
...****************...
Setelah acara berunding secara private dengan J, Shela sedikit tenang. Dan kini dia sudah sampai di rumah, bersama J pula.
"Gak masuk dulu?" tawar Shela. Dia masih berdiri di ambang pintu. Belum menyadari kalau pintunya kini tidak terkunci lagi.
"Gak She. Bukankah kita sudah menghabiskan banyak waktu hari ini? Tugasku juga masih banyak di kantor. Kalau boleh, aku juga masih ingin terus berduaan sama kamu, tapi ya gitulah!" J terlihat pasrah. Shela sedikit jual mahal kepadanya, meskipun berakhir mau. Semudah itukah Shela berpindah hati ke hati? Atau hanya sekedar memanfaatkan J, namun J masih belum sadar.
"Ya udah, aku masuk dulu kalau gitu." Shela menancapkan kuncinya di lubang, namun tidak ada pergerakan apapun.
"SENJA!!!" teriak Shela tiba-tiba. Dia panik dan takut kalau Senja akan kabur. Jika kabur, persidangan akan semakin panjang dan rumit.
"Kenapa She?" tanya J yang mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Pintunya terbuka. Gimana kalau Senja kabur J?" panik She sambil melangkah dengan cepat menuju ke kamar Senja. Belum masuk saja, Shela sudah dibuat tambah panik. Dia melihat kamar Senja yang terbuka lebar.
"Dia melarikan diri!" ucap J saat mendapati Senja sudah tidak ada di kamarnya lagi.
"Anak itu, benar-benar tidak tahu diri. Selalu saja nambahin masalahku. Terus ini gimana J?"
Dua kubu saling panik jika kehilangan Senja. Namun sayangnya, Shela tidak tahu caranya menyanyangi Senja. Berbeda dengan Daren, caranya memang jahat. Tapi sebenarnya hatinya begitu peduli dengan Senja. Di sini, masihkah Senja perduli pada ibunya?
__ADS_1
...****************...
Sidang kedua di mulai.
Setelah acara sakit dan kemerahan Shela kepadanya. Hari ini Senja bisa hadir dalam keadaan sehat wal Afiat. Hanya Senja harapan satu-satunya. Antara jujur tapi dia yang masuk penjara, atau bohong dan dia akan bebas dari penjara.
Sementara berita dalam negeri hari ini masih heboh membahas kematian Samboy yang masih belum ada ujungnya.
Jadi nama Senja juga terseret di dalamnya. Meskipun begitu, kali ini Senja sudah menyiapkan diri. Meskipun dia tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan. Sementara Shela memaksanya harus jujur, tapi dia sendiri yang akan tersiksa. Bingung. Itulah Senja.
Memakai kemeja putih dan celana hitam. Senja duduk di depan hakim. Suasana mendadak tegang. Sampai jantung Senja berdetak kencang.
"Saudari Senja Sudrajat. Apakah Anda sebelumnya di antarkan oleh saudara Boy saat hendak berangkat ke kantor?" Itu adalah pertanyaan pertama dan Senja menjawabnya iya.
Daren terlihat tenang mendengarnya. Tapi dia sebenarnya dia sudah merasakan sesak di dada hanya menunggu pertanyaan inti dari ketua hakim. Begitu pula dengan Shela, dia sudah senam jantung sejak pertanyaan pertama yang diberikan oleh hakim ketua.
Banyak pertanyaan, mungkin 20 pertanyaan sudah dilayangkan kepada Senja. Masih aman, namun kali ini adalah pertanyaan yang membuat tegang Senja, Daren dan Shela.
"Lalu apakah saudari Senja berada di apartemen pak Samboy saat pak Samboy menghembuskan nafas terakhirnya?"
"Tidak!" jawab Senja dengan lantang. Daren tersenyum simpul. Senja memang jujur. Berbeda dengan Shela, dia masih tidak percaya dengan ucapan anaknya.
__ADS_1
"Apakah saudara Samboy mengajak saudari Senja ke apartemennya saat usai menjemput saudari Senja?" tanya pak Hakim yang membuat Senja menelan ludahnya kepayahan.
Ya, Samboy mengajak Senja ke apartemennya saat itu. Dan hampir saja Senja diperkosa olehnya andai Daren tidak datang.
"Saudari Senja, saya tanya sekali lagi. Apakah benar saudara Boy mengajak Anda ke apartemennya saat itu?"
'Sepertinya anak itu benar-benar ada hubungan dengan Boy. Gak tahu diri. Masih kecil sudah menggoda pria sana sini. Mau jadi apa dia nantinya? Awas aja, aku akan memasukkannya ke penjara kalau dia benar-benar orang terakhir bersama Boy,' gumam Shela dengan emosi.
'Apakah kau akan jujur kali ini Senja? Jika kau jujur, tamatlah riwayat kita di sini. Aku merasa kau sudah kalah, dan tidak ada harapan untukmu bisa bebas. Karena ibumu pasti tidak akan pernah membiarkanmu bebas. Buktikan, kalau kau beneran serius melawanku. Biar aku bisa melampiaskan nafsuku padamu. Cuma kamu seorang, perempuan yang membuatku seperti ini. Penuh harap dan membuat jantungku berdebar.' Daren menunggu dengan gelisah. Dia akan tamat di sini jika Senja berkata yang sebenarnya.
Senja mengepalkan tangannya dengan erat. Dia memejamkan matanya. Di sini dia berjuang untuk dirinya. Ibunya bahkan tidak peduli. Mendukung hanya untuk Senja terjerumus.
"TIDAK!!" teriak Senja dengan lantang. Daren terlihat lega, tapi tidak dengan Shela.
3 kali sudah pak hakim melontarkan pertanyaan yang sama. Senja tetap menjawabnya tidak dan tidak.
Dan akhirnya persidangan pun selesai. Pengacara dari kantor D GROUP telah mengajukan laporan agar kasus kematian Samboy ditutup. Karena sampai kapanpun akan terus begitu tanpa ujungnya. Karena saksi dan bukti-bukti kematiannya kurang kuat. Dan di sini tim Shela kalah. Shela hanya bisa gigit jari tanpa bisa memecahkan masalahnya.
"Maafkan aku ibu. Memang ini faktanya. Aku juga menjadi korban atas sikap cabul dari om Boy. Pacar gelapmu selama ini," gumam Senja. Dia keluar dari gedung itu tanpa memperdulikan ibunya. Ya, kali ini Senja membangkang. Karena di saat Senja kesulitan, musuhnya lah yang telah menolongnya. Dia berbohong bukan semata karena Daren. Tapi Senja punya misi sendiri dalam hidupnya.
Bersambung...
__ADS_1