SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Berpapasan


__ADS_3

...****************...


Setelah perjalanan jauh. Akhirnya Daren sampai juga di Indonesia. Dia tak ada waktu untuk bersantai. Karena tujuan utamanya adalah mencari Senja.


"Langsung ke jalan Pattimura!" perintahnya pada sopirnya.


Reha memicingkan matanya. 'Sepertinya Bos Daren tahu sesuatu, tapi kenapa dia diam saja? Bukankah dia tertarik pada Senja? Kenapa dia justru menuju ke tempat Ferdi? Apa rencananya masih belum berubah?' batin Rehan curiga.


"Apa rencana awal kita belum berubah Bos?" Kali ini Rehan memberanikan diri.


"Rencana apa?" tanya Daren. Dia masih sibuk dengan pencariannya tentang Senja yang mematikan GPS-nya sekitaran sana.


"Jalan Pattimura adalah jalan menuju ke tempatnya Ferdi," ucap Rehan memberitahu.


"Apa?" Daren baru paham. Tapi tidak mungkin pamannya mencari lubang kejahatan yang sama. Tapi tunggu... Apakah benar pamannya itu tengah bersama Senja?


"Marten! Hubungi Marten sekarang!" perintah Daren. Marten harus dimanfaatkan saat kondisi seperti ini.


"Baik Bos," jawab Rehan. Lalu dia segera menelepon Marten.


"Ya halo," terdengar suara dari sambungan telepon. Dan Daren tidak mau menunggu waktu lama.


"Di mana paman Jhon?" tanyanya dengan suara yang memburu.


"Dia ada di markas Bos. Menyusun rencana pencarian Senja. Aku menghubungi bos Daren, tapi tak terhubung," kata Marten.


Daren melihat ponselnya. Memang banyak telepon dari Marten. Tapi dia tadi ada di pesawat, dan tak boleh menyalakan data.


"Merencanakan untuk menemukan Senja?" Daren ingin pernyataan yang jelas. Jika Jhon masih di markas, mungkinkah Senja pergi sendirian? Jika itu benar, Daren merasa sangat bersyukur. Setidaknya orang yang ia cintai aman dari gangguan pamannya.

__ADS_1


Orang yang dicintai? 'Sepertinya aku mencintaimu Senja,' batin Daren. Dia tersadar akan semua perasaannya.


"Iya Bos. Lalu apa rencana Bos Daren setelah ini?" tanya Marten ingin tahu.


"Tidak ada. Cukup awasi gerak-geriknya saja," ucap Daren sambil mematikan panggilannya.


Dia membuka GPS lagi, namun sayangnya masih tak terhubung dengan ponsel Senja. 'Mungkin aku ke rencana awal saja. Menyelematkan Ferdi,' batin Daren. Lalu dia menatap Rehan. "Ke rencana awal kita saja Re," ucapnya.


Rehan tegang. Tapi dia langsung mengangguk paham.


...****************...


Seminggu kemudian. Setelah Shela merasa aman dari persembunyiannya. Sekarang dia bebas kembali bekerja. Namun sayangnya, dia dikejutkan dengan berita pernikahan brigadir J di ponselnya.


"J menikah? Ternyata dia tak benar-benar cinta padaku. Dasar pria, omongannya hanya manis saat ada maunya," gumam Shela kesal. Tapi tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang.


"Bos, mangsa sudah berhasil kita amankan!" ucap seseorang melalui via telepon. Lalu dia melajukan mobilnya menuju ke rumah bosnya.


Di tempat yang berbeda. Senja mulai terbiasa dengan tempat tinggal barunya. Rumah yang ia tempati sangat asri. Pepohonan masih ada, dan udara terasa sangat segar dan menyenangkan.


Perutnya sudah terlihat sangat menonjol. Semua orang juga tahu kalau dirinya tengah hamil muda. Dan banyak warga yang mempertanyakan soal status Senja. Namun Senja berbohong. Dia berbohong tentang status dirinya yang sebenarnya hamil diluar nikah. Setiap ada yang bertanya suaminya, Senja selalu menjawab kalau suaminya tengah dinas di kota. Dia tak bisa ikut dengan alasan ingin hidup sehat.


"Hah, kamu sudah mulai aktif ya?" gumam Senja. Anaknya itu sesekali bergerak di dalam perutnya. Maklum, ini sudah hampir memasuki bulan ke 5. Jadi otomatis bayi dalam kandungannya sudah bernyawa.


"Baiklah, hari ini kita jalan-jalan ya. Mama mau beli sesuatu buat kamu," ucap Senja dengan riang. Di desa tidak ada sinyal, jadi dia jarang mengaktifkan ponselnya. Hanya saja kalau soal laptop, dia masih aktif mencari tahu kebenaran soal kematian ayahnya. Dan 20% lagi semua laporannya selesai.


Karena hamil, terkadang Senja menyewa tukang becak untuk minta di antarkan ke desa seberang. Di sana barang-barang masih lengkap. Tidak seperti ini, di sini hanya kebutuhan pokok yang tersedia. Tapi seperti susu ibu hamil itu tidak ada kalau bukan di desa seberang. Dan desa itu tidak dekat, cukup memakan waktu hampir 1 jam perjalanan. Tapi demi pertumbuhan bayinya, Senja tetap nekat pergi ke sana.


"Tunggu ya pak. Saya mau belanja di sini dulu. Nanti saya minta tolong diantarkan ke pasar," ucap Senja. Dia masuk ke sebuah mini market, mencari bahan-bahan yang ia inginkan. Mungkin untuk kebutuhan selama 1 Minggu.

__ADS_1


Usai belanja di sana. Senja kembali menaiki becak itu. Jalan ini hanya satu jalur. Dilewati mobil-mobil untuk menuju ke desanya. Dan di desanya itu terkadang dipakai untuk pendakian gunung. Maklum, Senja tinggal di lereng gunung mati. Jadi bahan-bahan modern sedikit susah di sana.


Di tempat yang berbeda. Daren tengah keluar mencari bahan pangan untuknya dan semua anak buahnya. Biasanya dia tidak ikut belanja. Tapi hari ini dia ingin ikut. Tidak untuk belanja, dia ikut untuk mencari sinyal. Di gunung tak ada sinyal sedikitpun, jadi Daren benar-benar tak bisa memantau Senja. Bahkan dia kehilangan kabarnya selama itu.


Mobil Daren melaju kencang menuju ke arah Utara, sementara becak yang ditumpangi Senja menuju ke arah Selatan.


Deg!


Tak sengaja mata Daren menatap seorang wanita hamil yang tengah asik menaiki becak.


'Senja,' batin Daren. Wajah wanita itu sangat mirip dengan Senja, orang yang ia cintai.


'Masa sih dia Senja? Senja tidak hamil, dan wanita tadi hamil,' batin Daren lagi. Dia bingung dengan pandangan matanya yang menurutnya sedikit eror.


Karena penasaran, akhirnya Daren menoleh. Becak yang di tumpangi oleh wanita tadi sudah tak terlihat oleh mata.


'Ah, mungkin saking rindunya aku pada Senja. Sampai-sampai wanita lain aku anggap sebagai Senja. Lagi pula wanita tadi hamil, dan Senjaku tidak hamil. Memang rada ngaco mataku,' batin Daren lagi.


"Kenapa Bos? Apa yang membuat anda gelisah?" tanya Rehan yang seperti bisa membaca pikiran Daren.


"Tidak ada, lanjut saja. Berhenti di supermarket terdekat," perintah Daren. Dia masih celingak-celinguk ke belakang. Berharap apa yang ia lihat tidak benar.


Senja sudah berhasil mendapatkan semua apa yang ia inginkan. Jadi dia akan pulang sekarang. Senja tersenyum senang, setidaknya uang pemberian Daren ada manfaatnya juga. Andai dia menolak. Senja tidak akan tahu lagi bagaimana nasibnya? Mungkin dia sudah mati di tangan Jhon saat itu juga.


Saat Senja kembali melewati mini market tadi. Saat itu juga Daren tengah duduk di terasnya. Senja menoleh ke arah supermarket itu. Namun mobil melintas dengan kencang di sampingnya. Jadi matanya terhalang untuk menatapnya.


Sementara Daren. Dia juga tak sengaja menatap mobil yang melaju tadi. Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali fokus pada ponselnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2