
...****************...
Sudah seminggu Daren mengurung Senja. Namun tetap tidak ada perubahan buat mereka berdua. Hanya sarapan, makan malam dan berenak-enak kalau Daren ingin. Semakin kesini, Senja semakin bosan. Dia ingin hidup normal seperti sebelumnya. Lebih baik kena semprot ibunya, dari pada terus dikurung oleh Daren.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. Mungkin Daren punya kunci cadangan apartemennya. Jadi buru-buru dia mematikan seluruh lampu di rumah itu.
Sementara itu. Daren sedang menangani kasus penting. Kasus kematian seorang Tentara yang diduga telah ditembak oleh seorang komplotan mafia. Daren memicingkan matanya tidak suka. Harusnya bukan dia yang ditunjuk. Tapi menjadi kuasa hukum dari korban, akhirnya Daren ikut campur. Jika mengingat kasus ini, dia jadi teringat akan kematian ayahnya dan juga ayah Senja. Betapa begitu terpukulnya dari keluarga korban. Anak balita, semua seperti kenangan masa lalunya.
Lagi-lagi mafia yang bersalah. Daren sempat heran. Melindungi diri kenapa salah? Padahal Daren juga sudah tahu jawabannya. Seorang mafia alias penjahat salah ambil jalan. Termasuk dirinya. Tapi Daren menepiskan semua pikiran tentang dirinya. Dia buru-buru menyiapkan berkas perkara.
Ada sedikit keganjalan dalam hatinya saat memenangkan kasus ini. Tentara yang meninggal itu tidak bersalah. Mungkinkah ayah Senja juga tidak bersalah?
'Ah, mikirin apa sih? Kasus ini berbeda dengan kasus ayahku. Ayahku juga meninggal saat itu. Jadi impas, jika aku balas dendam pada Senja. Menghancurkan masa depannya, dan sebentar lagi dia akan hamil. Dan aku akan meninggalkannya,' batin Daren tersenyum licik. Dia terus berusaha membenarkan semua apa yang ia inginkan.
...****************...
Senja terus menggeledah apartemen Daren. Semua lemari dan laci di kamar Daren di kunci total. Senja marah-marah sedari tadi, namun tetap buntu. Tidak ada jalan penerangan sedikit-pun buatnya.
Di saat lelah seperti ini, Senja menangkap pantulan sebuah kaca dari sudut tempat tidur Daren. Dengan cepat Senja berlari ke arah sana.
__ADS_1
"Argh!" Senja semakin emosi. Dia menemukan sebuah ponsel, namun mati. Ponselnya masih disita oleh Daren. Jadi Senja benar-benar kesulitan untuk mencari bantuan.
Jika Senja masih dalam keadaan frustasi. Berbeda lagi dengan Jhon. Dia sedang memikirkan cara untuk menghancurkan anak angkatnya ini. Namun tetap saja, apa yang ia rencanakan selalu gagal. Akhirnya dia melampiaskan amarahnya pada Shela. Tapi tidak untuk ditiduri. Jhon sedang tidak bernafsu pada Shela. Karena berkali-kali dia sudah merasakan tubuh itu. Dan yang inginkan saat ini adalah Senja. Namun sampai sekarang keberadaan Senja belum diketahui.
"Kau ibu yang tidak becus Shela. Menjaga seorang anak perempuan saja tidak bisa. Apa hanya segini upayamu untuk membunuh mafia seperti Daren?" Jhon memarahi Shela dari kemarin-kemarin.
Sebenarnya dari lubuk hati Shela yang paling dalam, dia ingin menggantikan posisi Senja. Pasti dengan senang hati Shela akan melayani apapun kemauan Jhon. Jhon orang kaya, royal, pasti apapun yang diinginkan Shela pasti terkabul. Itu hanyalah sebuah andaian saja. Karena Jhon menawannya hanya untuk pelampiasan amarahnya.
"Aku beri waktu seminggu buatmu menemukan Senja. Jika tidak...."
'Kau yang akan menggantikan Senja untukku,'
"Jika tidak, nyawamu sebagai taruhannya!" ucap Jhon yang membuat harapan Shela sirna seketika. Tadinya Shela berharap kalau Jhon akan berkata seperti tulisan miring tadi. Namun lagi-lagi semua orang mengancam nyawanya.
...****************...
'Haruskah aku mencari Senja untuk pria yang ku suka? Ah, males banget. Biarkan saja Senja mati di tangan Daren. Percuma juga dia tetap hidup, namun terus menjadi sainganku,' batin Shela. Dia memilih pergi ke tempat lain. Menemui teman dari almarhum suaminya, brigadir J.
J seperti sudah tidak peduli dengan kehadiran Shela. Bagi J, Shela sudah seperti sampah. Sangat murahan tak ada harga dirinya. J memang pernah menidurinya, tapi itu karena Shela yang memancingnya hingga dia tak kuat akan nafsunya. Tapi sekarang, rasa suka pada Shela telah sirna. Salah jika Shela kembali mengharapkan J hanya untuk mengobati perasaannya. Karena J menyukai Shela dengan tulus. Sakit hatinya karena tahu Shela berkencan sana-sini membuatnya ilfill.
__ADS_1
"Buat apa kau menemuiku She? Aku sedang sibuk. Maaf aku tidak punya waktu untuk mendengarkan ceritamu," tolak J saat melihat Shela menangis di depannya. Air mata buaya betina, yang kini J sudah sadar itu.
"J, Senja hilang!" ucap Shela. Dia mencari perhatian.
"Aku sedang sibuk Shela. Dan ingat, perjanjian kita sudah selesai sejak saat itu. Kau dan kepala telah menjalin hubungan, dan saat aku memutuskan untuk membantumu lagi She. Karena aku bukan siapa-siapamu. Dan aku punya pekerjaan sendiri, tidak selalu mengurusi keluarga kalian. Dan ya, Senja udah besar sekarang. Ku rasa dia mampu menyelesaikan urusannya sendiri," ucap J dan segera pergi dari hadapan Shela.
Shela semakin emosi. Dia kesal. Orang-orang yang dulu mengejarnya kini menjauhinya. Saking frustasinya, Shela memutuskan pergi ke sebuah bar. Minum-minuman alkohol di sana.
Tak disangkanya, Daren yang tengah mengirimkan barang dagangannya ke tempat itu melihat keberadaan Shela. Shela yang teler, membuat Daren berani mendekatinya.
"Kau jadi seperti ini Shela? Sungguh miris hidupmu," ucap Daren sambil berdiri di samping Shela. Usai di pengadilan, Daren dapat orderan barang di bar itu. Dan karena Rehan ada tugas lain, akhirnya dia sendiri yang turun tangan. Jadi Daren belum tahu, Senja di apartemen ngapain saja hari ini?
Remang-remang Shela menatap Daren. Shela pasti sangat terkejut. Seorang berondong muda, gagah nan tampan mendekatinya. Sedikit ge-er. Shela pikir Daren tertarik dengannya.
"Kau siapa? Apa kau menginginkan tubuhku?" tanya Shela sedikit ngelantur.
"Ck. Di saat seperti ini kau masih memikirkan hidupmu. Apa kau tak ingat anakmu? Apa kau lupa, bahwa kau telah menelantarkan anakmu sampai sekarang Shela?" Daren mengucapkan dengan gertakan.
"Anak! Anakku sudah mati!" ucap Shela yang membuat Daren semakin geram.
__ADS_1
"Bagus! Kalau begitu, jangan pernah berharap anakmu itu akan pulang ke rumahmu!" Daren mengepalkan tangannya emosi. Lebih baik Senja hidup bersamanya selamanya. Ibu macam apa itu, membuang anaknya hanya gara-gara acara balas dendam yang dia sendiri tak mampu melakukannya.
Bersambung...