SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Familiar


__ADS_3

"Kakek? Boleh aku bertemu dengannya?" tanya Daren pada Ferdi.


Ferdi tampak berpikir. "Sebentar, biar saya bertemu dengannya dulu," ucap Ferdi.


Baru kali ini Daren dibuat menunggu oleh anak buahnya sendiri. Tapi tidak masalah, Daren sudah berjanji ingin membewa penolong Ferdi pulang dan memfasilitasinya tempat yang layak.


"Kakek. Temanku datang. Dia ingin bertemu dengan kakek, apa kakek bersedia?" tanya Ferdi pada kakek itu.


"Tidak, kepalaku pusing." Si kakek memegangi kepalanya. Semenjak mendengar nama Daren tadi, otaknya seperti mengingat sesuatu. Tapi sangat kesulitan. Dan sekarang berujung pusing yang tiada tara.


"Kakek, kau tidak apa-apa?" tanya Ferdi khawatir.


"Bos, sepertinya kakek ini tengah tidak sehat. Bisakah yang lainnya menolongku?" tanya Ferdi minta tolong.


"Re, bantulah Ferdi! Kita bawa ke gubuknya dulu. Lalu kita langsung bersiap menyeberangi lautan menuju ke gunung seberang," kata Daren memberikan instruksi.


"Baik Bos."


Saat dievakuasi dari tempat rahasianya yang bawah tanah, wajah kakek itu tak bisa dikenali. Rambutnya gondrong, bahkan gondrong lagi. Melainkan sangat panjang dan gimbal. Tak terawat sama sekali. Maklum, di sini tidak ada gunting atau alat pemotong lainnya. Bahkan pakaian kakek itu hanya dari daun Rumbia.


'Kakek? Dari kulitnya dia masih terlihat muda. Sepertinya dia tidak pantas dipanggil kakek,' batin Daren. Daren sangat salut pada kakek itu. Karena di tempat seperti ini, dia sanggup hidup sendirian tanpa cahaya apapun di malam hari. Tapi kenapa kakek ini bisa membuat persembunyian di bawah tanah?


Daren jadi teringat masa kecilnya, yang selalu bersembunyi di bawah tanah agar terhindar dari serangan musuh ayahnya.


"Mungkin aku harus berguru padanya. Minta diajarkan cara membuat tempat rahasia di bawah tanah. Karena selama ini aku belum pernah bisa membuatnya," gumam Daren.


"Sambil menunggu kakek siuman, lebih baik kau makan dulu Fer. Aku melihatmu begitu kasihan. Makan apa saja kau selama tinggal di sini?" tanya Daren. Dia tak bisa membayangkan betapa sulitnya mereka hidup di hutan seperti ini.


"Aku makan apa saja, seperti apa yang kakek makan," jawab Ferdi.


"Bos..." Ferdi ingat tentang rekaman yang ada di ponselnya.


"Makanlah dulu, lalu kita bersiap-siap untuk kembali. Karena tempat ini tidak nyaman untuk kita," kata Daren. Dia sudah terbiasa hidup enak, tapi Daren masih perduli sesama. Disuruh berbuat sadis, dia juga bisa melakukannya. Tapi semua itu sesuai kebutuhan jika diperlukan.

__ADS_1


"Kau penjahat kelas kakap, tapi kau masih bisa bersikap sedemikian rupa pada bawahanmu Daren," kata sahabatnya Daren mengacungkan jempol.


Daren tersenyum. Semenjak mengenal Senja, darahnya yang sempat mendidih itu tiba-tiba menghangat dalam kurun waktu yang tak ditentukan. Semua tanpa Daren sadari, dia bisa berbuat seperti ini.


"Ah, ini manusiawi brother. Oiya, beristirahatlah, kau pasti kecapekan," kata Daren sambil menepuk pundak sahabatnya.


"Kau memikirkan orang lain, tapi kau sendiri tak memikirkan dirimu. Memangnya kau sudah makan? Dan hari sudah mulai malam, apa kita tetap nekad untuk berlayar malam ini?" tanya sahabatnya Daren. Karena kalau tetap nekad, dia ingin minum obatnya supaya tetap kuat melek.


"Sepertinya langsung saja. Kalian kalau ada yang mau beristirahat silahkan! Karena kita menggunakan 2 perahu yang berbeda." Sambil menunggu si kakek sadar, sepertinya tak masalah bagi Daren untuk beristirahat sejenak. Tapi dari tadi dia tidak nyaman. Banyak hal-hal yang membuatnya teringat masa lalu, teringat dengan Senja. Tapi tiba-tiba...


"Hoek!"


"Ya ampun, ada apa dengan perutku?" Daren memegangi perutnya yang mendadak mual.


"Bos, jangan-jangan Anda keracunan buah tadi," ucap Rehan memberitahu.


"Keracunan?" Daren berpikir. 'Bisa jadi sih ini racun dari buah tadi. Tapi kenapa rasanya sangat lezat?' batin Daren merasa aneh.


"Apa kau tadi makan buah yang kau berikan padaku?" tanya Daren pada sahabatnya. Karena Daren curiga, sahabatnya itu dari tadi tak mengalami hal yang aneh.


"Apa Anda serius?" Rehan sedikit menuduh.


"Apa kau mau tahu? Sebentar, nanti kalau sudah sampai di markas, aku akan makan buah itu di depanmu," tantangnya.


"Buah apa yang kalian ributkan?" tanya Ferdi menengahi.


"Buah kecil rasanya sangat masam, berbentuk bulat," terang sahabat Daren.


"Sepertinya aku pernah makan buah itu. Itu tidak beracun Bos, atau mungkin Anda tidak cocok dengan buahnya. Jadi kalau melihat buah itu, jangan dimakan lagi," saran Ferdi.


Daren diam saja. Padahal niatnya ingin memakan buah itu lagi. Tapi kenapa jadi dilarang oleh Ferdi?


"Argh!" Kakek itu terbangun sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Apa kakek tak apa-apa?" Ferdi mendekat. Sementara Daren, dia menatapnya dari kejauhan. Sorot mata Daren tertangkap dengan pasti oleh si kakek.


'Daren?'


Daren memicingkan matanya. 'Kenapa sorot mata dari kakek itu tak asing denganku? Siapa dia?' batin Daren aneh.


"Ehm, karena kakek sudah siuman... Lebih baik kita semua menuju ke tenda, lalu menuju ke tepi laut. Jika dalam gelap merasa kesulitan, mungkin terpaksa kita bermalam di sini malam ini," kata Daren.


Semuanya hanya diam dan menurut dengan ucapan Daren. Tak seorangpun membantah termasuk sahabatnya.


"Fiuh, akhirnya malam ini aku kembali tidur dengan banyak nyamuk," gumam Daren. Dia menuju ke tendanya bersama yang lain. Sementara kakek tua tadi digendong oleh Ferdi.


"Apa saya tidak masalah ikut dengan kalian?" tanya kakek tua itu.


Daren yang mendengarnya langsung menoleh. "Karena kakek sudah menyelamatkan temanku, maka kakek berhak ikut kami. Dan ya, apa kakek tidak bahagia bisa pulang bersama kami? Jika kakek tidak punya keluarga, jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan rumah untuk Anda," kata Daren. Terlihat kakek ini menatap sendu ke arah Daren.


'Apa dia benar Daren? Dia tumbuh dewasa dengan baik. Tapi kenapa dia tidak mengenaliku? Apa aku sudah berubah sedrastis itu?' Kakek itu membatin.


"Oh ya, sudah berapa lama kakek tinggal di hutan ini?" tanya Daren. Dia masih penasaran dengan hidup si Kakek. Karena diperkirakan, kakek ini tumbuh puluhan tahun.


"Aku tak tahu. Karena di sini tidak ada kalender. Di setiap hariku, aku hanya berharap tidak ada hewan buas yang memakanku," katanya.


"Beruntung. Sampai sekarang Anda masih selamat," ucap Daren. Dia menatap kembali mata kakek itu, lagi-lagi semuanya terasa familiar.


"Oh ya, apa kakek punya keluarga?" tanya Daren. Dia masih ingin tahu tentang kakek tadi, siapa tahu dia bisa memulangkannya.


"Seharusnya ada. Tapi aku tidak tahu, keluargaku... istri dan anakku masih hidup atau tidak," katanya.


"Istri dan anak?" gumam Daren. 'Ck anak. Mikir apa sih aku yang berharap Senja hamil,' batinnya.


Dan karena hari sudah gelap, Daren tak melihat ada tato di punggung si kakek itu.


Sebenarnya, siapakah kakek yang telah menyelamatkan Ferdi itu?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2