SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Menenangkan Diri


__ADS_3

...****************...


Daren meluapkan emosinya dengan berlari kecil di kinetic treadmill. Entah berapa lama dia sudah berlari di tempat itu. Nafasnya tersengal, kakinya seperti mati rasa, bahkan paru-parunya seperti terbakar. Tapi Daren terus berlari kencang. Dia berusaha melupakan kejadian beberapa jam yang lalu saat bertemu Senja.


Daren ingin marah pada dirinya sendiri. Harusnya dia tidak membuat Senja ketakutan seperti tadi. Harusnya dia menahan egonya agar bisa terus berduaan dengan Senja. Tapi di sisi lain Daren ingin membunuhnya. Harusnya Daren bisa melakukan hal itu dengan cepat. Bukannya terus mengulur waktu. Daren sadar, dia sudah terpesona dengan Senja sejak pertama kali mereka bertemu. Hanya saja, jika Daren kalah dengan perasaannya, usaha yang ia lakukan bertahun-tahun akan sirna begitu saja.


"ARGH!!"


"Aku harus membunuh anak dari orang yang telah membunuh orang tuaku. Aku harus kalahkan rasa ini. Aku harus bisa," gumam Daren menguatkan dirinya.


Di tempat yang berbeda.


Shela tak ada habis-habisnya memarahi Senja. Dari A sampai Z terus berulang. Senja sampai terduduk lesu. Wajahnya terlihat begitu pucat. Dia yang baru pulang akibat ketakutan bertemu dengan Daren, kini harus dihadapkan dengan omelan dan ancaman dari ibunya. Bahkan lagi-lagi perut Senja dalam keadaan kosong. Ibu yang tidak ada pengertian sama sekali pada anaknya.


"Pokoknya ingat kata-kataku. Mulai sekarang, kau tidak perlu ikut campur soal balas dendam itu. Kau fokus kuliah saja dan keluar dari perusahaan Daren, mengerti!"


Senja terdiam. Tidak tahukah ibunya itu? Seberapa banyak dia berjuang demi keinginan ibunya. Apalagi masuk di perusahaan Daren itu tidak mudah. Dia tidak akan mungkin diterima begitu saja tanpa bantuan J dan usaha keras yang ia lakukan. Dan sekarang, dengan mudahnya ibunya itu menyuruh untuk berhenti.


"Bu, apa ibu tidak tahu. Masa kecilku terenggut atas semua obsesi yang ibu inginkan. Ibu selalu memaksaku ini itu buat membalaskan kematian ayah. Dan sekarang? Semudah itukah ibu menghancurkan pengorbananku?" Senja menitikkan air matanya. Ibunya mempermainkan perasaan dan raganya.


"Kamu cukup diam Senja. Turuti kata-kata ibu, atau ibu mati sekarang!" ancamnya. Shela mengambil pisau buah yang berada di meja. Dia sedang mengancam sambil meletakkan pisau itu tepat pada denyut nadi di tangannya.

__ADS_1


"Bunuh saja aku Bu! Aku yang tidak berguna selama ini. Dari pada aku hidup menyusahkanmu, bukankah lebih baik kau menghabisiku?" tantang Senja. Ibunya sudah tidak butuh dihormati lagi. Jadi buat apa Senja terus-menerus mengikuti ibunya yang ternyata justru merusak hidup Senja bahkan masa depannya pun sudah terenggut hanya dengan kata balas dendam.


"Kau!! Kau sudah mulai kurang ajar padaku! Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi seperti ini! Pokoknya aku gak mau tahu, mulai besok kau harus menjauhi Daren. Atau aku akan meregang nyawa di depanmu!" ancam Shela. Dia melempar pisau tadi di lantai.


Senja melihat pisau itu dengan miris. Rasanya dia yang ingin menghabisi nyawa ibunya. Jiwa dan raga sudah ia korbankan. Tapi apa yang ia dapat, bukan kasih sayang. Melainkan hanya penderitaan.


...****************...


Tak sengaja saat mengendarai mobilnya. Daren melihat Shela yang tengah makan siang dengan wajah yang ceria. Daren masih menyimpan sejuta dendam itu, terutama terhadap Shela.


Daren menatap Shela dari balik kemudi Lamborghininya. Menatap Shela seolah mencekik lehernya. Kepalanya berdenyut nyeri. Daren ingin menghabisi Shela sekarang. Bermain dengan beragam pisau yang ia koleksi pada tubuh Shela. Menikmati hiasan darah yang mengalir pada tubuh Shela. Namun kesadarannya telah menelan semua keinginan itu. Daren punya aturan, dia tidak boleh membunuh sembarang orang demi obsesinya.


Daren kecil, dia sempat hidup sendirian setelah kematian ibunya. Dan tetiba itu Jhon datang menemuinya. Mengaku sebagai teman ayahnya dan bahkan membesarkan Daren yang kini menjadi seorang mafia hebat.


...****************...


Hari ini Senja tidak kuliah, tidak datang ke kantor juga. Dia hanya merenungi nasibnya di bawah pohon yang rindang. Pikirannya kosong. Terkadang dia tersenyum, kadang juga menangis. Shela benar-benar merusak hidupnya. 18 tahun dia hidup demi ibunya. Namun ibunya tidak pernah memikirkan hidupnya.


Tidak ada siapa-siapa lagi yang perduli padanya. Hanya brigadir J yang masih menanyakan kabarnya. Membantunya jika Senja dalam kesulitan. Tapi di saat seperti ini, Senja hanya ingin sendirian. Ditemani pohon rindang yang memberikan udara yang sejuk untuknya.


...****************...

__ADS_1


"Apa? Kenapa dia tidak masuk tanpa alasan? Mana nomor telepon dosennya, aku ingin memberikan perhitungan padanya." Daren terlihat emosi. Niatnya ingin bertemu Senja dan makan bersama. Namun yang ia inginkan selalu zonk.


Setelah Ferdi menelepon sang dosen. Ternyata sama, Senja juga tidak masuk di jam kuliah itu? 'Kemana anak itu? Apa gara-gara kemarin dia jadi menghilangkan diri tanpa jejak?' batin Daren yang mulai salah paham.


"Tuan, berkas Anda!" Shasa memberikan sebuah berkas untuk Daren.


"Terimakasih," jawab Daren sambil tersenyum. Shasa juga balas tersenyum. Dia seperti mendapatkan lampu hijau hanya disenyumin sekilas oleh Daren.


Setelah berada di ruangannya. Daren membaca selembar demi selembar berkas perkara yang diberikan oleh Shasa. Kasus pengaduan sebuah mal karena pemiliknya tidak mau dikontrak lebih lama. Ini adalah kasus yang mudah, tinggal menyuruh pengacaranya saja, semuanya pasti akan beres. Seorang pemilik mal yang ingin mengkontrakkan Malnya 5 tahun sekali, namun si pengontrak ingin 15 atau 20 tahun sekali. Namun si pemilik tadi tidak mau. Dan ini bagi Daren pasti mudah. Meskipun digugat bagaimana pun juga. Pemilik tetaplah menang.


Saat sibuk memikirkan kasus itu. Sebuah telepon berbunyi.


"Targetmu Hendrawan!" ucap si penelepon.


"Hendrawan! Baiklah." Daren tersenyum bahagia. Di saat dia kalut seperti ini, akhirnya ada mangsa buat dia bunuh. Seorang koruptor dalam negeri yang bernama Hendrawan akan lenyap di tangannya. Setelah kemarin dia menyerahkan tugasnya pada Rehan, tapi tetap .. semua atas campur tangan dari Daren. Kali ini Daren akan menjalankan tugasnya itu seorang diri.


Sebelum dia meninggalkan kantornya, Daren menanyakan tentang Senja pada Ferdi. "Bagaimana dengan Senja? Apa dia masih belum datang?"


"Belum Bos. Sepertinya terjadi sesuatu dengannya," ucap Ferdi memberitahu.


Daren terdiam. Dia setengah berpikir, mungkin lebih baik dia membiarkan Senja menenangkan dirinya lebih dulu. Karena kalau dia tetap memikirkan Senja, yang ada tugasnya akan terbengkalai. Dan dia tidak akan mendapatkan kepercayaan lagi dari Mr. Louis, sumber uangnya.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2