
...****************...
"Kenapa kau selalu menampakkan wajah marahmu Senja? Kau sudah kalah dariku, harusnya kau terima itu," ucap Daren saat mereka berdua duduk berhadapan.
Sejak foto tadi, Senja jadi berbeda. Sikapnya pada Daren jadi semakin dingin.
Daren menyodorkan piringnya di depan Senja. "Kau tak mau mengambilkan nasi untukku sayang?"
Senja menatap iris biru nan menyebalkan di depannya. "Bukankah kau bisa mengambil sendiri? Aku bukan pelayanmu Daren. Kenapa kau mengurungku?"
Daren mencengkeram piring itu.
Pyarrrr!
Piring itu pecah seketika. Senja terlonjak dan panik saat melihat darah segar mengalir di tangan Daren.
"Katamu kau tak suka menghias rumahmu dengan darah, kenapa dengan dirimu?" Senja panik dan langsung membungkus tangan Daren dengan baju yang ia kenakan.
"Urusan denganmu satu pengecualian. Kau menolakku, maka darah akan berhias di manapun kau berada," ucap Daren. Entah kenapa, dia merasakan sakit hati saat Senja berkata seperti tadi. Daren takut Senja menolaknya, apapun itu. Ketakutan mulai menghinggapi hatinya.
"Kau..." Senja tidak jadi melanjutkan perkataannya. Senja ingin marah. Harusnya dia sudah mati sejak dulu. Semua gara-gara Daren, dia jadi hidup lebih lama dan merasakan kesedihan yang tak pernah ada habisnya.
Senja meninggalkan Daren. Dia ingin marah pada Daren. Ingin mencekik Daren. Tapi hatinya tak tega. Daren menghangatkan tubuhnya, mengisi kekosongan hatinya. Memarahinya, tapi Senja sangat nyaman saat berdekatan dengan Daren.
Daren menatap luka di tangannya dengan biasa. Luka di tangannya tak berarti apa-apa dibandingkan luka di dalam hatinya. Daren paling sebal dengan posisi yang seperti ini. Kenapa dia terjebak dengan posisi yang rumit seperti ini? Daren sendiri secara sadar dia mengaku menyukai Senja. Tapi dia berusaha keras, kalau rasa itu tidak ada. Tapi semakin kesini, rasanya semakin dalam. Ingin menjauh, tapi keadaan terus memaksanya untuk berdekatan.
__ADS_1
Daren membuang nafasnya kasar. Dia harus ke kantor. Jadi dia yang harus mengalah. Perlu diingatkan, mengalah itu bukan sikap kepribadian Daren. Tapi demi Senja, dia rela mengalah atas amarahnya dan keegoisannya.
"Bajumu terkena darah. Bersihkan dan gantilah pakaianmu!" Daren beranjak dari depan Senja.
Senja menahan tangan Daren. Gelenyer aneh langsung menjalar ke seluruh tubuh Daren. Daren menoleh dan ingin memeluk Senja. Tapi ia gengsi. Daren tidak merasa bersalah atas kejadian barusan. Jadi buat apa dia agresif?
"Makanlah Daren! Aku akan obati lukamu. Soal yang lain, biar aku bersihkan lebih dulu."
Entah kenapa, Daren yang keras kepala itu luluh. Ekspresinya tak terlihat. Hanya saja hatinya memang sangat rapuh saat berduaan dengan Senja. Rongga tenggorokannya seperti kekeringan dan butuh air. Tapi di sini Senja bagaikan air yang mampu menghilangkan dahaganya.
Daren menatap Senja yang begitu cekatan membersihkan piring pecah dan beberapa darah yang menetes. Bahkan Senja juga sudah mengganti pakaiannya yang kini dengan kaos oblong berwarna putih.
Senja menatap Daren. Kasihan sebenarnya. Tapi yang ditatap seperti tak ada masalah apapun. Rasanya Senja menyesal telah menaruh rasa iba pada Daren. Senja duduk di depan Daren. Mengambilkan makanan seperti yang Daren inginkan.
"Kau sangat tenang. Apa kau menaruh racun dimakananku?" tanya Daren menginterogasi.
"Gak mau makan? Biar aku buang aja!" Senja mengambil piring yang ada di depan Daren. Namun Daren menahannya.
Senja tersenyum kecil. Daren yang sok cool, jaim. Tiba-tiba bertingkah konyol nan menggemaskan seperti ini. Senja tidak percaya, mafia jahat seperti Daren bisa lembut di beberapa sisi.
Melihat senyuman dari Senja. Daren terenyuh. Jarang sekali Senja tersenyum kalau tidak dalam hal tertentu. Agak canggung, akhirnya Daren mencicipi masakan Senja.
'Dari luar tidak menarik. Tapi rasanya lumayan. Dari mana dia belajar?' batin Daren menilai hasil masakan Senja.
Senja menatap Daren yang melihatnya. "Kau keracunan gak?" cibir Senja.
__ADS_1
Daren menatap tajam ke arah Senja. "Aku gak nafsu makan," katanya.
"Aku mau berangkat. Kau tetap diamlah di sini," ucap Daren. Dia mendekat ke arah Senja. Senja segera berdiri dari kursinya dan mundur. Daren terus maju sampai pinggang Senja menabrak meja.
"Apa yang kau inginkan Daren?" tanya Senja dengan jantung yang berdebar-debar. Dia kesal, tapi Daren selalu seperti ini.
"Jangan kemana-mana aku bilang," ucap Daren. Dia menyentuh dagu Senja. Reflek Senja memejamkan matanya.
Daren mengambil ponsel yang ada di belakang Senja. "Tidurlah. Jangan pernah mencoba kabur. Handphone mu ada di tanganku," ucap Daren dan Senja membuka matanya kecewa.
'Tumben dia tidak semesum biasanya,' batin Senja. Apa benar dia berharap dicium oleh Daren?
...****************...
Sedari tiba di kantor sampai pulang. Senyum Daren tidak pernah pudar. Dia terus membayangkan betapa indahnya kenangan semalam saat bersama Senja. Senja bahkan sudah mulai mengimbangi permainan mereka tanpa Daren minta. Daren suka, dan Daren ingin hal ini tak akan pernah sirna. Daren akan menghabiskan malam-malamnya bersama Senja. Tidak perduli dengan tugasnya yang lain. Yang penting dia akan berusaha membuat Senja hamil.
Keluar dari kantor. Daren melihat Shela yang mondar-mandir seperti tengah menunggu seseorang.
"Bos! Ibunya Senja ingin menemuimu. Sedari tadi dia menunggu Anda. Tapi Anda terlihat sibuk, jadi maafkan saya kalau baru saya kasih tahu," ucap Ferdi tak enak. Bosnya sedang berbunga-bunga, jadi dia takut mengganggunya.
"Apa yang dia inginkan? Bilang aku tidak ada waktu untuknya," ucap Daren sambil berjalan mengambil mobilnya. Mobil beserta supirnya sudah siap, namun Daren ingin mengemudikan mobilnya sendiri. Dia tidak ingin orang lain mengetahui keberadaan Senja. Termasuk ibunya.
"Di mana Bosmu? Apa dia adalah Bosmu?" teriak Shela tidak terima. Dia belum pernah bertemu Daren sebelumnya. Jadi dia tidak tahu, sosok Daren itu seperti apa. Jeleklah? Kerenkah? Diapun juga penasaran.
"Maaf, Bos saya sedang sibuk. Mungkin lain waktu." Ferdi meninggalkan Shela.
__ADS_1
Shela yakin Senja ada bersama Daren. Tapi apa yang akan ia lakukan selain menuntut Daren? Bahkan Jhon juga belum melakukan apa yang ia suruh? Jika Senja belum bersama Jhon. Maka Daren masih akan hidup berkeliaran.
Bersambung...