SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Boy Nyeleneh


__ADS_3

...****************...


"Ah si*l. Sesibuk apa sih orang yang bernama Daren itu? Tolak tinggal tolak, terima tinggal terima. Cukup begitu saja harus menunggu sampai besok. Tidak konsisten sama sekali." Senja ngedumel di dalam kamarnya. Kalau bukan karena rekomendasi Brigadir J, Senja juga tidak akan sampai di gedung itu.


"Bagaimana? Sudah ketemu dengan musuh bebuyutan ayahmu?" tanya Shela sambil bersedekap di ambang pintu.


Senja menatapnya sedikit curiga. Makin hari Shela terlihat makin seksi. Bahkan juga melakukan perawatan dengan rutin, tidak seperti Senja yang selalu ala kadarnya. Mengingat Shela yang menjanda dan belum punya suami lagi, harusnya Shela tidak perlu berdandan sedetail itu. Lagian dandan seperti apapun yang melihat juga orang luar.


"Ibu!" Senja beranjak dari tempat tidurnya sambil mendekat.


"Jangan panggil aku ibu seperti itu kalau kamu belum bertemu dengan anak ingusan itu," cegah Shela yang membuat Senja berhenti seketika.


Padahal jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Senja ingin bercerita tentang kejadian di kantor tadi. Di mana Daren telah membuatnya menunggu seharian tanpa kepastian.


"Maaf," ucap Senja sambil menunduk. Tertekan, rasa itu masih sama sampai 18 tahun ini.


Kapan ibu akan menyayangiku?


...****************...


"Kenapa paman menerima hal seperti itu? Jelas paman Jhon tahu, kalau aku yang akan balas dendam sama dia. Bahkan paman tidak berkata secuil masalah itu denganku. Apa paman ingin mengkhianatiku?" tuntut Daren pada pamannya itu.


Dia tidak terima paman Jhon bertindak seperti itu. Karena sampai kapanpun Daren ingin menghabisi Senja dengan tangannya sendiri.


"Paman butuh uang Daren," kilah Jhon. Padahal itu sangat mustahil. Selama ini Daren selalu memberinya uang tak terkira jumlahnya.


Tapi Daren hanya diam saja. Mungkinkah Daren percaya? Mengingat pamannya ini suka bermain wanita dan judi. Jadi bisa saja uang yang ia berikan lenyap seketika sampai tak tersisa.


"Baiklah. Untung tidak sampai membuatnya mati," kata Daren dan pergi meninggalkan Jhon begitu saja.


...****************...


Ke-esokan harinya. Senja terlihat malas-malasan. Dia sudah tak berminat datang di kantor D group itu. "Paling ujungnya ditolak," gumam Senja yang kini meraih tas ransel kecil miliknya.


Dia menatap dirinya di cermin. Terlihat rapi, tapi dia malas berdandan. Senyuman kecil itu tak terlihat lagi. Dia sudah bosan akting di depan resepsionis wanita yang asal bunyi itu.

__ADS_1


"Senja!" Ibunya memergokinya. "Ingat jangan sampai gagal atau aku akan mengirimmu pada seseorang," ancam Shela yang membuat Senja sedikit penasaran selama ini.


Seseorang siapa yang dimaksud?


"Sebenarnya menolak permintaan ibu bisa gak sih Om?" curhat Senja pada Boy, karena pagi ini Boy menjemputnya. Entah apa maksud dan tujuannya, yang jelas Senja hanya menurut saja dengan permintaan ibunya meskipun itu rada nyeleneh.


"Bisa sih kalau kamu mau," jawab Boy sambil setengah berfikir.


"Kalau gitu kamu mau kemana? Mau ke tempat om? Kebetulan Om tinggal sendirian, tapi berantakan. Maklum gak ada wanita di rumah Om," jawab Boy yang membuat Senja jadi gimana. Tapi Senja hanya bisa berpikir yang positif. Mungkin Boy sedang bercanda.


"Om belum menikah?" tanya Senja tiba-tiba. Sejauh ini dia hanya berlatih tanpa mengenal dekat seperti sekarang ini.


"Om lagi menunggu seseorang," jawab Boy sambil melirik Senja naik turun.


Tiba-tiba Senja merasa risih dan segera berdehem.


"Hahaha, om cuma bergurau saja. Lagian siapa yang mau sama Om? Om sering ke luar kota dari pada di kota sendiri," jawab Boy yang membuat Senja kembali ke wajah semula.


"Om jadi detektif itu sibuk banget ya? Sampai menikah pun tak sempat," celetuk Senja dengan polos.


"Eh ini kemana Om?" tanya Senja yang menyadari kalau Boy membelokkan arah laju mobilnya.


"Om mau mengajak Senja jalan-jalan. Kemana lagi?" kata Boy dengan santai.


"Tapi Om, aku berubah pikiran," sahut Senja tiba-tiba. Dia teringat akan perkataan Shela yang mewajibkan Senja harus berhasil masuk ke dalam perusahaan besar milik Daren.


"Daren? Anak mafia itu?" tanya Boy yang seolah sudah tahu jawabannya.


Senja mengangguk mengiyakan.


"Kamu yakin bisa membalaskan semua dendam ibumu? Padahal seusiamu ini harusnya kamu hidup bebas Senja. Bersenang-senang bersama orang yang kamu sayangi," kata Boy dengan nada sedikit kecewa.


Sepertinya usaha Boy ingin berduaan dengan Senja tak bisa seluas dia berduaan dengan Shela. Senja terlalu polos dan penakut.


"Iya Om," jawab Senja dengan mantap.

__ADS_1


"Senja," panggil Boy yang dengan sengajanya tangannya menggenggam jemari tangan Senja.


Senja segera menunduk dan menatap tangannya itu. Ada rasa takut sampai jantungnya berdegup dengan kencang. Segera Senja meraih tangannya menjauh.


"Om, aku turun di sini saja ya?" pamit Senja tiba-tiba tapi dilarang oleh Boy.


"Jangan! Berbahaya! Baiklah aku antar. Detektif macam apa yang menurunkan penumpangnya di tengah jalan? Kamu ini!" ucap Boy sambil mengumbarkan senyum yang menakutkan untuk Senja.


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor D group, akhirnya kedua insan terpaut usia 22 tahun itu tak berucap sepatah kata lagi. Senja yang masih takut akan tingkah aneh Boy, sementara Boy memendam kekecewaan yang dalam.


"Makasih Om," ucap Senja setelah berhasil keluar dari mobil Boy. Senja merasa terbebas dari penjara kala itu. Entah kenapa, Boy mengeluarkan aura yang berbeda hari ini bagi Senja. Sampai jantung Senja hampir copot dibuatnya.


Setelah memasuki ruangan resepsionis. Senja menatap jam kerja yang cukup dibilang sangat terlambat. Tapi Senja tidak perduli. Karena dia sangat yakin, dirinya tidak diterima.


"Senja Sudrajat!" panggil resepsionis itu tanpa mengijinkan Senja mengucapkan selamat pagi.


"Ya saya." Senja maju dan mendekat di meja sang resepsionis.


"Saya heran, kenapa tuan direktur bisa menerima karyawan magang sepertimu? Mana datang terlambat lagi," ucap si resepsionis tanpa mengucapkan kata selamat.


'Beginikah cara menerima seorang karyawan?' batin Senja bertanya-tanya. 'Kurang sopan,' batin Senja menilai lagi.


"Jadi, saya diterima?" tanya Senja kemudian. Dia baru sadar dengan apa yang ia batin tadi.


"Iya apalagi? Ingat, kamu hanya karyawan magang. Tugasmu di bawah kendali karyawan yang lain. Satu lagi, dilarang menggoda tuan direktur, atau kau akan berhadapan langsung dengan Shasa," ancam si resepsionis yang kemudian kembali aktif bekerja.


Senja sampai bengong. Dia heran dengan tata cara dan sikap pegawai kantor D group yang dirasa tak punya etika sama sekali.


'Apa yang namanya Daren juga begitu? Tapi pantas sih, dia kan anak mafia. Mana mungkin punya sopan santun,' batin Senja yang tanpa sengaja menoleh dan mendapati Daren lewat di sampingnya.


"Kak Justin, apa dia bekerja di sini?" tanya Senja pada udara. Ingin mengejar, namun tidak bisa. Justin keluar dari kantor itu, sementara dia... ini hari pertama dia bekerja.


"Semangat!" katanya menyamangati dirinya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2