SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Sakit Hati


__ADS_3

Beberapa jam kemudian.


Usai Mandi dan berdandan, Senja tak sengaja melihat Daren yang mengigau.


"Ibu! Ibu! Jangan bunuh ibuku! Ibuuuuu!!"


Senja segera keluar dari kamar saat Daren terbangun. Senja memegangi jantungnya yang berdegup kencang. 'Kasihan sekali Daren. Dia kehilangan ayahnya bersamaan dengan kematian ayahku. Bahkan ibunya juga meninggalkannya. Hidupku suram, tapi Daren lebih suram.'


Daren ngos-ngosan. Mimpi sial*n itu, kenapa setelah sekian lama dia memimpikan ibunya?


Daren risih dengan sesuatu yang ada di dahinya. Reflek dia mengambilnya. 'Kain kompres?'


Ternyata dalam keadaan seperti ini, Senja masih perduli dengannya. Setiap sakit, biasanya Daren hanya meringkuk sendirian. Dan sekarang dia dirawat oleh tawanannya sendiri.


"Daren, syukurlah kamu sudah bangun." Senja mendekat setelah jantungnya berdetak normal.


"Kenapa kamu merawatku Senja?" tanya Daren. Dia teringat akan kematian ibunya yang sangat membuatnya trauma.


Ditanya seperti itu, Senja langsung bungkam. Di saat Senja sakit, Daren juga merawatnya. Dan sekarang Senja membalas kebaikan itu. Apakah salah?


"Kenapa kau tidak membunuhku Senja? Kenapa?" Daren berteriak kencang.


Padahal baru beberapa jam yang lalu Daren menginginkan Senja agar tak pergi meninggalkannya. Sekarang? Sikap Daren mudah berubah. Terkadang seperti monster. terkadang lembut bagai kapas.


Senja ketakutan sambil memejamkan matanya. Ia rasa, mimpi Daren begitu mempengaruhi psikologisnya.


"Kau tidak perlu merawatku lagi Senja. Kau ku bebaskan!"


DEG!


Senja mendongak dan menatap Daren. Jantungnya bergemuruh dengan cepat. Hatinya bagai tertimpa sembilu, begitu sakit dan menyayat. Mendadak Senja tidak menginginkan perpisahan meskipun sebenarnya dia sangat ingin bebas.


Senja membalikkan badannya. Matanya berkaca-kaca, tapi ini memang keinginannya. Dia berjalan keluar kamar. Daren menyusulnya.


"Tidak Senja!" Daren menarik tangan Senja. Senja masih diam tak bergerak sedikitpun. Dia bagai sampah yang dibuang setelah tak diinginkan. Namun semua ini terasa begitu menyakitkan untuknya.


"Bukankah kau sudah tak membutuhkanku Daren? Aku sangat senang dengan ucapanmu tadi," ucap Senja. Dia membohongi isi hatinya.

__ADS_1


'Aku begitu bodoh. Misiku belum selesai, tapi aku sudah mengusirnya. Kapan senja akan hamil? Kenapa begitu lama? Aku takut, semakin aku ingin membunuhnya... tapi hatiku semakin melarangnya,' batin Daren bimbang.


"Lepaskan aku Daren!" Senja menggerakkan tangannya. Namun posisinya tak bergeser sedikitpun. Membelakangi Daren.


"Tidak!" Daren memeluk Senja.


"Maafkan aku!" bisik Daren tepat di telinga Senja.


Sesaat Senja dibuat merinding dengan bisikan itu. Apalagi ini pertama kalinya Daren minta maaf. Sebagai wanita yang lemah, tentu Senja lega. Meskipun dia membenci Daren, tapi Senja tak berharap perpisahan sedikitpun.


"Senja," panggil Daren sambil membalikkan tubuhnya. Hingga siang itu adegan panas terjadi lagi. Adegan panas yang terasa saling membutuhkan. Tapi tak ada percakapan apapun di antara mereka selain bahasa tubuh masing-masing. Sudah beberapa hari mereka tak melakukan adegan itu. Dan sekarang haus dahaga itu seperti obat bagi mereka berdua.


'Ku harap usahaku kali ini tidak gagal,' batin Daren di ujung klimaksnya.


'Ku harap ada jalan terbaik setelah ini.' Sebagai wanita, Senja juga tidak ingin hanya ditiduri saja. Setidaknya jika tak ada hubungan resmi, biarkan Senja dilepaskan. Meskipun rasanya sesakit tadi. Dari pada terus begini, tapi dendam masih membara di hati masing-masing.


Usai adegan ranjang tadi. Senja membelakangi Daren sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia masih merasa sakit hati atas sikap Daren yang mendadak seperti mengusirnya.


"Senja, maafkan aku!" Daren memeluk Senja. Seperti biasanya, masih terasa nyaman.


Senja tidak tega. Meskipun Daren sangat jahat. Sejatinya Daren lebih menyedihkan ketimbang dirinya.


"Aku tidak apa-apa Senja. Aku hanya terkejut dengan mimpiku," ucap Daren jujur. Sedikitpun Senja tak ingin mempertanyakannya. Dan sepertinya Senja melupakan sesuatu. Daren belum sarapan. Tapi tenaganya masih sangat kuat luar biasa dalam urusan ranjang.


"Kau tidak sarapan, tidak makan. Padahal aku sudah bersusah payah membuatkan bubur untukmu," ucap Senja. Berangsur-angsur sakit hatinya mulai memudar. Segampang itukah dia memaafkan Daren?


"Bahkan 2 hari tak makan pun aku masih bertahan hidup Senja," ucap Daren. Dia mengingat pengalaman buruknya saat kecil. Dari kecil dia sudah menjadi penjahat, dikejar-kejar polisi dan harus rela bersembunyi tanpa adanya makan dan minum.


"Kau seperti orang yang kekurangan Daren. Makanlah Daren, aku mau mandi!" Senja beranjak dari tempat tidur. Daren mencegahnya.


"Ku rasa aku masih kurang enak badan. Gimana kalau kamu yang mandiin aku?" Daren mengerlingkan matanya sedikit nakal.


"Apa?" Senja Syok.


"Ayolah Senja!" tanpa persetujuan dari Senja, Daren langsung membopong tubuh Senja dan keduanya mandi bersama.


Terlihat romantis. Satunya merasa bersalah, dan satunya lagi merasa tersakiti. Sudah seperti sepasang kekasih. Namun hubungan itu masih terhalang oleh tembok besar yang mereka sebut adalah dendam.

__ADS_1


...****************...


Di tempat yang berbeda. Jhon menemui Shela.


"Maafkan aku Jhon. Aku belum bisa menemukan Senja," ucap Shela sambil memohon.


"Tidak masalah. Asal kau menjauh dariku. Jangan pernah minta pertolongan sebelum kau menemukan Senja." Jhon sudah tak butuh Shela. Jadi sekarang dia membuangnya.


"Jhon! Mana janjimu! Semua sudah ku lakukan untukmu. Tapi tak sedikitpun kau berjuang untukku! Bahkan janjimu soal Daren, sampai sekarang tak kau tepati!"


"Tutup mulutmu kalau masih ingin selamat!" Jhon segera berdiri dan meninggalkan Shela. Kini Shela benar-benar sendirian. Tak ada seorangpun yang menolongnya. Harapannya hanya Senja, tapi Senja juga menghilang beberapa Minggu yang lalu.


Tak ada harapan buat Shela. Dia bertekad untuk menemui Daren lagi. "Apapun resikonya, aku akan menemui bocah itu lagi. Aku yakin, dia yang sudah menyekap Senja."


"Ngomong-ngomong soal disekap, apa kabarnya Senja di sana? Apa Daren memperlakukannya dengan baik? Bagaimana jika Daren sudah membunuhnya? Ah, semoga hal itu tidak terjadi. Semoga anak itu bisa merayu Daren. Dan pulang dengan kabar gembira," gumam Shela. Dia berharap Daren mati. Untuk menyingkirkan Senja, sepertinya itu akan mudah buat Shela.


Memikirkan hal itu, Shela segera bersiap-siap. Dia akan menemui Daren lagi.


Segera dia mengendarai mobilnya. Mobil hasil hubungan gelap dengan kepala kepolisian waktu yang lalu. Dan sekarang urusannya dengan kepala polisi sudah beres. Jadi dia bisa leluasa ke sana kemari sesuka hati.


"Aku ingin bertemu dengan bos kalian," ucapnya pada resepsionis.


Meta menatap Shela tak suka. Dia tak menyangka Senja mempunyai ibu dengan gaya kelas atas tapi tak punya sopan santun.


"Bos kami sedang sibuk. Tak bisa diganggu!" Meta sok sibuk. Dia enggan mengurusi Shela.


"Aku akan menunggu," kata Shela belum menyerah.


"Terserah Anda," jawab Meta menyibukkan diri.


Segera Meta memberitahu kan informasi itu untuk Daren. Daren yang posisinya tengah makan siang bareng Senja langsung tersedak tiba-tiba.


"Daren! Kau kenapa?" Senja memberikan segelas air minum untuk Daren.


Daren langsung menutup ponselnya. Senja akan minta dipulangkan kalau membaca bahwa ibunya tengah di kantor.


"Aku hanya kesedak. Lanjutkan makanmu!" perintah Daren dan Daren membalas pesan dari Meta.

__ADS_1


'Orang itu masih belum jera,'


Bersambung...


__ADS_2