SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Mengaku Kalah


__ADS_3

...****************...


Daren merasa kesakitan. Obat yang ia cari belum ketemu juga. Dia menatap ke arah Senja, hendak minta tolong namun gengsi. Kalau dia yang menyapa Senja duluan, artinya dia melepaskan Senja. Jadi dia hanya menahan rasa sakitnya. Meringis sambil meremas luka di lengannya.


Senja menyerah. Pintunya sudah tak bisa ia buka. Senja membalikkan badannya dan memilih bersandar di pintu. Hatinya merasa takut sendirian di sana. Ponsel? Ponselnya ia tinggal di tas nya. Akhirnya dia pasrah dan merosotkan diri di lantai.


Hening!


Sesaat ruangan itu tak mengeluarkan suara apa-apa. Namun Daren tak berpikiran yang lain. Yang ia tahu, Senja ingin keluar dari ruangan itu. Daren mengira dia sedang sendirian di gudang itu.


"ARGH!!" Kembali dia berteriak.


Senja memicingkan matanya. Mencari sumber suara di sana. Dengan berjalan perlahan-lahan. Senja menemukan sepasang kaki yang berselonjor di bawah meja. Senja mengintip dari atas. Hanya terlihat rambut kepala milik seorang pria. Senja ingin berlari, tapi dia terdiam saat mendapati darah yang mengalir di lantai.


'Pria ini terluka,' batinnya merasa kasihan.


Ingin menolong, tapi takut. Kalau tidak ditolong, Senja kasihan. Akhirnya Senja putuskan untuk mendekat ke arah pria itu.


Pria itu mendesis sambil menekan kuat lukanya. Senja tak tega dan langsung berjongkok di depan orang itu.


"Tuan! Anda terluka!" ucap Senja. Dia menatap wajah pria yang ada di depannya itu dengan terkejut.


'Astaga, dia Daren!' batin Senja yang langsung melepaskan tangannya yang sempat menyentuh tangan Daren.


Daren mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Senja. Dia meringis sambil tersenyum devil.


"Aku menang," ucap Daren. Tangannya yang sempat mencengkeram kuat lengannya tadi segera meraih tengkuk Senja.


Cup!


Daren mengecup bibir Senja. Ini adalah first kiss mereka. Senja ingin menjauhkan kepalanya. Tapi tidak bisa. Akhirnya dia pasrah. Senja mengaku kalah atas sikapnya tadi. Tapi bukan berarti Senja menyerah akan tujuannya.

__ADS_1


Daren terus menikmati kecupannya. Sesekali dia meringis. Mungkin gara-gara lukanya. Senja tidak tega. Tapi Daren terus menekan kepalanya agar tidak menjauh darinya.


Entah tanpa sadar atau tidak. Tiba-tiba Daren memeluk Senja dengan erat.


Senja mendengar detak jantung Daren yang berdegup dengan kencang. "Kau sudah kalah Senja," katanya dengan suara yang lemah.


Senja melepaskan pelukannya. "Iya, aku mengaku kalah. Sekarang jangan banyak omong. Kau terluka Tuan Daren!" ucap Senja. Dia menyingkap kemeja lengan Daren yang sudah dipenuhi dengan darah.


"Astaga!! Lukamu infeksi! Kau harus dibawa ke rumah sakit Daren!" kata Senja yang tanpa embel-embel Tuan lagi.


"Aku cuma butuh obat," katanya.


Senja menatap aneh ke arah Daren. "Pintu terkunci, di mana aku harus menemukan obat di sini?" kata Senja dan Daren tidak perduli dengan pintu yang terkunci. Dia hanya butuh obat serbuk.


"Di laci-laci. Serbuk warna coklat," ucap Daren. Meskipun seperti biasanya, tapi suaranya sedikit melemah.


Daren ingin berdiri. Namun dilarang oleh Senja. "Kau duduklah. Biar aku yang mencari," kata Senja.


Harusnya Senja membiarkan Daren mati sendirian di dalam gudang. Tapi kenapa dia tidak tega hal itu terjadi kepadanya. Bukan tak tega, lebih tepatnya dia yang akan tertuduh, karena menjadi orang yang terakhir bersama Daren.


Klak!


Laci terseret ke depan. Senja melotot saat mendapati bermacam-macam alat kesehatan berada di sana. 'Sebenarnya dia punya penyakit apa?' batin Senja yang salah paham. Peralatan medis sengaja disediakan untuk para pekerjanya yang mendadak sakit. Kotak P3K, hanya saja ini lebih lengkap dan berada di laci. Tidak di dinding seperti pada umumnya.


"Aku menemukannya," ucap Senja.


Daren meminta serbuk itu. Dengan cekatan Daren membersikan lukanya dengan alkohol. Tanpa disuruh, Senja juga membantu membersihkan darah yang mengalir bebas dari lengan Daren.


"Kenapa kau membantuku?" tanya Daren.


Senja menatap mata Daren, tapi dia enggan menjawab. Dia terus membersikan luka itu dengan perlahan-lahan. Berbeda dengan Daren yang seperti tergesa-gesa yang penting sakitnya berkurang.

__ADS_1


Setelah darah itu bersih, Daren menaburkan serbuk obat yang berwarna coklat tadi di atas lukanya. Bahkan tanpa permisi, Daren mengambil kasa yang dibawa Senja dengan kasar.


Benar-benar tidak ada rasa berterimakasih. Padahal Senja hanya kalah tantangan, bukan berarti dia budaknya.


Daren emosi karena Senja tidak menjawab pertanyaannya. Usai membalut lukanya. Daren berdiri begitu saja. Senja membersihkan lantai itu dan membereskan kain kasa yang masih berserakan.


Entahlah, harusnya Senja sedih. Tapi dia terlihat biasa saja. Bukan berarti Senja senang bisa seranjang dengan Daren. Ini karena dia tidak sengaja. Kalau boleh memilih, bahkan Senja tidak ingin lahir dari rahim Shela yang sekarang sudah menjadi wanita murahan di matanya.


"Si*l," umpat Daren saat di depan pintu.


Senja yang berdiri di belakangnya menatap Daren aneh. "Sudah aku bilang, pintu terkunci," ucap Senja.


Daren menoleh ke arah Senja. Matanya memang sedikit liar kalau menatap lekuk badan milik Senja. Selalu menghadirkan gairah yang tak biasa. Daren gengsi, Senja memang sudah kalah. Tapi dia tidak semesum itu hanya dalam beberapa menit kan?


Jadi Daren berjalan ke arah meja. Duduk di sana sambil menatap Senja yang terlihat salah tingkah. Senja juga enggan mendekat. Dia memilih untuk balik badan.


"Kau senang kan seruangan denganku?" tanya Daren dengan begitu percaya diri.


Senja menoleh. Malas menanggapi. Dia memilih membuka sebuah buku kecil. Merasa diabaikan, Daren jadi geregetan sendiri. Dia turun dari meja dan mendekat ke arah Senja. Menarik Senja hingga badan Senja menabrak sebuah meja.


"Ternyata kau benar-benar tidak sabaran!" ucap Daren. Padahal Senja tidak mengerti apa-apa. Daren terlalu emosian menjadi seorang pria.


"Ja-jangan!" teriak Senja saat Daren membalikkan badannya hingga membelakangi Daren. Disitu Daren menyingkap rok Senja, dan memaksa badan Senja menempel ke arah meja.


Daren mengunci kedua lengan Senja dengan kuat. Daren seperti ingin ini, hanya saja dia terlalu gengsi.


Sensasi percintaan yang kedua benar-benar membuat Daren tidak ingin lepas dari Senja. Daren merindukan Senja, tapi mulutnya...


"Kau memang pel*cur Senja, seperti ibumu!" kata Daren sambil mencengkram lengan Senja. Senja hanya diam. Ibunya adalah sumber masalahnya. Dia yang tidak tahu apa-apa, harus menjadi pelampiasan nafsu dari Daren.


Tanpa Daren sadari, dia kembali menyemburkan cairan bening tadi ke rahim Senja. Mulutnya membentuk seperti huruf O. Karena hanya Daren yang menikmatinya.

__ADS_1


'Aku ingin tubuhnya lagi dan lagi.'


Bersambung...


__ADS_2