SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Mencoba Mendapatkan Kepercayaan


__ADS_3

"Kemarilah Senja!"


Ajakan Daren membuat Senja terkunci di tempat. Hari ini dia menemui Daren secara formal. Mau menolak tidak bisa. Tapi dia tidak ingin berlama-lama dengan Daren.


"Senja!" panggilnya lagi. Kalau Senja tidak segera menjawabnya, Daren pasti akan melakukan hal di luar nalar.


Melihat pergerakan kaki Senja yang melangkah ke arahnya. Daren segera membalikkan badannya berjalan menuju ke ruangan dalam. Daren tersenyum sambil menoleh ke arah Senja. "Aku tidak akan membiarkan tamuku pergi tanpa jamuan apapun!" ucapnya yang membuat Senja semakin tertekan. Daren bukanlah manusia, tapi iblis.


Daren menarik sebuah kursi. Lalu dia berjalan ke arah dapur. "Duduklah, aku akan membuatkan makanan untuk kita," katanya yang terdengar sangat indah. Tapi buat Senja, ucapan itu begitu horor.


Senja duduk sambil meremas jemarinya sendiri. Dia menatap Daren yang menyiapkan beberapa bahan makanan mentah dari kulkas. Senja tidak habis pikir, kenapa Daren mau masak untuk mereka? Di mana anak-anak buahnya yang lain?


Daren tersenyum devil. Hari ini dia sengaja sendirian tanpa pengawal. Hari berduka, jadi dia tidak ingin ditemani oleh siapapun. Tapi tak disangka, anak dari musuh ayahnya justru datang menemuinya. 'Cari matikah?'


Senja tidak tenang duduk di sana sambil melihat Daren yang menyiapkan makanan untuknya. Dia segera berdiri dari tempat duduknya.


"Biar saya saja Tuan," kata Senja sambil mengambil alih celemek yang hendak dipakai oleh Daren. Bukan maksud apa-apa. Senja ingin urusannya dengan Daren hari ini cepat selesai. Jadi lebih baik dia yang memasak. Senja sudah belajar memasak beberapa bulan terakhir ini gara-gara tak diurusi oleh Shela lagi.


"Ada apa?" tanya Daren sambil tersenyum begitu menawan. Ekspresinya terlihat begitu memukau. Pantas saja Shasa tergila-gila padanya.

__ADS_1


"Biar aku yang memasak," ucap Senja. Dia segera menunduk melihat ekspresi Daren yang semakin lama semakin menguliti tubuhnya.


"Aku tuan rumahnya Senja," ucap Daren.


Senja memejamkan matanya. Dia ingin lari dari tempat ini sekarang juga. Suara Daren benar-benar membuat jantungnya terancam. Tapi Senja tidak bisa pergi begitu saja. Satu-satunya cara melawan seorang iblis adalah mendapatkan kepercayaannya. Senja harus mendapatkan kepercayaan Daren untuk mengalahkannya.


"Saya bawahan Anda, Tuan Daren. Biarkan saya yang memasak untuk Anda. Lagi pula, saya ingin Anda mencicipi masakan saya," kata Senja sambil tersenyum dengan manis. Senyuman terpaksa demi mendapatkan kepercayaan.


Namun Daren salah menilai. Dia mendekat ke arah Senja. Memajukan kepalanya tepat di samping kepala Senja. "Jangan pernah memamerkan senyummu pada pria lain," bisik Daren. Dia memajukan wajahnya sambil memberikan tatapan membunuh untuk Senja.


Senja segera menunduk. Bersikap salah tingkah dan mencari pisau di sana demi menutupi ketakutannya.


Daren menyeringai dalam hati. Dia tahu Senja sedang ketakutan berduaan dengannya. Daren bisa membaca itu dari tingkah laku Senja.


Memikirkannya saja sudah membuat jiwa psikopat Daren bersorak kegirangan. Apa yang akan dinikmati oleh seorang psikopat selain ekspresi ketakutan dan keinginan berlari dari sang korban? Kepala Daren berdenyut keras, dia ingin menghabisi Senja dan juga menikmati tubuh Senja dalam satu waktu. Tapi dia bukan pesakit jiwa yang membunuh orang dimana pun dia mau. Dia punya aturan. Tidak boleh membunuh seseorang di rumah atau di kantornya. Tapi urusan ranjang, sepertinya itu pengecualian.


Daren duduk di kursi yang tadi ditinggalkan oleh Senja. Menatap Senja dari belakang, mengawasi apa yang akan dilakukan oleh Senja pada bahan mentah di depannya.


Sementara Senja. Dia benar-benar ketakutan dengan sikap Daren yang makin hari semakin terlihat kekejamannya. Di sini Senja yang ingin membunuh, bukan sebaliknya. Tapi kenapa, setiap dia meyakinkan dirinya. Hatinya terus mengingkarinya?

__ADS_1


Karena terus asik dengan pikirannya, jari Senja tidak sengaja terkena pisau. Dia yang barusan sambil mengiris pisau, sontak terkejut. Cairan merah kental itu menetes dari jarinya.


Daren terkejut dan segera berlari ke samping Senja. Refleks dia meraih jari Senja yang beredar*h tadi ke mulutnya. Senja tersentak dengan sikap Daren. Rasa lidah Daren di jemarinya membuat gelenyar aneh pada tubuhnya. Senja menggeleng. Daren bukanlah Justin yang perduli padanya.


"Tuan Daren!" panggil Senja tak enak hati.


Daren segera melepaskan bibirnya dari jari Senja. Matanya menatap tajam ke arah Senja. Topeng kekejamannya perlahan-lahan sirna sejak pertama kali dia bertemu dengan Senja. "Aku sudah pernah memberi tahu padamu. Aku memang suka warna merah, bukan berarti aku suka menghias tempat tinggalku dengan darah," ucap Daren. Suaranya terdengar seperti diseret.


Menakut-nakuti kah?


Daren melihat Senja naik turun. Lalu dia melihat jari Senja yang kembali mengeluarkan darah. "Mungkin aku bisa membuat pengecualian untukmu," ucap Daren. Iris matanya seperti menginginkan sesuatu.


Senja langsung paham. Tatapan itu seperti alarm yang mengingatkan Senja harus kabur dari sana. "Em, maafka. saya Tuan Daren. Mungkin lain waktu saya akan masak untuk Anda, saya harus segera pulang!"


Senja melepaskan celemek itu dengan tergesa. "Kenapa buru-buru? Apa kau tidak ingin mendes*h bersamaku?" tanya Daren namun Senja sudah tidak perduli. Dia berlari dan menekan tombol yang ia inginkan. Berkali-kali sempat meleset karena takut akan dikejar oleh Daren.


"Lain kali silahkan datang lagi, sampai jumpa!" ucap Daren saat Senja berhasil masuk ke dalam ruangan besi itu.


Senja merinding. Di saat dia sadar, rasanya begitu menakutkan untuknya. Bagaimana mungkin dia bisa membunuh pria yang membuatnya begitu ketakutan? Apalagi mendapatkan kepercayaan dari Daren? Sepertinya hanya satu, menemani Daren tidur di ranjang. Tapi itu bukan pilihan yang tepat. Karena akal sehat seorang wanita sangat lemah untuk urusan yang satu itu.

__ADS_1


'Dasar tidak berguna!' maki Senja pada dirinya sendiri. Di saat seperti ini, Senja butuh saran dari ibunya. Tapi maukah Shela mendengarnya? Bagaimana jika Shela marah kalau dia tahu Senja sudah tidak perawan lagi?


Bersambung...


__ADS_2