
...****************...
Senja kembali makan siang bersama Alina. Keduanya terlihat akrab layaknya sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Senja sudah menunggu kabar baik dari Alina. Soalnya yang Senja tahu, semalam Alina bertemu dengan pria yang akan dijodohkan untuknya.
"Gimana dengan pertemuan kalian semalam?" tanya Senja. Dia merasa bahagia saat melihat raut wajah Alina yang bersemu merah sedari tadi.
"Sangat menyenangkan," jawab Alina dengan sumringah.
Senja langsung mengumbar senyum. "Sepertinya kamu menyukainya," kata Senja setengah menggoda.
Alina tersenyum malu sambil menunduk. "Bagaimana dengannya, apa dia juga menyetujui perjodohan kalian?" tanya Senja penasaran. Seumur hidup, baru kali ini dia mendengar kata perjodohan secara langsung.
"Aku tidak tahu. Tapi pamannya bilang, dia akan menerima perjodohan ini," ucap Alina.
"Selama masih cocok. Kenapa tidak?" ucap Senja. Dia menikmati es cream yang ia pesan beberapa menit yang lalu.
"Aku mengajaknya makan siang," bisik Alina.
"Uhuk!" Senja terbatuk mendengar pernyataan itu.
"Kamu serius? Apa dia mau?" tanya Senja lagi. Dia tidak mau mengganggu orang yang tengah pendekatan. Jadi sebelum calon suami Alina datang, lebih baik Senja buru-buru pergi.
"Dia menjawab iya," kata Alina senang.
"Syukurlah, kalau begitu aku akan pergi!" Senja bersiap-siap untuk pergi.
"Jangan! Aku ingin memperkenalkanmu dengannya. Tahu gak Senja, dia adalah pria tertampan yang pernah aku temui," cerita Alina.
"Siapa namanya?" Senja penasaran.
Door!
Door!!
Suara tembakan semakin dekat dengan telinga mereka. Senja menoleh ke belakang, beberapa komplotan pria memasuki restoran tempatnya makan.
"Alina, ayo sembunyi!" ajak Senja dengan takut.
Alina terlihat gugup.
"Alina!" panggil Senja lagi.
"Senja." Alina mengikuti jejak Senja yang mengajaknya bersembunyi di bawah meja.
__ADS_1
"Sembunyi di belakangku Alina," perintah Senja. Senja menatap di sekelilingnya dan melihat beberapa pria mengeluarkan pistol dan menyuruh pengunjung yang lain pergi. Tapi tidak Senja dan Alina. Mereka memutar-mutar mencari keberadaan mereka.
Oh God
Senja menyadari, bahwa target mereka adalah Alina. Senja tidak ada senjata apapun. Dia bingung harus melawan semua pria itu dengan apa?
"Senja, ambil ini!" Tiba-tiba Alina menyodorkan sebuah pistol ke arahnya.
"Dari mana kamu dapat ini Alin?" tanya Senja bingung.
"Semalam papaku memberikan ini padaku. Katanya buat jaga-jaga. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya," ucap Alina sedih. Namun Senja segera menerima benda itu dengan pasti.
Senja menyembunyikan pistol itu dengan gemetaran. Selama ini dia hanya berlatih, belum pernah praktek langsung seperti ini.
"Keluar kalian!" suara orang berkulit hitam meneriakinya.
Rentetan peluru terdengar nyaring di telinga 2 gadis ini. Senja akhirnya mengajak keluar Alina secara bersamaan.
"Tetap berada di belakangku Alin," pinta Senja.
Alina menurut. Dengan tubuh yang gemetar dia berlindung di belakang tubuh Senja. Walau kemungkinan besar kesempatan lolos bagi mereka hanya satu persen, namun Senja tetap nekad berhadapan dengan orang-orang asal Afrika itu.
"Apa kau putrinya mister Louis?" Seorang pria itu mendekat ke arah Alina.
"Diam di tempatmu atau aku akan menembakmu!" Senja mengeluarkan pistolnya, tepat mengarah ke orang yang hendak berjalan ke arah Alina. Namun usaha Senja dihadiahi tawa yang keras dari komplotan orang-orang yang berkulit hitam di depannya.
"Aku tidak tahu Senja. Yang ku tahu, ayahku bekerjasama dengan mafia," ucap Alina dan membuat Senja semakin merinding.
Beberapa orang mulai melangkah ke depan. Senja mendorong Alina untuk menjauh. "Lari Alin! Cepat!"
Seorang pria mengejar Alina. Senja segera menarik pelatuknya mengarah pria plontos bertubuh kekar itu. Dia mengarahkan pistolnya tepat di kepala pria tadi.
Door!!
Sebuah peluru menembus tepat pada kepala seseorang.
Oh tidak!!
Alina terjatuh dengan kepala yang penuh darah. Senja berlari dan memegang tubuh Alina yang beberapa hari ini sudah ia anggap sebagai sahabatnya.
"ALINA!! TIDAK!! KAMU HARUS KUAT!"
Senja mengira pelurunya telah mengenai sahabatnya sendiri. Dia ketakutan, menatap pistol itu dengan gemetaran. Senja masih duduk lemas di samping tubuh Alina yang ternyata sudah terbujur kaku. Senja mendongak, melihat orang yang berkulit hitam itu yang kini sudah berlarian keluar. Beberapa di antaranya juga terluka bahkan meninggal.
__ADS_1
"Target sudah berhasil dilumpuhkan Bos!" Salah satu pria berkulit hitam tadi tersenyum puas. Dia tidak perduli melihat teman yang berkepala plontos tadi meninggal di tempat. Senja telah berhasil membunuh sasaran yang diinginkan. Tapi pengamatannya masih kurang jauh.
Senja menarik kepala Alina kepangkuannya. "Ku mohon bangunlah Alin. Hiks!"
Telapak tangan Senja menyentuh luka darah kepala Alina. Sontak darah itu mengalir menodai bajunya.
"Oh, Tuhan. Aku telah membunuhnya!" ucap Senja sambil menatap telapak tangannya.
"Di mana calon Alina? Aku siap dipenjara," gumam Senja sambil menangis. Dia rela dipenjara seumur hidup atau menggantikan nyawa Alina sekarang juga.
Senja meletakkan kepala Alina dengan pelan. Dia mencoba berdiri dan mencari bala bantuan. Terutama polisi. Namun suara seseorang mengejutkannya.
"Jangan berani menelepon polisi atau ambulans! Jangan menelepon siapapun!" ancam pria itu yang tak lain adalah Jhon.
"Kau gila? Dia..."
"Kau telah membunuhnya Senja Sudrajat!" ucap pria itu dan membuat Senja terdiam. Bagaimana dia tahu namaku?
"Da-dari mana Anda tahu namaku?" tanya Senja dengan raut wajah pias. Matilah aku!
"Kau tak perlu tahu soal itu. Tetap diam di sini sampai calon suaminya datang," ucap Jhon sambil menunggu kedatangan Daren.
...****************...
Beberapa jam yang lalu. Daren menerima sebuah pesan dari Alina. Dia mengajaknya untuk berkencan dan makan siang. Namun yang sebenarnya terjadi adalah Jhon yang menerima pesan itu. Jhon telah menipukan nomor Daren pada Alina. Tentu harapan-harapan yang diberikan pada Alina sangat besar. Sampai Alina berani mengajaknya makan siang dan ingin memperkenalkan Daren dengan sahabatnya.
Entah apa yang direncakan oleh Jhon. Tapi kini dia menghubungi Daren dan mengabari kalau seseorang telah membunuh calon istrinya.
Sebenarnya Daren malas mengurusi hal beginian. Tapi di lain sisi Daren senang. Akhirnya dia batal menikah dengan Alina.
Daren memperhentikan mobilnya di depan restoran tepat di mana Senja berada. Ia mengerahkan anak buahnya untuk mencari perhatian para warga sekitar agar tidak mencurigainya. Dia adalah direktur kantor hukum. Bisa jelek imagenya kalau dia dikenali sebagai mafia.
Daren masuk ke dalam resto itu dan mendapati Jhon berdiri di sana sambil menatap seorang perempuan.
Senja
Awalnya Daren curiga pada Jhon. Tapi melihat Senja? 'Apa mungkin Senja saksi mata atas kematian Alina?' pikirnya. Karena Daren yakin, Alina mati di tangan pamannya atau di tangan musuh mister Louis.
"Daren!" Pria itu menyentuh pundak Daren. Daren menatap Jhon tanpa ekspresi. Jujur Daren menyukai darah. Tapi dia benci melihat orang lain bermain darah di depannya.
"Aku ingin berbicara berdua denganmu," ucap Jhon dan Senja terlihat ketakutan.
'Apa Daren calon suami Alina? Bagaimana ini ya Tuhan? Riwayatku benar-benar akan tamat di tangannya,' batin Senja sambil menatap Jhon dan Daren yang masih berdiri jauh di depannya.
__ADS_1
"Aku akan kembali untukmu nanti Nona Senja," ucap Jhon. Pandangannya sedari tadi tak lepas dari tubuh Senja. Separuh dari dirinya menginginkan Senja sejak lama. Segera...
Bersambung...