
...****************...
"Firasatku tentang Senja tidak karuan. Ada apa dengan anak itu? Padahal paman juga belum mengetahui keberadaan Senja," gumam Daren. Beberapa hari ini tidurnya tak nyenyak. Baru sebulan dia meninggalkan Senja, rasa rindu itu semakin membuncah dan rasa ingin berjumpa sangat kuat. Namun Daren masih punya tugas di sini. Usai memenangkan kasus perkara pembunuhan dan menemukan jasad Ferdi. Maka dia akan pulang ke Indonesia nanti.
Sementara itu. Sudah sebulan ini Shela selalu gagal mengobati Senja. Karena anak dalam kandungan Senja tetap tumbuh. Bahkan kini perut Senja sudah terlihat membuncit.
"Ibu, kenapa perutku tiap hari semakin membengkak ke depan? Apa ibu salah memberiku obat?" tanya Senja. Akhir-akhir ini Senja juga curiga. Tiap malam Shela selalu memberikannya obat yang tak Senja tau namanya.
"Ah itu firasatmu sayang, dan ya... ibu bawakan makanan lezat untukmu. Makanlah!" Shela meletakkan kardus kotak berlambangkan warna merah. Itu nama sebuah toko makanan terkenal di Indonesia.
Tentu Senja menerimanya dengan senang hati. Dia belum diijinkan keluar, jadi belum bisa menikmati udara segar di luar sana.
"Wah, sepertinya ini sangat lezat," ucap Senja dengan semangat.
"Makanlah, biar kamu ada tenaganya," ucap Shela dengan memamerkan senyum bahagia.
'Makanlah yang banyak. Semakin banyak yang kamu makan, maka semakin cepat anak dalam kandunganmu mati,' batin Shela dengan licik. Shela masih belum menginginkan cucu. Apalagi cucu itu berasal dari Daren. Iya kalau Daren mau mengakui, kalau tidak? Bisa celaka hidupnya. Semua orang akan mencibir atas nama keluarganya yang semakin tidak jelas semenjak kematian suaminya. Cukup Shela yang tak jelas, kalau bisa Senja jangan. Karena Shela ingin Senja menikah dengan Jhon. Lalu di saat Jhon mati, semua hartanya akan jatuh ke tangannya. Ditambah lagi Daren juga mati, jadi hidupnya akan kembali bebas tanpa hambatan apapun.
"Auh! Perutku sakit Bu!" Senja berteriak. Dia mencengkeram perutnya dengan kuat.
"Kamu kenapa Senja?" Shela langsung panik. Namun di dalam hatinya dia kesenangan. Akhirnya usahanya selama ini membuahkan hasil.
"Tak tahu Bu. Habis makan nasi yang ibu berikan, perutku langsung mules. Ibu tak memberikan sesuatu kan dimakananku?" tanya Senja curiga.
__ADS_1
"Ah eng mana ada. Obat apa? Ini hanya makanan," ucap Shela berkilah. Dia ketakutan jika ketahuan oleh Senja.
"Sakit banget Bu. Senja tak tahan!" Senja langsung berlari ke kamar mandi. Dia mencoba buang air besar. Tapi yang keluar adalah darah.
"Darah? Kapan terakhir aku menstruasi?" gumam Senja. Dia baru sadar. Sejak tinggal di rumah Daren, dia tidak mengalami menstruasi sekalipun. Terakhir dia menstruasi sebelum dia terjebak di gudang bareng Daren. Saat itu Daren sakit dan melakukan hubungan itu di gudang.
"Oh tidak! Apakah ini pertanda aku hamil? Tapi darah ini? Tidak, aku harus periksa. Apakah aku sudah hamil selama itu? Aku harus cari tahu," gumam Senja sambil berlari keluar kamar.
"Gimana Senja? Apa yang terjadi?" tanya Shela pura-pura panik. Dia berharap anak yang dikandung oleh Senja tak akan selamat.
"Darah Bu. Darah keluar, dan aku ingat... sudah 4 bulan aku tidak menstruasi," ucap Senja dan Shela terkejut bukan main.
Hubungan yang dilakukan oleh Senja dengan Daren pertama kalinya saat Boy memberikan obat perangs*ng. Lalu ke dua saat di gudang. Dan yang ke 3 saat Senja dikurung Daren dan itu tak terhitung berapa kali mereka melakukan. Yang jelas Daren mengurung Senja selama 3 bulan, dan pertama kali mereka berenak-enak sudah 5 bulan lamanya. Jadi dari awal sampai terakhir mereka begituan selama 5 bulan. Dan sekarang adalah bulan ke 6. Mungkinkah Senja hamil?
"Tidak Bu! Aku tidak mau! Tolong panggilkan aku dokter atau apapun. Tolong Bu, jika aku hamil... aku tidak mau anak ini keguguran," ucap Senja dan Shela terbelalak.
"Kau gila Senja. Anak ini anak Daren, dan kau ingin mempertahankannya?" tanya Shela tak setuju.
"Ibu, Daren telah menghamiliku. Dia harus tahu ini. Jika Daren tidak mau mengakuinya, biarkan aku yang akan merawatnya," ucap Senja dengan yakin.
"Ya Tuhan. Senja, kau itu masih muda. Tahu apa kau dengan bayi? Jangan besarkan anak ini Senja. Gugurkan dia!" perintah Shela. Kali ini dia blak-blakan.
Senja langsung memicingkan matanya. "Apa selama ini ibu tahu, kalau aku sebenarnya hamil? Makanya ibu selalu menyuruhku meminum obat tiap malam. Jawab aku Bu? Obat apa yang ibu berikan padaku selama ini?" tanya Senja dengan murka.
__ADS_1
Bodohnya dia, yang tidak paham dengan kehamilannya. Siapa yang mengira hamil, jika tidak ada tanda-tanda kehamilan. Adapun hanya sesaat seperti orang masuk angin.
"Aku tak mau tahu. Sekarang ibu antarkan aku ke dokter atau ibu belikan testpack? Dan ya, obat vitamin. Karena aku yakin, selama ini ibu telah memberikan obat yang berbahaya untukku," ucap Senja lagi. Dia tengah terkejut ditambah kesal dengan sikap ibunya yang begitu keterlaluan.
"Tidak Senja. Biar ibu belikan kamu alat tes kehamilan. Tunggu di sini," ucap Shela.
Setelah kepergian Shela. Senja menangis. Dia kembali menatap dirinya di cermin. Ternyata yang berkedut di perutnya adalah bayinya.
"Daren, bagaikan jika aku hamil? Apa kau akan mengakuinya sebagai anakmu?" tanya Senja pada cermin. Dia menitikkan air matanya. Antara bahagia dan sedih. Namun sampai sekarang Daren juga belum kembali.
Beberapa menit kemudian Shela datang. "Ini alat yang kau minta Senja? Dan ya, apa darahnya masih keluar? Jika masih, mungkin kau tengah keguguran," ucap Shela memberi tahu.
"Stop! Jangan bicara seperti itu terus ibu. Aku tidak mungkin keguguran. Anak ini harus selamat, biar Daren melihatnya," ucap Senja lagi. Dia terlanjur cinta sama Daren, jika Daren tak mau bertanggung jawab. Setidaknya Senja mengandung anak dari orang yang ia cintai. Itu sudah kebahagiaan tersendiri buatnya.
Senja pergi ke kamar mandi. Dia melihat ada bercak darah di CD nya. Tapi syukurlah, perutnya sudah tak mulas lagi. Setelah berganti dalaman, Senja langsung mengetes sesuai instruksi. 5 menit menunggu, dua garis merah terpampang nyata di sana.
"Oh God!" Senja menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih memegang alat kecil berbentuk pipih itu.
"Daren, aku hamil. Ini anak kita Daren. Kapan kau akan pulang? Atau kau sengaja memulangkan diriku, supaya kau bebas tanggung jawab? Daren, aku akan menuntutmu atas kehamilanku," gumam Senja. Dia menangis. Dia tak menyangka kalau selama ini dia tengah hamil.
"Maafkan mama. Setelah ini mama janji akan merawatmu dengan baik. Semoga obat-obatan yang mama minum selama ini tidak berpengaruh padamu," ucap Senja sambil mengelus perutnya.
Bersambung...
__ADS_1