
...****************...
"Kau adalah orang suruhan paman Jhon! Katakan padaku! Apa kau orang suruhan paman Jhon!" Daren mendekat ke arah orang itu.
"Jauhkan pistolmu Tuan. Aku kesini tidak untuk menyerahkan nyawa," jawab orang suruhan Jhon sedikit takut. Jika nyawanya hilang, bagaimana dengan keluarganya?
"Berani mengikutiku berarti kau menyerahkan nyawamu. Lelucon apa yang kau katakan barusan, ck!" Daren tersenyum mengerikan.
"Ampuni saya Tuan Daren. Maaf kalau saya lancang. Saya hanya ingin tahu keberadaan Nona Senja saja," jawabnya dengan jujur.
'Akhirnya dia mengaku juga. Ternyata paman Jhon masih mencurigaiku soal Senja. Semoga Shela masih menyembunyikan keberadaan Senja dari paman Jhon. Kalau tidak? Semuanya tidak akan berjalan sesuai rencanaku. Aku yakin paman masih mau dengan Senja walaupun Senja gendut. Gawat, aku harus bergerak cepat setelah ini,' batin Daren mulai tak tenang.
"Sepertinya kau salah mencurigaiku. Senja tidak ada di sini. Kenapa kau mencari Senja denganku?" tanya Daren lagi. Tapi jika Daren menyebutkan nama Shela, itu tandanya Daren yang mencari mati.
"Tapi dia juga tidak ada dengan Shela, Tuan." Anak buah Jhon bersikeras.
"Mungkin dia ada di tempat lain. Jika Senja tak ada dengan Shela, kau mungkin bisa mencarinya di suatu tempat. Kenapa kau membuang waktumu untuk membuntutiku?" Daren mencoba memojokkannya.
"Ini perintah, dan saya tidak bisa membantah," jawabnya.
"Dan jika kau pulang dengan tangan kosong, sepertinya paman akan memenggal kepalamu," ucap Daren menakut-nakuti.
"Tidak. Jangan Tuan. Saya masih punya keluarga. Istri saya sedang mengandung, saya tidak boleh mati. Karena istri saya butuh biaya persalinan," jawabnya sambil memohon ke arah Daren.
'Kesempatan bagus. Aku akan memanfaatkannya. Ngomong-ngomong, apa aku akan seperti ini jika Senja hamil?' batin Alaric membayangkan Senja yang hamil dan dia bekerja keras untuk biaya persalinan. Tapi dia orang kaya, hartanya tidak akan habis 7 turunan jika tidak dipakai berfoya-foya.
"Bagaimana jika semua kebutuhanmu dan istrimu aku yang penuhi?" ucap Daren menawarkan.
Anak buah Jhon mendongak menatap Daren. Sepertinya dia tertarik dengan tawaran manis itu. Siapa yang menolak jika ditawari barang yang bagus?
"Syaratnya Tuan?" tanyanya dengan penasaran.
"Mudah saja. Tapi bayarannya adalah istri dan anakmu jika kau berkhianat," ucap Daren menakut-nakuti.
__ADS_1
"Semua tergantung denganmu, pulang selamat dengan syarat yang ku berikan. Atau mati tanpa bisa berkumpul lagi dengan keluargamu," ucap Daren. Sebenarnya dia tidak tega untuk membunuh. Ini sekedar ancaman buat mendapatkan mangsa yang bagus.
"Baiklah, saya mengikuti syarat yang pertama. Tapi ku mohon Tuan, penuhi perkataan tuan tadi," ucapnya penuh harap.
Kasihan sekali anak buah Jhon. Mereka bahkan tidak digaji dengan layak. Jhon memang tak berharta. Karena sebagian hartanya dari Daren. Bagaimana jika aliran dana dari Daren dihentikan? Apakah anak buahnya masih mau menolongnya?
"Aku selalu menepati janjiku..." Daren menghentikan ucapannya.
"Rehan, bawakan uang dolar untukku," perintahnya dan Rehan menyodorkan dompet besar milik Daren.
"Aku memberimu 10 ribu dolar dulu. Dan selama kau bekerja dengan baik, uang akan terus mengalir ke rekening istrimu," ucap Daren. Dia menyerahkan uang lembaran mata uang Amerika.
Anak buah Jhon berbinar. 'Istriku pasti akan senang. Dan ini lebih cukup untuk biaya persalinannya. Bos Daren benar-benar tidak pelit. Mungkin aku harus berpihak padanya sekarang,' batin anak buah Jhon. Sebut saja Marten.
"Jadi apa tugasku Tuan?" tanyanya dan Daren membisikkan sesuatu.
"Baik Tuan. Percaya pada saya, saya akan bekerja dengan baik untuk Anda," ucapnya sungguh-sungguh.
"Siap Tuan. Saya mengerti dengan maksud Anda," ucapnya dengan yakin.
"Bagus! Selamat bergabung dengan tim macan tutul Marten!" Daren menepuk pundaknya.
'Ternyata Tuan Daren lebih berwibawa dan baik hati. Coba dari dulu aku mengenalnya, pasti keuanganku akan lebih mudah seperti anak buahnya yang lain. Aku terlalu bodoh dan percaya dengan janji-janji manisnya Jhon, bahkan sampai sekarang aku belum menerima uang darinya sepeserpun,' batin Marten sedikit menyesal.
...****************...
Marten terbang ke Indonesia. Setelah sampai, sesuai perintah Daren. Dia bertamu di rumah Shela. Mendengar pintunya diketuk, Senja tidak perduli dan tetap mengurung dirinya di kamar.
Marten percaya Senja tidak ada di rumah itu. Sebenarnya yang terjadi, Daren hanya mengetes kepintaran dan kejujuran Marten.
"Saya sudah mengetuk pintunya Shela, tapi tak ada sahutan dari dalam. Sepertinya di rumah itu memang tidak ada orang," ucap Marten.
Di tempat Daren. "Anak ini lulus uji. Kita lihat selanjutnya, apa laporannya akurat. Jika dia berpihak padaku, maka semuanya akan berjalan lancar," ucap Daren saat melihat pesan dari Marten.
__ADS_1
Ke dua, Marten menemui Jhon.
"Kenapa kau pulang tanpa membawa Senja, Marten? Aku sudah mengatakan padamu, jangan pulang jika kau tak berhasil membawa Senja." Jhon mudah marah sekarang. Mungkin pengaruh usia, atau memang tensi darahnya tinggi. Jadi dia selalu marah-marah.
"Maafkan saya Tuan. Saya hanya menyampaikan berita saja. Lagian saya sendirian di sana. Itu akan menyulitkan saya buat membawa Senja, sementara di sana anak buah Tuan Daren sangat banyak," ucap Marten memberitahu.
Wajar kalau Jhon cuma menyuruhnya saja. Biaya perjalanan dan tiket pesawat itu mahal. Jhon tak mungkin mampu membayarnya.
"Jadi Daren yang menyekapnya?" tanya Jhon lagi.
"Sepertinya begitu. Karena saya juga melihat Tuan Daren dan anak buahnya ada di sana juga," ucapnya lagi.
"Kurang ajar! Anak itu benar-benar keterlaluan. Harusnya dia melepaskan Senja dan menyerahkan semuanya padaku. Tapi dia selalu berkuasa dan ingin menang." Jhon menggebrak meja kayu di depannya. Dia selalu kalah cepat dengan Daren.
"Awas saja. Aku tak akan membiarkannya hidup!" ucap Jhon lagi.
Marten hanya menjalankan perintah. Sekarang ini tugasnya menjadi mata-mata untuk Daren. Apapun yang dilakukan Jhon, semuanya akan Marten laporkan untuk Daren.
Bahkan ditipu semudah itu saja Jhon tidak tahu. Padahal Senja bersama Shela, tapi pikiran Jhon Senja saat ini bersama Daren. Ini baru pelajaran pertama untuk Jhon. Akses keuangannya sudah dipotong beberapa persen oleh Daren. Dipastikan dia tidak akan bisa menyusul Daren ke Amerika. Jadi Jhon terjebak masalah sekarang.
"Carikan bantuan! Ancam Daren atau bagaimanapun caranya, kalian semua harus bisa membawa Senja kembali ke Indonesia!" teriak Jhon. Tapi Marten tak menanggapinya.
Karena tanpa membantu Jhon, uangnya sudah mengalir seperti air. Sangat mudah dan Marten senang menjadi anak buahnya Daren.
...****************...
Tengah malam, Shela kembali dikejutkan dengan buah apel yang masih utuh. "Senja, kenapa dia tidak memakan apelnya? Bagaimana ini, apelnya besok pasti sudah membusuk. Aku akan segera membuangnya sebelum Senja melihatnya." Dengan cepat Shela mengambil apel dari dalam kulkas satu persatu. Lalu dia membuangnya di tong sampah.
"Kalau begini terus, rencanaku akan gagal. Tapi tak apa, aku sudah punya ramuan," gumam Shela sambil menatap serbuk berwarna kuning yang baru saja ia beli.
"Besok pasti akan berhasil," gumamnya sambil tersenyum licik.
Bersambung...
__ADS_1