Kamu dapat uang dari mana Senja?" tanya Shela.
__ADS_1
"Dari Daren. Dia memberiku uang. Dan jumlahnya tidak sedikit. Jadi ibu tak perlu khawatir kalau soal uang. Senja harus pergi sekarang Bu. Mumpung masih pagi," kata Senja. Dia mengambil tasnya dan seperti kemarin. Dia pergi lewat pintu belakang.
"Hati-hati sayang," ucap Shela dengan berat hati.
Senja berhasil keluar dari rumah tetangganya. Apes. Di saat itu anak buah Jhon tengah mengintainya. Dan sayangnya bukan Marten yang berjaga. Melainkan anak buahnya yang lain.
"Itu Senja. Ya bos mencari gadis ini," gumam si anak buah Jhon.
Dia langsung menghubungi Jhon dengan kilat. "Bos, saya menemukan nona Senja. Tapi badannya lebih gemuk dari yang biasanya," ucap anak buahnya. Siapa tahu dia salah orang.
"Wajahnya seperti Nona Senja, hanya saja postur dan pakaiannya seperti bukan Nona Senja," ucap orang itu melalui voice note.
Setelah Senja masuk gocar, tiba-tiba Jhon meneleponnya.
"Di mana Senja? Apa kau sudah menangkapnya?" tanya Jhon dengan tak sabaran.
"Belum Bos, saya takut salah tangkap," jawabnya.
"Di rumah Shela. Tapi...."
Klik! Sambungan langsung diputus oleh Jhon.
"Di rumah Shela? Keterlaluan, jadi selama ini Shela menyembunyikan Senja? Aku harus memberi perhitungan pada Shela," ucap Jhon. Dia bersiap-siap untuk menuju ke rumah Shela.
"Hanya sekedar postur tubuh tidak masalah. Yang penting memiliki Senja. Aku akan senang jika Daren kalah dariku," gumam Jhon.
"Senja, tunggu om datang sayang," ucapnya dengan tersenyum kemenangan.
"Mau kemana Bos?" tanya Marten penasaran.
"Kau sangat bodoh Marten. Senja ada di rumah Shela, kau bilang Senja ada di luar negri. Dan ya, kau tidak berguna lagi. Jadi tetap di sini," ucap Jhon setengah meremehkan.
'Senja ada di rumah Shela? Astaga, ini gawat. Aku harus segera mengabari tuan Daren,' batin Marten. Dia mencari situasi yang aman untuk bisa menghubungi Daren.
__ADS_1
"Ya ampun, kemana tuan Daren? Kenapa telepon dariku tak diangkat?" Marten gelisah sendiri. Namun dia segera mengirimkan pesan singkat untuk Daren.
Sekarang pukul 07.00 WIB. Sementara di Amerika saat ini pukul 19.00 wib. Dan Daren sedang mandi usai makan malam dengan kliennya. Perkiraan besok rapat terakhir. Jadi Daren berharap dia memang. Lalu dia akan kembali ke Indonesia, mendatangi Ferdi.
Usai mandi. Daren menyalakan rokoknya. Dia menatap langit Amerika. Namun fikirannya melayang membayangkan Senja.
"Senja," gumamnya. "Anak itu, kenapa dia bisa mengganggu otakku?"
Daren mematikan putung rokoknya yang baru sekali ia hisap. Lalu dia mengambil ponselnya. Niatnya ingin melihat GPS Senja. Tapi matanya melotot saat mendapati pesan dari Marten beberapa menit yang lalu.
"Gawat! Paman tahu keberadaan Senja," ucap Daren panik. Dia segera mencari keberadaan Senja.
"Pergi ke mana dia?" gumam Daren. Lalu dia menanyakan keberadaan paman Jhon. Tapi Marten tak mengangkat telepon darinya.
"Apa paman Jhon telah menemukan Senja? Jadi mau dibawa kemana Senjaku? Senja, sabarlah. Aku pasti akan menyelamatkanmu. Besok usai sidang aku pasti pulang ke Indonesia."
Daren panik. Dia tidak rela Senjanya disentuh oleh pria lain. "Awas saja kau paman. Usahaku belum selesai, tapi kau justru melanggar semua rencanaku." Daren emosi. Dia mengepalkan tangannya sambil menatap bayangannya dari Cermin.
Sementara itu... Jhon dengan semangat turun dari mobilnya. "Di mana gadis itu?" tanyanya pada sang anak buah.
"Cepat katakan! Di mana dia?" tanya Jhon semakin emosi.
"Dia naik mobil menuju ke sana Bos!"
"APA? Omong kosong! Kau sama saja seperti Marten, mempermainkan harapanku!"
PLAK!! Jhon menampar anak buahnya dengan kasar.
Shela yang mendengar ada keributan di depan rumahnya langsung mengintip dari balik jendela. "Astaga, itu Jhon. Bagaimana ini?"
Akankah Senja berhasil kabur dari jangkauan Jhon?
Bersambung...
__ADS_1