SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Curhatan Alina


__ADS_3

...****************...


Usai mengantarkan Alina, Senja memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia sudah tidak perduli lagi dengan amarah ibunya. Bahkan kalau dia mati malam ini juga, Senja sudah siap. Asal ibunya bahagia, Senja akan rela.


Tuk...


Tuk...


Senja masuk ke dalam rumah. Terlihat begitu sunyi. Mungkin hampir tengah malam, jadi Shela sudah tidur. Atau mungkin Shela sedang happy-happy di luar sana. Tapi Senja tidak mau ambil pusing. Dia menarik sebuah kursi di meja makan dan duduk di sana.


Fiuuuh. Senja menarik nafas panjang. Lalu dia menuangkan air putih ke dalam cangkir. Hawa harum masakan menyeruak hidungnya. Perutnya sedang keroncongan. Senja penasaran dan membuka tudung saji. Matanya membulat sempurna. Di sana terhidangkan beberapa menu makanan. Senja menatap penuh minat.


'Tumben sekali ibu memasak? Untuk siapa?' batin Senja. Meskipun dia sangat ingin melahap makanan itu, namun dia tidak melakukannya. Cukup melihat dan menghirup aroma itu selama yang dia inginkan.


"Kamu udah pulang?"


Suara itu membuat Senja menoleh dan menatap ibunya. Ibunya sangat berbeda malam ini. Entah perasaan Senja atau memang ibunya tengah berubah.


"Kamu pasti lapar ya?" tanya Shela yang terlihat sangat perhatian. Dia mengambil sebuah piring. Lalu berjalan ke arah nasi dan mengambil nasi ke atas piring.


"Makanlah, sebanyak yang kamu ingin," suruh Shela. Padahal Senja masih diam saja. Senja kaget dengan perubahan Shela yang mendadak perhatian dan penuh kasih sayang padanya.


"Kenapa? Apa makanannya gak enak?" tanya Shela yang menyadarkan Senja.


"Ibu yang ada apa?" Senja balik bertanya.


"Makanlah Senja! Apa mau ibu ambilkan?" tawar Shela lagi uang yang hendak mengambil nasi yang ada di depan Senja.


"Biar aku saja," ucap Senja. Senja sangat senang ibunya berubah drastis dalam sehari. Padahal dia tidak kuliah, tidak kerja. Tapi kenapa ibunya tidak marah?


Satu hal akhirnya membuat Senja curiga. Racun. Bisa jadi ibunya meletakkan racun dalam makanan itu. Biar Senja mati dalam sekejap dan tidak mengganggunya maybe.


Senja telah mengambil lauk dan sayur yang sudah dimasak oleh ibunya. Senja menatap ragu akan makanan yang ada di depannya.


"Kenapa?" tanya Shela dengan raut sedih.


Senja menunduk. Shela seperti paham maksud dari anaknya. Dia juga mengambil piring, nasi dan kemudian lauk pauk persis yang diambil oleh Senja.


"Ayo kita makan bersama," ucap Shela sambil memulai menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

__ADS_1


Senja hanya mengawasi ibunya dalam sejenak. Tidak terjadi hal yang ia takutkan. Akhirnya Senja juga ikut menikmati makanan itu. Haru. Itu yang Senja rasakan. Tanpa ia sadari dia menitikkan air matanya. Setelah sekian lama dia ingin diperhatikan, akhirnya keinginan itu terkabulkan juga.


Shela melakukan ini hanya ingin meraih simpati Senja. Dan juga takut akan ancaman yang diberikan sesosok hitam kepadanya. Setidaknya Shela bersyukur Senja pulang malam ini. Kalau tidak, mungkin Shela tidak tahu lagi bagaimana nasibnya?


...****************...


"Kemarin kamu kemana saja? Kenapa gak ijin?" Meta tengah menginterogasi Senja di ruangan yang berbeda.


"Kemarin aku gak enak badan," jawab Senja. Itu jujur, dia memang lagi ada masalah. Tentu badan dan pikirannya jadi tidak tenang.


"Lain kali jangan seperti itu. Kalau mood Tuan direksi tidak baik, bisa-bisa kamu dipecat," kata Meta. Senja mengerti, ini memang salah dia. Tapi kalau dia tidak menenangkan diri seperti kemarin, bisa jadi dia akan gila. Beban pikirannya terlalu berat, sampai dia sendiri tidak kuat.


"Aku minta maaf. Mungkin lain kali tidak akan seperti ini," jawab Senja dan Meta memakluminya.


"Di lantai 9, tuan Daren ingin kau menyelesaikan sebuah kasus," ucap Meta dan Senja sedikit kaget.


"Aku hanya karyawan magang. Kenapa tidak dengan yang lain?" tanya Senja. Dia bekerja di sini hanya buat dekat dengan Daren. Mencari tahu kelemahan Daren yang berujung petaka buatnya.


"Entah, ini keputusan tuan Daren sendiri," ucap Meta sambil meninggalkan Senja masih kebingungan.


"Aku mendukungmu!" lanjut Meta kemudian.


Senja tidak terlalu menyukai hukum. Baginya hukum itu tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Lambang sang Dewi keadilan baginya tidak berguna sama sekali.


Lantai 9, lantai untuk menyelesaikan suatu masalah. Tanpa pengalaman apapun. Mungkinkah Senja bisa melakukan itu?


...****************...


Senja merasa kepalanya sangat pening. Dari tadi dia mencari jalan keluar dari tugasnya. Namun belum mendapatkan petunjuk apapun.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengangkat telepon dan ternyata Alina.


"Iya Alina," sapa Senja. Terdengar di sana Alina ingin mengajaknya makan siang.


Senja tampak berpikir sebelum mengiyakannya. Senja rasa tidak masalah kalau makan siang di luar. Bahkan ibunya saja semalam mendukung apapun asal Senja bahagia.


"Baiklah Alina. Kita makan di resto terdekat ya. Nanti aku kirimi alamatnya. Ingat jangan sampai nyasar," ucap Senja sambil terkekeh geli. Senyuman yang keluar murni dalam dirinya. Tanpa paksaan siapapun.


Hari ini Daren sengaja tidak mau muncul di depan Senja. Dia takut dengan perasaannya sendiri. Bingung dengan perjodohan dan juga rasa yang hadir padanya untuk Senja. Makanya sedari tadi dia hanya mengurung diri dalam ruangannya, kali ini tanpa ingin tahu soal Senja sedikitpun.

__ADS_1


...****************...


Senja dan Alina tengah menikmati makan siang mereka. Alina yang sekarang ia lihat berbeda dengan Alina yang kemarin ia temui.


"Kamu tampil sangat modis," puji Senja sambil menatap dandanan Alina yang terlihat begitu necis.


"Aku tak tahu harus cerita pada siapa Senja. Semalam setelah aku bertemu dengan papa, dia memberikan sebuah wasiat padaku," ceritanya.


Senja mengaduk minumannya sambil mendengarkan cerita dari Alina. "Wasiat? Apa keadaan ayahmu begitu parah?" tanya Senja penasaran.


"Iya." Alina tampak sedih. "Papa ingin aku menikah dengan kenalannya," cerita Alina lagi.


"Kalian mau dijodohkan?" tanya Senja lagi. Perjodohan lebih menyakitkan dibandingkan dengan masalah yang ia hadapi.


"Begitulah, tapi aku takut Senja. Aku bahkan belum mengenal pria itu." Alina menekuk wajahnya. Murung dan kebingungan tampak begitu jelas di sana.


"Apa kalian sudah bertemu?"


...****************...


Malam ini Daren menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Mr. Louis. Setelah pengambilan perusahaan mister Louis kemarin, tampaknya keadaan mister Louis semakin memburuk. Wajahnya terlihat pucat, dan sepertinya dia tidak akan hidup lebih lama lagi.


"Selamat malam Mr. Louis. Bagaimana keadaanmu?" tanya Daren. Dia datang bersama Jhon. Terlihat raut wajah Jhon berseri-seri. Entah apa yang terjadi, Daren tidak mau ikut campur.


"Aku kurang sehat Daren. Oh ya, mari duduk!" Mr. Louis mengajak Daren duduk di ruang tamu.


Daren duduk di depan Mr. Louis. Hatinya sedang tidak tenang. Tapi dia bersikap seperti tidak ada apa-apa.


"Terimakasih selama ini sudah menjalankan tugas dariku dengan baik Daren," ucap mister Louis membuka percakapan mereka.


"Itu sudah tugasku. Jadi aku harus menjalankannya sebaik mungkin, agar pelangganku puas," balas Daren. Wajahnya terlihat begitu serius.


"Oh iya, apa Tuan Jhon sudah memberi tahumu?" tanya Louis dan Daren menarik sebelah alisnya bermaksud bertanya.


"Aku ingin menjodohkanmu dengan putriku. Agar semua harta yang ku miliki bisa jatuh ke tanganmu," kata Louis. Daren masih diam saja.


"Sayang, kemarilah!" Louis melambaikan tangannya ke arah putrinya. Daren tak berekspresi apapun.


"Daren, perkenalkan ini putriku!" ucap mister Louis dan Daren mendongakkan kepalanya. Wajahnya menatap langsung ke arah wanita yang kini juga tengah menatapnya.

__ADS_1


Dia...


Bersambung...


__ADS_2