SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Senja Diculik Jhon


__ADS_3

...****************...


"Bos, aku menemukan jejak kaki Senja." Ferdi menghampirinya. Setelah beberapa jam mencari. Akhirnya dia menemukan bekas di mana Senja bersembunyi tadi.


Daren yang mendengarnya segera bergegas menuju ke tempat itu. Dua orang, ayah dan anak adalah pemimpin mafia. Orang terkuat. Setelah Daren memastikan kalau itu jejak kaki Senja, segera dia mengikuti jejak itu. Dan benar saja, di tepi jalan dia menemukan sandal yang dipakai Senja jatuh.


"Ini penculikan Daren. Sepertinya kekasihmu telah diculik seseorang," ucap Viktor dan Daren mengiyakan.


"Ini diseret, bukan jalan kaki. Sepertinya ada yang melakukan ini," ucap Daren. Namun tiba-tiba Marten datang.


Marten merasa tugasnya sudah selesai dengan Daren. Jadi dia mau minta bayarannya.


"Tugasku sudah selesai Bos. Sebentar lagi istriku melahirkan, jadi aku mau minta bayaran yang Anda janjikan," ucapnya.


"Ck." Daren tersenyum menakutkan. Bukannya Daren tidak mau membayar jasanya Marten. Tapi...


"Apa kau tidak bisa melihat semuanya Marten? Semua ini terjadi karena kesalahanmu. Dan kau tahu, jika tugasmu ada yang salah. Masihkah pantas kamu minta bayaran denganku? Ckck. Coba kamu pikirkan, bukankah kamu bekerja di bawah paman Jhon? Kenapa kau tidak minta dengannya saja? Aku tak pernah telat memberimu gaji selama pekerjaanmu benar," ucap Daren.


Wajahnya kembali menatap sinis ke arah Marten. Enak saja Marten itu, bekerja tidak becus. Tapi minta bayaran. Padahal sejauh ini Daren selalu mempercayainya. Bahkan setiap Marten memberikan laporan informasi tentang Senja, otomatis uang akan mengalir ke rekeningnya.


"Maksud anda apa Tuan?"


Mungkinkah Marten ini pura-pura bodoh atau dia merasa tidak bersalah?


"Kau kira aku tidak tahu. Paman Jhon menghubungi Senja melalui ponsel anak buahnya yang lain. Dan itu semua berkat siapa? Pikirkan baik-baik soal masalah itu. Hari ini aku banyak urusan, dan yeah... aku kasihan dengan bayimu. Jadi kau ku beri kesempatan untuk bernafas hari ini," kata Daren. Dia berjalan menuju ke Ferdi dan ayahnya.


"Anak buah Jhon benar-benar tidak tahu malu. Kenapa kau tak membunuhnya saja? Pengkhianat tetaplah pengkhianat Daren," ucap Viktor dengan geram. Dia trauma dengan yang namanya teman atau orang kepercayaan selama orang itu berhubungan dengan Jhon.


Marten terdiam. Dia memikirkan ucapan Daren tadi. Apa idenya yang membuat Daren marah kepadanya? Jika benar, Marten harus minta maaf. Daren adalah bos kaya nan tajir. Harusnya Marten tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Bos Daren!" teriak Marten. Dia ingin minta maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat. Semua ini terjadi karena ide konyolnya. Ia pikir Daren tidak akan marah soal itu. Tapi sekarang? Bahkan Daren tidak mau menoleh ke arahnya. Ia terlambat, karena kali ini Daren dan yang lainnya sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Apa rencanamu selanjutnya Daren?" tanya Viktor kepada anaknya.


Karena sedari tadi wajah Daren terlihat tidak tenang. Mungkin dia tengah memikirkan keadaan Senja dan bayi yang dikandungnya.


"Kita harus kepung tempat itu ayah. Karena aku takut, paman Jhon bakalan nekat. Aku takut Senja dan anakku akan dicelakai olehnya," kata Daren. Dia benar-benar khawatir.


"Jangan khawatir anakku. Ayah di sini. Mungkin kita bertiga saja akan cukup," ungkap Viktor.


Tiba-tiba di tengah jalan. Mobil yang ditumpangi oleh Daren macet. Daren sangat tidak sabar.


"Bagaimana Fer? Kenapa bisa mogok?" Daren sangat tidak sabar. Dia takut, semakin waktunya terulur. Maka Jhon akan semakin menyakiti Senja. Ini tak akan mungkin ia biarkan.


"Sepertinya kita kehabisan bahan bakar bos," ucap Ferdi sedih. Saking buru-buru, dia tak menengok lagi isi bahan bakar dalam mobil itu.


Mana tempat ini sudah lumayan jauh dari pemukiman. Jadi otomatis mereka harus mendorong mobil itu. Tapi Daren mempunyai saran.


"Lupakan mobil ini, lebih baik kita berjalan kaki. Atau telepon Rehan. Suruh yang lain buat menjaga ibu Shela," ucap Daren yang kali ini dengan sopan memanggil nama Shela.


"Bos. Saya minta maaf atas kesalahan yang saya perbuat," ucap Marten sambil turun dari sepedanya.


Daren menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Viktor, dia sudah tak sabaran untuk mengambil alih montor yang dipakai oleh Marten. Namun sayang, dia sudah sangat lama tak mengemudikan kendaraan bermotor model seperti itu. Jadi dia hanya bisa menunggu keputusan dari Daren.


"Bos," panggil Marten lagi.


Daren tahu, kalau Marten hanyalah seorang preman mata duitan. Dia mendekatinya karena dia menginginkan uang. Daren akui, kalau Marten cerdik campur licik. Dia memanfaatkan keadaan agar Daren memaafkannya. Tapi Daren tak menyia-nyiakan itu. Dia juga lebih cerdik dari Marten.


"Baiklah. Aku akan memaafkanmu jika kau serahkan sepeda motormu," kata Daren. Dia juga bisa memanfaatkan keadaan. Soal Marten, akan ia perhitungkan nanti setelah dia menemukan Senja. Yang penting adalah Senja saat ini.


Marten terdiam. Dia tak bisa mengelak lagi. Karena dia tahu jawabannya. Kalau dia menolak, pasti Daren akan terus memusuhinya.


"Baiklah Bos," kata Marten sambil menjauh dari sepeda motornya.

__ADS_1


"Dan ya, bantu Ferdi apapun yang ia butuhkan." Daren mengendarai sepeda motor itu.


"Ayah, ayo!" ajaknya. Dan Viktor segera naik. Lalu dalam hitungan detik, Daren meninggalkan keduanya.


Ferdi menatap sinis ke arah Marten. "Sudah puas kau dengan kelakuanmu itu?" sindir Ferdi. Dia tengah sibuk menghubungi anak buah Daren yang lainnya agar mengantarkan bahan bakar ke tempatnya sekarang.


"Apa maksudmu?" Marten menantang Ferdi. Dia merasa kalau dia tak bersalah.


"Beraninya kau berwajah seperti itu? Apa kau kira aku tidak tahu? Jhon mengatakan kalau kau mengkhianatinya, jadi berhati-hatilah! Jangan sampai aku menemukanmu berkhianat pada bos Daren!" ancam Ferdi. Dia tidak akan membiarkan bosnya itu dikhianati oleh pengikutnya. Kalau ketahuan, Ferdi pasti tidak akan tinggal diam.


"Aku merasa tidak mengkhianatinya," ucap Marten. Raut mukanya terlihat sedikit ketakutan. 'Apa aku pernah membuat kesalahan pada bos Daren?' Pikirnya dalam hati.


...****************...


"Apa kau yakin Senja di bawa ke tempat ini Daren?" tanya Viktor dengan tak yakin. Sekelas Jhon, dia menyiksa korbannya di tempat yang kumuh. Jhon suka kemewahan, sepertinya mustahil jika dia menawan seorang wanita hanya di gudang.


"Semua aset yang paman Jhon miliki sudah ku blokir. Jadi kemungkinan besar dia memanfaatkan tempat ini," jelas Daren.


Viktor mengangguk paham. "Kalau begitu, kita berpencar," kata Viktor memberi arahan.


"Ku mohon jangan sakiti Senja, Ayah!" Daren menggenggam jemari tangan ayahnya.


"Percayalah pada ayah," kata Viktor menenangkan Daren.


Tak berapa lama, Daren mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.


"Sudah ku duga kalau kalian akan datang!" Suara itu mencengangkan mereka.


"Kau!" Viktor nampak emosi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2