
...****************...
"Bagus ya, sekarang sudah berani kelayapan pulang malem!" tegur Shela sambil bersedekap dada. Dia menatap Senja dengan sinis.
"Ibu cari uang buat biaya kuliahmu, tapi dengan seenaknya hari ini kamu bolos. Jangan mentang-mentang kamu sudah berhasil masuk ke kantor musuh kita, jadi kamu melupakan tugasmu?" Shela mengomel panjang lebar.
Lengkap sudah Senja dibuat lelah oleh Daren, sekarang harus menerima omelan dari ibunya. "Bu, di kantor musuh kita... aku ini tidak bersenang-senang seperti apa yang ibu pikirkan. Lihat diriku Bu, aku baru saja membuat hal yang belum pernah aku lakukan!" Senja beranikan diri, bukan untuk melawan. Hanya ingin memberi tahu ke ibunya, bahwa dia juga tengah berjuang sekarang.
"Dirimu? Apa kamu juga gak lihat ibu? Ibu rela bekerja selama ini agar kamu bisa membunuh musuh kita, bukan hanya bekerja yang tanpa tujuan," sindir Shela.
Senja membuang nafasnya, lelah. "Terserah ibu. Lagian membunuh orang itu bukan seperti kita membunuh semut. Ibu tahu sendiri, negara kita negara hukum. Jika ada yang tahu aku telah membunuh bos mereka, pasti aku langsung dihukum mati," ucap Senja.
Shela terdiam. Jika Daren mati, Senja juga bakalan mati. Itu sama halnya Shela juga ingin membunuh anaknya.
Melihat tak ada respon dari ibunya, Senja langsung berjalan menuju kamarnya. Lelah bertubi-tubi. Daren mengerjainya. Mempermalukannya.
"Sini Fer, tunjukkan padanya! Pantry kita juga menyiapkan makanan cepat saji. Dan makanan ringan yang siap santap!" Daren berjalan ke arah pantry sambil melewati Senja begitu saja. Mau tidak mau, Senja pun mengikutinya.
"Aku tidak dipekerjakan menjadi office girl atau pelayanmu. Jadi jangan salahkan aku soal ini, kalau kamu tahu, yasudah kenapa tidak mengambil sendiri saja?" Senja mengomel di belakang Ferdi.
Sepertinya Daren memang sengaja banget, biar Senja menegur dia duluan. Soalnya ini sudah bukan jam kerja, hanya lembur buat tambahan saja.
"Lihatlah Fer, di sini banyak makanan. Anak kecil saja mampu melihat ini, tapi kenapa dia tidak?" Daren tersenyum sinis sambil menatap ke arah Senja.
Dipermalukan di depan Ferdi. Benar-benar Daren tidak punya hati kepadanya. Tanpa berucap apapun, Senja mengambil makanan ringan itu. Dan memberikannya ke arah Ferdi.
"Jam kerjaku hampir habis. Jadi tolong, berikan ini kepada Bos! Aku mau bersiap pulang!" kata Senja, dia menoleh ke arah Daren.
Daren keberatan akan pulangnya Senja. Tapi dia tak bisa apa-apa selain pasrah.
"Daren... aku tak akan membiarkanmu menang dariku. Kau harus kalah biar aku hidup tenang tanpa gangguan darimu," gumam Senja saat berada di tempat tidurnya. Senja sangat sadar kalau Daren mengerjainya, tapi mau melawan pun juga kalah kuasa.
...****************...
Sebelum subuh datang. Senja menyiapkan diri bersiap untuk lari-lari pagi. Inilah jalan satu-satunya agar dia tetap bertahan hidup.
__ADS_1
Senja mulai berlari-lari di tengah kota. Kalau di tempat biasa, takutnya Daren ada di sana.
Di tempat yang berbeda, Rehan menelepon Daren. Segera Daren mengerti dan segera memakai training olahraganya.
"Kita akan bertemu lagi Senja. Bisakah kamu tidak menyapaku?" gumam Daren sambil tersenyum devil. Padahal pekerjaannya banyak, tapi demi mengalahkan Senja, Daren rela melakukan ini.
Daren duduk manis sambil menikmati sebuah kopi. Dia melihat dari kamera ponselnya, kalau Senja berlari menuju ke arahnya. Daren bersikap biasa, tapi tak disangka, jantungnya berdegup kencang tanpa ia sadari.
Senja yang ngos-ngosan, dia beristirahat sejenak sambil mengawasi di sekelilingnya. Dan matanya yang awas itu menangkap sosok pria yang tak ia sukai saat ini.
'Dia!' batin Senja. Malas melihat wajahnya Daren, Senja segera memutar arah. Berbalik dan menjauhi tempat Daren.
"Argh, sial! Kenapa dia malah berbalik? Apa dia tahu kalau aku ada di sini juga?" Daren emosi dan membuang secangkir kopi yang tak bersalah itu.
"Rehan!" panggilnya via telepon pada anak buahnya.
"Hari ini awasi kegiatan Senja. Di mana dan ngapain saja, langsung kabarin aku!" perintah Daren. Dia tidak membiarkan Senja lolos sedikitpun dari bayang-bayangnya. Semakin Senja menjauh, maka Daren akan semakin mengejarnya. Sampai Senja benar-benar menyerah dan bertekuk lutut kepadanya. Itulah yang Daren inginkan saat ini.
"Cewek satu itu, benar-benar menguras emosiku!" gumam Daren lagi yang masih belum terima. Padahal jantungnya hampir copot hanya karena berharap Senja akan melewatinya dan menyapanya. Tapi angan tak sesuai harapannya. Jadilah dia kecewa seperti orang yang diberi harapan palsu.
Hari ini jadwal Senja berlatih menembak. Sejauh ini dia masih kurang lihai dalam pelajaran yang 1 ini.
"Om J sudah siap di tempat. Jangan kecewakan ibu! Dan satu lagi, malam ini ibu ada urusan. Jadi ibu tidak pulang." Senja terdiam mendengarnya. Baru kali ini ibunya ijin tidak pulang? Apa jangan-jangan...
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, ibu ada tugas di luar kota. Jadi tidak bisa kalau langsung pulang," kata Shela lagi. Dia berusaha menutupi pribadinya dari Senja.
Senja bukan anak kecil lagi. Ibunya hanya karyawan bagian bawah, kenapa ada tugas di luar kota? Ini tidak masuk akal bagi Senja, kecuali ibunya ditugaskan di lapangan.
"Sama siapa?" tanya Senja to the point.
"Banyak kok. Tidak cuma ibu saja." Shela mencoba bersikap baik pada Senja, agar Senja tidak curiga. Sekolah di hukum, membuat Senja jadi tahu segalanya. Selama ini ibunya telah berbohong padanya.
"Terserah ibu saja, biasanya ibu juga tidak pernah ijin padaku," ucapnya sambil membawa sebuah tas kecil.
Senja sudah siap dan ia hendak berangkat menggunakan sepeda. Mengayuh dan mengayuh demi tercapai tujuannya. Senja tidak memikirkan tentang perasaan, dia hanya memikirkan dendam kepada Daren. Tak di hatinya nama seorang Daren. Yang dia pikirkan adalah Justin, namun penipu.
__ADS_1
"ARGH!"
Door!!!
Sebuah tembakan melayang sempurna. Baru kali ini Senja berhasil menembus sasaran yang ia inginkan.
"Ayo lagi Senja, sebelahnya!" suruh J.
DOOR!!
Berhasil. Tak ada yang meleset.
Di sisi lain, ternyata Daren juga ada di sana. Dia tersenyum melihat aksi Senja, fokus, serius dan penuh emosi. Daren yakin, jika Senja menembaknya sekarang, bisa jadi Daren akan mati sekarang juga.
'Ternyata diam-diam dia masih ingin membunuhku,' batin Daren.
Merasa diperhatikan oleh seseorang, Senja segera menoleh ke arah belakang. Tangannya masih memegang pistol, namun pandangannya fokus pada seorang pria bertopi di belakangnya.
Deg!!
Senja kaget saat mendapati Daren ada di sana. Ya, tempat ini tempat umum. Tak ada salahnya Daren di sini juga, namun apakah sebetulan ini? Dari pagi buta pun Daren ada di tempat yang sama, dan sekarang juga.
'Apa dia membuntutiku?' batin Senja.
Door!!! Karena tidak fokus. Tembakan kali ini meleset jauh dari sasaran.
Bersambung...
Visual Senja.
Visual Daren.
__ADS_1