SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Kedatangan Viktor


__ADS_3

FLASHBACK


Di saat yang bersamaan, Daren menatap wanita itu lagi. Wanita hamil yang menurutnya mirip Senja.


"Senja?" panggil Daren pada jalanan yang jauh di depannya. 'Ah tidak mungkin,' batinnya. Daren mencoba mengucek matanya, memastikan kalau dia tak salah lihat untuk kesekian kalinya.


"Ish, kenapa wanita hamil itu sangat mirip dengan Senja? Sebenarnya dia siapa sih?" gumam Daren yang tak sengaja didengar oleh Rehan.


"Senja?" tanya Rehan memastikan.


"Iya Re. Barusan aku melihat wanita yang mirip dengan Senja. Sepertinya aku salah lihat," curhat Daren pada Rehan. 'Mungkin saking kangennya aku padanya, jadi wanita tadi ku pikir adalah Senja.'


"Oh." Rehan hanya ber-oh ria.


"Atau jangan-jangan itu Senja Bos. Bukankan persembunyian Senja belum diketahui. Dan bos sendiri, tempat Senja ada di desa terpencil. Lalu ini apa Bos?" Rehan membuat Daren semakin berpikir.


"Ikuti wanita itu Re. Aku yakin dia Senja. Mungkin dia mengandung anakku," ucap Daren dengan mantap. Karena yang Daren tahu, Senja tidak pernah berhubungan dengan pria lain selain dirinya.


"Dan satu lagi, suruh Ferdi menyusul kita. Buat berjaga-jaga. Karena Senja tidak aman dari pantauan paman," kata Daren lagi.


"Siap Bos."


Daren terus membuntuti wanita hamil itu. Hingga sangat lama, akhirnya wanita itu berhenti di sebuah hotel dengan perumahan di mana Jhon tinggal.


"Senja. Ternyata itu kau. Aku yakin, kau merawat calon anak kita dengan baik," gumam Daren saat berada di belakang Senja.


Senja merinding, dia merasa diawasi oleh seseorang. Buru-buru dia masuk kamar, takut kalau anak buah Jhon memata-matainya.


Di tempat yang berbeda. Ferdi dan kakek tua baru bangun dari tempat istirahat.


"Paman. Bos Daren menyuruh kita bersiap-siap!" ucap Ferdi.


"Bersiap kemana? Apa aku boleh ikut?" tanya kakek tua yang kini telah dipanggil paman oleh Ferdi.


"Boleh. Bos Daren tidak akan melarang Anda. Kita harus cepat, takut kalau paman Jhon berbuat macam-macam," ucap Ferdi yang membuat paman itu jadi gemetaran.

__ADS_1


"JHON..."


"Iya, Jhon. Apa Anda mengenalnya?" tanya Ferdi penasaran.


"Apakah Daren dibesarkan oleh Jhon?" tanya paman itu lagi.


"Iya, dia yang merawat Tuan Daren," jelas Ferdi.


"Astaga!" Paman itu membekap mulutnya tidak percaya.


"Apa Anda mengenal Jhon?" tanya Ferdi mengorek informasi.


"Dia pengkhianat. Yang telah membuangku ke laut!" jelasnya.


"Jadi Anda siapa?" tanya Ferdi lagi.


"Aku ayahnya Daren, jika Daren mengingatnya. Karena kami sudah berpisah selama puluhan tahun," jawabnya.


"Apa!! Baiklah paman, kalau begitu kita harus cepat ke tempat Jhon. Tuan Daren butuh kita."


"Tidak mungkin kau selamat Viktor! Kau bukan Viktor!" Jhon menodongkan pistolnya ke arah semua orang. Anak buahnya terdiam semua, tidak ada yang berani bergerak.


"Kalian kenapa diam saja? Aku ini Bosmu!" teriak Jhon pada anak buahnya yang lain.


"Cepat kabur dari sini Senja. Aku takut terjadi apa-apa denganmu!" ucap Daren.


Senja masih menangis melihat penusukan terhadap ibunya tadi.


"Semuanya! Lari!!"


DUAAARRR!!!


Tiba-tiba rumah itu meletus. Sebagian berhasil menyelamatkan diri, dan sebagian lagi terjebak di dalam sana.


Jhonlah pelakunya. Di saat Senja hendak keluar dari rumah itu. Dia melemparkan sebuah boom rakitan di dalam rumahnya itu.

__ADS_1


Ferdi dan Viktor selamat. Marten selamat. Jhon, entah lari kemana dia. Sementara Senja dan Daren... di saat darurat seperti ini. Keduanya justru tidak terlihat.


Api makin berkobar, namun Senja dan Daren juga masih belum menampakkan hidungnya.


"JHON!!! Kurang ajar sekali pria itu. Aku belum bertanya kabar tentang putraku, tapi dia justru berulah." Viktor emosi. Dia baru bangkit dari masa terpuruknya. Bahkan belum sempat berbicara satu sama lain. Tapi Jhon kembali memisahkan mereka semua.


"Kami akan mencarinya paman," ucap Ferdi.


Sementara yang anak buah Jhon sebagian tidak keluar dari tempat itu. Hanya terlihat Marten yang selamat. Tapi Ferdi tidak suka dengan Marten. Marten adalah pengkhianatnya Jhon. Bisa jadi Marten juga mengkhianati Daren. Karena Ferdi baru kembali dari masa menghilang.


Di tempat yang berbeda. Senja di gendong Daren masuk ke dalam rumah warga yang aman dari jangkauan api. Hanya saja, kakinya Senja terluka. Dia terkena percikan api akibat ulah Jhon.


"Bertahanlah sayang," ucap Daren. Dia tidak tega melihat Senja yang terus-terusan menangis.


"Biar aku telponkan Ferdi," kata Daren. Namun Senja diam saja. Senja merasa marah, bahagia dan sedih campur aduk jadi satu. Siapa yang mengira kalau Daren mau mengakui kehamilannya? Ditambah lagi, ayah Daren masih hidup. Itu tandanya Senja yang harus balas dendam kepada ayah Daren. Karena ayah Daren, ayahnya jadi meninggal.


Dan ibunya... 'Ibu, ternyata kau benar. Daren adalah penjahat yang sebenarnya. Karena ayahnya, ayahku meninggal. Dan aku dibenci ibu karenanya,' batin Senja. Dia melihat Daren yang sedang bertelepon di depan. Senja memanfaatkan kesempatan itu untuk meninggalkan rumah tetangga sebelah. Dia kabur lewat pintu belakang tanpa permisi. Karena rumah ini telah lama tak berpenghuni.


"Aku harus kabur dari sini. Jika tidak, aku bisa mati di tangan Daren. Kali ini aku tidak mengampuni Daren dan ayahnya. Mereka semua penjahat, pembohong!" Buru-buru Senja lari sambil menyeret kakinya. Dia tidak perduli dengan perutnya yang besar, atau bahkan kakinya yang sakit. Yang penting adalah keselamatannya dan balas dendam terhadap ayahnya Daren.


Usai bertelepon dengan Ferdi. Daren dikejutkan dengan keberadaan Senja yang sudah tidak ada di tempat.


"SENJA! Senja kau di mana?" Daren panik.


"Ku mohon, kali ini saja Senja. Jangan pernah meninggalkanku," gumam Daren bimbang. Daren sadar, selama ini dia salah balas dendam terhadap Senja. Yang harusnya ia balas itu adalah Jhon bukan Senja. Apalagi sekarang Senja hamil, Daren harus benar-benar bertanggungjawab atas semua perbuatannya pada Senja. Tapi Senja?


"Senja, keluarlah! Aku butuh bicara denganmu! Aku tahu, bayi yang kau kandung itu adalah anakku!" teriak Daren dan Senja mendengarnya. Tapi Senja terus berlari, dia tak mau berhenti lagi.


"Itu adalah jebakanmu Daren. Sungguh aku tidak akan mempercayai mulut manismu lagi. Ayahmu masih hidup, dan kau memanfaatkanku dengan embel-embel kematian ayahmu," gumam Senja. Dia terus berjalan sebisanya. Dan di saat Daren berdiri di sampingnya, buru-buru Senja berjongkok di balik tembok tetangga sebelahnya. Senja gemetaran, rasa cintanya terhadap Daren itu kini diselimuti oleh rasa benci akibat dendam atas kematian ayahnya. Padahal Senja hampir menyerahkan diri pada Daren, tapi semua itu sirna gara-gara kehadiran Viktor. Senja yakin, Daren merencanakan semua ini hanya untuk merusak kebahagiaan keluarganya.


Bersambung...


Apakah semua yang terjadi seperti yang Senja pikirkan?


Visual Jhon

__ADS_1



__ADS_2