
...****************...
"Kau harus mencarinya Shela. Atau akan ku robohkan rumahmu!" ancam Jhon lagi.
"Jangan Pak. Ku mohon. Lagi pula aku juga sudah tak mengganggu pak Jhon. Jadi bisakah pak Jhon sabar sebentar, berikan aku waktu buat mencari Senja. Tapi aku butuh biayanya, jadi aku harus bekerja sekarang." Shela menghindari Jhon dengan menyibukkan dirinya.
Entah kenapa, Jhon terlihat menyukai tubuh Shela yang baru. Tapi dia menepisnya, Jhon masih menginginkan Senja. 'Anak itu, pasti rasanya sangat legit. Sekali aku menemukanmu, aku tidak akan melepaskanmu lagi,' batin Jhon. Dia masih penasaran dengan keberadaan Senja.
Setelah sampai rumah. Jhon memarahi anak buahnya satu persatu. "Kalian tidak becus. Semua tempat tinggal Daren kamu cari, tapi kalian tidak menemukan Senja? Jika mati, jasadnya pasti ada. Kemana sebenarnya anak itu pergi?"
"Kami juga kesulitan Bos. Tak ada petunjuk apapun. Bos juga bisa melihat sendiri, apartemen pribadi milik tuan Daren saja sudah kita geledah. Namun nihil. Tak ada bekas pakaian wanita satupun di sana," ucap si anak buah.
"Apa Daren menyembunyikan Senja ke luar negeri?" tanya Jhon lagi.
Dia hanya pintar membunuh orang. Tapi dalam berpikir, sepertinya kurang pintar. Bahkan anak buahnya pun sama. IQ nya hanya di atas rata-rata sedikit.
"Bisa jadi Bos," jawab anak buahnya yang lain.
"Kalau begini caranya, kita harus susulin Daren ke sana!"
...****************...
Daren tengah mendatangi senior mafia dari America. Mereka menyebut bahwa Ferdi sebenarnya masih hidup. Ferdi jenius, seperti apa yang Daren pikirkan. Tapi mungkin demi menghindari masalah besar, akhirnya Ferdi memilih tetap sembunyi.
"Ferdi is the answer key to all these problems." (Ferdi adalah kunci jawaban dari semua masalah ini.)
Daren memberi tahu sahabatnya itu. Dan sahabatnya seperti mengerti. Karena setiap masalah pasti ada sumbernya. Dalam hal ini Daren tidak bersalah, makanya dia berani menemui Mr. Aston dari americ.
"No problem. Kita pasti akan membantumu kawan. Ini tidak rumit. Sepertinya kamu punya musuh dari balik selimut," ucap orang itu yang tak lain adalah Mr. Aston.
"Bos, anak buah paman Jhon hari ini terbang dari bandara. Mereka menuju kemari untuk memata-matai Anda," bisik Rehan.
__ADS_1
Daren tersenyum devil. Selangkah lagi, jika Jhon ketahuan membunuh Ferdi... Maka Daren akan bersikap yang sama. Dan yang pasti, semua akses uang dari Daren akan dicabut satu persatu.
"Bagus. Tetap kabari aku. Dan ya, dari tadi aku tidak tenang dengan keselamatan Senja. Apa dia baik-baik saja?"
Di sana Senja merindukan Daren. Di sini pun juga sama. Daren merindukannya. Tangisan dan kemarahan Senja kemarin adalah kenangan terakhir yang ia lihat. Sungguh Daren ingin memberitahunya saat itu juga. Tapi Daren yakin, Senja tidak akan mengerti.
"Dia tidak keluar rumah hari ini Tuan," bisik Rehan pada Daren.
Daren mengangguk. 'Apa dia juga merindukanku? Tapi baguslah, artinya Shela melakukan seperti apa yang aku inginkan. Semoga pas dia diet pas aku sudah pulang. Aku tidak mau paman Jhon memilikinya. Karena tanpa aku di sampingnya, Senja tetaplah milikku,' batin Daren.
Dia ke sini hanya sebuah misi. Kunci jawaban untuk mengumpulkan semua keburukan dari Jhon terhadap Daren. Semua akan mudah, jika satu persatu kejahatan Jhon terbongkar.
...****************...
Usai membuat penelitian. Senja kembali tidak nafsu makan. Seharian ini dia mengurung diri di kamar dan sesekali dia melihat gambar Daren yang ia screenshot dari video tadi. Entah kenapa, setiap menatap wajah Daren, hatinya terasa tenang.
"Harusnya aku membencimu Daren. Jika saat itu kau tak menyelamatkanku, mungkin aku tak akan merasakan hal seperti ini. Ini semua karenamu. Aku tersiksa dan sakit hati gara-gara kamu." Senja mengajak gambar itu berbicara.
Sejak pulang ke rumah, kadang Senja menangis, kadang tertawa sendiri. Bukan karena gila, tapi namanya juga tawanan, pasti psikologisnya sedikit terganggu. Ini memang tidak berbahaya. Lama kelamaan juga bakalan hilang dengan seiringnya waktu. Karena Senja baru pulang, dan ditambah dengan sakit hati. Jadi kenangan pahit itu akan terus membekas dan kadang juga akan menghantui tidurnya.
...****************...
Shela sangat kecapekan. Sejak dia di blacklist dari dunia malam, hidupnya jadi sedikit terlunta-lunta. Entah siapa yang ngeblacklist namanya, hingga akhirnya dia menjadi pelayan restoran. Dengan upah yang sedikit, membuatnya tak seroyal dulu.
'Huft capek banget. Apalagi aku harus kasih jatah makan Senja. Semua gara-gara Daren yang sudah membuat Senja jadi gemuk seperti itu. Coba Senja masih cantik, otomatis Jhon masih mau, dan aku pasti tinggal duduk santai sambil shopping menikmati hartanya Jhon,' batin Shela. Dia tidak bisa membuka mata hatinya. Siapa sebenarnya yang lebih kaya di sini, Daren apa Jhon?
"Hoeek!! Hoeeek!!"
Pelan-pelan Shela mendengar suara orang muntah. "Seperti ada yang muntah. Senja!" Shela segera berlari ke kamar Senja. Dengan cepat dia membuka pintunya.
"Senja! Senja! Kau kenapa?" Shela panik bukan main.
__ADS_1
"Ya Tuhan, gimana ini? Jangan kau buat Senja hamil, ini akan menyulitkan hidupku," gumam Shela sambil mondar-mandir di depan kamar mandinya Senja.
"Hoeeek!"
Senja memuntahkan isi perutnya yang terakhir. Tak keluar apa-apa selain air masam. Ini sudah tengah malam, tapi Senja belum tidur dan makan.
"Sepertinya aku masuk angin gara-gara tak makan. Aku tak boleh sakit. Aku harus minum vitamin," gumam Senja dan segera keluar dari kamar mandi.
"Senja, kau kenapa nak?" Shela mendekat dan memegang lengan Senja.
"Sepertinya aku masuk angin," jawab Senja.
Shela menatap wajah Senja dengan intens. Bahkan dia melihat lengkuk tubuh Senja dari atas sampai bawah. Masih cantik, tapi tak ada kata seksi buatnya.
"Ibu buatkan air hangat untukmu ya. Apa kamu dari pagi belum makan?" tanya Shela lagi. Seharusnya dia malu bertanya seperti itu, karena sedari dulu pola makan Senja tidak teratur saat bersamanya.
"Entah ibu. Rasanya aku tak nafsu makan apapun," jawab Senja lagi.
"Kamu mau makan apa? Biar ibu buatkan untukmu. Ada spaghetti bolognese, omelette, atau sayuran. Oh iya, ada buah apel di kulkas apa kamu mau?" tanya Shela dan Senja sepertinya hanya menginginkan buah.
"Buah apel boleh Bu," jawab Senja dan akhirnya Shela mengupasnya.
"Apa yang kamu rasakan selain ini Senja? Dan sudah berapa lama Daren menidurimu?" tanya Shela saat melihat Senja sudah mengunyah apel yang ia kupaskan.
Senja terlihat berpikir. Cukup lama, dari pertama hingga sekarang. Dan itu sudah hampir 5 bulan.
"Emmm, kurang lebih 5 bulan," jawab Senja dengan polosnya. Dia baru 19 tahun. Tidak mengenal dunia luar. Dan Daren merusak semuanya.
"Astaga!" Shela membekap mulutnya tak percaya.
Senja menoleh dan menatap heran kepada ibunya. "Ibu kenapa?"
__ADS_1
Bersambung...