SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Shela Merencanakan Sesuatu


__ADS_3

Shela beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan meninggalkan Senja sendirian.


"Ibu sangat aneh. 5 bulan? Ya, waktu yang cukup lama. Dan sampai sekarang aku belum mempertemukan ibu dengan Daren. Hahaha, gimana lagi. Daren juga sudah tak ada di sini," gumam Senja, dia tertawa sendiri sambil mengunyah apel tadi.


"Emm, tumben apel ini rasanya sangat enak. Apa di dalam kulkas masih ada ya?" Senja mencoba berdiri, namun perutnya terasa berat. "Aku baru makan satu apel, masa sih sudah kenyang?" herannya sambil memegangi perutnya. Tiba-tiba perutnya berkedut.


"Ada apa dengan perutku? Aneh," gumam Senja. Dia bersikap cuek dan berjalan menuju ke kulkas. Membukanya lalu berjongkok.


"Senja!" Shela sudah berdiri di sampingnya. Senja yang masih berjongkok langsung mendongak ke arahnya.


"Ada apa lagi Bu?" tanya Senja sedikit jengah.


"Minumlah ini, ini obat yang manjur untuk menyembuhkan masuk angin." Shela memberikan dua butir obat.


Senja berdiri dan menerima obat itu. "Bukankah obat masuk angin itu berbentuk cair? Kenapa ini pil?" tanya Senja. Setidaknya dia tidak bodoh untuk hal seperti ini.


"Minumlah Senja!" paksa Shela sambil memberikan obat untuk masuk ke mulut Senja. Tapi dengan tak sengaja, Senja justru menjatuhkan obat itu. Dan menyisakan sebutir pil di tangannya.


"Minum dan telan!" paksa Shela dan akhirnya sebutir pil itu masuk ke dalam mulut Senja.


'Baguslah. Semoga obatnya cepat bereaksi. Biar calon bayi yang ada di perut Senja hilang. Aku tak sudi punya cucu dari anak mafia itu. Tidak akan sudi. Dan lagi, siapa yang akan mau dengan perempuan yang hamil duluan? Biarkan bayi itu keguguran, lalu Senja akan langsing lagi, dan Jhon pasti akan menikahinya,' batin Shela. Dia tengah melakukan hal yang salah seumur hidupnya.


...****************...


Pagi harinya...


'Kenapa tak ada reaksi apa-apa? Apa obat itu tidak berfungsi?' Shela mondar-mandir di dapur. Pil yang ia berikan tak bereaksi apapun untuk Senja.


"Ibu masak apa hari ini?" Senja mengucek matanya. Dia terlihat masih mengantuk.


"Ini ada sup ayam. Senja mau makan apa?" tanya Shela. Jika usahanya ini tidak berhasil, dia akan mencari obat yang lainnya.


"Gimana masuk anginnya? Udah baikan?" tanya Shela lagi.


"Rasanya aku cuma ingin buah apel saja Bu. Dan ya, obatnya sangat manjur. Mualku hilang dalam semalam," ucap Senja dengan polos.


'Astaga. Kenapa bayinya sangat kuat? Aku harus cari obat yang ampuh. Biar anak mafia itu tak dilahirkan,' batin Shela dengan geram.

__ADS_1


"Oh buah apel. Ibu sedang sibuk, kau bisa mengupasnya sendiri," kata Shela. Dia tengah bingung mencari ramuan apa yang pas buat Senja, terutama biar Senja tidak curiga.


"Baiklah Bu. Aku akan memakannya di kamar," ucap Senja. Dia mengambil apel itu. Mencucinya lalu dia bawa ke kamar.


"Daren, apa kabarnya? Apa dia makan dengan baik? Semoga dia tidak menjadi pembunuh lagi. Aku takut nyawanya terancam. Sedangkan aku tak bisa melindunginya," gumam Senja. Dia tidak jadi memakan apelnya. Dia kembali menangis dan menatap wallpaper laptopnya yang bergambar wajah Daren.


"Daren, aku rasa aku mencintaimu," ucap Senja. Dia tidur tengkurap dan tiba-tiba perutnya terasa sesak.


"Apa aku makin gendut? Perasaan dari kemarin aku tak makan nasi," gumam Senja merasa aneh. Badannya sudah terasa pegal-pegal tak nyaman.


"Apa ini akibat kebanyakan tidur? Ah tidak mungkin. Biasanya juga gini, tapi tak pegal-pegal kok." Jika Senja bingung dengan perubahan yang ada pada tubuhnya.


Berbeda dengan Shela yang bingung mencari obat yang cepat untuk menggugurkan kandungan. Dan akhirnya dia punya ide. Shela menyuntikkan cairan bening ke semua buah apel yang ada di kulkas.


"Mumpung Senja doyannya apel. Jadi ku suntikan ke sini saja, biar lebih cepat usahaku," ucap Shela. Dengan buru-buru dia menutup kulkasnya.


Usai masak, dengan santainya Shela berpamitan pada Senja. "Ibu berangkat dulu ya Senja. Buah apelnya di kulkas masih banyak. Makan saja semuanya. Jika ada apa-apa, kau bisa menghubungi ibu dengan telepon rumah," pamitnya.


Dan tanpa curiga. Senja mengiyakannya. "Hati-hati ibu," jawabnya.


"Sebenarnya Daren meninggalkanku banyak uang. Tapi aku tak bisa memberikannya pada ibu. Mungkin jika ibu tahu dengan uang itu, pasti ibu akan mempergunakannya buat kepentingan ibu sendiri," gumam Senja sambil menatap dompet hitam yang diberikan Daren untuknya.


...****************...


Jadi rata-rata semua orang menghormatinya. Beruntung sekali, dulu dia pernah belajar di sekolah hukum. Jadi meskipun dia penjahat, dia masih dihormati oleh orang banyak.


"Bos, anak buah paman Jhon telah sampai di sini. Dia mengawasi gerak-gerik Anda," bisik Rehan dengan pelan.


"Biarkan saja. Pura-pura tidak tahu," jawab Daren sambil mengumbar senyum untuk klien yang ada di depannya.


"Jadi bagaimana mister, apa Anda puas dengan usulan saya?" tanya Daren. Dia tengah berbicara penting dengan orang yang minta tolong dengannya. Ya, setidaknya Daren adalah pengacara internasional. Dan dilain itu, dia juga menerima jasa membunuh dan bisnis jual beli barang terlarang. Hanya saja, akhir-akhir ini dia sudah tidak menjalankan jasa membunuh lagi. Semua karena Senja dan juga kematian Mr. Louis.


"Saya sangat beruntung kenal dengan Anda. Kinerja Anda luar biasa Mr. Daren. Semoga dengan kehadiran Anda, kasus yang dialami anak saya segera berakhir." Seorang bule Amerika berdiri dan membungkuk. "Saya undur diri."


"Thanks mister. Sampai jumpa esok di persidangan," jawab Daren. Dia menoleh ke belakang, ternyata anak buah Jhon lebih cepat datang dibandingkan dengan yang diperkirakan oleh Daren.


"Antar aku markas," perintah Daren pada Rehan.

__ADS_1


Di luar restoran.


"Apa ada yang menggangumu?" tanya sahabatnya.


"Tidak. Hanya anak buah paman Jhon. Dia tengah mengikutiku," ucap Daren dengan perlahan namun bisa didengar.


"Kenapa tidak kamu eksekusi saja?" tanya sahabatnya itu.


"Tidak! Aku tidak bisa membunuh orang di tempat keramaian," ucap Daren. Sebenarnya bukan hanya alasan itu saja. Daren masih ingat malam itu, Senja memintanya untuk melakukan hal jahat di sini. Dan niatnya dari awal bukan kejahatan, tapi mengungkap kejahatan Jhon yang sebenarnya.


"Baiklah. Ayo kita jebak mereka. Dari sini ada gudang kosong. Dan warga di sini jarang ke sana," ajak sahabatnya Daren. Mau tidak mau Daren pun mengikutinya.


Mungkin hanya menjebak, tidak membunuhnya tidak masalah.


Dan dengan bodohnya, anak buah Jhon mengikuti Daren begitu saja. Hingga mereka sampai di gedung bertingkat. Gedung itu gedung lama, namun sudah tak terpakai.


"Bagus Daren. Dia mengikutimu ke sini." Sang senior mafia terlonjak girang. Karena mangsanya berhasil terperangkap.


Sementara itu...


"Daren pergi ke sebuah gedung tua. Perkiraan saya, di dalam sana ada Senja yang dia sembunyikan," lapor si anak buah Jhon pada Jhon.


"Bagus, terus ikuti. Jika kau berhasil menemukan Senja, upahmu akan naik 20 kali lipat."


Si anak buah itu mata duitan juga rupanya. Hingga dia tak menyadari, kalau sekarang Rehan sudah berdiri tak jauh darinya.


"Cepat habisi dia Daren!" perintah sahabatnya.


Namun Daren diam saja.


"Daren!" teriak sang sahabat.


"Biarkan saja aku menahannya di sini. Aku ingin dia berbicara jujur," kata Daren. Lagi pula, anak buah Jhon hanya sendirian di sini. Jadi menginterogasinya tidak akan salah.


"Padahal Bos bisa membunuhnya, kenapa tidak dilakukan?" tanya Rehan heran dengan sikap berbeda dari Daren.


Daren tak menanggapinya Rehan. Dia memilih mengeluarkan pistolnya dan ditujukan kepada anak buahnya Jhon.

__ADS_1


"Diam di sana, atau aku akan melepaskan pelatuknya!" ancam Daren dan si anak buah mengikuti perintahnya.


Bersambung...


__ADS_2