
...****************...
Senja mengerjapkan matanya. Dia menoleh ke samping dan mendapati Daren yang tengah tidur dengan posisi telungkup. Semalam Senja ingat betul, bahwa Daren melakukannya di sofa. Dirayu seperti apapun Daren tidak mau. Maunya tetap di sofa. Tapi ini kamar Daren?
Apa semalam Senja pingsan? Atau ketiduran? Senja tak ingat apapun, selain Daren mencumbunya dengan paksa.
Senja hendak turun dari ranjang, namun tangan Daren yang ada di perutnya menghalanginya untuk turun. Dengan perlahan Senja mengangkat tangan Daren dari perutnya. Lalu dia turun dengan kaki berjinjit.
Senja mencoba mencari bajunya. Tapi tak ada. Bajunya ada di ruang depan. Dengan terpaksa Senja menarik selimut itu. Dia masih penasaran dengan sosok anak laki-laki yang ada di foto. Tapi saat hendak dicari, foto itu sudah tidak ada di tempatnya.
'Di mana Daren menyembunyikan foto itu? Kenapa dia menyembunyikannya dariku?' batin Senja kesal.
Padahal Senja seperti tidak asing dengan sosok yang di foto. Rasanya Senja gagal mengelabuhi Daren. Daren terlalu licik untuknya. Tapi Senja sendiri juga sudah terperangkap. Jadi akan sulit baginya untuk lepas, kecuali Daren bosan.
"Ehm, apa yang mau kau cari?" tanya Daren yang kini membuka matanya. Daren masih dalam posisi telungkup. Dia tidak mengenakan pakaian, hanya celana boxer untuk menutupi burung pipitnya.
Sebenarnya Daren belum tidur. Dia mengantuk setelah berada di samping Senja. Tentu dia tahu pergerakan apa saja yang Senja lakukan sedari tadi. Entah kenapa, rasanya malam ini sangat indah untuknya. Setelah sekian lama tidur sendirian, sekarang dia ditemani oleh seorang perempuan.
"Aku mencari pakaianku," dusta Senja.
Daren merubah posisinya jadi duduk. Dia tergoda melihat tubuh Senja yang hanya terbalutkan oleh selimut tebal miliknya.
Karena Senja memegangnya kurang erat, sekali tarikan selimut itu langsung terbuka.
"Dareeen!!" teriak Senja dengan melotot.
Daren menarik tangannya dan menampilkan senyum devilnya. "Apa yang sebenarnya kamu cari, hm?" Daren memainkan pucuk dari gunung Himalaya itu. Membuat sang empunya ingin memejamkan matanya. Namun Senja masih dalam keadaan sadar. Dia mencoba menepis tangan Daren yang begitu kurang ajar.
"Aku mencari bajuku Daren. Apa kau tidak dengar?" Senja balik menyerang Daren. Sebenarnya Senja heran, kenapa Daren bisa mencurigainya? Sepertinya Senja lupa, Daren telah memasang kamera pengawas di seluruh penjuru ruangannya. Hanya saja semalam semua lampu telah mati. Jadi Daren tidak berfikiran kalau Senja akan masuk ke dalam kamarnya. Lagi pula kamar Daren tidak terlalu berbahaya. Hanya satu yang membahayakannya. Kalau Senja ingat tentang fotonya, bisa-bisa Senja berubah pikiran atas balas dendam yang sudah ia ciptakan sejak dulu.
"Kau tidak perlu menggunakan pakaianmu Senja. Biarkan seperti ini, biar aku mudah melakukannya," ucap Daren. Dia berbisik sambil memainkan daun telinga Senja.
Hingga pagi itu terulang kembali aksi panas mereka.
__ADS_1
...****************...
Shela mondar-mandir seperti setrikaan. Dia ke sana kemari menunggu kedatangan Senja yang tak kunjung pulang. Ponselnya berdering, namun si empunya belum juga mengangkatnya.
Shela tahu kalau dari semalam Jhon telah melakukan penjagaan ketat di rumahnya. Tapi apa yang Shela katakan, jika Jhon mempertanyakan keberadaan Senja?
"Ayolah Senja, angkat ponselmu!" Shela terus berharap Senja baik-baik saja. Sepertinya di saat seperti ini, Shela harus akur pada anaknya. Karena bagaimanapun juga, Shela tak bisa hidup tanpa Senja.
Sementara itu. Setelah Senja dan Daren usai mandi, Daren berniat memesan masakan dari luar. Namun ia urungkan. Daren takut Senja akan menyelinap ke dalam kamarnya lagi dan mencari foto itu. Itu tak boleh terjadi. Jadi Daren menyuruh Senja untuk memasak buat sarapan mereka.
Saat Daren tengah menunggu Senja. Dia melihat ponsel Senja terus menyala. Sepertinya Senja sengaja mematikan volume ponselnya. 'Baguslah!' batin Daren senang. Setidaknya acara berduaan mereka tak ada yang menggangu.
Hari ini Daren seperti orang miskin. Bahkan dia tidak membelikan pakaian wanita untuk Senja. Dia lebih memilih Senja menggunakan kaos oblongnya. Karena Daren juga tengah dimatai-matai oleh Jhon. Jhon tidak boleh tahu keberadaan Senja untuk sementara ini. Biarkan Senja aman di rumahnya sampai situasi aman. Ya, setidaknya Senja hamil. Maka Jhon akan menghentikan niatnya untuk memiliki Senja. Karena apa yang diinginkan oleh Daren, maka disitu Jhon akan menghancurkannya. Sebelum Jhon menghancurkan miliknya, maka biarkan Daren sendiri yang merusaknya. Karena sampai kapanpun, Daren tidak akan membuang Senja.
Senja terlihat kelelahan. Ya bagaimana tidak. Daren terus memaksanya bercinta. Daren yang puas, tapi Senja? Tenaganya terkuras semuanya. Dan sekarang Daren malah menyuruhnya untuk memasak. 'Daren memang ingin membunuhku secara perlahan-lahan. Awas saja, aku yang akan membunuhmu duluan Daren,' batin Senja. Dia mencoba mencari-cari bahan di lemari dapur. "Mudah-mudahan ada racun tikus di sini," harap Senja sambil membuka tutup laci-laci yang ada di sana. Dan dia menemukan sesuatu.
...****************...
Seorang anak kecil telah diusir ibunya. Anak itu berusia 6 tahun. Taman kanak-kanak kelompok B alias TK B. Dia menangis hanya gara-gara menginginkan es krim. Namun dengan teganya ibunya malah menyeretnya dan memaki-makinya. Mereka berdua baru pulang dari makam untuk memperingati kematian ayahnya yang ke-6.
Disuruh ibunya pergi. Maka gadis itu berlari dan meninggalkan ibunya. Dia menangis sampai suaranya habis tak terdengar. Air matanya pun bahkan mengering.
Anak kecil itu tak punya pikiran lain. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mati. Karena ibunya telah menyuruhnya mati. Jadi dia kira mati itu lebih baik. Padahal anak seusia itu belum mengerti apa artinya dari mati. Yang jelas dia menginginkan mati seperti yang ibunya harapkan.
Tapi pikiran itu sirna saat dia melihat tukang es krim keliling. Tukang es krim itu berada di seberang jalan.
"Es krim!" ucapnya setengah gagap akibat menangis dan sumringah dalam waktu yang bersamaan.
Tanpa melihat ke kanan dan ke kiri. Gadis kecil itu berlari dan membelah jalanan yang ramai akan kendaraan yang berlalu lalang.
Tiiin Tiiin!!
Bunyi klakson terdengar di mana-mana. Dari ujung jalan sampai yang di depan jalan.
__ADS_1
Anak kecil itu tidak mengerti apapun. Dia terus berlari dan sebuah mini bus melaju kencang dari arah kirinya.
Tiiin!!
Beberapa orang berteriak. Mereka meneriaki anak kecil itu untuk minggir. Namun anak kecil itu tetap berlari pada tujuannya hingga tangan seseorang menarik tangannya.
"Maaf pak!" ucap anak laki-laki yang mungkin berusia sekitar 13 tahunan.
"Lain kali dijaga adiknya. Biar tak berkeliaran di jalanan. Untung rem mini busku cakram, kalau tidak. Mungkin adikmu tinggal nama!" ucap si supir itu yang masih duduk di kursi kemudinya.
"Jaga adiknya. Hampir saja dia ketabrak."
Dan beberapa mulut orang terus memarahinya. Hingga gadis kecil tadi merasa bersalah. Dia menatap anak laki-laki tadi dengan sedih.
"Kau ingin mati ya?" teriak anak laki-laki tadi pada anak perempuan yang hampir tertabrak.
"Maafin aku kakak. Hiks!"
"Lain kali jangan kayak gitu. Apa kau tidak sayang pada dirimu? Gimana ada orang yang mau sayang, kalau kamu tidak sayang sama hidupmu?"
"Aku mau es krim!" Anak kecil itu menangis sambil menunjuk penjual es krim di seberang sana.
"Kamu diam di sini, biar kakak belikan!" Anak laki-laki itu berlari menuju ke seberang jalan. Raut wajahnya penuh amarah, tapi dia terlihat penuh kasih sayang.
Senja terlihat riang dan menunggu anak laki-laki itu dengan sabar. Namun tangan seseorang menariknya. "Ibu mencarimu kemana-mana. Dasar! Ayo pulang!"
Laki-laki yang di seberang tadi membawa es krim sambil menatap kepergian gadis tadi. Anak gadis itu menoleh dan melambaikan tangannya ke arah anak laki-laki yang telah menolongnya.
"Ternyata itu kau..."
Bersambung...
...****************...
__ADS_1