
Seminggu berlalu.
Seiring berjalannya waktu, Senja mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Tidak ada yang terlalu menganggapnya seperti babu lagi. Sebab Miss Shasa sedang galau memikirkan Daren yang belum menampakkan batang hidungnya.
Senja pergi ke ruang rapat. Hari ini Senja memang harus membuat laporan untuk tugas di kuliahnya. Seputar hukum dan cara penyelesaian. Mengenal pasal-pasal dan hukuman untuk pelanggar hukum.
Dengan seksama Senja mendengarkan semua obrolan di dalam ruangan ini. Sungguh Senja seperti pengacara senior. Dia bisa masuk kesini atas dukungan J yang membantunya memalsukan beberapa prestasi dan sebagainya. Kalau tidak seperti itu, pasti sebelum daftar pun dia akan tertolak. Tapi Daren sangat licik, dari awal dia sudah mengetahui identitas Senja. Jadi bisa saja ini adalah jebakan lain.
'Argh!' Senja menggelengkan kepalanya. Kenapa tiba-tiba dia berpikiran tentang Daren.
Sementara itu...
Meskipun seminggu telah berlalu. Perang antara Daren dan Alex masih berlanjut. Padahal Alex hampir tumbang, tapi dia masih belum menyerah. Daren tidak bisa mengatasi Alex sendirian. Akhirnya dia minta bantuan Rehan. Rehan si gercep, langsung datang dan siap membantunya.
"Bagaimana Bos? Anda terluka parah. Lebih baik Anda beristirahat sementara waktu!" suruh Rehan khawatir. Luka di tangannya benar-benar mengkhawatirkan. Karena ini negara tetangga. Jadi Daren kurang persiapan yang matang.
"Tidak Re!! Aku ingin menghabisi Alex dengan tanganku sendiri. Aku menyuruhmu kesini, untuk melindungiku dari serangan klan musuh." Daren melilitkan kasa yang sudah terbalutkan obat penahan sakit di lengan kirinya.
"Apa ini ada campur tangan dari paman Jhon?" tebak Rehan. Namun Daren diam saja.
"Oiya Bos, apa Anda sudah tahu berita tentang paman Jhon?" tanya Rehan. Dia duduk di depan Daren sambil mengisi peluru-peluru ke beberapa pistol. Kedatangan Rehan sangat tepat, senjata yang dibawanya sudah lebih dari cukup dengan apa yang dibutuhkan oleh Daren.
"Jangan bahas hal lain di sini. Kita cukup fokus ke Alex, jangan menambahkan bebanku!" ucap Daren dengan rahang mengerat. Ada amarah yang tersirat di dalam sana. Tapi sepertinya Daren enggan mengeluarkan.
"Maafkan saya Bos!!" Rehan menunduk merasa bersalah. Dia tidak tega melihat lengan Daren yang terluka parah. Tapi kalau Rehan bertugas sendirian, sepertinya dia juga tidak akan sanggup.
"Bersiaplah! Sejam lagi mereka akan datang ke sini. Kau cukup selalu berada di belakangku. Karena dia bilang cuma datang berdua. Tapi tetap kerahkan anak buah kita, buat jaga-jaga!" Daren berdiri sambil memegangi lengannya. Sepertinya luka di lengannya infeksi. Tapi dia harus tetap kuat dan selamat. Demi mencari tahu siapa orang yang telah membantu Alex.
__ADS_1
Rehan mengangguk. Dia memperhatikan Daren. Mungkin orang biasa akan pingsan menerima timah panas seperti yang Daren rasakan. Hanya saja Daren manusia yang kebal akan segala luka di fisiknya.
Sejam berlalu. Alex masih belum terlihat. Daren mengamati sekelilingnya sambil berwaspada. Tapi masih belum ada tanda-tanda akan kehadiran Alex. "Penipu! Sepertinya dia telah membohongiku!" umpat Daren kesal. Padahal dia sudah menantikan kemenangannya. Tapi sang musuh bebuyutan telah berdusta.
"Periksa info berita terkini! Aku curiga ada hal ganjil di sini!" perintah Daren. Dia masih berhati-hati, takut kalau ada tembakan yang menyerangnya secara tiba-tiba.
"Alex ada di sebuah gedung! Dan setelah itu tak ada pergerakan sedikit pun!" ucap Rehan.
"Buka ponselku! Apa ada informasi lain?" Daren melemparkan ponselnya ke belakang dan ditangkap dengan sigap oleh Rehan.
"Alex menemui seseorang. Tak berapa lama orang itu pergi sambil membawa sebuah senjata," terang Rehan dan Daren sudah menangkap teka-teki itu.
"Sudah ku duga. Ada yang bermain curang di sini. Mereka takut kedoknya akan terlihat. Makanya dia menemui Alex lebih dulu buat menghilangkan jejak," ucap Daren. Dia seperti memikirkan sesuatu.
"Kita ganti misi Re! Kita cari komplotan klan seberang yang telah membantunya," kata Daren dan Rehan hanya setuju saja.
"Apa Anda yakin Tuan?" tanya Rehan memastikan.
"Bos! Alex meninggal!" ucap Rehan dengan wajah yang terkejut.
Daren terlihat biasa saja. Dia sudah tahu ini. Pelaku utama telah membunuh Alex lebih dulu, agar Daren tidak pernah tahu dalang yang sebenarnya. 'Bagus!! Ternyata kau mencari mati,' batin Daren sambil tersenyum devil.
...****************...
"Ibu! Kenapa setiap malam ibu jadi seperti ini?" Senja memarahi ibunya untuk yang pertama kalinya. Senja geram, setiap malam ibunya pulang dengan bau alkohol yang menyengat. Senja hanya takut ibunya salah pergaulan.
"Ini bukan urusanmu! Kau cukup diam dan terus lanjutkan dendamku pada anak mafia itu!" kata Shela. Dia terhuyung dan hampir jatuh setiap berjalan. Namun kali ini Senja enggan membantu. Dia menangis pelan, berlari ke kamar dan mencoba menghubungi J.
__ADS_1
"Om! Om ada di mana?" tanya Senja yang tidak mau berbasa-basi.
"Om lagi kerja Senja. Kenapa?" tanya J. Dari suaranya J seperti tidak tahu menahu tentang ibunya. Tapi Senja tidak tinggal diam. Kecurigaannya akan hubungan ibunya antara dengan laki-laki yang bernama Jhon atau om J yang ia kenal selama ini.
"Sudah berapa lama om tidak bertemu dengan ibu?" tanya Senja lagi mengorek informasi.
"Barusan om ketemu sama ibumu."
...****************...
Daren tersenyum penuh kemenangan. Hari ini dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Hampir 10 hari tidak bertemu, apa kabarnya Senja?
"Langsung ke kantor saja nanti!" ucap Daren saat masih di dalam jet pribadi milik Mr Louis.
Perjalanan yang jauh, lengan masih sakit. Namun wajah Daren terlihat ceria. Dia menyandarkan punggungnya di kursi sambil menatap jendela. Tak berapa lama, mata itu terpejam. Beristirahat tenang, setidaknya seperti itu.
Berjam-jam lamanya. Akhirnya jet itu mendarat sempurna. Daren dan para anak buahnya selamat. Meskipun anak buahnya yang lain banyak yang tumbang saat melawan Alex.
"Bos! Apa tidak langsung ke rumah sakit saja. Lukamu terlihat semakin parah," ucap Rehan. Dia khawatir peluru yang mengenai lengan Daren ada racunnya. Jadi lebih baik cepat mendapatkan perawatan dari pada semakin parah.
"Aku masih kuat Re. Jangan mengkhawatirkanku!" katanya.
Keduanya berjalan dan memasuki mobil yang dikirimkan oleh ajudan yang lain. Rehan dan Daren duduk bersebelahan di bagian belakang.
"Cepatlah!" perintah Daren. Dia sangat tidak sabar untuk melihat reaksi Senja saat bertemu dengannya. Perjuangannya masih 2 Minggu lagi untuk membuat Senja menyerah. Tapi Daren pastikan, secepatnya Senja akan kalah darinya.
I Miss you, but i hate you.
__ADS_1
Daren tersenyum tipis. Tapi di setengah pikirannya, dia ingin marah. Mungkinkah bisa?
Bersambung...