
"Dari mana saja kamu!" teriak Shela memarahi Senja.
"Aku tadi pingsan Bu," jawab Senja sedikit ketakutan. Lagi-lagi dia pulang terlambat.
"Pingsan!" teriak Shela tidak percaya. Dia sedang bingung akan masalahnya sendiri sampai tidak perduli dengan keadaan Senja.
"Iya Bu," jawab Senja takut-takut.
"Kamu itu gunanya apa sih Senja? Tak berguna sama sekali." Shela memegangi kepalanya yang tengah pusing.
"Kau tahu, musuh ayahmu ada di sekitar kita. Kamu harus siapkan dirimu, lawan dia, kelabui dia. Kalau bisa kumpulkan bukti kejahatannya biar mudah menyeretnya ke kantor polisi," ucap Shela penuh menuntut.
"Tapi Bu, siapa orang itu?" tanya Senja bingung. Pasalnya balas dendam harus mengenal identitasnya dulu. Ya paling tidak nama dan usianya. Masa iya Senja harus balas dendam pada orang yang salah.
"Namanya Daren, umur 23 tahun. Kalau kau tahu nama Daren, segera laporkan ke ibu. Dan sekarang bersiaplah!" suruh Shela yang membuat Senja bingung.
"Kemana?"
"Latihan menembak. Brigadir J sedang menunggumu," ucap Shela yang membuat Senja pasrah.
Rasanya baru semenit yang lalu dia bernafas lega. Berkenalan dengan pria yang bernama Justin. Sampai Senja tidak ada waktu buat cerita ke ibunya. Ibunya terlalu memaksanya untuk ini itu. Dan belum tentu usahanya ini berhasil.
"Baik Bu," jawab Senja dengan pasrah. Brigadir J teman dekat dari ayahnya. Yang Senja tahu, mereka (Boy dan J) melakukan ini secara percuma alis gratis. Tapi tidak tahu nanti bakalan seperti apa. Yang jelas Senja hanya ingin menurut saja.
...****************...
'Aku harus dekat dengannya, supaya aku mudah memusnahkan mereka berdua,' batin Daren dan matanya meniyorot penuh dendam.
"Bos, seseorang mencarimu!" ucap Rehan yang mengejutkan lamunan Daren.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Daren penasaran.
"Dia orang suruhan Mr. Louis."
Mendengar nama itu, Daren langsung berdiri dan berjalan menuju ke depan. Mr. Louis adalah orang yang selalu memberikannya uang seberapapun Daren minta. Dan salah satu konsumen dari barang haramnnya. Semua uang yang Daren miliki bahkan 60% kebanyakan dari mister Louis.
"Ada apa mencariku?" tanya Daren pada orang suruhan Mr. Louis.
"Boss ingin kamu melakukan sesuatu pada Silvana hari ini," ucap orang itu.
"Silvana, sudah lama sekali aku tak berjumpa dengan dia. Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Daren sambil mengelus-elus dagunya.
Silvana adalah kekasih gelap Mr. Louis. Dulu waktu di London, Daren disuruh untuk berpacaran dengan Silvana. Dan sampai sekarang mereka masih punya status itu, namun tidak lagi saling bertemu. Kalau bukan demi uang, Daren tidak mungkin mau melakukan hal murahan seperti itu.
"Mr. Louis ingin kau membunuh Silvana malam ini juga!" ucap si orang suruhan Mr. Louis dengan enteng namun penuh nada menyuruh.
Daren terdiam. Sudah lama sekali dia tidak membunuh orang. Apa secepat ini dia akan mendapatkan mangsa baru? Padahal dia ke Indonesia hanya ingin balas dendam atas kematian ayahnya. Membunuh Senja dan Shela secara perlahan. Namun godaan untuk mengotori tangannya sangat kuat. Daren tak bisa menolak lagi.
Daren segera berbalik arah. Dia menuju kamarnya guna mencari sesuatu.
"Apa Anda yakin mau melakukan tugas ini?" tanya Rehan meyakinkan bosnya.
"Kenapa? Kau meragukanku?" Daren mengasah sebuah belati kecil.
"Saya bisa menggantikan kalau anda keberatan," ucap Rehan dan Daren menoleh dengan wajah yang biasa.
"Ini bukan tugasmu Re. Tugasmu cukup awasi bocah kemarin sore itu dari kejauhan. Dan jangan lupakan tugas utama kita, kepuasan konsumen adalah yang paling utama. Bagaimana dengan stok barang di gudang? Apakah masih aman?" tanya Daren mengingatkan tugas utama Rehan. Karena Rehan tidak perlu ikut campur atas tugas yang Daren terima, kecuali atas persetujuan Daren sendiri.
"Stok di gudang masih aman. Soal Senja, kemarin ibunya memarahinya lagi." Informasi dari Rehan barusan seperti laporan biasa pada umumnya. Tapi nama Senja masih menjadi misteri buat Daren.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan bersiap malam ini. Kau tidak perlu perduli kan aku," ucap Daren sambil memasukkan belati tadi ke dalam kaos kaki hitam yang dipakainya.
...****************...
"Om bilang Daren ada di sekitar kami. Lalu di mana dia tinggal?" tanya Senja pada Brigadir J yang biasa Senja panggil Om.
"Bukan om yang bilang, tapi om Boy. Dia detektif yang handal, pasti apa yang dia temukan benar adanya. Lagian Daren bukan orang sembarangan Senja. Dia itu mafia kelas kakap. Pasti dimana-mana dia menggunakan identitas palsu. Jadi sangat sulit untuk kami buat menangkapnya."
"Kenapa begitu om? Haruskah secepatnya aku mencari keberadaannya?" tanya Senja menawarkan diri.
"Kau tidak akan tahu Senja. Kita yang sudah berpengalaman saja, mencarinya sulit minta ampun. Gimana denganmu? Memangnya kamu sudah tahu wajah dia seperti apa?"
Ditanya seperti itu, Senja hanya bisa menggeleng. Brigadir J memang benar. Bumi ini terasa luas untuk mencari orang yang tidak ia kenali sebelumnya. Tapi apa salahnya mencoba. Senja bukan tipikal gadis yang mudah menyerah. Dengan ciri-ciri 2 itu, mungkin sudah cukup bagi Senja. Pertama-tama, Senja harus mencari pria berusia 23 tahun. Setelah itu baru berkenalan. Wajah Senja tidak buruk-buruk amat, dia cukup cantik buat menarik perhatian para pria.
"Kita buktikan saja nanti," jawab Senja dengan enteng. Usia remajanya membuatnya serba ingin tahu. Dia tidak perduli dengan apapun, hanya satu tujuannya yaitu dianggap anak oleh Shela.
...****************...
Di tempat yang berbeda, Daren masih melajukan mobilnya. Terus melewati keramaian kota. Silvana, gadis itu tumbuh di London. Suka barang mewah dan hidup berfoya-foya. Saking butuhnya dengan uang, dia rela menjual tubuhnya bahkan menjadi kekasih gelap oleh Mr. Louis.
Masa lalunya dengan Mr. Louis belum selesai, karena Silvana telah memeras semua isi black card yang diberikan oleh Mr. Louis. Sebenarnya itu tidak masalah, asal Silvana tidak mengkhianatinya. Maka dari situlah Mr. Louis mulai balas dendam dengan menghadirkan Daren di tengah hubungan gelap mereka. Sebenarnya Daren tidak sungguh-sungguh, dia seperti ini hanya ingin menjalankan tugasnya saja. Yang penting baginya adalah uang. Karena uang bisa membeli apa saja yang ia inginkan, bahkan omongan pun akan Daren beli.
"Aku sudah menemukan keberadaan Silvana," kata Daren melalui sambungan telepon.
"Apa yang aku dapatkan jika aku berhasil menghabisi nyawanya?" tanya Daren. Terdengar jawaban menggiurkan dari seberang sana. Daren langsung tersenyum miring penuh arti.
"Baiklah, beri aku waktu 24 jam buat melenyapkannya. Kau pasti akan puas!" ucap Daren lalu memutus panggilannya.
"Baiklah Silvana, i'm coming!" Daren menutup mobilnya dengan keras.
__ADS_1
Ini sudah malam bagi waktu Indonesia bagian barat. Jam 9 malam. Diskotik dan bar sudah mulai dibuka. Dan di tempat itulah Daren menemui Silvana demi misinya.
Bersambung...