SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Salah Obat


__ADS_3

...****************...


Senja memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Dia menatap ke atas, dan mendapati kepala Daren ada di atas kepalanya. Posisi itu tak berubah sedikitpun sejak semalam.


"Daren!" panggil Senja. Dia mencoba menyentuh pipi Daren, bermaksud untuk menjauhkan kepala Daren dari kepalanya.


"Astaga Daren!" Senja terkejut bukan main. Setelah kemarin dia yang demam. Kini giliran Daren yang sakit.


"Daren, apa kau punya obat penurun panas?"


Daren bergeming. Dia tengah tertidur. Dari kemarin, kondisi tubuhnya memang kurang fit. Tapi tugasnya sangat banyak dan tak boleh ia tinggalkan. Harusnya Senja direhab, tapi hari ini dia justru merawat Daren.


Dengan wajah acak-acakan. Baju tak karuan, Senja menuju ke dapur. Mencari obat penurun panas kalau ada. Namun mutar-mutar dari ujung ke ujung, persediaan obat di sini terlalu minim. Atau mungkin Senja yang tidak tahu.


Demi balas budinya semalam. Akhirnya Senja berniat untuk mengompres Daren saja. Dari pada dibiarkan yang ada makin berabe. Lagipun Senja juga tidak tahu sandi ponselnya Daren, jadi bakal kesusahan menghubungi dokter. Ponselnya?? Entah Daren membuangnya kemana, karena sampai sekarang Senja tak megang handphone.


Setengah berpikir, akhirnya Senja punya ide. "Bagaimana kalau dikompres? Sepertinya tidak buruk?" gumam Senja sambil menyiapkan es batu. Lalu ia mengambil mangkok plastik. Mengambil handuk kecil berwarna putih. "Ah begini saja," ucapnya girang. Setidaknya dia tidak punya hutang pada Daren.


"Moga panasmu cepet menurun," ucap Senja sambil meletakkan handuk kecil tadi ke dahi Daren.


Setelah meletakkan itu, Senja ingin pergi ke dapur. Mungkin membuatkan bubur untuk Daren. Baru saja ia beranjak, tangan Daren memegangnya.


"Senja..." Suara bariton itu terdengar sangat lemah.


"Iya Daren," jawab Senja. Kali ini dia menurunkan egonya. Entah kenapa, kejadian semalam bagai mimpi buruk untuknya.


"Gimana keadaanmu?" Rupanya Daren masih perduli pada Senja. Mendadak hati Senja luluh dibuatnya.


"Aku baik Daren."

__ADS_1


"Jangan bohong," sahut Daren dengan suara pelan tapi masih terdengar.


"Daren, kau jangan memikirkan kesehatanku. Sekarang ini kamu lagi sakit. Tolong pikirkan dirimu jangan orang lain. Istirahatlah, aku akan buatkan sarapan untuk kita!" Senja meninggalkan Daren sendirian.


Daren memikirkan sesuatu. Dia hapal betul orang saka* dan kecanduan. "Apa aku salah memberinya obat?" Kepala pusing, badan demam. Daren nekat menuju tempatnya meletakkan obat. Dia mencari obat yang kemarin diberikan oleh Senja. Membolak-balikkan, kepala berdenyut kencang, mata sampai berkunang-kunang. Tapi Daren tidak pantang menyerah.


'Dapat!' batinnya girang. Lalu dia membaca contoh di belakangnya. Ada rasa lega di sana. "Ternyata ini hanya obat gila. Pantes Senja bersikap sudah biasa. Jadi dia tidak perlu direhab."


"Siapa yang akan direhab?" Senja muncul tiba-tiba. Buru-buru Daren menutup laci rahasianya.


"Kau salah dengar," elak Daren.


"Kau memberiku narkob*?" tuding Senja. Tangannya membawa nampan dan mangkok yang berisi bubur. Dia mengira Daren masih tidur. Namun yang ia lihat justru mengejutkannya.


"Tidak!" jawab Daren. Dia jujur kali ini.


"Bohong!! Kau membuatku seperti tadi malam gara-gara obat waktu itu!" Senja meletakkan nampannya dan kali ini memarahi Daren.


"Tidak Senja. Tenanglah, kepalaku masih pusing." Daren meringis. Akhir-akhir ini dia mengabaikan kesehatannya. Keinginan membunuh seseorang sangat kuat. Tapi dia tidak ada kesempatan untuk melakukan itu.


"Kau tidak perlu berpura-pura seperti itu Daren. Jika kau benar-benar memberiku narkob*. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, seumur hidupku!"


BRAK!


Senja membanting pintu kamar Daren. Dia menangis sejadi-jadinya di dapur. Tadinya dia merasa kasihan dengan kondisi Daren. Bahkan hatinya juga sudah luluh dengan seiring waktu. Tapi Daren mengecewakannya.


Daren menatap bubur buatan Senja. Ingin berdiri dan menemui Senja, namun pusing di kepalanya tak tertahankan. Kepalanya seperti mau pecah. Ini karena Daren menginginkan bau anyir itu. Tapi semua terkendali akibat Senja.


"ARGH!" Daren roboh, tangannya tak sengaja menyenggol nampan itu. Hingga mangkok yang berisi bubur itu jatuh berserakan di lantai.

__ADS_1


Senja sempat mendengarnya. Tapi dia masa bodoh. Senja mengira Daren sedang emosi, jadi dia membanting bubur yang dibuatnya tadi.


Daren tersungkur. Seumur-umur, baru kali ini dia kalah dengan yang namanya sakit. Hingga dia jadi tak berdaya. Daren pingsan di lantai.


Usai menangis, Senja mencoba mendengarkan kamar Daren. Sunyi, tapi sedari tadi dia belum mandi. Jadi dengan terpaksa dia masuk ke kamar itu.


Senja terlonjak. Dia merasa bersalah dan segera berlari ke arah Daren. Semarah apapun dia sama Daren, rupanya Senja tidak tega untuk menjahatinya.


"Daren! Kau kenapa lagi?" Senja menepuk-nepuk pundak Daren. Makin lama wajahnya semakin pucat. Ternyata tubuh Daren demam. Senja melihat mangkuk dan bubur berserakan tak karuan. Dia melepaskan bajunya yang sobek kesana. Tidak perduli apapun, hanya mengenakan BH. Dia menyeret badan Daren ke kasur. Sangat sulit, karena tubuh Daren sangat gotot berisi. Senja keberatan.


"Daren!"


Daren membuka matanya. "Jangan tinggalkan aku Senja," ucap Daren. Tapi dia kembali memejamkan matanya. Pusing di kepalanya benar-benar membuatnya tidak tahan.


"Bertahanlah Daren. Aku yakin kau sembuh. Bagaimana jika kau panggil dokter saja?" tawar Senja setelah Daren berhasil tidur di atas kasur.


"Aku cuma butuh kamu Senja." Daren memeluk tubuh Senja yang terekspos itu. Senja begini karena dia risih dengan bubur yang berceceran kemana-mana tadi. Lagi juga bajunya sudah koyak. Jadi tidak masalah kalau Senja menjadikannya keset lalu dibuang.


"Tapi Daren. Badanmu sangat panas!" Senja mencoba beranjak.


"Nanti juga sembuh sendiri," ucap Daren yang semakin mengencangkan pelukannya. Senja di atas tubuh Daren. Dan Daren memeluknya dengan kaki sedikit terbuka. Andai ini posisi bercinta, mungkin ini posisi terbaik yang pernah ada.


"Aku akan memelukmu Daren, tapi setelah kamu makan," ucap Senja. Entah kenapa, berpelukan seperti ini saja rasanya begitu nyaman. Daren membutuhkan pelukan seseorang. Begitu juga dengan Senja. Selama ini dia hidup dan ingin dipeluk ibunya. Namun semuanya tak tersampaikan, dan sekarang dia justru dipeluk oleh musuhnya.


"Tidak Senja, aku ingin kita seperti ini. Sebentar saja." Meskipun tak mengenakan pakaian, rupanya Daren diam saja. Bahkan dia terlihat manja seperti anak dengan ibunya. Kini posisi keduanya jadi miring. Senja berada di samping Daren sambil mengelus rambut Daren. Daren masih memejamkan matanya sambil memeluk Senja dengan erat.


Harusnya mereka tak seakrab ini tanpa ikatan. Tapi keduanya sudah saling nyaman. Tinggal perasaan mereka masing-masing. Adakah cinta di antara mereka berdua?


Begitu perhatiannya Senja pada Daren. Hingga Daren kembali tertidur. Senja merasa suhu tubuh Daren mulai hangat, tak sepanas sebelumnya. Perlahan-lahan Senja meninggalkan Daren. Ia membersihkan lantai dan mangkuk yang dipecahkan oleh Daren tadi.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Kenapa rasanya jadi seperti ini?" Senja memegang dadanya. Detak jantungnya bergemuruh, dan air matanya menetes karena baru kali ini Daren memperlakukannya seperti tadi. Berpelukan tanpa sek* seperti biasanya.


Bersambung...


__ADS_2