SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Pulang


__ADS_3

...****************...


"Masuklah Senja!" suruh Daren saat dia sudah membukakan pintu mobil untuk Senja.


Senja menatap Daren tidak percaya. Dengan berat hati akhirnya Senja masuk ke dalam mobil juga.


BRAK!!


Mobil tertutup dengan rapat. Senja menatap Daren. Namun Daren sama sekali tidak mau menatapnya.


"Apa kamu benar-benar melakukan ini Daren?" tanya Senja saat Daren hendak menyalakan mesin mobilnya.


Daren mendengar, tapi dia diam saja. Tak ada sepatah kata pun penjelasan dari Daren.


"Daren! Apa karena aku gendut, jadi kau membuangku begitu saja? Di mana tanggung jawabmu sebagai laki-laki Daren?" Senja emosi. Setelah berkali-kali Daren menidurinya, tapi tak ada tanggung jawab sedikitpun dari Daren untuknya.


Daren masih diam. Dia malah melajukan mobilnya. Senja terus menangisi nasibnya. Dia sudah tidak perawan, akankah ada pria yang mau dengannya? Bukan masalah itu saja, Senja terlanjur mencintai Daren. Tapi Daren? Dia malah mencampakkannya.


Senja memiringkan tubuhnya membelakangi Daren. Harusnya ini momen bahagia karena Daren telah melepaskan Senja dari jeratan hutang janji. Tapi kenapa Senja justru tersiksa?


Mobil terus melaju. Hingga mobil Daren berhenti tepat di depan rumah Senja. Senja kembali menatap Daren. Minta penjelasan akan sikap Daren. Benarkah Daren marah hanya gara-gara Senja salah bicara?


"Daren!" panggil Senja lagi.


"Keluarlah Senja!" Daren masih tak menatap Senja.


"Daren ku mohon! Kenapa kau tidak membunuhku saja dari pada kau buat aku begini?" Senja benar-benar hilang kendali. Dia lupa bahwa Daren adalah musuhnya. Jadi mungkin ini adalah salah satu caranya Daren balas dendam untuknya. Tersiksa lalu mati.


"Aku bilang turunlah Senja. Dan ya, ini dompetmu!" Daren melemparkan dompet itu tepat di pangkuan Senja. Masih sama, Daren tak menatap Senja. 'Ada apa? Mungkinkah Daren juga sakit saat keduanya berpisah?'


"Aku tak butuh ini Daren!" Senja kembali melemparkan dompet itu ke sembarang tempat. Daren mengambil dompet itu yang jatuh di kaki Senja. Daren menatap wajah Senja yang sedikit sembab.


"Senja," panggil Daren tiba-tiba.

__ADS_1


Mana mungkin Daren sanggup kehilangan Senja. Entah perasaan itu datang dari kapan? Yang jelas Daren sangat menginginkan Senja. Daren mencintainya. Ya, Daren yakin ini adalah sebuah cinta. Karena sebelumnya Daren tidak pernah bisa berduaan dan tinggal bareng dengan wanita. Tapi dengan Senja? Semua penuh pengecualian.


Senja menatap Daren. Matanya penuh penyesalan dan kebencian pada Daren. Daren telah melukai hatinya secara bertubi-tubi.


Cup!


Daren mencium bibir Senja dengan pelan. Itu adalah sebuah ungkapan cinta. Kali ini tidak menggebu-gebu seperti sebelumnya. Senja berharap hubungannya dengan Daren tak ada kata berakhir. Senja rela jadi budak se*s atau sebagai teman ranjangnya Daren. Yang jelas isi hatinya menginginkan itu.


"Senja, terima ini. Kau harus bersama ibumu!" Daren kembali memberikan dompet itu.


Senja hendak melemparnya lagi. Namun ditahan oleh Daren. "Kau harus sama ibumu Senja. Karena aku akan lama."


"Kau jahat Daren. Jahat! Aku benci padamu!" Senja keluar dari mobil Daren dan berlari ke dalam rumahnya.


'Maafkan aku Senja. Karena aku akan ke luar negeri. Dan itu akan lama. Kau pasti aman bersama ibumu. Karena aku yakin, ibumu akan melindungimu.' Daren menatap rumah Senja. Baru kali ini hatinya remuk hancur lebur.


Hubungan tanpa status apapun, dan terhalang oleh dendam begitu menyakitkan bagi mereka. Daren mencintainya, begitu pula Senja. Tapi keduanya bungkam tak ada yang mau mengungkapkan. Kapan mereka akan bertemu setelah perpisahan panjang?


...****************...


"Senja, kenapa dengan dirimu?" Shela baru menyadari perubahan tubuh Senja.


"Senja, jawab ibu! Kau diapakan saja oleh pria yang bernama Daren itu!" Shela membolak-balikkan tubuh anaknya.


"Mana pria itu Senja? Kenapa dia memulangkanmu dalam kondisi seperti ini?" Shela benar-benar dibuat emosi. Anaknya pulang dalam keadaan gemuk. Badannya 2 kali lebih besar dari sebelumnya. Sangat-sangat berbeda dari sebelumnya.


"Senja, jawab ibu! Di mana pria itu!" Shela keluar dari dalam rumah. Di halaman rumahnya tak ada siapapun lagi.


"Ya Tuhan! Kau diapakan saja sama Daren, Senja? Apa dia sudah merusak kehormatanmu? Jawab ibu Senja? Jawab!! Jangan diam saja!" Shela pusing tujuh keliling. Dia memegangi kepalanya yang mendadak pusing.


...'Apa Jhon masih mau dengan Senja? Fisik Senja sudah tak seseksi dulu. Bagaimana jika Jhon tidak mau? Bisa-bisa dia akan membunuhku. Lebih baik Senja di rumah saja. Aku akan merahasiakan keberadaannya,' batin Shela. Dia masih egois dengan keselamatannya sendiri....


"Senja! Jawab ibu Senja! Apa Daren telah menodaimu?" tanya Shela.

__ADS_1


Dan tiba-tiba Senja mengangguk. Air matanya terus menetes. Dia dihantam dengan kenyataan yang lebih pahit dari sebelumnya.


"Astaga! Kenapa kamu tidak membunuhnya saja? Ibu sudah bilang, dia anak pembunuh ayahmu. Anak itu seorang mafia. Harusnya kau cekik saja lehernya, biar dia tidak kabur!" ucap Shela dengan suara yang memburu. Shela tidak tahu saja, justru Daren adalah seorang mafia. Makanya Senja kesulitan dalam hal bunuh membunuh.


"Kenapa kau bisa terperangkap Senja?" Shela terus menyalahkan Senja.


"Ini bukan kemauanku Ibu. Kalau bukan karena ibu yang ingin balas dendam, aku tidak mungkin mengenalnya," ucap Senja. Tangannya masih menggenggam sebuah dompet wanita dari Daren tadi. Entah apa isinya, yang jelas itu dari Daren. Jadi Senja tetap membawanya.


"Harusnya ibu bersyukur, aku pulang dalam keadaan selamat. Bukan mayat seperti apa yang ibu inginkan!" ucap Senja lagi yang membuat Shela tertampar.


'Apakah anak itu memberi tahu Senja? Oh Tuhan, ternyata dia benar-benar licik.' Shela membekap mulutnya.


"Aku pulang, harusnya ibu senang. Setidaknya pembunuh itu masih membiarkanku hidup. Jadi aku masih ada kesempatan buat membalasnya," ucap Senja sambil mengepalkan tangannya.


'Daren, kenapa kau sangat kejam padaku? Semudah itukah kau membuang diriku setelah apa yang kau lakukan selama ini padaku?' Air mata Senja kembali menetes.


"Aku mau istirahat ibu," pamit Senja sambil meninggalkan Shela.


Senja melihat dirinya di cermin. Meskipun berat badannya naik. Setidaknya Senja masih terlihat cantik.


'Kenapa Daren melepaskanku begitu saja? Apa alasannya? Aku akan mencari tahunya. Tapi bagaimana aku bisa menghubunginya sementara ponselku?'


Senja teringat dengan dompet warna hitam dari Daren. Dia membukanya dan mendapati ponselnya dan beberapa kartu ATM.


"Daren, kenapa kau memberikan ini untukku? Jadi Daren tidak benar-benar membuangku? Ya Tuhan, apa sebenarnya yang dia inginkan?"


Perasaan Senja sedang diporak-porandakan oleh Daren. Begitu juga sebaliknya.


"Aku tidak mungkin tega terus mengurungmu di rumah. Sementara aku bertugas di sini. Itu akan membuatku tidak tenang. Gimana dengan makanmu nanti tanpa aku? Dan pasti kau akan terus terbayang dengan aktifitas kita setiap harinya. Lagian kenapa sampai sekarang kamu belum hamil juga? Aku mengharapkan itu, dan semoga dipertemuan kita selanjutnya, aku bisa menghamilimu."


Daren terbang ke Amerika dan meninggalkan Indonesia. Daren meminta bantuan untuk menemukan jasad Ferdi. Akankah semua berjalan sesuai rencana? Dan bagaimana dengan Senja selanjutnya? Apakah Jhon tetap mengejarnya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2