SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Sakit


__ADS_3

...****************...


"Mau lewat mana Bos?" tanya Rehan sambil mengejar langkah kaki Daren yang semakin lebar.


"Kita bukan tamu, jadi tidak lewat depan!" Daren terlihat cuek, tapi tidak dengan hatinya yang semakin mengkhawatirkan keadaan Senja.


"Kira-kira berapa menit mereka akan sampai?" tanya Daren saat dia hendak mencongkel jendela kamarnya Senja.


"Sekitar 30 menitan. Itupun kalau Shela langsung pulang. Kalau tidak, mungkin bisa beberapa jam," terang Rehan dan Daren seperti paham akan maksudnya.


Agak kesulitan, namun akhirnya Daren berhasil masuk ke dalam kamar Senja. Terlihat Senja yang terbaring di sana.


"Dasar kau ini! Kau melewatkan masa-masa penting. Apa dengan pingsan masalah ini akan selesai?" omel Daren, namun tak sedetikpun Senja bergerak.


Sepertinya Senja masih dalam keadaan belum sadar. Penasaran, akhirnya Daren mendekat. Dia sedikit terkejut mendapati wajah pucat Senja. Seperti tidak ada kehidupan di sana.


"Senja!" Daren panik dan langsung membungkuk di depan Senja. Mengulurkan tangannya dan memegang denyut nadi Senja. Hampir saja Daren kehilangan kendali, tapi dia sedikit lega saat nadi itu masih berdenyut.


"Panas!" ucap Daren saat tangannya memegang kening Senja.


"Tega-teganya Shela membiarkan anaknya yang sedang sakit ini sendirian. Kau akan menerima balasan dari ini," gumam Daren. Dia segera memanggil Rehan untuk membantu mendobrak pintu depan.


"Mau kita bawa kemana Bos?" tanya Rehan saat dia melihat Daren yang tengah menggendong Senja. Dari sini Rehan sedikit curiga. Kalau bermusuhan, harusnya Daren tidak perduli akan kesehatan Senja. Tapi ini Daren seperti khawatir, meskipun tidak terlihat dari raut wajahnya.


"Ke rumah sakit biasanya. Langsung ke paviliun!" perintahnya.


Di ruangan VVIP, Daren punya dokter spesialis untuk mengobati semua anak buahnya saat terluka kena serangan dari musuhnya.


"Obati dia! Lakukan yang terbaik!" perintah Daren, terlihat tidak peduli. Namun penuh menuntut.

__ADS_1


"Baik, Tuan muda!" Dokter itupun terlihat takut akan perintah Daren. Karena yang dia tahu, Daren adalah penerus dari Mr. Loius. Pemilik rumah sakit swasta yang sudah berdiri puluhan tahun ini. Dan kekalahan mister Louis adalah kemenangan bagi Daren. Yang kini benar-benar jadi penguasa nomor 1 di negeri ini.


Daren terus mengamati gerak-gerik sang dokter. Setiap si dokter ingin menyentuh tangan atau badan Senja, Daren langsung melarangnya. Entah kenapa, dia jadi posesif melihat Senja disentuh oleh lawan jenis. Cemburukah?


"Tak bisakah Anda keluar sebentar Tuan?" kata si dokter itu. Dia sedikit risih dan bingung untuk melakukan perawatan medis pada Senja.


"Tidak. Apa kamu sudah tidak sayang pada pekerjaanmu?" ancam Daren. Satu dipecat, 1000 dokter bakalan mengantri.


"Baiklah Tuan. Tapi tolong jangan larang saya, karena memang seperti ini prosedurnya," kata si dokter itu. Dan mau tidak mau, Daren pun pasrah. Duduk sambil mengamati Senja dari kejauhan.


Di tempat yang berbeda. Shela tengah memohon pada Brigadir J untuk cepat menyelesaikan kasus ini. Brigadir J terlihat tidak sanggup. Masalahnya bukti-bukti tidak ada. Dan masalah menjerumus pada Boy sendiri yang kebanyakan minum obat kuat. Hanya saja, orang yang jadi terdakwa saat ini adalah Senja. Meskipun status Senja masih saksi, kemungkinan besar bisa dijadikan terdakwa kalau Senja memang terbukti bersama Boy sampai di hari kematiannya.


"Ini sangat sulit She," kata J frustasi.


"Kenapa? Apa karena Senja?" tanya Shela tapi J diam saja.


"Kau suka sama Senja? Jadi kau takut Senja di penjara?" tuding Shela emosi.


"Kalau bersalah kenapa tidak J? Kenapa kamu mikirin dia, sedangkan dia sendiri tidak mikirin perasaanku?" Shela berteriak di sebuah ruangan yang terlihat privat. Mereka berdua sudah menyewa tempat untuk membicarakan hal ini. Jadi Shela sama sekali belum tahu kalau anaknya itu tengah terbaring di rumah sakit.


"Kamu jangan egois She. Hanya karena kamu punya hubungan dengan Boy, kamu jadi melupakan anakmu. Senja itu anakmu, bukankah selama ini kamu sudah memperalatnya buat balas dendam? Memangnya usahamu berhenti sampai di sini? Kau menyerah sebelum berperang? Benarkah begitu?" J menggelengkan kepalanya. Tak bisa berpikir atas sikap Shela yang terlalu menindas anaknya.


Shela terduduk. Dia terlihat sangat frustasi. Di sini J tidak tega. Dia juga ikut duduk di samping Shela.


"She, aku curiga kematian Boy ada sangkut pautnya dengan Daren," ucap J yang membuat Shela terkejut bukan main.


"Daren, anak mafia itu? Di mana dia?" tanya Shela jadi semangat.


"Hahaha, kamu masih ingat juga She. Kirain lupa sama tujuanmu. Makanya She, jangan sibuk bercinta sana sini. Padahal aku yang selama ini udah bantu kamu, tak pernah kamu mengajakku bercinta," ucap J yang sepertinya tengah menggoda Shela.

__ADS_1


...****************...


"Jadi ada apa dengannya?" tanya Daren setelah si dokter selesai memeriksa Senja.


"Dia kena magh, lambungnya ada sedikit luka. Sepertinya dia sering makan tidak teratur. Dan satu lagi, dia sedang stress. Sepertinya dia sedang ada masalah," ucap dokter itu dan Daren masih tanpa ekspresi.


"Saya permisi dulu Tuan. Mungkin sebentar lagi dia akan siuman," pamit si dokter dan Daren masih dalam keadaan yang sama. Diam tanpa ekspresi apapun.


"Bodoh!! Shela aku tidak akan mengampunimu. Setelah ini targetku adalah kamu. Kamu ibu, tapi tidak punya hati untuk anakmu," gumam Daren emosi.


Saking emosinya, Daren sampai memukul meja yang ada di depannya. Sontak Senja terkejut dan menggerakkan tangannya.


Daren yang menyadari itu langsung mendekat. Dia merasa iba melihat keadaan Senja. Namun bagaimana pun juga, Senja tetaplah musuhnya.


"Jadi cuma segini upayamu mengalahkanku? Ck," ejek Daren dengan santainya.


"Aku heran, gadis mudah pingsan sepertimu bisa angkat besi. Bisa pencak silat. Bisa menembak. Pasti kamu sangat berusaha buat membunuhku, iyakan? Ckckck. Sekarang aku sudah di depanmu, silahkan bunuh aku kalau kau mampu!" tantang Daren yang membuat Senja membuka matanya seketika.


"Aku di mana? Kenapa kau membawaku kemari? Ada apa denganku?" tanya Senja saat mendapati tangannya sudah mengenakan selang.


"Ck, kamu sakit. Apa kamu tidak ngerasa?" Daren bersedekap. Dia sedikit kesal dengan respon Senja yang lamban.


"Aku harus pulang. Ibuku pasti menungguku!" ucap Senja tiba-tiba. Saat dia hendak duduk, dia merasakan perutnya sedikit seperti diremas-remas. Sangat sakit sampai Senja meringis kesakitan.


"Pulang? Tidak, kamu harus sembuh. Karena kalau sidangmu ditunda, bisa jadi kamu akan dijadikan tersangka," kata Daren dan Senja terkejut seketika.


"Tidak. Aku tidak mau!"


Sebenarnya Senja stres gara-gara memikirkan dirinya yang sudah kehilangan mahkota, ditambah lagi soal kematian Boy. Dobel sudah otaknya, sampai berpikirpun rasanya tidak sanggup.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2