
...****************...
"Daren, putriku..." Mr. Louis memegangi jantungnya yang semakin hari kian melemah.
"Tolong temukan pembunuhnya Daren. Ku mohon..." pinta Louis yang terlihat tersiksa.
"Kemarin aku memberikannya pistol buat dia. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi firasat ku sudah mengatakan hal yang buruk. Apa seorang wanita telah membunuhnya?" tanya mister Louis itu pada Daren.
Fiuh. Daren menghembuskan nafasnya. "Tenanglah mister. Aku akan menemukan pembunuhnya. Aku pastikan apa yang kau inginkan pasti ku penuhi," ucap Daren. Dia jadi ingin membiarkan Senja tetap hidup dan menjadikannya budak nafsunya.
Rasanya aku sudah tidak sabar membawanya ke apartemenku.
...****************...
Senja kembali berurusan dengan polisi. Entah ada keganjalan apa, semua pengacara dari Daren memihak padanya. Padahal yang kemarin-kemarin ada pria bernama Jhon ingin memilikinya. Namun jika Daren yang turun tangan, tandanya dia siap menjadi budaknya.
"Tuan Daren ingin bertemu dengan Anda malam ini. Jika lebih dari jam 9 Anda tidak datang, rahasia Anda akan tersebar," bisik pengacara suruhan Daren pada Senja.
'Ya Tuhan, apalagi ini?' Senja meringis ketakutan. Penderitaannya semakin menjadi sejak kematian Alina. Ia pikir hidupnya akan berubah indah, namun yang ada justru semakin terpuruk. Bukan hanya dirinya, tapi ibunya juga punya kasus yang sama dengannya. Sebuh video panas yang disimpan oleh tersangka.
...****************...
"Malam ibu." Senja terlihat rapi dan sopan malam ini. Hanya mengenakan celana panjang dan sweater lengan panjang berwarna hitam putih, dia berjalan ke arah ibunya yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Malam juga Senja. Jam segini, mau kemana?"
Untung di saat seperti ini Shela tak ikut menghukumnya. Shela masih terlihat perhatian padanya sejak dari bayang-bayang hitam tubuh Daren menghantuinya.
"Jam segini mau kemana?" Shela penasaran. Tak biasanya Senja keluar malam.
"Daren memintaku bertemu," jawab Senja.
BRAK!
Shela lemas dan bahunya menabrak pintu kamar.
__ADS_1
"Ibu! Ibu kenapa?" Senja berlari ke arah ibunya.
"Kenapa anak itu ingin menemuimu? Ibu takut dia akan membunuhmu, lebih baik ibu ikut!" ucap Shela tanpa persetujuan dari Senja.
"Jangan! Ini urusan Senja dengannya Bu. Senja baru saja melakukan kesalahan. Calon istrinya meninggal di depan Senja. Jadi ku rasa ibu tidak perlu ikut campur!" ucap Senja dan Shela memegang jantungnya dengan kuat. Dia tak menyangka kalau Daren satu langkah lebih cepat ketimbang Jhon. Tapi Shela tak bisa ikut campur. Shela hanya berharap Jhon tidak tahu soal malam ini.
"Berhati-hatilah!" pinta Shela. Senja mengangguk. Dia berjalan keluar.
...****************...
Ting!
Pintu lift terbuka lebar. Mengantarkan Senja di ruang tamu yang kemarin sempat ia datangi.
"Akhirnya kau datang juga." Daren keluar dari kamarnya. Dia mengenakan pakaian serba hitam.
Senja berpikir keras. Mungkin Daren masih berduka atas kematian Alina beberapa hari yang lalu.
"Kau mau apa?" Senja menatap Daren dengan mata penuh waspada.
"Semudah itu? Alina dan ayahnya meninggal. Kenapa kau tidak menghukumku saja Daren?"
"Ini hukuman yang pantas buatmu Senja. Kemarilah!" pinta Daren.
Senja bergeming di tempatnya.
"Senja!" panggil Daren dan kali ini Senja harus mendekat sebelum terjadi hal yang tak diinginkan.
"Duduk!" perintah Daren dan Senja duduk di depan Daren. Daren berdiri, dia berjongkok tepat di depan kaki Senja.
"Mau apa kau Daren?" teriak Senja ketakutan saat Daren menyentuh pergelangan kakinya.
Senja merasa Daren melingkarkan sesuatu di kakinya. Benda dingin yang Senja rasa itu adalah ....
"DAREN!! KENAPA KAU BORGOL KAKIKU!!" teriak Senja sambil menghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Kalau tidak begini, kau akan terus kabur dan melupakan janjimu. Kau sudah pernah kalah dariku Senja. Tapi tak sekalipun kau punya niat untuk tidur denganku. Jadi biarkan aku yang memaksamu sekarang. Dan sangat kebetulan, calon istriku telah kau bunuh!" ucap Daren sambil tersenyum devil.
Sebenarnya Daren sudah tahu akal bulus dari Jhon. Kemarin itu Daren pura-pura percaya. Dan sekarang Daren sengaja memborgol Senja, agar Jhon gagal menculik Senja darinya. Jika Senja berkeliaran malam ini sendirian, pasti Jhon sudah menjadikan Senja pemuas nafsunya. Tentu Daren tidak rela, dari awal Darenlah yang mengincar Senja. Dan dia juga harus mendapatkannya.
"Lepaskan aku, Daren!" Tangan Senja mencoba meraih tangan Daren yang berada di depannya.
"Jangan banyak omong sayang. Lebih baik kita bersenang-senang malam ini."
"Kau gila Daren. Kau sudah tidak waras!" Senja memukul pundak Daren yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Iya, aku tidak waras karenamu!" ucap Daren sambil menyesap mulut Senja tanpa persetujuan. Senja berontak dan berusaha menjauhkan badan Daren dari tubuhnya.
"Argh!" Daren menggigit bibir bawah Senja, dan mau tidak mau Senja langsung membuka mulutnya. Dan kesempatan itu dimanfaatkan Daren untuk memasukkan lidahnya, bermain-main dengan seluruh rongga mulut milik Senja.
'Sial, gadis ini selalu membuatku ingin melakukannya. Tidak Daren, kau jangan kalah dengan perasaanmu. Kau harus bisa melumpuhkan musuhmu terlebih dulu,' batin Daren sambil menatap mata Senja yang menyimpan dendam dan amarah kepadanya.
Daren ingin mengelak, tapi dia sendiri terbuai dengan ciuman pertama mereka. Hubungan intim sebelumnya hanya langsung kontak badan, tanpa adanya pemanasan seperti ini. Jadi inilah yang sebenarnya, Senja sangat manis di matanya. Daren janji, ia tidak akan melepaskan Senja di tangan Jhon. Senja hanya miliknya sejak dulu dan selama yang Daren mau.
Senja terus menghujani Daren dengan pukulan tangannya. Daren sadar dan dia melepaskan mulutnya.
"Aku sudah tak sabar ingin menidurimu sayang," ucap Daren dengan smirk yang mengerikan.
"Kau gila Daren. Kau gila. Orang di sekitarmu berduka, tapi sikapmu benar-benar kelewatan!" teriak Senja dengan keras.
Daren mencengkeram bahu Senja sambil meremasnya dengan pelan. Aroma vanilla menyeruak masuk ke hidung Daren. Andai dia tidak punya janji dengan Jhon, pasti Daren akan menghabiskan malamnya dengan Senja.
"Diamlah di sini Senja. Aku ada urusan sebentar. Tidurlah yang nyenyak," ucap Daren sambil beranjak dari kursi.
Senja mengamati gerak-gerik Daren yang tengah menyiapkan sebuah pistol. Daren menatap Senja, dan dengan sengajanya Daren mengarahkan pistol itu ke arah Senja. Membuat Senja terdiam ketakutan. Detak jantungnya semakin kencang. Sepertinya ucapan Shela ada benarnya. Daren ingin membunuhnya malam ini.
"Hahaha, kau ketakutan ya. Tenang Senja, aku tidak akan membunuhmu. Karena hanya kau yang ingin membunuhku, iyakan?" Daren memasukkan pistol itu ke dalam bajunya.
Baju itu masih serba hitam. Dan ini sudah hampir tengah malam. Entah mau kemana orang-orang seperti Daren ini.
"Jangan kemana-mana," ucap Daren. Dia mengelus rambut Senja sekilas. Senja sempat ingin menjauh, tapi tangan Daren lebih dulu menyentuh rambutnya. Sentuhan yang menyiptakan aliran listrik ke tubuhnya. Seumur-umur baru kali ini Senja merasa disayangi.
__ADS_1
Bersambung...